
Mansion Dachinko
Dua hari kemudian.
Nick melihat sejenak ke arah tubuh mungil yang masih terlihat utuh itu, "Tuan? Apa anda yakin ingin terus menunggu sampai nona Louise bangun?"
"Hm, dia harus lihat anak nya yang mati karna kesalahan yang dia buat sendiri kan?" jawab pria itu sembari memandang ke arah putra mungil nya yang berada di dalam kotak kaca yang dingin itu agar tetap awet dan tak membusuk.
Tak ada lagi yang bisa di katakan oleh Nick, ia pun hanya bisa menuruti apa yang tuan nya inginkan.
...
"Bukan nya ini sudah hari ketiga? Kenapa dia masih belum bangun juga? Kau bilang kondisi nya akan stabil?" tanya James sembari menatap ke arah gadis cantik yang terlihat tenang menutup mata nya itu.
"Dia mengalami perdarahan, dan lagi kondisi fisik nya memang berbeda dari gadis lain nya, Tuan." jawab Chiko pada James.
"Apa dia bisa bangun malam ini?" tanya pria lagi.
"Anda ingin menyadarkan nya dengan paksa?" tanya Chiko mengernyit.
"Hm,"
Jawaban singkat itu mengartikan perintah lain, James tak tenang sama sekali ketika gadis itu belum membuka mata nya walau kondisi nya sudah di katakan stabil.
Ia merasa gadis itu harus membuka mata nya baru akan bisa di katakan baik-baik saja, suatu penanda jika gadis itu tak akan mati.
"Saya sudah memberikan beberapa suntikan, mungkin nona akan bangun malam ini atau besok pagi." ucap nya pada tuan nya.
"Kau bisa keluar," James bicara dengan tidak melihat ke arah Chiko sama sekali, mata nya hanya tertuju pada gadis milik nya saja.
Hening, siapa yang akan bicara? Gadis yang tidak sadar sama sekali?
Raut wajah datar itu tak menunjukkan apapun selain menatap dengan pandangan yang tak bisa di artikan.
Ia duduk di samping tubuh yang tak sadar itu, tangan nya perlahan menyentuh dahi dan pipi lalu mengelus nya dengan lembut.
Wajah nya mendekat ke arah wajah gadis yang masih terpejam itu, walaupun tak memakai parfum sekalipun aroma bunga yang mirip dengan tubuh bayi selalu menjadi ciri khas gadis itu.
Cup,
Satu kecupan mendarat di dahi gadis itu dengan sempurna, untaian rambut berwarna coklat kehitaman yang semakin panjang itu terasa halus dalam genggaman pria yang tengah menatap nya dari dekat.
"Kenapa kau mencoba lari? Aku sudah bilang aku tidak akan membunuh mu kan? Lalu kenapa?"
"Anak kita mati karna itu? Atau memang itu yang kau inginkan? Kau memang menginginkan anak itu tidak ada? Kau pernah bilang ingin membunuh nya kan?"
"Kau pikir kalau anak itu mati aku akan melepaskan mu?"
Hanya pertanyaan tanpa jawaban, pria itu menatap lekat ke arah gadis cantik yang baru saja kehilangan anak yang ia kandung selama 8 bulan.
Beberapa asumsi negatif mulai datang pada nya ketika beberapa hari telah terlewati setelah kematian putra nya sendiri.
Bagaimana jika gadis nya memang sengaja melakukan nya?
Sengaja mencoba kabur tanpa memikirkan kandungan nya?
Atau bagaimana jika sengaja ingin membuat anak nya tak selamat?
Semua pikiran yang membawa asumsi negatif itu mulai datang, ia sudah memenuhi semua kebutuhan gadis itu di mansion nya, jadi jika bukan karna alasan itu kenapa gadis itu tetap ingin lari?
...
Pandangan yang mengabur itu perlahan terbuka, antara sadar dan tidak namun gadis cantik itu melihat pria yang menangkap nya dari persembunyian tengah mengusap tubuh nya secara perlahan dengan handuk yang lembut dan hangat.
Kenapa aku mimpi seperti ini? Pria iblis itu tidak mungkin akan sebaik ini...
Hanya segaris kelopak yang terbuka, hingga tak ada menyadari jika gadis itu sudah sadar sejenak.
Rasa mengantuk dan kembali ingin memejam masih menyelimuti gadis itu hingga pandangan kabur itu perlahan kembali menghilang dan menjadi gelap.
Pria membuang napas nya lirih setelah meletakkan handuk hangat itu, memang ada pelayan wanita yang bisa membersihkan tubuh gadis itu ketika tak sadar namun karna ia yang bertepatan tengah bersama dengan gadis itu ia tak ingin ada yang menyentuh nya.
