
Kepalan tangan yang menggenggam stir mobil itu sampai gemetar, detak jantung yang melaju begitu cepat dari biasa nya.
Nafas berat terdengar memenuhi seluruh mobil, amarah dan emosi yang tidak stabil sama sekali.
Pendengaran nya tak salah, ia sudah mengetahui bagaimana isi hati gadis pujaan nya. Namun mata untuk melihat itu semua tertutup.
"Tidak..."
"Dia hanya berbohong..."
Gumam nya yang berusaha menyakinkan diri nya jika ia tak mendengar apapun sebelum nya. Jika ucapan itu hanya lah angin lalu.
Tanpa sadar angin itu sudah mengusik nya begitu banyak sampai ia tak tau mana lagi yang harus ia pegang.
......................
Skip
Mansion Dachinko
Uap yang membuat kaca di ruangan itu mengabur, suara guyuran keran yang terdengar saat gemericik air menjatuhi ke lantai.
"Haish!" gumam nya lirih yang menyadari sikap kekanakan nya dengan mengadu dan membocorkan suatu rahasia orang lain.
Ia bahkan tadi tak ingat apa kah Louise akan marah atau tidak saat ia memberi tau.
Dan yang lebih parah nya lagi saat ini ia tak mengharapkan hubungan gadis itu tetap baik-baik saja dan malah masih menginginkan kehancuran hubungan yang akan terikat oleh momen sakral.
Tetesan air terdengar lirih saat, kran nya di putar dan memutus aliran air deras itu.
Pria dengan tubuh yang indah di tambah kilap air di bawah cahaya membuat nya tampak menggoda, belum lagi dada bidang yang di penuhi otot itu tampak begitu jelas. Ia berjalan beranjak mengambil handuk nya.
Ia mengusap rambut dan wajah nya yang basah, lalu kemudian melilitkan sepotong handuk berwarna putih itu di pinggang nya.
Luka di wajah nya begitu terlihat, ia tak membalas pukulan yang ia dapat sama sekali karna ia tau sakit nya di khianati.
"Aku yang merebut milik nya atau dia yang merebut milik ku?" gumam nya lirih yang tidak tau bagaimana menjelaskan posisi yang sedang terjadi.
Cinta memang bukan lah kesalahan, namun mencintai seseorang yang salah itu lah masalah nya.
...
Gadis kecil yang menggemaskan itu sudah menunggu sang ayah untuk selesai mandi.
"Daddy?" panggil nya begitu melihat pria yang bertelanjang dada itu keluar dari pintu kamar mandi.
James menoleh ke arah suara yang begitu ia kenali.
"Bianca?" panggil nya ketika putri kecil itu mendekat.
"Itu Daddy kenapa?" tanya Bianca sembari menunjuk bagian pipi yang memar dan sudut bibir yang terluka.
"Ini? Daddy jatuh tadi." jawab nya pada putri kecil yang menggemaskan itu.
"Kenapa bisa jatuh Dad?" Bianca menatap dengan mata polos yang percaya saja akan ucapan sang ayah.
"Karna Daddy kurang hati-hati," jawab James singkat sembari menatap ke arah putri nya.
"Bian kenapa ke kamar Daddy?" tanya nya pada putri kecil nya itu.
"Bian mau nunjukin ini!" ucap nya tersenyum yang menunjukkan coretan gambar nya.
"Ini apa? Monster?" tanya James yang bingung.
"Ih! Ini tuh Daddy sama Mommy tau!" ucap Bianca yang kesal saat gambar bagus nya di katakan mirip monster.
"Ah..." James mengangguk, "Daddy sama Mommy cantik sekali." ucap nya yang langsung memberikan pujian pada putri kecil nya.
Bianca tertawa senang mendengar nya, siapapun yang ia lakukan pasti sang ayah akan dengan senang hati mendukung serta menuruti nya.
"Bian mana? Kenapa cuma sama Mommy sama Daddy aja?" tanya James pada putri kecil nya itu.
"Iya! Kan Daddy sama Mommy nikah!" jawab Bianca sembari memutar kertas nya dan menunjukkan gambar lain nya.
"Nah! Ini Bian sama paman Eyn!" ucap nya yang menunjukkan gambar abstrak itu.
