
Mall
Wanita itu membuang napas nya dengan kesal, ia menatap ke arah pria yang dengan santai membaca majalah sembari menikmati teh sedangkan ia terus menganti gaun nya.
"Kita memang nya mau ke mana? Bukan nya gaun yang untuk menghadiri pernikahan Louise sudah di beli?" tanya wanita itu pada pria yang menoleh ke arah nya.
"Iya, memang sudah." jawab Louis dengan enteng dan mulai menyeduh teh hangat nya.
"Terus? Ini buat apa lagi?" tanya wanita itu yang tak mengerti sama sekali.
"Tidak ada, aku mau belikan saja." jawab pria itu yang semakin membuat wanita di depan nya jengkel.
"Tapi aku ga mau!" sahut Clara dengan kesal.
Louis meletakkan majalah nya, sejak tadi ia membawa wanita itu berbelanja berbagai hal yang dapat langsung di coba. Entah itu pakaian atau sepatu dan sejenis nya.
"Waktu di rumah sakit, kalian bicara apa?" tanya nya yang ingin tau pembicaraan wanita nya dengan adik nya.
"Rahasia!" sahut Clara pada pria itu.
Louis membuang napas nya lirih, ia kembali menyandarkan punggung nya ke sofa yang empuk itu.
"Berikan gaun yang lain pada nya," ucap Louis yang kembali menyuruh pegawai toko branded memasangkan kembali pakaian dan gaun untuk di coba lagi.
"Ih! Iya! Iya! Aku bilang!" ucap Clara yang kesal.
Pria itu tersenyum seketika, "Kirim semua pakaian yang tadi dia coba ke alamat ini." ucap nya sembari mengeluarkan kartu hitam nya untuk memproses pembayaran.
"Bu..bukan nya kebanyakan?" tanya Clara tersentak.
"Kau kan bisa jual lagi kalau tidak mau pakai," jawab pria itu enteng.
"Ayo, mau makan siang kan?" sambung nya pada wanita itu.
"Tidak sibuk?" tanya Clara mengernyit.
"Aku bisa atur kesibukan ku," ucap nya sembari menarik tangan wanita itu.
...
Cafetaria
Louis meminum kopi latte nya dengan sedotan sembari melihat ke arah wanita yang diam tak mengatakan apapun padahal ia sedang menunggu.
"Kalian bicara apa wakti di RS?" tanya nya pada wanita itu sekali lagi.
Clara membuang napas nya, "Kenapa penasaran sekali? Mau tau aja urusan perempuan." jawab nya dengan mengernyitkan dahi nya menatap dengan bingung.
"Aku kan penasaran, dia tidak punya komentar apapun lagi setelah itu." jawab Louis dengan jujur.
Clara mengangguk, "Dia bilang kalau kau memaksa ku untuk menikah dia akan membawa ku pergi sampai tidak bisa kau temukan."
Louis langsung menoleh, "Lalu kau bilang apa?" tanya nya seketika.
"Aku bilang kalau kau tidak memaksa ku," jawab nya pada pria itu.
"Lalu kalian bic-"
"Tapi, tentang pernikahan nya..." potong Clara yang tak sempat membiarkan pria itu menyelesaikan kalimat nya.
"Kenapa? Pernikahan nya?" tanya Louis yang tak jadi menanyakan pertanyaan semula.
"Dia memang benar-benar ingin menikah kan?" tanya Clara mengernyit.
Ada beberapa hal yang hanya bisa di lihat sesama wanita.
"Tentu, dia akan jauh lebih bahagia sekarang." jawab Louis dengan tersenyum tulus.
Ia memang memiliki niat yang baik, namun mungkin standard bahagia yang di inginkan sang adik dan standard bahagia yang ia pikirkan dan perkirakan berbeda.
Clara mennagguk kecil, ia tak begitu mengetahui masalah yang terjadi karna selama ini ia pun memang tak masuk ke dalam nya.
"Anak kecil yang kemarin anak Louise?" tanya nya pada pria itu.
"Yang waktu itu ada di ruangan ku?" tanya Louis memperjelas.
Clara tak menjawab namun ia mengangguk atas pertanyaan yang di berikan pada nya.
"Iya," jawab pria itu tanpa menutupi apapun.
__ADS_1
"Dengan Zayn?" tanya Clara sekali lagi, ia tak bersikap kurang ajar dengan mengatakan kalimat tak pantas atau pun ingin menghujat gadis itu.
"Bukan," sahut Louis seketika dengan wajah masam.
"Dia pria yang buruk," sambung nya dengan menunjukkan rasa kesal nya.
"Separah apa? Lebih buruk dari mu?" tanya Clara yang tau maksud kata buruk itu bukan untuk rupa.
