(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia

(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia
5 Menit lagi!


__ADS_3

Malam panjang yang begitu frustasi itu berlalu, mentari yang mengganti bintang pun datang.


Cahaya hangat masuk menembus ke dalam kaca tebal yang menjadi bagian dari dinding hotel mewah itu.


Pria yang memang tak bisa tidur sejak awal itu terbangun lebih dulu, ia menoleh ke samping.


Bantal yang masih terasa hangat dengan seseorang yang bahkan belum meninggalkan tempat nya.


Senyuman kecil terulas walau begitu kesal sebelum nya, namun tentu rasa kesal itu bukan lah sebuah amarah.


"Morning,"


Ucap nya lirih yang mengecup kedua perempuan yang begitu penting di hidup nya itu.


Bianca menggeliat saat sang ayah mencium nya, janggut yang halus itu membuat nya merasa tak nyaman dan seperti ingin menyingkirkan nya.


James tersenyum kecil melihat reaksi putri cantik nya yang menggemaskan itu, sedangkan istri nya sama sekali tak bergerak sedikit pun dan tampak pulas.


"Kau selalu saja seperti ini," ucap nya yang tak bisa mengatakan apapun untuk seseorang yang sudah ia nikahi itu.


Pria itu beranjak bangun dan turun dari ranjang nya dengan hati-hati agar tak membangunkan istri dan putri nya.


......................


Kediaman Rai


Ekor mata wanita itu melirik ke arah ponsel suami nya, ada kala nya ia takut dan gugup karena ia begitu sadar dengan kekurangan nya.


"Tadi siapa?" tanya Clara sembari mengambilkan stelan jas yang akan di kenakan pria itu untuk ke rumah sakit.


"Teman kuliah ku," jawab Louis yang meletakan ponsel nya dan mencium pipi istri nya.


Clara diam sejenak, pernikahan kedua nya baru berjalan beberapa bulan namun ia terus merasa tak percaya diri dari hari ke hari.


"Kau sudah masak? Aku paling menunggu masakan mu." ucap Louis yang tersenyum dan sangat suka dengan sarapan nya walau biasa nya ia bukan seseorang yang sarapan dengan sesuai jadwal.


Clara menangguk, ia tersenyum kecil dan tampak berbalik membuat pria itu mengernyit.


"Cla? Ada apa?" tanya nya yang kembali mendekati sang istri yang tampak menyimpan sejuta kekhawatiran di kepala nya.


"Yang tadi teman kuliah nya laki-laki atau perempuan?" tanya nya lirih dengan wajah yang memelas namun mata yang tak percaya.


Louis tersenyum kecil ia mendekat ke arah wanita yang sebenarnya tampak tengah cemburu itu.


"Kenapa? Cemberut terus? Hm?" tanya Louis sembari mengecup gemas pipi wanita itu.


"Senyum terus waktu lihat handphone..." sahut Clara yang tak melihat sama sekali ke mata hijau pria yang melihat ke arah nya.


Louis tersenyum, ia beranjak mengambil ponsel nya tanpa mengatakan sepatah kata apapun dan menarik tangan wanita itu untuk duduk di sofa kecil ruang ganti nya.


"Sini, kau kan bisa lihat sendiri kalau mau." ucap nya yang memangku wanita itu dan menunjukkan semua pesan dan apa yang membuat nya tertawa.


"Ini beneran teman mu?" tanya Clara mengulang dengan wajah yang juga tersenyum karna ia tertawa saat melihat pesan dan percakapan grup yang tampak lucu itu.


"Iya, maka nya sekarang kalau kau penasaran dengan isi ponsel ku, kau bisa lihat sendiri." ucap nya yang mengecup bibir merah muda itu.


Clara diam sejenak, ia menatap ke arah sang suami dan menarik napas nya.


"Maaf..." ucap nya lirih karna telah merasa curiga tanpa alasan.


"Kenapa kau sangat khawatir? Aku tidak mungkin melakukan sesuatu di belakang mu," ucap Louis pada wanita itu.


Clara diam sejenak sebelum menjawab nya, bukan nya ia yang sedang mencari jawaban namun ia merasa Kelu setiap kali mengucapkan kata itu dari mulut nya.


"Cla? Kenapa? Apa aku masih kurang membuat mu percaya?" tanya nya yang takut wanita itu lari lagi dari nya.


Clara menoleh, kali ini ia menatap mata hijau suami nya dengan lekat.


