(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia

(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia
Mine!


__ADS_3

JBS Hospital


Pria itu menatap sekilas ke arah sang istri yang hanya diam tak mengatakan apapun atau menjawab pertanyaan yang di berikan sang dokter untuk kepentingan operasi mata nya yang akan di lakukan dalam tiga Minggu kedepan.


"Cla?" panggil Louis lirih sesaat setelah sang dokter pergi dari ruangan Presdir itu.


"Hanya kita di sini?" tanya wanita itu sembari menepis tangan suami nya yang berusaha menggenggam tangan nya.


"Hm," jawaban singkat terdengar dan tak lagi berusaha memegang sang istri.


"Aku mau keluar, rasa nya di sini membuat ku mual!" ucap nya dengan raut tak nyaman sekaligus takut.


"Cla? Kita sudah menikah! Aku suami mu, aku tau kau marah tapi aku juga berusaha memperbaiki Cla!" ucap Louis sembari menghela napas nya.


Plak!


Wanita itu memukul secara acak apa yang ada di depan nya, bahkan jika ia tak sengaja menampar pria itu.


"Pergi! Kau pikir dengan melakukan ini semua kesalahan mu hilang? Kau bisa kembalikan aku seperti semula? Mata ku? Ataupun diri ku yang dulu? Waktu dan trauma ku?! Bukan sebagai wanita mandul!" ucap nya dengan suara yang meninggi dan marah.


Louis diam sejenak, ia tak bis membantah sama sekali dan hanya menatap ke arah sang istri.


"Atau kau bisa kembalikan Reno?" sambung wanita itu yang menyebut mantan kekasih nya yang telah tiada dan pria di depan nya lah yang membuat pria baik itu meninggal.


"Clara!" sentak Louis sembari menekan ke arah bahu wanita itu yang masih begitu benci jika wanita yang ia cintai menyebut nama pria lain.


Clara tersentak, ia merasa takut dan terkejut namun tangan nya berusaha meraba apa yang ada di dekat nya dan mendapatkan secangkir teh hangat yang tadi di siapkan untuk nya.


Byur!


Louis memejam, sekali lagi wanita itu menyiram air ke wajah nya, walaupun tak bisa melihat namun sasaran lemparan selalu saja tepat.


Prang!


Tak hanya itu, Clara pun berusaha menepis dengan melemparkan gelas kaca itu pada suami nya.


"Maaf, aku membentak mu..." ucap pria yang tak ingin melanjutkan pertengkaran nya lagi sembari mengambil sapu tangan di balik jas nya dan mengusap tangan basah istri nya yang terkena teh.


"Sudah marah nya? Tangan mu kena teh, bagaimana kalau terluka?" tanya Louis lirih.


"Pergi..." ucapan lirih yang hampir tak terdengar itu membuat pria itu terhenti sejenak.


"Kau mau istirahat di kamar dulu? Hm?" tanya Louis sembari mengentikan diri nya yang tengah mengusap tangan basah sang istri karna teh.


"Aku mau kembali! Aku benci di sini! Aku juga membenci mu!" jawab Clara dengan mata yang kosong namun terlihat raut wajah yang takut sekaligus amarah.


Louis menarik napas nya, ia menelpon seseorang dan memanggil nya untuk menjemput dan membawa sang istri pulang.


Sedangkan pria itu beranjak ke kamar mandi dan melihat kepala nya yang terluka akibat lemparan istri nya itu.


"Kapan kau bisa memaafkan ku..." gumam nya lirih yang membasuh darah di kepala nya tanpa merasa marah sedikit pada wanita yang membuat nya terluka.


......................


Mansion Dachinko.


Pria yang tak memiliki ekspresi itu hanya mengernyit menatap ke arah gadis yang dalam beberapa hari terakhir terlihat begitu tenang dan diam.


"Habiskan makanan mu," suara bariton yang terdengar dingin itu menyatu di tengah aduan sendok dan piring.


Gadis itu tak menjawab apapun, namun ia tetap memakan makanan nya dengan tenang.


