(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia

(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia
Rencana kabur


__ADS_3

Dua Minggu kemudian.


Mansion Dachinko


Seperti air danau yang tenang, tak ada perubahan sama sekali di tempat itu. Kandungan yang lemah namun masih bertahan dan juga pemberian obat untuk luka di leher nya yang hampir menghilangkan nyawa nya.


"Ini apa?" dahi gadis itu mengkerut, kini datang lagi barang-barang yang tak pernah ia pesan atau inginkan ke kamar nya.


"Tuan yang memberikan nya," ucap Nick pada gadis itu.


Louis tersenyum tipis, kamar yang di penuhi dengan barang-barang mahal di mulai dari perhiasan yang begitu mewah hingga sepatu dengan label fantastis.


"Memang nya aku bisa pakai kemana semua barang itu?" tanya nya dengan mata yang menatap tanpa ekspresi setelah senyuman tipis nya.


"Anda bisa memakai nya untuk sehari-hari nona," jawab pria itu setelah memastikan semua barang yang di pesan datang dengan sesuai.


Gadis itu hanya diam menatap setumpuk tas belanja dari berbagai brand ternama itu untuk nya, ia sama sekali tak memiliki niat untuk membuka dan melihat apalagi memakai nya.


Panggilan makan malam pun tiba, gadis itu tak ingin turun sama sekali. Ia tak ingin melihat wajah pria yang selalu membuat dada nya terasa sesak tak bisa bernapas.


Namun ketika ia menghindari, sekarang pria itu berdiri di depan nya?


"Bukan nya aku menyuruh mu turun?" tanya pria itu dengan suara dingin dan mata mengintimidasi.


"Kalau dulu bukan nya aku akan di seret? Tapi kenapa sekarang tidak? Karna anak ini?" tanya Louise yang tak menjawab pernyataan pria itu sama sekali.


James tak mengatakan apapun, tentu nya ia tak mau membuat nyawa anak nya yang lemah dalam kandungan itu menjadi terancam hanya karna hal yang sepele.


"Bawa makanan nya ke sini," perintah pria itu yang beranjak mendekat pada gadis yang berdiri tak jauh dari nya.


Louise mengernyit, ia tak mengerti mengapa pria itu terus saja menganggu nya.


"Pencernaan ku tidak baik jika melihat mu sambil makan," ucap nya setelah pelayan yang jauh dari mereka pergi untuk menyiapkan makan malam.


Tak ada seorang pun di kamar itu melainkan mereka berdua, suara langkah dari kaki pria yang mengenakan sepatu berwarna hitam dengan noda darah yang kering itu pun mendekat.


"Begitu? Aku akan memberikan mu obat pencernaan nanti," ucap nya dengan nada rendah seperti suara berbisik sembari memainkan rambut hitam kecoklatan itu yang mulai panjang saat ini.


Tak!


Gadis itu menepis tangan yang menyentuh rambut nya, ia tak mau pria itu menyentuh nya dalam hal apapun lagi.


"Aku benar-benar membenci mu!" gumam yang seperti sedang mengutuk dengan mata menyala menatap pria di depan nya.


"Membenci ku? Kenapa? Apa aku sudah membuat semua keluarga mu habis seperti yang di lakukan seseorang? Hm?" tanya pria itu sembari menyentuh pipi yang terlihat pucat itu dan perlahan menyudutkan langkah nya.


"Memang nya Papa ku buat apa?! Dia tidak menyuruh orang lain untuk menghabisi keluarga mu kan?! Bukan dia yang membunuh orang tua mu! Terus salah dia dimana?!" Teriak gadis itu dengan suara tercekat.


"Menjadikan orang lain umpan mengalihkan sesuatu itu bukan kesalahan?" suara pria itu terdengar tenang, mata yang tajam walaupun dengan wajah yang datar.


Tak ada jawaban balasan dari bibir gadis itu, ia membalas tatapan tajam itu sebelum menundukkan pandangan nya.


James tersenyum simpul, ia mengarahkan rambut yang tergerai itu ke sisi kanan hingga memberikan tampilan yang jelas pada lengkung leher jenjang sebelah kiri gadis itu.


"Membunuh kakak mu juga belum cukup untuk ku, jadi..."


"Sampai saat itu datang kau bisa lebih membenci ku lagi." sambung nya berbisik sembari merasakan aroma tubuh gadis itu yang selalu membuat nya candu.


