(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia

(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia
Menganggu?


__ADS_3

Mata pria itu membulat seketika mendengar ucapan yang baru saja di katakan adik nya.


"Kau gila?! Pikiran mu sudah hilang?! Ha?!" tanya nya yang langsung merah tanpa sadar.


Tak ada jawaban, gadis cantik itu hanya menunduk tak bisa menimpali ucapan sang kakak.


"Aku akan atur pernikahan mu," ucap Louis sembari membuang napas kasar setelah mengatur emosi nya.


Louise langsung menoleh tak percaya, ia menatap dengan segala iris yang membesar pada sang kakak.


"Pernikahan? Maksud mu apa sih? Memang nya siapa yang mau menikah dengan ku?" tanya nya yang langsung membesar mendengar ucapan sang kakak.


Ia baru saja terbangun dan belum sepenuh nya pulih namun pria itu sudah mengatakan akan menikahkan nya dengan orang lain.


"Zayn," ucap Louis singkat yang membuat mata gadis itu mengernyit.


"Zayn? Kau sadar kan apa yang baru saja kau katakan?" tanya Louise lagi.


"Kau pikir aku tidur? Sadarlah!" ucap Louis lagi.


"Kau tidak pernah berpikir kalau kau egois?" tanya Louise menggeleng.


Pria itu hanya mengernyit mendengar pertanyaan adik nya, "Egois apa? Aku cuma mau kau dapat yang terbaik!"


"Lalu Zayn? Aku saja tidak melihat nya sebagai pria lalu dia juga harus langsung jadi ayah anak yang ku kandung? Mungkin saja kau menghancurkan hidup orang lain cuma karna aku," ucap gadis itu menatap sang kakak.


"Kau sadar tidak sih? Dia itu suka dengan mu sejak lama? Dari semua pria baik yang mendekat kau suka nya dengan pria seperti itu?!" tanya Louis tak habis pikir.


"Memang nya aku mau suka dia? Kau sendiri memang nya bisa pilih mau suka sama siapa?" tanya Louise pada sang kakak.


"Tapi kau ini kenapa bodoh sekali sih? Diantara semua orang kenapa suka nya dengan yang seperti itu?!" tanya nya menatap sang adik.


Louise tak menjawab, ia hanya diam menahan air mata nya sembari meremas selimut nya.


Kenapa?


Entahlah, ia pun tak bisa menjawab nya, ia hanya merasa jika apapun yang di lakukan bersama pria itu seperti hal baru dan menyenangkan untuk nya.


Bagi nya baru pertama kali ada seseorang yang memperlakukan nya seperti orang 'biasa' walau kadang menyakiti nya.


Bukan perlakukan khusus pada orang yang sakit, kasih sayang yang mengekang dan banyak hal yang tak akan pernah bisa ia lakukan saat bersama dengan keluarga nya karna rasa khawatir dan kasih sayang yang berlebih.


"Aku tidak tau, aku hanya suka..." jawab nya lirih.


"Taman bermain, kemah, berlari, aku bisa melakukan hal itu kalau dengan nya..." sambung nya lirih.


Louis mengernyit mendengar nya, tentu nya jika ia tau ia tak akan mengizinkan adik nya untuk melakukan hal yang mungkin membahayakan gadis itu.


"Kau pergi melakukan hal seperti itu? Kau kan tidak boleh melakukan nya?! Ck! Dia benar-benar pengaruh buruk untuk mu!" decak pria itu sembari menyentuh pelipis nya.


Louise kembali diam, ia tau sang kakak tak akan menyukai nya karna mendengar hal tersebut.


"Aku tidak bisa menikah," ucap nya lirih.


"Kali ini aku tidak minta pendapat mu," ucap pria itu membuang napas nya dengan kasar.


"Kau malu karna aku hamil di luar nikah?" tanya Louise lirih sembari tangan nya tanpa sadar menyentuh perut nya yang semakin berisi.


Louis mengernyit mendengar nya, masalah nya bukan lah rasa malu atau tidak nya, karna ia bisa saja mengangkat anak adik nya sebagai anak nya dan membuat reputasi serta nama adik nya tidak rusak.


Namun ia ingin adik nya bahagia dan melupakan pria yang menyakiti saudari nya.


"Bukan, bukan begitu maksud ku, anak mu bukan masalah tapi aku khawatir pada mu!" ucap pria itu.


