(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia

(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia
Can I go?


__ADS_3

Dua Minggu kemudian.


Pria yang memegang surat hasil pemeriksaan di depan nya tersentak, mata nya membulat membulat sempurna dengan tak percaya.


"Dia masih hidup..." gumamnya lirih.


Mungkin terdengar gila, namun pria itu diam-diam mengambil salah satu sampel DNA yang sudah di makamkan dan mengetes nya apakah memiliki kecocokan DNA dengan saudara kandung yang masih hidup.


Ia tak ingin mempercayainya, saat hari di mana pertunangannya dan pemakaman yang ia lewatkan saat ia tak sadar.


"Aku harus menemukannya," ucap


nya lirih saat melihat lembar hasil tersebut.


......................


Kediaman Rai


Pria itu menutup telponnya, kini ia tak lagi bisa mentolerir bawahannya yang selalu berusaha menipu dan mengkhianatinya.


"Siapa yang dia temui?" gumamnya saat tau sekertarisnya sudah berulang kali menemui seseorang dan melaporkan apa yang ia lakukan.


Maka dari itu ia mulai mengalihkan beberapa pekerjaan utama pada sekertaris barunya, perkembangan dari resort yang baru ia usungkan mulai melonjak, saham yang awal nya anjlok perlahan mulai kembali ke nilai semula.


"Dia sudah tidur?" gumamnya sembari berjalan keluar ke arah balkon untuk mengurus udara segar.


Ia mulai terbiasa walau masih kesepian, terkadang ia ingat dengan beberapa memori menyenangkan dan suasana yang ramai seperti yang dulu ia miliki.


Hidup dengan kedua orang tua dan juga satu-satu nya saudari yang terkadang menyebalkan namun sangat ia sayangi, beberapa ingatan pun terkadang membawa nya pada ingatan tentang mantan istri yang dulu nya sempat bersama nya.


Wanita yang terkadang tersipu dengan tatapan kosong karna tak dapat melihat apapun dan berubah ketika sudah mengetahui semua nya.


Ia bahkan tak tau rencana apa yang di siapkan untuknya, rencana yang akan membuat segala segera berakhir.


......................


Mansion Dachinko.


Pagi yang menerjap membuat mata gadis itu terbuka perlahan, terkadang tubuhnya dapat merasakan sakit yang berlebihan dan terkadang ia tak merasakan apapun sampai bingung apakah ia masih hidup atau tidak.


Perlahan ia bangun, tubuh nya terasa begitu pegal, bagian inti yang terasa sakit namun gadis itu beranjak bangun.


Kini tak ada lagi privasi untuknya, setiap ia bangun para pelayan akan datang dan mengikutinya, ia tak pernah benar-benar sendiri selalu ada yang bersamanya untuk mengawasi bahkan saat berada di kamar mandi sekalipun.


Untuk mencegah hal yang sebelum nya terjadi, pria itu mulai menutup balkon dan jendela, tak membiarkan sendirian dalam kondisi apapun bahkan saat gadis itu membutuhkan privasi.


Air hangat yang beraroma mulai di siapkan, gadis itu terlihat linglung saat melihat tubuh nya yang penuh akan bekas kepemilikan, walaupun ia berusaha menolak pun pada akhirnya ia tetap tak bisa melawan.


"Nona? Air mandi nya sudah siap," ucap salah satu pelayan dan membawa gadis itu berendam ke air hangat.


Tak ada sepatah kata pun yang di keluarkan, bahkan saat pria itu memancing emosi dengan berbicara cara dan rencana untuk menghabisi sang kakak di depannya tanpa memikirkan perasaannya sama sekali.


Tak bicara bukan berarti tak lagi memiliki hati dan tak bisa terluka.


Sekertaris Verdi? Kenapa dia mengkhianati Louis? Kenapa dia...


Tes...


Wajah pucat dan kosong itu mulai menjatuhkan air mata yang berwarna bening itu, salah satu pelayan pun mengusap dengan lembut air mata gadis itu saat memandikan nya.


Uhuk!


Gadis itu menutup mulut nya, tangan nya terasa basah walau bukan dari bak yang merendam nya, cairan merah kental yang mengalir sela-sela jemarinya.


"Nona!" para pelayan pun terkejut melihat gadis itu yang mengeluarkan darah dari mulutnya.


Sedangkan gadis itu hanya diam tanpa meringis ataupun mengeluh, mata yang terlihat sudah kehilangan semua asa nya itu tak menampilkan semangat untuk hidup sama sekali.


....


Pria itu melihat ke arah data yang ada di tangannya.


Ia tau jika ia kejam namun baginya hal itu sebanding, ia kehilangan semua keluarga nya di depan mata kepala nya sedangkan gadis itu hanya kehilangan saudara nya saja.


Jika melakukan hal tersebut, ia merasa dapat menebus rasa bersalah untuk keluarga nya yang telah meninggal.


"Tuan?" panggil Chiko lirih setelah Nick berbicara.


"Hm?"