Pria itu pun perlahan mundur satu langkah dan tersenyum, senyuman yang terlihat lebih menakutkan di bandingkan wajah datar yang emosi nya tak bisa di baca.


"Dulu kau suka belanja dan barang-barang yang cantik kan? Aku memberikan kebebasan seperti itu pada mu di sini, kau bisa dapatkan apapun." ucap nya tersenyum.


"Barang-barang? Aku tidak memerlukan nya," balas Louise lirih sembari melirik sekilas ke arah tumpukan tas belanja yang belum disentuh nya sama sekali.


Yang ia inginkan saat ini bukan lah semua barang mewah tersebut, melainkan kehidupan nya seperti semula.


......................


JBS Hospital.


Balutan perban itu kini sudah terlepas, pandangan yang awal nya mengabur pun kini semakin jelas.


"Clara?" suara yang kini sangat mudah ia kenali karna tak lagi memakai chip pengubah suara.


Tak ada sahutan dari wanita itu, jangankan menyahut melihat pun begitu enggan.


"Aku belikan makanan kesukaan mu," senyuman yang hangat datang di wajah tampan itu.


"Keluar," hanya satu kata yang manjadi bahasa yang sering di keluarkan nya.


"Hari ini pemeriksaan nya berjalan lancar? Mata mu masih sakit? Atau merasakan sesuatu?" tanya pria itu yang bersikap tuli akan yang baru ia dengar sekarang.


Masih tak ada jawaban lagi, dan makanan yang masih hangat itu pun tak tersentuh.


"Cla, kau tau? Tadi ak-"


"Apa kita tidak bisa bercerai?" wanita itu langsung memotong bahkan sebelum ucapan suami nya selesai.


"Seperti nya aku punya pekerjaan, kita bicara lagi nanti." ucap Louis yang bersikap seperti tak mendengar apapun.


Pria itu melangkah keluar, sedangkan wanita yang terlihat seakan memiliki banyak pikiran itu hanya membuang napas nya lirih.


"Kalau aku tau pria yang menikah dengan ku adalah kau, aku tidak akan melakukan nya. Dan lagi bukan nya ini seperti penipuan?" tanya wanita itu yang kini mulai menoleh pada pria yang akan keluar dari ruangan nya.

__ADS_1


"Penipuan? Kau bisa menganggap nya sesuka hati mu, tapi aku tidak berniat melepaskan mu." ucap pria itu tanpa menoleh ke wajah wanita yang sedang berbicara pada nya.


...


Ruangan Presdir.


Sementara itu, Zayn sudah menunggu di ruang kerja sahabat nya.


Isi kepala nya masih berputar memikirkan sesuatu yang ganjal di pikiran nya. Ia sangat yakin jika Louise melakukan pewarnaan kuku di malam sebelum pertunangan nya namun di hasil tes yang di dapatkan dari korban kecelakaan tak ada sama sekali pewarna kuku tersebut.


"Kau mengunjungi ku? Ada apa?" tanya Louis mengernyit saat melihat teman masa kecil nya sudah menunggu nya.


"Ini mungkin terdengar gila, tapi ku pikir Louise masih hidup." ucap nya pada saudara kembar gadis itu.


Louis tak mengatakan apapun, ia terlihat tersentak namun ia tak mau berharap pada dahan pohon yang busuk karna harapan yang sia-sia.


"Kalau karna kuku kau bilang seperti ma-"


"Dia bukan memakai kuku palsu dan mainan, tapi dia benar-benar mewarnai nya. Aku yakin! Waktu dia melakukan nya dia menelpon ku, kami melakukan panggilan video jadi aku melihat nya." sanggah Zayn pada Louis.


Jika ayah nya mendengar hal itu pasti ia sudah di marahi habis-habisan namun ia tetap ingin mengatakan sesuatu yang mengganjal di hati nya.


"Aku akan minta seseorang untuk teh lebih dulu," ucap Louis yang terlihat menghindari percakapan tersebut.


Di bandingkan berharap pada seseorang yang mati dan hidup kembali, ia lebih memilih untuk menemukan siapa yang menjadi penyebab kematian yang tak biasa itu.


Tak lama kemudian dua cangkir teh yang hangat dan beraroma itu pun datang.


"Zayn? Aku tau kau menyukai adik ku, tapi mengatakan hal tak masuk akal seperti itu sangat..."


"Aku yakin dia masih hidup! Aku sadar saat mengatakan ini!" ucap Zayn lagi tanpa berkedip.


Louis hanya membuang napas nya secara pelan, namun karna sahabat nya itu datang, ia pun tanpa sadar mengingat hal lain.


