(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia

(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia
Sandra ekslusif


__ADS_3

Hng?


Mata bulat itu kini tampak sayu, ia mengusap dengan tangan nya yang mungil dan melihat ke arah luar jendela mobil yang sudah gelap tak menunjukkan adanya mentari lagi.


"Uda di mana?" gumam nya yang melihat ke arah luar jendela.


Box besar yang mengangkut barang itu tampak berseliweran di tengah alat berat serta cahaya dari laut malam yang terpantul.


Tak ada siapapun di mobil kecuali diri nya, gadis kecil itu mulai keluar dengan membuka mobil nya lebih dulu.


"Daddy?"


Wajah nya tampak bingung dan linglung, mencari sang ayah.


Kaki mungil dengan sepatu lucu itu mulai berjalan menyelusuri tempat yang ia bahkan tak tau ada di mana.


"Kapal nya kok jelek?"


Mata nya mengernyit menatap tak mengerti, kapal yang biasa ia lihat di miniatur mainan nya tampak mewah dan cantik namun kapal yang ia lihat saat ia tak sama.


"Pindahkan cepat!"


Bianca tersentak mendengar suara keras yang seperti nya tengah sibuk.


"Daddy?" panggil nya yang mulai lirih.


Kaki kecil nya memutar mencari ke arah mobil yang tadi membawa nya, namun...


Ia tak lagi mengingat nya, apa yang bisa di ingat?


Tempat yang ia lalui begitu gelap dengan cahaya yang hanya tampak dari senter orang-orang yang tengah memindahkan barang.


"Daddy..."


Panggil nya mencari sang ayah, pikiran nya sangat sederhana.


Ia berpikir dan mengira jika semua mobil yang keluar dari tempat tinggal nya akan menunju ke sang ayah.


Gadis kecil itu bahkan tak tau kemana saja mobil-mobil itu pergi dan terutama nya lagi ia bahkan tak tau dan belum mengerti pekerjaan apa yang di lakukan oleh ayah kesayangan nya.


"Daddy mana?"


"Daddy lagi main petak umpel? Kok main nya gelap-gelap..."


Cicit nya lirih yang mulai merasa takut namun ia masih percaya seharusnya mobil yang ia naiki dari mansion itu akan pergi ke sang ayah.


Kaki nya berjalan kembali mencari mobil yang tadi nya ia naiki, namun


"Astaga!"


Pekik pria itu yang tampak sangat terkejut melihat seorang anak kecil dengan kaki dan tangan yang pendek itu berada di pelabuhan yang tengah melakukan transaksi ilegal.


Bianca pun tersentak sampai terjatuh, "Bian kaget..." keluh nya ketika ia bangun dengan sendiri.


"Hey? Kenapa ada anak kecil di sini?" panggil nya pada rekan nya.


Bianca masih berdiri, ia tak mengerti apa tengah terjadi.


Beberapa pria dengan tubuh tegap pun mulai datang ke arah rekan nya yang memanggil sedangkan mata coklat itu mulai meremang dan memundurkan kaki kecil nya.


"Ini bukan anak yang lepas kan?" tanya salah seorang pria sembari melihat gadis kecil yang cantik dan tampak bersih dengan pakaian dan sepatu yang terlihat mahal sangat berbeda jika anak itu adalah anak gelandangan.


"Kayak nya bukan," jawab nya yang juga melihat ke arah makhluk mungil kecil yang cantik itu.


"Terus kenapa di sini?" tanya salah satu pria itu.


"Gak tau, buang aja ke laut udah! Susah kalau sampai bos tau ada saksi mata!" seru nya yang tak mau ambil pusing.


Sedangkan makhluk kecil yang tak tau apapun itu mulai mengambil ancang-ancang untuk lari.


Ia memang tak mengerti namun naluri dan insting nya mengatakan jika ia harus segera kabur.


"Sial! Lari itu anak nya!"


Bianca mempercepat lari nya sekencang mungkin, coklat yang seharusnya di berikan pada sang ibu pun tanpa sadar ia remas dengan kuat saat menggunakan tenaga nya untuk berlari.


"Mobil nya!"


Melihat ada salah satu mobil yang hidup mesin nya dengan warna yang sama seperti mobil yang ia naiki tadi membuat nya ingin langsung ke sana.


Ia tak tau apa itu plat mobil, apakah sama atau tidak yang ia tau hanyalah memiliki tampilan yang sama.


Gadis kecil itu membuka pintu yang tak terkunci, dan bersembunyi di bangku belakang.


......................

__ADS_1


6 Jam kemudian


Mansion Dachinko


Plak!


Suara tamparan yang begitu keras, terdengar memecah keheningan.


Beberapa jam lalu ketika pemilik mansion mewah itu pulang, tak ada sambutan dari putri cantik nya yang menggemaskan seperti biasanya.


Terlebih lagi seisi mansion yang tampak kelimpungan mencari sesuatu, dan ia juga baru tau jika putri nya menghilang.