"Karna aku mandul," jawab nya dengan suara lirih namun terdengar tegas.


Louis tersentak, bukan salah wanita itu karna memiliki kondisi yang tak biasa melainkan salah nya.


"Kau mau punya anak? Kalau kau mau aku akan cari cara nya," ucap nya yang menatap ke arah mata sang istri.


"Cara nya? Bagaimana? Rahim ku sudah tidak bisa kan? Tidak di angkat saja sudah-"


"Penanaman embrio, walaupun bukan di rahim mu dia tetap akan anak mu karna bersalah dari darah mu." ucap Louis yang tentu sedikit mengerti hal seperti itu karna ia memimpin rumah sakit swasta yang besar.


Clara diam sejenak, rasa khawatir dan takut nya hanya akan semakin menjadi jika melakukan nya.


"Cla? Maaf..." ucap nya lirih yang memeluk wanita itu.


"Kita berdua pun bagi ku sudah cukup, jadi jangan khawatirkan sesuatu yang tidak perlu lagi..." ucap nya yang mengusap kepala wanita nya dengan lembut.


Clara masih diam tak mengatakan apapun, pelukan erat itu terasa hangat untuk nya bahkan untuk menembus hati nya.


......................


Hotel


James tersenyum kesal, putri cantik nya tampak dengan senang di wajah yang polos itu tak bisa ia tangkap seperti marmut kecil yang berlari dan masuk ke dalam tempat tersembunyi.


"Bian? Bianca? Sekolah ya? Sudah siang, sini Daddy antar..." ucap nya yang mencari putri kecil nya.


Sedangkan gadis mungil dengan wajah menggemaskan itu tertawa kecil sembari menutup mulut nya.


Seperti bermain petak umpet dengan sang ayah ia begitu senang.


Louise menarik napas nya, ia menghilangkan kaki nya dan menatap ke arah suami nya yang tengah mencari keberadaan putri nya yang bersembunyi di dalam kamar hotel mereka.


"James? Hari ini kan-"


"Tunggu dulu, aku akan cari dia." ucap nya yang tak mendengarkan perkataan sang istri sama sekali dan fokus mencari putri nya yang tampak senang dengan permainan petak umpet itu.


Louise tak mengatakan apapun lagi, ia memilih memakan bread toast nya yang di siram madu itu sembari melihat ke arah pria yang terus mencari putri nya.


"Bian? Daddy hitung sampai tiga kalau tidak mau keluar juga coklat Bian Daddy ambil satu Minggu." ucap nya yang memberikan ancaman ampuh pada putri nya.


Masih hening tak ada tanda-tanda jika putri nya itu akan keluar dari persembunyian nya di dalam kamar presiden suite itu.


"Satu, Dua, Ti-"


"Daddy kalah! Masa ga bisa nemuin Bian!" ucap nya tertawa dengan wajah nya yang menggemaskan itu.


James menarik napas nya, ia berlari dan mendekat ke arah gadis kecil itu. Bianca menoleh, ia menatap ke arah sang ayah dan mulai berlari dengan tawa menggemaskan nya.


Greb!


Kaki kecil itu tak lagi menginjak lantai marmer dengan sepatu lucu nya. Ia mengambang di udara karna tangan seseorang meraih nya.


"Hihihi!" tawa nya terdengar begitu ceria dan senang.

__ADS_1


"Bian? Sekolah yah? Kata nya mau jadi anak pintar?" tanya James yang membujuk dan ingin cepat mengantar putri nya ke sekolah.


"Hum?" mata coklat itu menatap ke arah wajah sang ayah yang tampak sangat ingin mengirim nya ke sekolah.


"Ini kan Minggu Dad, Bian sekolah juga?" tanya nya pada sang ayah yang bingung mengapa ia tetap di suruh sekolah di hari yang sudah ia tandai sebagai hari libur.


"Mi.. Minggu?!" ucap James yang melihat tak percaya dan membuang napas nya dengan pasrah.


Louise meminum teh camomile nya dan berbalik mendekati pria yang sudah menjadi suami nya itu berserta dengan putri yang berada di gendongan nya.


"Tadi kan aku sudah mau bilang, maka nya harus dengerin kalau ada yang mau bicara." ucap nya yang menggeleng dan meraih putri nya.


"Bian? Makan es krim yuk sama Mommy di resto." ajak nya pada putri cantik nya.


Mata coklat itu berbinar, ternyata memiliki ibu yang tinggal bersama adalah suatu yang begitu menggembirakan dan membahagiakan nya.