"Sama paman Zayn?" tanya James mengernyit.
__ADS_1
"Iya! Kan Daddy nikah nya sama Mommy telus Paman Zayn nikah nya sama Bian hihi!" jawab nya yang tertawa pada sang ayah.
James hanya menarik napas nya, ia mengusap kepala putri nya itu dengan lembut.
"Tapi kalau Bian mau nikah Bian harus tidur dulu! Biar cepat besar!" ucap nya yang segara mengalihkan pembicaraan dan mengatakan jika putri nya harus tidur lebih awal.
"Yah..."
"Bian kan belum ngantuk..." jawab Bianca lirih.
"Ngantuk! ini mau tidur!" ucap James yang tiba-tiba membuat tubuh mungil putri nya tertidur di atas ranjang nya dan mulai menggelitik perut bulat itu.
"Haha! Daddy geli!" suara tawa anak kecil itu terdengar memenuhi seisi ruangan kamar mewah itu.
Sang ayah sangat tau cara membuat putri nya lelah akibat banyak tertawa dan kemudian tertidur dengan sendiri nya.
......................
......................
Tiga hari kemudian
Kediaman Rai
Louise menerima panggilan dari tunangan nya yang tak menemui atau menghubungi nya sama sekali dalam tiga hari terakhir.
Jangan kan mengubungi nya, pesan nya pun tak mendapat balasan sama sekali.
"Zayn?" panggil nya yang menatap ke arah pria yang mengunjungi kediaman nya saat itu.
Pria dengan wajah tampan itu seperti biasa tersenyum, mendekat ke arah gadis pujaan nya dan berdiri di depan nya.
"Kau mau makan di luar malam ini?" tanya Zayn tanpa mengungkit dan mengatakan apapun.
Selama beberapa hari, ia terus memikirkan nya. Ia marah dan ingin langsung bertanya. Butuh keberanian yang penuh.
Bukan rasa takut melainkan rasa yang tak siap sama sekali untuk mengetahui apa jawaban gadis itu.
Jawaban dan reaksi yang ia sendiri takut untuk menerima nya.
Namun duri yang di miliki melukai nya sampai ikut mewarnai merah nya mawar tersebut. Sehingga tak tau lagi bagaimana membedakan antara luka dan keindahan yang di dapat.
Louise terdiam, ia menatap ke arah pria yang bersikap seperti biasa padahal satu pesan dan telpon nya tak di angkat sama sekali.
"Kau kemana saja?" tanya nya menatap ke arah pria itu.
"Aku sibuk, maaf lupa mengabari mu." jawab nya yang padahal gadis itu pun tau jadwal yang ia miliki.
Louise tak mengatakan apapun lagi, namun ia menyetujui untuk makan malam di luar.
"Kita juga perlu melihat vila untuk bulan madu kita, besok kita ke sana ya?" tanya nya sembari meraih tangan gadis itu.
Louise terdiam, ia ingin mengatakan jika ia tak bisa pergi besok namun ia tak bisa menolak tatapan mata yang begitu berharap pada nya.
"Ya, kita akan melihat nya besok." jawab gadis itu lirih.
Zayn tersenyum, ia tak mengatakan apapun. Berusaha membungkam dan mempertahankan apa yang ia miliki.
......................
Apart Sky Blue
Louise merebahkan tubuh nya begitu sampai di apart pria itu setelah kembali dari makan malam nya dan tentu jalan-jalan sejenak.
Sedangkan pria itu tak mengatakan apapun, ia tau tubuh gadis itu lelah.
"Mau ku pijat?" tawar nya yang melihat ke arah gadis yang ingin tertidur itu.
Louise menoleh, ia tersenyum tipis dan langsung telungkup, "Boleh!" jawab nya yang langsung menawarkan diri untuk bersedia.
Zayn beranjak mendekat ia memijat tubuh gadis itu secara perlahan.
Louise yang merasakan tubuh nya bisa berelaksasi membuat nya semakin merasa mengantuk.
Tak butuh waktu lama gadis itu jatuh tertidur, Zayn menyadari nya. Tangan nya tak lagi memijat dan beralih mengusap kepala gadis itu.