"Kau harus sadar besok, banyak yang ku tanyakan dan kau juga harus lihat apa yang sudah kau hilang kan." bisik nya lirih di telinga gadis itu dan memberikan kecupan terakhir di bibir pucat itu sebelum ia meninggalkan kamar nya.
......................
Kediaman Rai.
Turunnya harga saham mulai dapat terhentikan, namun menstabilkan kini menjadi masalah yang cukup besar setelah pergejolakan dari opini publik yang masih belum hilang apalagi turun.
"Ini beberapa berkas yang bisa anda lihat lebih dulu sebelum di tandatangi," ucap sekertaris Verdi yang menatap ke arah Louis.
Pria itu tak mengatakan apapun, ia hanya menatap dengan tatapan yang menyimpan pertanyaan sekaligus mata yang curiga.
"Kau bekerja dengan baik," ucap nya singkat pada sekertaris nya.
"Terimakasih Presdir," jawab sekertaris Verdi sekilas.
"Verdi? Apa kau tau?" tanya pria itu menatap ke arah pria yang berdiri di depan nya.
__ADS_1
Sekertaris Verdi menatap ke arah atasan nya, jujur ia gelisah namun ia menyembunyikan nya dengan sangat baik sehingga tak ada raut gugup atau takut yang terlihat dari wajah nya.
"Kepercayaan itu adalah harga yang paling mahal kan? Seperti contoh nya yang terjadi sekarang ini?" ucap Louis yang mengatakan jika kepercayaan dari masyarakat akan reputasi dari JBS grup sangat-sangat di perlukan.
"Benar Presdir," jawab nya mengiyakan ucapan atasan nya.
"Kepercayaan bisa hilang karna salah paham, tidak bisa menjaga komitmen, berbohong, menipu dan..."
"Berkhianat? Salah satu nya?" tanya Louis setelah menggantung kalimat nya.
Sekertaris Verdi tak mengatakan apapun, ia hanya diam seakan mendengarkan semua yang di katakan oleh atasannya.
Louis tersenyum miring melihat reaksi pria yang tetap berusaha untuk tenang itu, "Kau bisa keluar." ucap nya pada pria itu untuk pulang.
Sekertaris Verdi pun meninggalkan kediaman mewah itu, ia mulai gugup takut akan perbuatan nya segera terungkap.
......................
Mansion Dachinko.
Jemari lentik itu mulai bergerak, mata yang terus memejam selama 4 hari itu pun kini perlahan terbuka, bukan hanya segaris lagi.
Pandangan yang awal nya gelap mulai berubah menjadi kabur dan kabur itu mulai berubah menjadi jernih dan tepat setelah ia tersadar sepenuh nya pria yang yang ia ingat terakhir kali menarik tangan nya keluar dari persembunyian kini tengah duduk di depan nya.
"Kau sudah sadar? Kau harus sadar,"
Suara yang memiliki nada yang teratur, datar dan dingin itu menatap ke arah gadis yang masih memiliki wajah pucat itu.
Louise tak menjawab, kesadaran nya masih belum pulih sepenuh nya, namun mata nya telah mampu melihat pria itu dengan sempurna.
James bangun dari duduk nya, menyentuh dagu gadis yang menatap nya dengan mata sayu.
Ia memberikan waktu sekali lagi untuk gadis itu sadar sepenuh nya karna ia tak akan bisa menanyainya jika gadis itu sendiri antara sadar dan tidak.
...
Setelah cukup sadar, gadis itu mulai menyadari ada yang berkurang dari diri nya, ia mengusap perut nya yang tak lagi sebesar sebelum nya.
"Sekarang sudah benar-benar sadar?"
Suara yang tadi pagi menyuruhnya untuk tersadar sepenuh nya kini datang lagi.
"Aku sudah melahirkan?" kata-kata yang pertama kali keluar setelah ia bangun.
Tak ada jawaban apapun dari pria itu, masih diam dan menatap lurus ke arah wajah gadis cantik itu.
"Dimana dia?" Louise kembali bertanya, tentu sebagai ibu yang mengandung kurang lebih 8 bulan ia punya hak untuk tau di mana anak yang dia lahirkan.
"Kau tanya kenapa aku mau kabur? Kau sehat tidak sih tanya seperti itu? Kau bilang semua yang ku sukai? Kau tau apa yang ku sukai? Kau pikir semua barang-barang yang kau berikan itu adalah yang ku inginkan?!" baru saja bangun dan kesadaran yang pulih sepenuh nya namun ia sudah di hadapkan dengan pembicaraan yang membuat nya merasa marah.