"Mau!" ucap nya yang dengan semnagat meraih tangan sang ibu dan tentu merasa sangat senang.


James terdiam, ia lesu dan tampak membuang napas nya dengan wajah yang pasrah karna tak mungkin lagi hari ini.


Louise tertawa kecil melihat pria di depan nya frustasi, ia mendekat dan berbisik di telinga pria itu.


"Sayang? Kenapa diam saja? Ayo," ucap nya yang mengajak dan mengatakan panggilan yang membuat pria itu tersentak.


James menoleh, ia menatap dengan terkejut namun hal itu adalah sesuatu yang membuat nya senang.


"Kalau Daddy lama kita aja Myy," celetuk Bianca pada ibu nya karna ia tak sabar untuk memakan es krim.


"Ck! Dasar anak ini," ucap James berdecak dan menggendong tubuh mungil putri nya lagi lalu menciumi pipi bulat itu dengan begitu gemas.


"Aduh! Mommy tolongin!" teriak nya saat sang ayah mencium pipi nya bulat itu dengan gemas.


Louise tersenyum, bukan nya membantu ia malah ikut mencium pipi bulat yang gemas itu, mungkin bukan ciuman namun ia mengigit nya.


"Hua! Nanti Bian silil Mommy Daddy jadi batu!" ucap gadis kecil itu yang kesal pada kedua orang tua nya yang sedang begitu gemas pada nya.


....


Resto hotel


Gadis kecil itu tampak cemberut, kedua sisi pipi bulat nya memerah. Bukan karna ciuman sang ayah karna memang biasa nya ayah nya suka mencium gemas diri nya.


Namun fakta kebenaran di balik pipi yang memerah itu adalah gigitan gemas sang ibu!


"Bian? Masih marah sama Mommy? Mommy kan gemas, maka nya mau gigit Bian!" ucap Louise yang tersenyum melihat wajah cemberut itu namun tak menolak sedikit pun dengan es krim yang di berikan.


"Mommy lapel tuh! Nih makan! Masa anak nya mau di makan!" ucap nya yang cemberut pada sang ibu.


"Iya, maaf yah..." ucap Louise sekali lagi dengan tawa kecil dan mengusap kepala putri nya.


Posisi duduk yang di mana putri cantik nya berada di sebelah nya sedangkan suami nya berada kursi yang berseberangan dengan meja itu.


James tersenyum kecil, ia memilih untuk memesan roti panggang dengan butter dan kopi pekat berbeda dengan pesanan istri dan putri nya.


Ekor mata wanita itu melirik ke arah pria di depan nya, ia memberikan senyuman kecil dan tangan yang masih mengusap kepala putri nya.


Menurunkan sedikit tubuh nya agar kaki jenjang nya bisa sampai menganggu pria itu.


Deg!


Pria itu tersentak, ia menatap ke arah wanita di depan nya yang tampak seperti tak melakukan apapun.


"Daddy? Kenapa?" tanya Louise yang menoleh dengan senyuman tipis dan kaki yang terus berusaha menggoda pria itu dari balik meja.


"Seperti nya ada yang..." ucap nya yang membalas dengan senyuman kecil yang melihat ke arah wanita yang tampak biasa saja itu.


"Seperti apa?" tanya Louise yang mengusap dari betis hingga terus naik mencoba meraih sesuatu dengan kaki nya.


James tersenyum kecil, ia menoleh dan ingin menangkap kaki nakal yang berusaha menggoda nya itu.


Wanita itu tersenyum, ia langsung menarik nya dan melihat ke arah putri nya lagi.


"Bian suka?" tanya nya yang berbalik dan melihat ke arah putri cantik nya.


Bianca mengangguk, ia tampak begitu senang memakan es krim yang di berikan untuk nya.


Louise tersenyum, melihat ke arah sepatu heels nya dan beranjak melepaskan.


"Kasih Daddy cobain juga dong es krim nya?" tanya Louise yang mengusap kepala kecil putri nya dan kaki yang kali ini beranjak menggoda tanpa menggunakan heels nya.


"Daddy mau?" tanya Bianca pada sang ayah.


James menggeleng, ia tersenyum ketika melihat mata polos putri cantik nya. "Bian aja,"


Tak lama kemudian kejutan datang dan James tersentak, kaki jenjang yang putih dengan kuku yang mengkilap dan terawat itu tampak tengah mengelus nya terus menerus.