"Aku butuh waktu! Aku juga masih cerna situasi! Aku masih tidak mau berurusan dengan pria dalam hubungan seperti itu!" jawab nya pada sang kakak.


"Lalu sampai kapan?" tanya pria itu lagi.


"Kasih aku waktu, aku juga bakal lupa sama dia!" jawab nya dengan suara yang yakin, "Aku bisa melupakan nya..." sambung nya lirih.


Louis membuang napas nya sejenak, "Lalu kejadian waktu itu bisa kau ceritakan?"


Louise kembali diam, kalau ia mengatakan kejadian dari awal mula ia di culik, sang kakak pasti tak akan membiarkan nya keluar rumah untuk waktu yang lama karna khawatir dan ia juga sangat benci di ikuti pengawal.


"Ada yang menculik ku, aku tidak tau siapa dia." jawab Louise lirih.


"Baj*ngan itu yang menculik mu?" tanya Louis tak suka.


Louise menggeleng karna ia tau bukan James lah yang menculik nya namun pria itu yang menjadi alasan mengapa ia di culik.


"Dia yang menyelamatkan ku, menjengkelkan memang tapi kalau dia tidak datang mungkin aku sudah benar-benar mati," jawab nya lirih saat ia ingat seperti apa kondisi nya di dalam kotak es.


"Selama kau di culik terjadi sesuatu?" tanya Louis lagi yang merasa adik nya takut dengan dokter pria saat baru bangun.


Gadis itu kembali bungkam mendengar nya, tentu nya ia tak mau mengatakan pelec*han yang ia terima pada sang kakak.


Melihat gadis itu yang hanya diam, Louis pun mengelus kepala adik nya dengan lembut, "Akan ku bawa psikiater lagi, dan soal menikah kali ini aku benar-benar meminta mu untuk memikirkan nya, dia pria yang baik untuk mu."


"Tapi aku bukan wanita yang baik untuk nya," ucap gadis itu lirih.


"Kau itu wanita yang paling baik dan terbaik di antara yang lain," ucap nya tersenyum guna menaikkan rasa percaya diri adik nya.


Bertengkar, saling menganggu ataupun menggoda adik nya adalah hal sering ia lakukan, namun ia juga sangat menyayangi gadis cantik itu.


Di mata dan pandangan nya, gadis itu masih gadis kecil yang akan mengerucutkan bibir nya saat tidak di beri es krim, gadis yang tak akan pernah tumbuh dewasa di mata nya dan akan selalu menjadi tanggung jawab nya.


Sementara itu seorang pria yang hanya memegang gagang pintu ruangan rawat itu dan tak masuk tetap berdiri di di balik nya.

__ADS_1


Ia mendengar semua nya, semua pertentangan dan ketidakinginan gadis itu menikah dengan nya, jujur saja ia merasa sakit mendengar nya namun ia juga berusaha memahami apa yang di pikiran gadis itu.


"Aku tidak akan menyakiti mu, jadi ku mohon sukai aku..." gumam nya lirih.


...


Dua Minggu kemudian.


Gadis itu mengganti pakaian nya karna hari ini ia akan kembali ke kediaman mewah nya.


"Louise?"


Gadis itu menoleh ke arah sumber suara ketika ia hendak mengikat rambut nya.



"Hm? Kau sudah sampai?" tanya nya saat melihat pria itu yang mendatangi nya.


"Mau aku saja yang ikatkan?" tanya pria itu saat melihat gadis di depan nya kesulitan mengikat rambut nya.


"Tidak apa-apa aku bisa," jawab nya tersenyum tipis.


"Kau tidak suka kalau aku menyentuh mu?" tanya Zayn lirih saat ia merasakan tangan yang menepis ketika ia memegang rambut halus itu.


"Bu-bukan! Aku tidak mau merepotkan mu saja," jawab nya segera.


"Tidak sama sekali," jawab pria langsung.


Louise pun perlahan tak menepis tangan pria itu dan duduk membelakangi nya, "Pakai jepitan yang ini yah."


Pria itu tersenyum dan mengambil jepit rambut gadis itu, "Pipi mu semakin bulat."


"Zayn!" ucap Louise langsung.


Pria itu tertawa kecil mendengar teriakan yang terdengar kesal karna ia mengomentari penampilan ibu yang masih hamil muda itu.


"Tapi kan semakin cantik," ucap nya mendekat ke telinga gadis itu.