Satu persatu suapan hingga makanan yang berada di atas piring nya telah habis. James tak mengatakan apapun dan hanya melihat gadis yang mematuhi nya walaupun tak ingin bicara dengan nya.


Louise melirik sekilas ke arah pria yang berada di bangku meja makan yang bagaikan tuan rumah itu dan bangku nya terletak di sisi meja kanan.


Pandangan mata itu bertemu, namun bukan tatapan yang lembut ataupun tatapan cinta melainkan sama-sama menatap dingin dan sinis.


Gadis itu tetap tak mengatakan apapun, ia beranjak dari tempat duduk nya sembari terus memperhatikan pria itu dan melihat mata tajam yang tak memperhatikan nya.


Pisau steik dari salah satu menu pun perlahan pindah tangan ke sisi nya dan menyamarkan dengan gaun yang ia pakai agar tak terlihat.


"Dia terlalu tenang," gumam nya yang melihat sikap gadis itu perlahan berubah.


...


Gadis itu terlihat diam saat duduk di bangku rotan yang memiliki alas yang empuk, pandangan nya lurus ke depan menatap ke arah halaman mansion yang sangat luas itu.


Perut yang sudah memiliki usia kandungan yang akan menginjak 6 bulan itu tentu nya kini mulai semakin membesar dari waktu ke waktu.


"Maaf..." gumam nya lirih sembari mengusap perut bulat nya.


Ia tak yakin pria itu akan menyayangi anak yang lahir dari rahim nya karna ia tau pria itu bahkan masih memiliki kekasih dan anak yang lain.


Takut jika anak yang berada di kandungan nya juga akan di manfaatkan seperti diri nya yang lebih dulu terjebak dan tak di berikan kasih sayang.


"Nona?"


Suara yang terdengar membuat nya menoleh. Pria yang membawa satu minuman di nampan yang merupakan salah satu obat yang harus ia minum.


"Anda harus habiskan ini," ucap Nick sembari memberikan minuman yang berisi obat selain suntikan yang ia terima selama dua Minggu sekali.


"Kapan kalian mencari tau penyakit ku?" tanya gadis itu sembari mengambil minuman yang di berikan, jika ia menolak pun ia tetap akan di paksa untuk menghabiskan nya.


Tak ada jawaban sama sekali, "Saya harap anda baik-baik saja."


Gadis itu tersenyum miring setelah menghabiskan minuman nya saat mendengar perkataan tersebut, "Bukan nya kau dulu membenci ku? Kau bilang aku hanya pengganti kan? Karna ucapan dulu ternyata benar jadi aku mau tanya satu hal."


Nick mengernyit, ia menatap gadis yang dulu memiliki cahaya mata yang berbinar kini terlihat redup dan sayu.


"Menurut mu dia akan menyayangi anak ku? Aku..."


"Aku tidak mau kalau dia membawa anak ku dan di besarkan bersama wanita itu..." sambung nya lirih yang tak mau jika anak yang ia kandung harus di ambil dari nya dan di besarkan bersama wanita yang di cintai ayah nya.


Karna ia tau wanita itu tak akan bisa menyayangi anak nya.


Nick tak menjawab apapun, karna ia takut mengeluarkan stagment yang merugikan tuan nya.


Deg!


Pria itu tersentak, satu bulir bening jatuh ke pipi pucat gadis yang terlihat diam itu sembari mengusap perut nya dengan lembut.

__ADS_1


Tangan nya bergerak dengan sendiri nya, Louise langsung terperanjat saat ia merasakan tangan pria itu menyentuh wajah nya dan mengusap air mata nya.


Melihat gadis itu yang membalas tatapan nya, Nick pun langsung tersadar, "Maafkan ketidaksopanan saya."


Pria itu pun segera beranjak meninggalkan Louise dan keluar dari kamar tersebut.


......................


3 Minggu kemudian.


JBS Hospital.


Seperti apa yang telah di rencanakan operasi mata tersebut di jalankan sesuai hari nya.