"Dari pada itu, apa kau kenal pria yang dulu jadi pacar Louise? Siapa nama nya? Jake? Atau James?" tanya nya Louis mengernyit.


Crak!


Sekertaris Verdi hampir menumpahkan teh yang ia letakkan untuk atasan nya itu.


Pria itu tersentak, ia menyadari sesuatu yang mirip dari nama yang baru ia dengar dan membuat nya teringat dengan seseorang.


"Maaf Presdir, maaf tuan Zayn." ucap nya yang segera meminta maaf atas kesalahan kecil nya.


Louis hanya mengangguk kecil dan menyuruh sekertaris nya itu untuk keluar, pria yang biasanya tak pernah membuat kesalahan itu malah melakukan satu kesalahan kecil.


Pembicaraan yang sempat terpotong itu pun mulai tersambung kembali.


"James maksud mu? Aku tau dia, kami dulu pernah berpapasan beberapa kali dulu," jawab Zayn dengan wajah tak suka mengingat mantan kekasih gadis yang ia cintai itu.


Semua hal yang berkaitan dengan kecelakaan adik nya terlalu tepat dan tanpa alasan serta bersih tanpa jejak apapun, sama seperti ketika ia mencari tau identitas seseorang sebelum nya.


"Kau bilang apa?" tanya Zayn pada pria itu.


"Entahlah, ku rasa perasaan ku sedang buruk saja." jawab Louis sembari menarik napas nya.


......................


Sementara itu.


Wanita yang berbalut dengan selimut itu menatap ke pria yang memakai kembali kemeja nya.


"Kau bilang bisa mengambil anak ku lagi? Tapi sampai sekarang Al masih tidak di sini?!" tanya wanita itu dengan dahi mengkerut dan menatap tak suka.


"Kau sendiri yang tidak bisa menggoda nya," ucap pria itu dengan santai.


Ia pun meninggalkan sepucuk kertas yang bertuliskan informasi tempat dan waktu yang akan di kunjungi pria yang ia benci itu.


"Si*l! Kenapa gadis itu mati terlalu cepat?" gumam nya yang berdecak karna masih kesal ketika tidak mendapatkan apa yang ia inginkan.


......................


Mansion Dachinko.


Setelah dua hari berlalu, seperti sesuatu yang menjadi rutinitas biasanya pemberian obat pun di lakukan.


Walaupun gadis itu menolak namun orang-orang yang datang ke kamar nya akan memaksa nya untuk menerima suntikan itu masuk ke dalam tubuh nya.


Rasa berdenyut yang tajam dan juga perih selama menembus aliran darah nya dan mulai menyebar keseluruh tubuh memberikan rasa dingin yang luar biasa.


Wajah pucat itu hanya diam menggertakkan gigi nya menahan segala rasa yang di timbulkan dari pemberian obat baru untuk penyakit nya yang langka.


Perlahan orang-orang yang datang dan memberikan nya obat pun keluar satu persatu meninggalkan nya sendirian di dalam kamar itu.


Pandangan nya mulai mengabur, kesadaran nya mulai turun seperti biasanya.


Deg!


Gadis itu tersentak, ujung jemari yang hangat menyentuh dahi nya dan membelai dengan lembut.


Pandangan samar ia menatap ke arah seseorang yang mengusap kepala nya walau ia tak bisa membedakan siapa itu, ia tak bisa berpikir dengan baik karna kesadaran nya yang menurun.


Kakak? Aku sudah pulang?

__ADS_1


Gadis yang merindukan rumah nya itu, tentu nya selalu bermimpi kembali ke tempat nya.


Tempat di mana semua orang menyayangi nya dan ingin melindungi nya.


Satu tetes bulir bening jatuh dari kelopak mata nya, ia terlihat ingin mengatakan sesuatu namun tak bisa mengeluarkan suara apapun.


Set!


Tubuh nya terangkat, sentuhan hangat yang awal nya hanya mengusap kening nya kini seperti mendekap seluruh tubuh nya.


"Kak..."


"Aku mau pulang..."


"Aku belum mati..."


Ucapan yang selalu sama setiap kali gadis itu menangis dan kehilangan kesadaran nya.


Pria itu mendengar semua ucapan lirih yang terdengar menyedihkan itu, namun hati nya yang sudah mengeras itu tak dapat lagi merasakan iba.