"Louise?" panggil nya sembari membenarkan posisi duduk nya agar ia bisa sedikit menyegarkan pikiran kotor nya di tengah godaan yang datang menyerang nya.


"Ya? Daddy kenapa? Sakit? Kok merah wajah nya?" tanya gadis itu dengan senyuman yang menatap ke arah pria di depan nya.


Padahal ia tau siapa yang membuat wajah pria itu memerah.


James tak mengatakan apapun, ia harus diam dan menoleh ke bawah melihat ke arah kaki putih yang tampak cantik itu tengah mengelus dan mengusap nya.


"Sudah habis? Kita kembali?" tanya Louise yang menarik kaki nya seketika dan melihat ke arah putri nya.


James menarik napas nya, merasa tegang dengan aliran darah yang untuk beberapa saat terkumpul hanya di satu tempat.


Bianca mengangguk, ia tersenyum dan mengikuti sang ibu.


"Aku akan pesan Latte dulu," ucap nya yang beranjak bangun dan memesan untuk ia bawa ke kamar nya.


"Bian mau sesuatu?" tanya Louise pada putri cantik nya.


"Engga Myy," jawab Bianca yang memang sudah merasa kenyang.


...


Kamar.


Byur!


Pria itu tersentak begitu juga dengan putri nya saat latte yang dingin dan manis itu tumpah.


"Ya Ampun! Jadi basah celana Daddy," ucap nya yang tersenyum kecil melihat celana pria di depan nya yang basah karna ia memang membeli latte itu untuk menumpahkan nya.


"Iya! Daddy jadi kayak pipis di celana!" celetuk gadis kecil yang tertawa.


Louise menarik napas nya dan mengusap kepala mungil putri nya.


"Bian main dulu ya? Biar Mommy ganti celana Daddy dulu." ucap nya yang mengusap kepala putri nya.

__ADS_1


James diam sejenak seperti memproses sesuatu sebelum ia tersenyum melihat ke arah wanita itu.


"Iya deh! Tapi bukain ikan mola-mola dulu!" ucap nya yang meminta sang ibu untuk mengganti channel tv dengan kartun kesukaan nya.


"Ikan mola-mola?" tanya Louise lirih dan melihat ke arah pria itu untuk memastikan apa yang di bicarakan oleh putri nya.


James yang sudah tau tentang apa yang diinginkan oleh putri nya langsung membawa gadis kecil itu untuk duduk di sofa dan langsung memutarkan film kartun yang di maksud putri nya.


"Nah, sekarang Mommy mau bersihkan celana Daddy dulu. Bian nonton film ya," ucap nya pada putri nya.


"Iya!" jawab Bianca kali ini sudah fokus dengan kartun nya dan tak lagi begitu memperdulikan orang tua nya.


James tersenyum kecil dan langsung menarik tangan wanita itu ke dalam kamar mandi.


"Buru-buru sekali?" tanya Louise sembari melihat ke arah pria yang langsung mengunci pintu kamar mandi itu.


"Ya, karna aku merasa kedinginan?" tanya pria itu tersenyum tipis yang menyinggung dengan es yang di tumpahkan itu.


Senyuman tipis terulas, wanita itu berjongkok dan berusaha melepaskan pinggang pria itu namun ternyata lebih sulit dari dugaan nya.


"James?" panggil nya yang menengandah melihat ke arah wajah yang tampak memerah itu karna sebelum nya tak pernah bersikap agresif lebih dulu.


"Ya?" jawab pria itu melihat ke arah wanita yang berjongkok di depan nya.


"Ehmm..."


"Tali pinggang mu sulit sekali di buka, kau bisa buka sendiri?" tanya Louise yang mengatakan sesuatu di luar ekspetasi pria itu.


"Ya?" tanya James yang terkejut sejenak namun ia malah ingin tertawa saat ini.


"Pft! Kau bahkan kesulitan menggoda seseorang," ucap nya yang ingin tertawa melihat istri nya.


Louise berdecak dengan kesal melihat pria yang menertawakan nya itu.


"Ya sudah, aku keluar aja nonton ikan mola-mola sama Bianca!" ucap nya yang kesal dan beranjak bangun.


Greb!


Pria itu menarik tangan istri nya, dan membawa nya mendekati bathup.


"Kita tidak punya banyak waktu, kau tau kan?" ucap nya yang melihat ke arah mata hijau yang membulat itu.