Pria itu masih berkutat dengan laptop nya, ia menunggu operasi sekaligus sembari menjalankan pekerjaan nya.


"Presdir ini laporan dari data terakhir," ucap sekertaris Verdi pada atasan nya itu.


Louis mengangguk kecil, ia pun mengambil nya dan memeriksa nya kembali.


"Kau menemukan sesuatu dari kecelakaan hari itu?" tanya nya yang mengacu pada kecelakaan yang di alami adik nya.


"Tidak, Presdir." jawab sekertaris Verdi.


Louis hanya membuang napas mendengar hal tersebut, "Baiklah. Kau bisa keluar dan cari lah lebih banyak." ucap nya yang membiarkan pria itu keluar.


......................


Mansion Dachinko.


Gadis itu tersentak, ia menutup tubuh nya dengan selimut tebal dan tangan yang gemetar.


"Aku tidak melakukan apapun, tapi kenapa kau..." suara yang terdengar penuh dengan amarah namun tidak memiliki kekuatan.


Ia tak lagi melakukan pelawan seperti membantah ataupun berulah yang menyebalkan. Ia melakukan apa di minta tanpa perlawanan seperti minum obat, makan dan tak mencoba membuat siasat kabur.


Namun tetap saja, hari ini pria itu datang melakukan sesuatu yang tak ingin ia lakukan sama sekali.


"Kau bicara dengan ku lagi? Ku pikir kau benar-benar menjadi bisu selama satu bulan ini." ucap James pada gadis itu.


Ia hanya membuat alasan yang tak masuk akal untuk kembali menyentuh gadis cantik itu karna ia yang memang tak ingin melepaskan nya ataupun mencoba mencari wanita lain sebagai penyalur hasrat nya. Tentu nya hal itu akan membuat nya kembali secara otomatis pada gadis cantik itu.


"Brengsek!" gumam nya yang menatap dengan mata yang terlihat begitu marah, "Kau bisa ke wanita itu kan?! Kenapa terus datang pada ku?!" sambung nya yang tak terima karna merasa di perlakukan seperti simpanan pemuas hasrat belaka.


"Aku memiliki yang lebih dekat, kenapa harus yang jauh?" tanya pria itu enteng seperti tak memiliki rasa bersalah sedikit pun.


Setelah memakai kembali pakaian nya ia pun beranjak keluar, karana seperti biasa saat malam kedua nya akan tidur di ranjang masing-masing.


...


2 Hari kemudian.


Gadis itu kini semakin menjadi pendiam, tak seperti diri nya yang dulu yang selalu cerewet dan ceria seperti matahari yang cerah.


Sinar mata yang perlahan memudar, cahaya yang mulai redup dan semangat yang mulai hilang dari hari ke hari.


Ia merasa tertekan yang membuat nya tak bisa merasa baik-baik saja.


Mata yang seperti kosong dan terlihat sorot yang tak bisa di katakan.


Tangan yang mengambil nya perlahan dan mengusap perut besar nya secara perlahan.


"Kau mau pergi dari sini? Kita..."


"Ayo, kabur dari nya..." gumam nya yang takut jika anak nya akan lahir dan tak di pedulikan oleh pria itu.


Ia merasa khawatir pada makhluk tak berdosa yang berada di kandungan nya, dirinya saja tidak di cintai dan malah di benci lalu bagaimana dengan anak nya nanti?


Pria yang memiliki anak lain nya bersama wanita yang di cintai sedangkan ia hanya akan menjadi tahanan, lalu bagaimana dengan bayi nya?


"Aku tidak mau kau hidup seperti itu..." gumam nya lirih dengan mata yang berkaca.


Tangan nya mulai ia layangkan ke arah perut besar nya.


Tusk!


Tetesan cairan merah kental mulai keluar bersamaan dengan warna terang merah yang merembes ke pakaian yang ia gunakan.


Prang!


Minuman yang berisi obat itu jatuh pecah ke lantai saat akan di berikan pada gadis cantik itu secara rutin.


"Nona!"