Seseorang yang bahkan tak bisa berdamai dengan masa lalu dan trauma nya itu kini hanya memikirkan sesuatu yang ia inginkan, sesuatu yang hanya akan memberikan kepuasan untuk diri nya sendiri.


Ia memangku gadis itu yang di lilit selimut tebal itu, walaupun tengah hamil besar namun berat yang ia rasakan tak jauh berbeda, atau mungkin karna gadis itu tetap saja kurus walaupun tengah mengandung?


Tangan yang menepuk pelan punggung gadis itu seakan tengah memenangkan dan membiarkan nya jatuh ke dalam mimpi nya.


"Sekarang ini rumah mu, kau ingin pulang kemana?"


Bisik pria itu di telinga gadis yang masih setengah sadar dan terus menangis itu.


....


Ruangan yang gelap itu hanya memberikan sedikit cahaya.


"Dia mengatakan itu? Cari tau apa yang dia pikirkan dan berikan ini pada nya." ucap pria yang tak memperlihatkan wajah nya karna berada di dalam kegelapan dengan pencahayaan yang sedikit itu.


"Tapi ini..." Tampak wajah ragu dari orang tersebut.


Ia takut namun tetap mengambil nya.


"Kau bilang dia punya tempat yang menjadi pusat teknologi nya kan? Kau sudah masukan virus itu?" setiap kali pria itu bertanya maka seseorang yang berdiri menunduk di depan nya akan mengepal.


Hening tak ada jawaban sama sekali dari seseorang tersebut, "Seperti nya belum?"


Pria itu masih berdiri mematung tak mengatakan apapun.


"Setelah melakukan pemeriksaan ternyata ibu mu punya jantung dan ginjal yang masih bagus, apa dia selalu berada dalam pola yang sehat?" ucap nya yang langsung membuat pria itu tersentak.


"Siapa kau? Kenapa menganggu-"


"Kau tidak punya hak bertanya, jika ingin menyelamatkan seseorang harus ada harga nya kan? Tidak ada yang gratis di dunia ini..." ucapan yang terdengar santai tanpa beban sama sekali.


"Aku akan melakukan nya," ucap nya yang menggertakkan gigi nya dan mengepalkan tangan nya.


Bahkan jika harus menjadi anjing yang mengigit tuan nya, ia tetap akan melakukan nya untuk melindungi diri nya dari iblis yang sebenarnya.


"Karna kau gagal melakukan yang ku suruh aku akan membiarkan mu, tapi lakukan sesuatu untuk menghibur ku." ucap nya dengan siluet mata tajam yang melihat ke arah pria yang tampak mengepal sampai gemetar itu.


"Seperti nya kecelakaan di jalan sedang meningkat kan akhir-akhir ini?" sambung nya dengan menampilkan smirk nya.


Pria itu diam, walaupun tak mengatakan apa maksud nya namun ia mengerti.


"Jangan membuat ku kecewa lagi, aku tidak memiliki banyak kesabaran." sambung nya dengan nada rendah namun penuh dengan penekanan.


......................


Tiga Minggu kemudian.


Prang!


Gadis itu tersentak, wajah nya terlihat begitu terkejut mendengar berita yang di tayangkan di televisi.


Saham yang biasanya memiliki harga tinggi itu kini turun anjlok karna kebocoran informasi dan tengah mulai berada dalam protes masyarakat.


"A...apa? Dia kecelakaan? Mabuk?" gumam nya yang tak percaya.


Walaupun ia tau kakak nya bukan orang yang sangat baik tapi ia tau saudara kembar nya itu bukan pria yang bodoh karna menciptakan masalah di tengah masalah.


Gadis itu masih begitu terkejut, sampai ia tak bisa mengatakan apapun.


"Bagaimana? Kau suka hadiah yang ku berikan?"


Suara bariton pria yang langsung membuat nya, menoleh ke belakang.


Smirk yang terlihat puas dengan mata yang seperti memiliki rasa kemanusiaan yang telah sirna.


"Dia masih hidup, lagi pula aku berniat membunuh nya dengan ku sendiri nanti." ucap nya sembari membalik tubuh gadis itu menatap televisi dan memeluk nya dari belakang.


Gadis itu menggeleng mendengar nya, ia berusaha melepaskan pelukan itu namun tak bisa.


"Kau tidak akan bisa membunuh nya atau menghancurkan." ucap nya lirih dengan keyakinan menjatuhkan satu bulir bening yang mengenai tangan pria itu.


Aku harus keluar dari sini!

__ADS_1


Aku...


Aku harus keluar apapun cara nya!


__ADS_2