Louis langsung melihat ke arah mata wanita itu, "Apa aku dulu pernah ninggalin terus bilang kalau aku tidak pernah menyukai mu?" tanya nya pada wanita itu.
Clara menggeleng, "Kau bilang kau menyukai ku sejak awal dan sikap mu sangat buruk." ucap nya pada pria itu.
"Tapi kan aku tidak pernah menunjukkan suka dengan orang lain! Terus aku juga tidak mencelakai mu dengan sengaja!" jawab nya nya sekali lagi.
"Lalu itu berarti yang kau lakukan benar? Sengaja atau tidak aku tetap mandul sekarang." jawab Clara yang membuat pria itu bungkam.
"Maaf..." jawab nya yang tak lagi mencari pembenaran karna yang ia lakukan dulu itu memang salah.
"Dia juga melakukan itu?" tanya Clara yang kembali ke topik awal walaupun sebelum nya sempat nostalgia.
"Tidak, itu sesuatu yang berbeda." ucap Louis pada wanita yang berada di depan nya.
"Memang nya apa?" tanya Clara lagi.
"Dia menggunakan Louise untuk balas dendam," jawab nya lirih dengan pandangan mata yang berbeda.
"Lalu bagaimana dengan Louise?" tanya nya lagi.
Ia bahkan tak tau hubungan yang berlanjut dengan mantan suami nya itu sudah semakin mirip dengan orang-orang biasa yang menjalin hubungan.
Mulai dari pembicaraan normal, lalu berpergian atau mengatakan dan memberitakan sesuatu yang begitu remeh seperti tersandung saat berjalan atau lupa mengenakan kaus kaki yang tidak sama.
"Louise? Dia pasti akan senang terbebas dari pria itu kan?" jawab Louis yang juga seperti tanda tanya.
"Benarkah?" Clara mengernyit, ia mengaduk milkshake nya dengan pipet besar itu dan mengingat ekspresi yang ia temui beberapa waktu lalu.
......................
Mansion Dachinko
Tiga hari kemudian.
Gadis kecil itu berjalan ke sebuah kamar yang sebelum nya memiliki pemilik.
"Hum? Kak Al?" gumam nya lirih yang mencoba ke kamar seseorang yang baru ia sadari tak ada lagi dengan nya.
Anak sekecil itu tak mengerti apa nama nya dendam namun kemarahan di lubuk hati nya nya tak pernah terselesaikan.
"Kak Al ga ada?" ia pun langsung keluar dan tentu mendatangi sang ayah.
Menanyakan seseorang yang tak lagi terlihat oleh mata nya.
"Kak Al nya pergi, kenapa? Bian kangen kak Al?" tanya James sembari mengusap kepala putri kecil nya.
Bianca tak menjawab namun ia merasa sang kakak kembali meninggalkan nya untuk bermain sendirian.
Lambat laun ia mungkin akan mulai lupa namun bekas ingatan yang sudah berada di kepala nya tak akan menghilang dengan mudah.
...
Bianca mendatangi sang ayah dengan pakaian yang masih mengenakan kostum latihan nya.
Kaki nya yang kecil dengan wajah bulat yang cantik membuat siapapun ingin menggendong nya karna gemas.
"Daddy!" panggil nya dengan mata bersinar yang begitu melihat sang ayah.
James tersentak, sesuatu yang kecil seperti menabrak kaki nya dari belakang.
Ia pun berbalik dan melihat ke arah nya, putri kecil nya tengah melihat nya dengan mata yang jernih itu.
"Sudah selesai latihan nya?" tanya James sembari menggendong putri kecil nya itu.
"Sudah!" jawab Bianca dengan nada lebih ceria.
"Mommy nanti sampai nya jam berapa?" tanya nya pada sang ayah.
"Mommy? Mungkin-"
"Tuan? Maaf menyela, nona Louise datang dan menunggu di ruang tengah." seorang pelayan datang dengan membawakan kabar yang ingin di dengar oleh gadis kecil itu.
__ADS_1
Bianca langsung turun dari gendongan sang ayah dan berjalan ke arah sang ibu.
"Myy! Mommy!" suara nyaring nya memenuhi seisi ruangan.
Greb!
Louise langsung menangkap tubuh mungil itu dan menggendong nya.
"Bian latihan? Anak Mommy belajar apa tadi?" tanya Louise yang melihat ke arah pakaian bela diri itu.
"Belajal hiyat! Hiyat!" jawab Bianca yang memang belum mengerti apa yang di ajarkan pada nya.
Louise hanya tersenyum bingung mendengar nya karna tak memahami bahasa anak menggemaskan itu.