Louise menoleh, ia memang tak memiliki tenaga yang banyak sehingga ia yakin dengan menusuk perut nya sendiri tak akan cukup.


Wajah yang terlihat memperhatikan mimik panik di depan nya terlihat seakan bingung, namun.


Crass!


Mata Nick membuat sejenak, bukan nya berhenti gadis itu malah melukai leher nya sendiri dan membuat nya jatuh ke lantai tak lama kemudian.


"Nona!" pria itu langsung mendekat, dan menutup luka nya serta mulai memanggil Chiko untuk mengobati nya.


"Beri tau tuan!" ucap nya yang memerintahkan pengawal lain nya untuk memberi tau tuan nya.


Sementara itu.


Pria yang terlihat memakai sarung tangan tinju berwarna hitam sembari mendengarkan musik di telinga nya tak mendengar jika seseorang sudah mendekat ke arah nya.



"Tuan!" panggil pengawal sebelum nya yang menghampiri pria yang tengah berolahraga itu.


James menoleh, ia mengernyit menatap ke arah pengawal yang terlihat panik itu.


"Ada apa?" suara yang terdengar dingin itu pun bertanya.


"Nona Louise dia..." ucap pengawal tersebut yaang belum menyelesaikan kalimat nya.


"Dia membuat masalah?" tanya James dengan wajah yang datar seperti biasanya.

__ADS_1


"Tidak, dia mencoba bunuh diri." ucap pengawal tersebut.


"Apa?!" pria itu pun terlihat terkejut dan langsung melepaskan sarung tangan nya dengan cepat.


...


Pemeriksaan pun di lakukan, walau tak di bawa ke rumah sakit namun mansion tersebut memiliki beberapa alat medis yang cukup lengkap karna biasa melakukan operasi untuk kepentingan penelitian Chiko sekaligus untuk perdagangan manusia yang ia lakukan.


"Kandungan nya melemah tapi tidak sampai keguguran karna luka tusukan tidak sampai melukai janin," ucap Chiko menjelaskan tentang pemeriksaan nya.


"Yang menjadi masalah bukan luka tusukan di perut nya tapi luka di leher nya. Mungkin dia tidak sekuat tenaga menikam perut sendiri tapi luka di leher nya cukup dalam." sambung pria itu.


"Katakan yang lebih mudah di mengerti, apa dia akan baik-baik saja?" tanya James sembari membuang napas nya sejenak.


Ia begitu terkejut mendengar gadis itu melakukan hal nekat yang tak pernah ia bayangkan sebelum nya.


"Untuk saat ini Ya, tergantung kondisi nya. Jangan membuat nya melakukan sesuatu yang berat ataupun yang bisa membuat nya cedera lagi." terang Chiko yang tau luka di leher gadis itu tak bisa di anggap sepele.


"Selain itu, nona juga seperti nya mengalami stress berat. Ini juga tak baik untuk kandungan nya." sambung Chiko lirih.


"Stress? Kenapa dia bisa stress? Aku tidak menyiksa nya, kebutuhan nya juga ku penuhi di sini? Yang ku ancam akan ku bunuh juga bukan dia tapi kakak nya." ucap pria itu mengernyit sembari menggeleng heran.


"Bukan nya dia menyayangi kakak nya? Mungkin karna tuan bilang akan menghabisi kakak nya jadi dia tertekan." ucap Chiko pada tuan nya yang seakan sudah memiliki perasaan dan rasa simpati dan empati yang mati.


"Lalu aku harus melepaskannya? Lagi pula bukan nya orang yang memiliki gangguan mental juga bisa melahirkan?" tanya pria itu yang membandingkan kasus di luar sana.


Chiko menarik napas nya, ia pun memilih tak berdebat dan hanya menjelaskan tentang apa yang harus di lakukan serta tak boleh di lakukan untuk keadaan gadis itu sekarang.


"Kalian bisa keluar," ucap James pada seluruh orang yang berada di kamar gadis itu.


Ia pun duduk di kursi nya menunggu dan melihat gadis itu sampai tersadar.