"Anak kita sangat rewel," sambung James sebelum mengecup bibir merah muda yang lembut dan terasa manis itu.


Tanpa mengajak apapun lagi, tangan nya meremas bok*ng yang saat itu tengah memakai drees polos berwarna mint dengan lengan balon yang membuat nya tampak lebih cantik.


Humph!


Louise kesulitan menerima ciuman agresif itu, yang datang pada nya bertubi dan membuat nya sesak.


"Ungh..."


Mata hijau itu membulat, pria itu menyingkap gaun nya dan meraba paha nya putih itu lalu bermain di tempat yang begitu privasi itu.


James melepaskan ciuman nya, ia tersenyum dan membuka tali pinggang nya yang sulit di lepaskan oleh wanita nya.


"Sekarang aku sudah melepas nya, apa yang mau kau lakukan tadi?" tanya pria itu dengan senyuman tipis.


Louise tersenyum, tangan nya yang halus itu mengambil dan mengeluarkan sesuatu.


"Entahlah? Apa 20 menit cukup?" tanya nya yang menarik pundak pria itu dan mencium nya.


James memejam, ia merasakan tangan lembut gadis itu dan ciuman yang membuat nya berhenti berpikir sejenak.


Louise melepaskan ciuman nya, ia mendorong pria itu sedikit menjauh dan mencoba mencium nya lagi.


Uhh!


Pria itu tersentak, ia meng*rang saat wanita itu menghisap diri nya di dalam mulut yang hangat itu.


"Dari mana kau belajar hal seperti ini? Hm?" tanya nya dengan suara bariton yang berat itu sembari memandang ke arah wanita nya.


Louise tak menjawab karna mulut nya memang masih tersumpal, mata yang melihat ke atas membuat pria itu semakin merasa bergairah.


"Kau benar-benar membuat ku gila..." ucap nya lirih dan kemudian menarik wanita itu hingga duduk di pinggir bath up keramik itu.


"Oh ya? Mungkin?" tanya Louise sembari mengusap bibir nya yang masih basah.


Sreg!


Dalam satu tarikan pria itu bisa meloloskan apa saja, ia menatap ke arah wajah wanita yang tampak tidak akan menolak tindakan nya selanjutnya.


"Ungh!"


Louise tersentak, pria itu tiba-tiba datang pada nya dan membuat nya terkejut.


"Tahan suara mu," bisik James yang menghidupkan shower yang agar suara berisik air itu meredam suara er*ngan yang keluar dari bibir merah muda itu.


Crass!!!


Deras nya air shower itu mulai mengalir dan jatuh tepat mengenai kedua orang yang tengah menyatu itu.


Aliran dingin dari air yang tidak di atur suhu nya bukan menjadi masalah, menyiram tubuh yang tenggelam dengan gerakan yang membuat nya menjadi panas.


Dress yang masih di gunakan itu tampak basah membuat lapisan dalam nya menembus, sedangkan kemeja pria itu tampak mencetak otot dada yang bidang itu saat air yang jatuh membasahi nya.


"Uhh!"


Bibir merah muda itu mel*nguh, ia menarik dan memeluk pundak pria nya lalu mengunci pinggang pria itu dengan kaki yang menyilang.


"Kenapa kau semakin cantik kalau seper-"


Tok! Tok!


"Daddy? Mommy? Udah siap belum ganti celana nya? Bian mau pipis!" teriak suara anak kecil itu yang menunggu dari luar.


Deg!


Kedua mata itu tersentak, "James? Kita berhenti dul-"


Plak!


Mata hijau itu tersentak, ia mendorong pelan tubuh pria itu dan melepaskan pelukan nya, namun bukan nya menjauh sang suami malah semakin membenamkan diri nya semakin dalam.


"Ahh!" Louise tersentak, ia hampir saja kelepasan karna pria itu tak berniat melepaskan nya.


"5 Menit! Daddy Mommy sebentar lagi keluar!" teriak nya yang malah bergerak dengan agresif dan semakin kuat.


"Ungh! Jam- Humph!" bibir nya tak bisa berkata lagi, pria itu seharusnya berhenti bukan nya membuat nya semakin menggila dengan gerakan yang liar itu.


Sementara itu gadis kecil yang cemberut itu hanya mendengar suara air yang hidup, "Mommy Daddy main ail ga ngajak Bian..." ucap nya merasa ayah dan ibu nya tengah bermain air namun tak mengajak nya.

__ADS_1


__ADS_2