Louise tersentak, deruan napas hangat di telinga nya serta aroma manis yang seperti coklat tercium jika pria itu berada di jarak yang dekat dengan nya.


"Aku kan cantik dari dulu," jawab nya tersenyum dan menoleh ke belakang.


Pria itu hanya tersenyum mendengar nya, ia tau teman nya memang cantik sedari dulu.


Louise kembali melihat ke depan, ia merasakan perubahan dari teman nya yang sedikit berubah dari biasa nya.


"Zayn?" panggil nya lirih.


"Hm?"


"Apanya yang berubah?" tanya pria itu mengernyit, ia merasa tak berubah sama sekali kecuali tak lagi menunjukkan rasa suka nya pada gadis itu secara terang-terangan.


"Jadi lebih manis?" tanya Louise mengernyit.


"Kau pernah memakan ku?" tanya pria itu mengernyit saat ia mendengar gadis itu mengatakan nya dengan sebutan manis.


"Sini biar ku gigit," ucap Louise berbalik dan ke arah pria itu.


Zayn tak menghindar sama sekali namun malah menangkap tubuh gadis itu.


"Eh? Kau tidak menghindar?" tanya Louise saat merasakan pria itu hanya diam lalu menangkap pinggang nya.


"Kau bilang mau mengigit ku?" tanya pria itu sembari menarik tubuh gadis itu.


"Loh? Tapi sekarang posisi nya?" tanya Louise saat ia merasa teman nya sudah menarik tubuh nya hingga duduk ke pangkuan nya.


"Posisi nya kan nyaman untuk mengigit ku," ucap pria itu tersenyum cerah saat meletakkan sahabat cantik nya ke atas pangkuan nya.


Louise tak mengatakan apapun, namun iris nya hanya melihat mata pria yang tersenyum pada nya sembari menahan pinggang nya yang membuat nya duduk di atas paha pria itu.


......................


Apart Greenlousc.


Prang!!!


Suara pecahan dan lemparan yang menggema begitu terdengar ke seluruh ruangan.


"Si*l! Kenapa jal*ng itu tidak mati! Padahal sedikit lagi James akan kembali pada ku!" decak nya yang merasa kesal.


Sedangkan seorang pria hanya menatap nya dengan kerutan di wajah nya karna bosan melihat wanita yang terus marah dan menghancurkan semua barang di dekat nya.


"Anak mu ketakutan, kau tidak lihat?" ucap Alex sembari memangku dagu nya.


Wanita cantik bertubuh indah itu melirik ke arah putra nya yang gemetar di balik kursi sembari menutup mata dan telinga nya.


"Karna siapa sekarang jadi begini? Dia juga salah satu alasan nya!" ucap Bella sembari menunjuk ke arah bocah yang ketakutan tersebut.


Arnold tersentak mendengar nya, ia semakin takut dan gemetar jika sang ibu kembali memukuli nya seperti sebelum nya.


"Ma..maaf Mom..." ucap nya lirih dengan suara gemetar.


Alex pun bangun dan mendekat ke arah wanita itu, "Kalau begitu kau lahirkan saja anak untuk nya." ucap nya yang kembali mempengaruhi wanita cantik itu.


"Anak? Tapi bagaimana kami?" tanya nya yang mengernyit.


"Kau lupa? Bubuk halusinogen nya? Kau hanya perlu cari kesempatan untuk memberikan nya," ucap Alex dengan seringai nya.

__ADS_1


"Benar, pasti setelah itu dia akan sadar kan? Kalau dia masih mencintai ku?" tanya Bella lirih yang masih berpatok pada masa lalu nya.


Alex tersenyum mendengar nya, senyuman yang sulit di artikan, "Tentu."


Ia masih mengingat rasa sekilas dari tubuh gadis itu walau belum benar-benar mencoba nya, namun ia tau kenapa pria itu ingin menaklukkan gadis yang seperti singa liar itu.


......................


Mansion Dachinko


Pria itu menyentuh dahi nya sembari menyentuh sebuah kotak hitam di depan nya.


"Tuan mau meledakkan apa lagi?" tanya Nick pada pria itu.


James langsung menoleh dan melihat dengan mata nya yang runcing pada pria itu.



"Menurut mu?" tanya nya singkat.


Nick tak mengatakan apapun mendengar pertanyaan tersebut, ia tak bisa menebak apa yang ada di pikiran tuan nya.