...


"Kak? Es krim kakak kok lebih banyak sih?"


"Kan belum di makan, es krim mu sedikit karna udah kau makan setengah!"


"Mau tukar!"


"Ih! Mamah! Louise nakal!"


"Louise?"


"Gak nakal kok Mah, Louis nyebelin! Mau minta es krim sama Papa aja!"


"Nyebelin tapi es krim ku udah di makan juga!"


"Papa!"


"Louise mau es krim! Louis gak usah di beliin!"


"Louise Pa yang jangan di beliin! Dia udah makan dua cup es krim!"


Pelukan hangat yang mengangkat tubuh nya, dan menggendong nya dengan pelan.


"Nanti malam kita keluar beli es krim,"


"Cuma anak nya aja yang di belikan? Mama nya tidak?"


"Mama kan udah besar, masa suka es krim sih?"


Tak ada jawaban, hanya tawa kecil yang membuat mata wanita itu hilang seperti sabit di wajah cantik itu.


....


Gadis itu tersentak, ia membuka mata nya setelah semua terasa seperti mimpi indah bagi nya, kejadian kecil yang menyebalkan entah kenapa kini datang pada nya menjadi kenangan yang ia rindukan.


"Sudah sadar?"


Suara yang membuat nya semakin merasa tersadar.


"Sudah hampir dua hari, tidak mungkin kau tidak bangun."


Gadis itu semakin merasakan mimpi dan realita yang bercampur aduk.


Kenapa suara nya ada lagi?


"Louise?"


Gadis itu tersentak, ia pun langsung tersadar dan menoleh ke arah pria yang menjaga nya selama ia tak sadar.


"Kenapa heran? Sekarang sudah bisa bicara? Apa maksud mu melakukan itu?" bukan nya menanyakan kondisi gadis itu ia malah menanyakan alasan mengapa gadis itu melakukan percobaan bunuh diri.


Louise terbangun, ia pun mencoba untuk duduk.


"Aku belum mati?" gumam nya yang menatap kedua tangannya.


"Mati? Kau pikir kau bisa mati sesuka mu?" tanya James mengernyit.


Ia merasa begitu marah dan khawatir saat tau gadis itu mencoba lari dari nya melalui jalur kematian.


"Kau juga menikam perut mu?" tanya pria itu lagi.


Louise menoleh, "Memang apa urusan nya dengan mu?" tanya dengan tatapan tajam walaupun ia baru saja sadar.


"Anak ku hampir mati karna mu," ucap pria yang tak mau mengatakan jika ia khawatir pada gadis cantik itu.


Louise tersentak, namun ia tersenyum pahit setelah nya, "Hampir? Berarti anak ini belum mati? Padahal aku ingin melihat mu kehilangan anak ini!"


Ia juga merasakan sakit dan tak tega untuk menyakiti anak yang belum lahir itu, karna itu lah pisau yang ia layangkan di perut nya tak begitu kuat hingga janin itu masih bisa selamat.


Melihat reaksi yang terlihat goyah itu, gadis itu pun hanya tersenyum pahit. "Aku memberi nya sama seperti mu, dia hanya membawa sial di hidup ku!" ucap nya dengan suara bergetar dan merasa nyeri di dada nya karna menghina anak nya sendiri walaupun ia tak mau.


Ia hanya ingin pria itu merasakan sakit dengan ucapan yang tajam seperti yang biasa ia terima walau pria itu tak sadar.


Plak!


Iris hijau itu membulat, ia terkejut. Belum sempat 10 menit ia bangun pipi nya sudah merasa panas dan perih secara bersamaan.


"Jangan berpikir bodoh lagi! Anak itu akan lahir dan kau juga tidak akan ku biarkan mati!" ucap nya tanpa sadar melayangkan tangan nya.

__ADS_1


"Kalian milik ku, kau dan anak itu milik ku! Jadi ingat itu baik-baik di kepala mu!" sambung nya dengan penuh peringatan dan mata yang tajam.


__ADS_2