"Ya, kau dulu menyukai hal seperti itu kan?" tanya James pada gadis itu.
"Kau pikir aku mau tinggal dengan pria yang mau menghancurkan kakak ku? Yang selalu bilang mau bunuh satu-satu nya keluarga ku?!" tanya gadis itu menatap dengan tajam.
Pria itu menarik napas nya, ia mengernyit. Baginya jika membunuh kakak gadis itu pun seharusnya masih belum cukup karna ayah gadis itu sudah menghabiskan seluruh keluarga nya.
"Kenapa tidak? Kau lupa kenapa aku bisa jadi seperti ini sekarang? Karna siapa?" tanya pria itu dengan nada penekanan.
Louise melipat bibir nya, jujur saja ia merasa semakin tertekan jika harus mendapatkan pembicaraan yang berat seperti ini.
"Memang nya papa yang bunuh keluarga mu secara langsung? Kalau pun dia yang memulai api nya, kenapa yang lain semakin memberi bahan bakar untuk api itu? Dia cuma memberi umpan kan? Yang membunuh orang tua mu, keluarga mu adalah orang lain yang mengambil umpan nya!" ucap gadis itu dengan suara gemetar.
Kepala nya kembali berdenyut membuat kerutan di dahi nya dan memejamkan mata nya sejenak.
"Umpan yah? Tapi menjadikan orang lain sebagai umpan itu lebih buruk dari pada yang menerima nya, kalau kau ingin seperti tidak apa-apa..." ucap pria itu menatap tajam.
"Aku bisa gunakan cara yang sama seperti ayah mu, dalam keadaan seperti sampai kapan dia bisa bertahan?" tanya pria itu dengan senyuman tipis.
Gadis itu menggeleng pelan, "Kau gila."
"Aku? Kau yakin? Setidaknya aku bukan orang yang ingin membunuh anak ku sendiri." jawab pria itu.
Deg!
Gadis itu tersentak, ia tak mengerti maksud ucapan tersebut.
"Maksud mu?" tanya nya tak mengerti.
"Kau bilang ingin membunuh nya kan? Sekarang yang kau inginkan terkabul, anak itu mati." jawab pria itu sembari menatap mata yang tersentak karna terkejut itu.
"Ka..kau bilang apa?" mata yang tak percaya serta bibir yang gemetar menanyakan hal demikian.
"Anak itu mati, dan kau tau karna apa?" ucap pria itu sembari menyentuh dagu gadis itu agar menatap nya.
Louise menggeleng, walaupun sebelum nya ia sempat ingin menusuk perut nya namun yang ia inginkan mati bersama bukan hanya anak nya yang pergi begitu saja.
"Kau bohong kan? Kau bilang begitu supaya aku takut pada mu kan? Kau mengambil nya dari ku, iya kan?" tanya nya lagi, tangan nya gemetar begitu mendengar ucapan pria itu.
"Louise? Sekarang bukan aku yang gila tapi kau," nada yang rendah dan teratur namun begitu menusuk.
__ADS_1
"Aku? Kau pikir aku mau kabur dari sini karna siapa? Karna mu! Aku tidak percaya! Kau sengaja berbohong kan?!" tanya gadis itu sembari menepis tangan pria itu.
Walaupun ia terus menjatuhkan bulir bening nya namun terlihat tatapan marah di mata nya.
"Bohong apa? Seharusnya kau pikir apa resiko dari perbuatan mu! Kau tau sendiri kondisi mu tapi tetap melakukan nya? Kalau bukan sengaja lalu apa?!" bentak pria itu meninggikan suara nya.
"Maksud mu aku sengaja mau buat anak ku mati? Aku?!" tanya gadis itu dengan nafas tidak teratur.
"Gila ya?! Memang nya kau yang bawa dia sampai berbulan-bulan? Kau yang muntah setiap pagi? Kau yang sulit tidur setiap malam karna sulit membawa nya?! Bukan! Tapi aku!"
"Lalu sekarang kau bilang dia mati? Karna ku?! Jangan berbohong James, kau menyembunyikan nya kan? Kau membawa anak ku wanita mu! Kalian mau ambil anak ku kan?!" tanya nya dengan bibir dan tubuh yang terlihat semakin gemetar, suara nya meninggi namun terdengar pilu.
"Itu dia, aku tidak habis pikir, padahal dia hidup dengan mu berbulan-bulan tapi kau malah membuat nya tidak ada?" tanya pria itu, bukan tanpa alasan ia menuduh gadis itu melakukan nya dengan sengaja.
Gadis itu sendiri yang pernah mengatakan ingin membunuh anak yang ia kandung karna merasa benci dengan diri nya, gadis itu pun pernah mencoba menusuk perut nya sendiri dan kini?