"Saya sudah menemukan dalang nya," ucap Nick sembari memberikan kertas di tangan nya.


James membuang napas nya dan menerima apa yang di berikan oleh bawahan nya, Mata nya mengernyit merasa ada yang janggal.


"Kau yakin dia yang melakukan nya?" tanya nya mengernyit karna ia punya firasat jika hal ini tak kan ada habis nya seperti masalah Rendly dulu.


"Semua nya mengarah pada nya," jawab Nick menunduk.


Pria itu pun menghela napas dan mendorong kotak hitam di depan nya, "Buat dia berada dalam kotak es lalu ledakkan dengan ini."


Nick mengangguk ia pun mengambil kotak hitam itu dan menjalankan perintah tuan nya.


"Kenapa aku merasa kalau ini belum berakhir?" gumam nya lirih.


"Dia sudah keluar rumah sakit?" tanya nya lagi.


"Sejauh yang kami awasi, nona Louise kembali dua hari yang lalu tuan," jawab Nick pada pria itu.


Selain pulang pergi gadis itu, tak ada lagi yang ia tau karna saudara kembar gadis itu menutup semua akses untuk informasi terkait adik nya.


Hingga membuat nya pun tidak bisa menembus informasi tersebut.


"Panggil Chiko," ucap nya pada Nick setelah ia diam sejenak.


"Baik tuan," jawab Nick dan berbalik pergi.


Tak lama kemudian pria yang bertubuh tegap itu pun datang mendekat ke arah tuan nya saat ia di panggil.


"Bagaimana kondisi nya saat itu?" tanya nya lagi dan itu adalah pertanyaan yang sama secara berulang pada bawahan nya.


"Seperti yang sudah saya katakan sebelum nya, nona sangat tidak baik saat itu." jawab Chiko lagi.


"Kau menemukan sesuatu pada nya?" tanya James lagi.


Hubungan percintaan nya terakhir kali cukup menganggu nya karna bentuk tubuh gadis itu yang semakin berubah sangat berbeda dari awal-awal ia menyentuh nya.


"Sesuatu seperti?" tanya Chiko mengernyit.


"Hamil?" tanya James lagi.


Pria itu diam sejenak, yang satu tak ingin di ketahui dan yang satu lagi ingin tau.


"Apa kalau misal nya nona Louise hamil anda akan melepaskan nya?" tanya Chiko lirih.


"Entahlah, ku harap dia tidak hamil." jawab nya membuang napas kasar.


"Kalau begitu kenapa anda terus bertanya?" tanya pria itu lagi.


"Hanya sesuatu firasat? Lagi pula dia tidak akan hamil kan? Dia juga pasti akan membenci anak itu," ucap nya tertawa.


Ia merasa gadis itu akan sangat membenci nya, lalu tipuan yang di berikan mantan kekasih nya membuat nya merasa jika gadis itu akan mengugurkan kandungan nya saat tau jika ia hamil dari pria seperti nya.


"Lalu tuan sendiri? Apa tuan akan membenci anak itu? Jika nona Louise benar-benar hamil?" tanya Chiko lagi.


James mengernyit, ia tak menjawab dan beranjak bangun dari duduk nya, "Aku tidak mau memikirkan hal yang belum terjadi."


Entah mengapa ia selalu ingin lari dari pertanyaan yang bagi nya merumitkan nya.


"Kita percepat pengalihan saham JBS lalu hancurkan nama pasar mereka," ucap nya beranjak pergi.


Chiko membuang napas nya, tuan nya seperti tak ingin mendengar ataupun tau tentang keadaan yang sebenar nya dan terus ingin menghindar.


...


Suara rintikan hujan yang terdengar gerimis dan aroma dari daun yang basah membuat pria itu menarik napas nya.


Langit yang terlihat berwarna jingga dengan tampilan cahaya yang hampir tenggelam.


"Dia suka suasana seperti ini," gumam nya tanpa sadar saat mata nya menoleh ke arah langit yang berwarna jingga tersebut.


"Membenci? Aku? Aku tidak mungkin membenci anak itu..." gumam nya yang merasa terganggu dengan pertanyaan bawahannya.


"Tapi dia akan membenci nya," sambung nya lirih.


"Ck! Si*l! Apa yang ku pikirkan?!" decak nya yang kesal karna memikirkan sesuatu yang baginya belum terjadi.

__ADS_1


__ADS_2