"Kau tidak lihat mobil dulu sebelum jalan?!" tanya nya dengan tatapan tajam.


Setelah di cari melalui cctv terlihat jika putri kecil nya menaiki salah satu mobil yang akan pergi.


Dan yang menjadi masalah besar nya saat ini adalah mobil itu pergi ke pelabuhan untuk melakukan transaksi ilegal seperti biasa, entah itu perdagangan narkotika, racun, organ dalam, atau bahkan manusia.


Dan semua identitas orang-orang yang melakukan transaksi di tempat itu juga di rahasiakan mulai dari si pembeli ataupun si penjual dan hanya memakai kode sekali pakai yang berupa pengenal nomor dengan angka yang di gabungkan untuk saling menjaga identitas.


"Maafkan kelalaian saya," jawab pria yang memakai jas hitam itu menunduk.


"Kembali ke sana dan cari! Kalaupun sampai ke dalam laut nya juga harus dapat!" perintah nya yang terdengar khawatir sampai membuat suara nya bergetar.


Siapa yang harus benar-benar di salahkan?


Pekerja yang lalai atau putri nya yang memang nakal dan keras kepala sehingga pergi sendiri tanpa memberi tau nya.


Padahal ia baru saja membuat rencana pancingan untuk mengetahui tikus mana yang selalu menganggu nya.


"Tuan?" panggil Nick yang membuat pria itu menoleh.


"Anda yakin ingin melakukan rencana itu? Nona Bianca baru saja hilang dan jika yang menemukan nya tau kalau dia anak tuan pasti akan..." ucap Nick menggantung dan kalimat selanjutnya pasti dapat di ketahui.


James diam, ia merasa waktu nya harus ia percepat untuk mengetahui siapa yang mengganggu nya selama ini.


Maka dari itu ia membuat rencana untuk berpura-pura menjadi jangkrik kosong, hanya suara yang besar namun tak memiliki kekuatan apapun.


Dengan begitu musuh yang selama ini sangat menganggu nya akan keluar dengan sendiri untuk mentertawakan nya, namun sekarang?


Tak pernah masuk ke dalam list rencana jika putri nya akan hilang.


......................


Kediaman Rai


Satu usapan membawa nya pada potret gadis kecil terlihat gemas dan cantik saat memakai bando Mikey di kepala nya.


Mommy? Tapi Bian di sini Myy, Bian gak pelgi tuh!


Suara khas anak kecil yang belum bulat itu terbayang di telinga nya, senyuman kecil dengan mata yang sayu terlihat.


Ia tak lagi melihat ke arah ponsel nya, tubuh yang berada di atas tempat tidur dan juga langit-langit kamar dengan lampu gantung yang cantik dan mewah membawa pikiran nya ke arah lain.


"Anak itu sedang apa?" gumam nya lirih.


Satu telapak tangan yang mungil, pelukan yang kecil dan tak sanggup mendekap seluruh tubuh nya.


Namun ia merasa hangat, walaupun kecil namun rasanya pelukan terakhir kali itu mampu memberi nya selimut yang menutup tubuh nya.


Louise melihat ke arah ponsel nya lagi, tak ada pesan dari James selama beberapa hari terakhir.


Padahal biasanya pria itu selalu mengirimkan sesuatu yang berhubungan dengan putri mereka atau sekedar mengirim pesan dan menceritakan hal-hal kecil walau tak pernah ia balas.


"Eh? Astaga!" ucap nya kaget yang ternyata tak sengaja memanggil nomor pria itu.


Ia pun beranjak mematikan namun,


"Halo?"


Suara bariton yang terdengar khas itu menjawab nya.


"Ya..ya?" jawab nya yang canggung karna ini pertama kali nya ia menelpon duluan setelah bertahun-tahun tanpa ada sebab yang jelas.


Memang sewaktu kecelakaan ia menelpon pria itu karna putri cantik nya sibuk bertanya tentang sang ayah. Namun karna berada di situasi yang cukup berbeda membuat nya tak canggung sama sekali lain nya hal dengan saat ini.


"Ada apa?"


Louise diam sejenak, terdengar suara yang berbeda dari biasanya.


"A..aku cuma mau tanya soal anak itu? Dia baik-baik saja kan?" tak aneh memang jika ia bertanya karna sebelum nya kecelakaan bersama dengan putri kecil nya.


"..."


Hening tak ada jawaban sama sekali untuk pertanyaan nya, "James?" ia memanggil ulang untuk memastikan panggilan nya masih tersambung.

__ADS_1


"Ya, dia baik-baik saja."


Louise membuang napas nya lirih ketika pria itu menjawab sesuai yang ingin ia dengar, "Ya..yasudah aku tutup..." ucap nya yang canggung.


Ia melihat ke arah ponsel nya yang tak lagi melakukan panggilan, "Astaga! Kenapa jadi malu?!" ucap nya yang merasa begitu canggung.