"Mommy? Bian ada gambal Mommy deh!" ucap nya yang turun dan ingin menunjukkan karya seni nya yang mirip dengan kecoa demo itu.
Louise hanya tersenyum dan membiarkan gadis kecil itu berlari ke kamar nya.
Sedangkan seorang pria yang melihat nya dari jauh tanpa sepatah kata pun tampak sangat berbeda saat mereka berkomunikasi dari ponsel.
"Ini," Louise melangkah mendekat.
Ia mengeluarkan suatu undangan yang tampak mewah dan cantik lalu memberikan nya pada pria itu.
Ia tak tau harus mengundang nya atau tidak, calon suami nya tak menyuruh nya untuk mengundang atau melarang nya.
Namun karna ia berpikir jika pria itu adalah ayah dari putri nya ia tetap harus setidak nya memberikan satu undangan.
James tersentak, ia tak mengatakan apapun dan mengambil undangan yang tampak mewah itu.
Bibir nya tak terbuka, rasa amarah mengumpul di dalam dada nya. Sesuatu yang ingin ia tahan sejak dulu rasa nya bisa meledak seketika saat melihat dua nama yang akan mengikrarkan janji itu.
Ia memang sudah berjanji untuk tak lagi mengejar gadis itu jika bisa selamat kali ini.
Ia sudah mengatakan ribuan kali pada diri nya jika ia tak akan serakah lagi untuk gadis itu, tapi?
Kenapa sekarang ia sangat marah dan tak bisa menerima nya?
"Apa dia tau kalau kita pernah tidur bersama?" tanya nya tanpa sadar saat ia tak bisa mengandalkan emosi nya yang meluap dan memenuhi dada nya.
Louise tersentak, itu hanya rahasia yang harus nya terkubur di pasir pantai malam itu tanpa di ungkit lagi.
"James!" panggil nya seketika pada pria itu.
"Kalau aku mengatakan nya, kalian mungkin tidak akan jadi menikah kan?" tanya James sekali lagi yang bahan tak sadar mengeluarkan kata-kata yang harus nya tak ia ucap kan.
"Kenapa kau mengungkit nya?! Malam itu..."
"Itu cuma kesalahan..." sambung gadis itu lirih.
"Aku tidak menganggap nya kesalahan dan lagi pula kita tidak mabuk sama sekali." ucap nya pada gadis itu.
"Berhenti mengatakan nya! Kau kenapa? Waktu itu kau bilang kau tidak mau menemui ku lagi?! Lalu sek-"
Humph!
Louise tersentak, pria itu menarik tengkuk nya dengan tiba-tiba dan kemudian mencium nya dengan agresif seperti marah dan kehilangan kendali atas diri nya sejenak.
Gadis itu mencoba mendorong nya saat ia tersadar, ia tak bisa menyakiti seseorang yang benar-benar mencintai nya lebih banyak lagi dengan kebingungan nya.
"Hum? Daddy?"
Deg!
Pria itu lupa sejenak di mana ia berada, kemarahan dan rasa yang kalut saat tak bisa menerima undangan itu menyadarkan nya.
Ia langsung melepaskan ciuman nya, dan Louise pun tampak langsung menutup bibir nya.
"Daddy kenapa makan Mommy? Daddy lapel?" tanya nya dengan mata yang polos karna ia tak mengerti ciuman sama sekali dan dalam posisi yang dominan itu memang sang ayah seperti tampak memakan ibu nya.
"Bian?" panggil Louise yang mencoba mendekati putri nya.
Bianca tak menghiraukan, tangan kiri nya memegang kertas gambar nya dan tangan kanan nya merogoh saku nya mencari permen coklat yang ia ingat pernah di berikan oleh paman Nick nya.
"Nih makan! Jangan makan Mommy!" ucap nya dengan polos dan memarahi sang ayah sembari memberikan sebungkus permen coklat yang sudah remuk itu.
James tak menjawab apapun, atau meluruskan kesalahpahaman putri kecil nya. Ia pun mengambil coklat yang tak lagi berbentuk itu dari tangan mungil putri nya.
Bianca berbalik dan berjalan ke arah sang ibu, "Udah besal kok ga bisa ambil makanan sendili! Di kuyas kan banyak makanan!" omel gadis kecil itu yang terus menggerutu dengan mulut kecil nya.
__ADS_1
Louise yang awal nya tadi sempat marah dan mungkin dalam suasana hati yang buruk malah tersenyum mendengar ocehan kecil yang tampak menggemaskan dengan wajah cantik itu.
"Iya!" sahut James menarik napas nya sembari melihat ke arah senyuman di wajah cantik itu.