Tetap kabur meskipun memiliki resiko tentang kandungan nya.
"Cukup! Cukup James! Berhenti menyudutkan ku! Aku..."
"Kau bilang aku bohong kan? Kau mau lihat sendiri?" tanya pria itu dan kemudian menarik tangan Louise dengan kasar.
Tubuh gadis itu terhitung dan hampir terseret karna di tarik tiba-tiba, ia saja baru bangun dari operasi pasca melahirkan 4 hari yang lalu kini di paksa berjalan cepat.
"Lihat!"
Deg...deg...deg...
Degupan jantung yang begitu kencang memenuhi dada gadis itu, ruangan yang dingin serta di berikan kotak kaca yang menyimpan tubuh bayi mungil di dalam nya.
Kaki gadis itu berjalan dengan sendiri nya, tangan nya gemetar, ia mendekat melihat ke arah bayi laki-laki yang terlihat memakai pakaian yang terlihat menggemaskan namun tak lagi memiliki nyawa.
Louise menggeleng sejenak, "Bu..bukan..."
"I..ini bukan anak ku.." ucap nya lirih, ia menutup mulut nya tak percaya, air mata nya jatuh bahkan sampai mengenai tubuh mungil itu.
"Bukan? Kalau begitu lihat terus sampai kau sadar! Sampai kau tau sebodoh apa pikiran mu saat itu sampai kau mencoba kabur!" ucap pria itu dengan nada penuh penekanan.
Ia berbalik dengan cepat, dan menutup pintu ruangan tersebut.
Louise menggeleng, ia tak mau di tinggalkan di ruangan itu sendirian bersama dengan putra nya yang telah menjadi mayat.
"James? Bukan James!" ucap nya mengejar dan berusaha memukul pintu itu namun tak terbuka sedikit pun.
"Kau bilang bukan anak mu kan? Kalau begitu lihat lagi sampai kau sadar!" jawaban di balik pintu itu yang membuat Louise kembali menoleh pada bayi mungil itu.
Langkah gadis kembali mendekat, ia menolak untuk percaya apa yang di lihat nya, makhluk yang hidup di dalam tubuh nya selama 8 bulan, yang selalu membuat gerakan di perut nya kini terlihat seperti boneka yang tak bergerak?
"Bohong? Dia bukan anak ku kan?" tanya nya lirih di sela isak tangis nya.
Tangan nya mencoba menyentuh tubuh mungil itu, namun entah mengapa hati nya terasa begitu sakit, seperti sesuatu yang tengah berusaha mengoyak nya hingga membuat nya tak bisa mengatakan apapun lagi.
Akkhh!!!
Gadis itu berteriak histeris, tangan yang gemetar itu mengangkat tubuh mungil putra nya dalam gendongan nya.
"Maaf..."
"Maaf, kau bisa bangun kan? Kau bahkan belum melihat ku, maaf..." tangis nya yang pecah berharap keajaiban datang pada bayi malang itu.
"Maaf..."
"Mommy salah..."
"Mommy gak akan tinggalin kamu lagi nak, bangun yah? Kita gak akan pergi lagi..." ucap nya yang melantur pada bayi mungil tak bernyawa itu di sela isakan tangis nya.
Ukh!
Dada nya semakin terasa sesak, napas yang semakin sulit ia ambil membuat nya begitu sulit menghirup udara.
"Ma..maaf..."
Pria itu tak benar-benar meninggalkan nya, ia berdiri di balik pintu dan kembali membuka nya setelah tak lagi mendengar suara tangisan histeris gadis itu.
Deg!
Greb!
Hampir saja tubuh gadis itu terjatuh dengan bayi nya yang tak lagi bernyawa itu.
"Louise?" panggil nya sembari menepuk pipi pucat yang basah itu setelah mengembalikan putra nya kedalam kotak kaca yang dingin tersebut.
Mata yang kembali terpejam, tentu saja gadis itu merasa sangat terkejut dengan apa yang terjadi pada nya setelah bangun.
Pria itu diam, ia dapat merasakan denyut dan detak gadis itu membuat nya merasa jika gadis itu masih tetap bersama nya.
"Sekarang kau tau kan? Aku tidak akan melepaskan mu, tidak akan pernah..."
"Kau juga harus membawa anak ku kembali..." ucap nya lirih di telinga gadis yang kehilangan kesabaran nya itu sembari mendekap nya dengan erat.
__ADS_1
Berencana membuat gadis itu kembali mengandung adalah hal yang ia pikirkan saat ini untuk tetap membuat alasan mengapa gadis itu harus tetap berada di samping nya.