......................


Pelabuhan.


Pria itu melihat ke arah ponsel nya yang menampilkan bercak darah karna jemari nya penuh akan cairan merah kental yang anyir itu.


"Dia tidak boleh sampai tau..." gumam nya lirih.


Entah apa lagi yang akan di rasakan gadis itu jika berpikir akan kehilangan anak nya dua kali.


Ia memejam sejenak dan kembali menatap ke arah orang-orang yang di siksa untuk membuka mulut nya itu.


Namun sesuai dengan dugaan nya, tidak akan ada yang tau siapa saja yang berada di pelabuhan tanpa cctv dan tanpa keamanan itu.


"Tidak berguna," gumam nya lirih yang mengarahkan pistol nya tepat di dahi pria yang sudah compang camping itu.


DOR!!!


Timah panas yang tajam itu menembus dan membuat seluruh pakaian nya kotor akan cairan merah yang amis itu.


......................


Mansion Alex


"Hahaha!"


Suara tawa yang menggelegar itu terdengar dengan kuat.


"Langit saja mendukung ku! Dewa juga pasti sedang kasihan melihat ku!" ucap nya yang merasa sangat senang dengan keberuntungan berlimpah nya hari ini.


Membeli narkotika dan racun plus sekalian mendapatkan bonus yang sebelum nya membuat nya putar otak untuk mencari cara membawa salah satu kelemahan dari pria yang ia benci.


"Ketawa telus? Bian pulang nya kapan? Mau Daddy..."


Suara menggemaskan itu tampak lesu yang menginginkan sang ayah.


Namun ia tak merasa takut seperti sebelum nya, tak ada ruangan yang kotor dan berdebu, tak ada paman jelek yang bau dan menakutkan.


Yang ada hanya ruangan kamar yang besar dan mewah serta paman yang tampan dan wangi namun tertawa tanpa alasan sejak melihat nya.


"Mau pulang?" tanya nya sembari memegang tangan mungil anak kecil yang duduk di atas ranjang nya itu.


Satu anggukan menjadi jawaban dari pertanyaan itu.


"Lalu jawab pertanyaan ini," ucap nya yang mengambil foto sekarang wanita yang sangat di kenali gadis mungil itu.


"Dia Mommy mu?" tanya nya sembari menunjukkan poto yang sudah dalam bentuk cetak itu.


"Mommy!" Bianca langsung berbinar menatap Poto cantik sang ibu.


Senyuman pria itu naik, ia tak tau jika langit pun sangat mendukung nya sampai skenario yang tak pernah terpikirkan akan terjadi ketika gadis kecil itu entah mengapa bisa berada di pelabuhan dan lebih sesuatu lagi karna naik ke dalam mobil nya.


"Paman kenal Mommy?" tanya nya dengan tatapan polos pada pria yang tersenyum simpul itu.


"Kenal, bagaimana kalau kita panggil mommy kamu dulu?" tawar nya pada gadis kecil itu.


Bianca mengerucut, ia memang suka ibu nya dan bahkan keluar sendiri karna ingin bertemu dengan ibu nya.


Namun yang paling pertama di hati nya masih sang ayah yang belum tergantikan.


"Bian mau Daddy..."


"Bian kangen nya sama Daddy..."


Jawab nya lirih yang memang dalam 1 x 24 jam harus menemui sang ayah.


Tak ada jawaban, hanya secarik smrik yang naik di sudut pria itu saat melihat anak menggemaskan yang tampak lesu itu.


"Ini minum susu nya, anak kecil harus minum susu kalau mau tinggi." ucap yang memberikan susu vanila yang sudah di siapkan pelayan nya tadi.


Bianca menatap ke arah minuman yang di berikan pada nya dan menggeleng, "Bian gak suka susu putih! Mau nya yang coklat kalau engga yang stelelobeli!" ucap nya yang tampak tegas tak mau meminum susu vanila.


"Hey nak? Kau itu sedang di culik? Tau tidak?" tanya Alex yang menggeleng menatap ke arah anak kecil itu.


"Hum?" mata coklat yang tampak polos dan tak mengerti ucapan pria dewasa di depan nya.


Alex membuang napas nya, ia meletakkan kembali susu yang tadi nya di tangan nya dan meminta pelayan untuk mengganti dengan susu coklat yang di mau gadis kecil itu.


"Karna kau Sandra ekslusif aku akan berikan kelonggaran," ucap nya dengan senyuman simpul sembari meraih pipi bulat dari anak cantik nan menggemaskan itu.

__ADS_1


"Hum?" Bianca memiringkan kepala nya fan menatap dengan semakin bingung karena ia semakin tak mengerti apa yang di maksud.


"Samla elusip? Siapa?" tanya nya dengan bingung yang bahkan tak bisa mengucapkan kata 'Sandra ekslusif' dengan benar karna masih memiliki lidah yang celat.


__ADS_2