Ia masih begitu berat, ia tak ingin melepaskan nya dan masih tetap ingin mempertahankan gadis itu.
__ADS_1
....
Ke esokkan pagi nya.
Telpon mulai berdering, membunyikan suara getaran nya yang membuat seorang pria yang sudah terbangun sejak pagi menoleh.
Ia melihat ke arah nomor yang tak di simpan namun sangat ia kenali.
Tanpa menjawab dan menanyakan tentang keperluan nya ia mematikan nya dan sekaligus menonaktifkan ponsel gadis itu.
Zayn tak lagi menghiraukan nya, ia pun kembali untuk menyiapkan sarapan nya dan gadis itu.
Suara masakan terdengar, aroma harum yang membangunkan gadis yang sudah puas tertidur itu.
"Zayn?"
Suara serak ketika masih bangun tidur itu terdengar jelas.
Pria itu menoleh, ia tersenyum dan menyiapkan sarapan nya.
"Morning, kau sudah bangun?" tanya nya yang mendekat dan mengecup pipi gadis itu.
"Aku tidak tau cara nya memasak, jadi kita makan ini saja." ucap nya yang meletakkan omelet dengan daging cincang dan salad kemudian jus di atas meja.
Ia menegak gelas yang berisi air mineral dan meminum nya.
Melihat ke arah pria yang begitu memberikan semua perhatian yang ia butuhkan.
"Makan," ucap nya pada gadis itu.
Louise mengambil makanan nya, sesekali ia melihat ke arah pria yang memasak untuk nya tanpa menegur nya karna bangun terlambat.
"Nanti sore penerbangan kita, aku sudah pesan tiket nya." ucap nya pada gadis itu.
Louise hanya mengangguk, ia tak bersemangat menjelang pernikahan nya dan bahkan lebih terlihat tak berminat.
"Louise?" panggil Zayn lirih.
"Hm?" gadis itu menoleh saat iris hijau nya menatap ke arah pria yang memanggil nya.
"Kau benar-benar tidak punya hubungan lagi dengan dia kan?" tanya Zayn lirih tanpa menyinggung soal ciuman yang pernah ia lihat atau tidur bersama yang pernah ia dengar.
Louise terdiam, pria yang menatap nya dengan penuh harap dan cemas itu seperti mengharapkan jawaban yang di inginkan.
"Tidak, kami hanya berhubungan tentang Bianca saja." jawab Louise lirih.
Zayn diam, walaupun itu adalah jawaban yang ia inginkan namun tetap saja gusar di hati nya tak kunjung hilang.
"I love you," ucap nya pada gadis itu sembari memegang tangan yang tak memegang sendok itu.
Louise diam, pria itu tampak mengharapkan jawaban yang ia inginkan.
"Love you too," jawab nya lirih dengan lidah yang berat dan mata yang tak bisa memandang ke arah pria itu.
Zayn tak mengatakan apapun lagi, mata gadis itu tak menatap nya sama sekali saat membalas pernyataan nya.
Ia berdiri mendekati gadis itu, menarik dagu nya dan mulai mencium bibir manis tunangan nya itu.
Humph!
Louise tersentak, ciuman kali ini lebih aktif dan tak selembut biasa nya.
Rasa nya ia seperti tersedot masuk ke dalam pria itu, bibir dan hidung mancung yang terhimpit membuat nya merasa sesak.
Tangan nya refleks mendorong pria itu untuk mencari udara namun, usaha nya seperti tak memberikan hasil sama sekali.
Pria itu masih tetap mencium nya, hingga tangan yang tadi nya berusaha mendorong malah meremas dan menggenggam erat pakaian yang di kenakan oleh pria itu.
Zayn melepaskan ciuman nya, ia menatap ke arah gadis yang tampak sesak akibat ulah nya.
"Zayn..." ucap Louise lirih yang merasa pria itu sedikit bersikap aneh.
"Kau tadi baru bilang kau mencintai ku, apa aku tidak boleh mencium mu?" tanya dengan suara yang lembut itu.
Louise bungkam, ia tak bisa menyalahkan nya dan pria itu juga memiliki hak untuk melakukan kontak fisik nya dengan nya seperti ciuman.
"Tidak..." jawab nya lirih yang membuang arah mata nya.
__ADS_1