"Kondisi nona saat ini sedang sangat tidak baik dan saya sarankan untuk tidak membuat nona Louise melakukan pekerjaan berat terlebih dahulu," ucapnya secara halus agar tuannya tak menyentuh tubuh gadis itu sementara waktu.


James mengernyit, bukan sebelumnya kondisi gadis itu masih stabil? Lalu kenapa kini ia dilarang menyentuh?


"Kau sendiri yang bilang dia stabil sebelumnya kan?" tanyanya langsung.


"Benar, tapi semenjak melahirkan hingga sekarang kondisi nona sangat menurun, beberapa obat yang di berikan mulai tidak dapat berfungsi dan juga..." ucapnya yang tau kondisi yang di miliki gadis itu tak wajar.


Bahkan penyakit yang sangat langka dan sangat berpengaruh serta berkaitan dengan kondisi psikologis pun membuatnya harus mulai melakukan penelitian lagi, namun ia takut waktu nya tak cukup.


"Apa? Lanjutkan perkataan mu," James yang menatap tajam ke arah pria itu.


"Seperti nya nona Louise mengalami depresi berat dan ini sangat tidak baik untuk kesehatan nya," ucap Chiko melanjutkan.


"Bukan nya itu tugas mu untuk mengobatinya?" tanya James pada pria itu.


Kondisi mental setiap orang berbeda, dan kesalahan terbesar nya adalah menganggap jika semua orang memiliki mental yang kuat sepertinya.


"Baik," jawab Chiko lirih yang tak bisa mengatakan apapun dan takut berdebat jika ia mengatakan kalau ia bukan dokter untuk kesehatan jiwa.


Melihat Chiko yang keluar, Nick terdiam sejenak, ia merasa iba namun tak bisa membatah tuannya sama sekali


"Tuan? Apa sebaiknya anda berhenti memancing emosi nona Louise? Mengatakan rencana untuk membunuh saudara nya di depannya dia pasti sangat terkejut, mungkin itu yang membuat depresinya meningkat." ucap Nick lirih.


"Kalau begitu kenapa dia tidak mengatakan apapun? Dia bahkan tidak mau bicara sama sekali," jawab James berdecak kesal.


"Kalau nona Louise marah pun, bukan nya anda akan tetap membunuh saudaranya?" tanya Nick lirih.


Pria itu mengernyit tajam dan dingin, "Maksud mu ini kesalahan ku?"


"Bukan! Bukan seperti itu, orang-orang yang menyakiti tuan pantas di hukum tapi bukan nya hukuman nona Louise yang paling berkelanjutan?" tanya nya dengan hati-hati.


"Hukuman? Aku tidak membunuh nya, aku memberikan kebutuhan dan yang ia inginkan, bukan nya dia harus bersyukur?" tanya pria itu sekali lagi.


Ia tau jika ia menyakiti gadis itu namun selama tak membunuh nya maka semua masih baik-baik saja.


"Tapi obat nona Louise mulai tidak bekerja, jika itu tetap terjadi dia aka-"


"Aku tidak akan membiarkan nya mati, jadi kau bisa diam sekarang? Lagi pula bukan nya perhatian mu terlalu besar untuknya? Kau tidak punya perasaan khusus kan?" tanya pria itu yang langsung memotong.


Deg!


"Maaf tuan," ucap nya lirih.


James membuang napasnya dengan kasar, gadis yang tak bisa menemui putri nya dan juga saat ini tengah dalam kondisi yang tak bisa katakan.


Ada saatnya gadis itu tersenyum saat melihat dan menyentuh tangan putri kecil nya namun terkadang gadis itu dapat menjadi histeris seketika dan mengatakan jika putri kecil itu bukanlah anak nya dan mengatakan jika anak nya sudah di tukar.


...


Wajah yang cantik dengan gaun yang bagus terlihat seperti boneka yang kesepian, bibir yang tak berucap sama sekali kecuali saat tiba-tiba berubah menjadi histeris.


"Ku dengar kau batuk darah lagi tadi?" tanya pria itu sembari mendekat dan memegang pundak gadis yang duduk di sofa tunggal itu dengan tenang.


Tak ada jawaban, gadis itu hanya diam bahkan tak menggubrisnya sama sekali. "Kau merasa tidak adil?" tanya pria itu sembari menyentuh dagu gadis itu dan mengarahkan wajah cantik itu menatapnya.

__ADS_1


"Hidup mu adalah milik ku, kau milik ku," ucap pria itu dengan nada penekanan yang kuat.


Tap!


Gadis itu menangkap tangan yang menyentuh dagu nya, ia pun mulai menggambar sketsa bintang di telapak tangan pria itu.


"Bintang?" tanya James mengulang.


Satu kedipan seperti mengatakan 'Ya' pria itu tak tau arti dari bintang yang di maksud gadis itu, bagi gadis itu bintang adalah tempat di mana orang-orang yang ia sayangi pergi dan bahkan mungkin pria itu lupa jika dulu ia pernah mengatakan akan membuat gadis itu menjadi bintang juga walaupun ia tak tau apa yang di maksudnya.


Tak ada sepatahkan pun, James menarik napasnya, mengelus wajah cantik itu dengan lembut dan perlahan turun menyelusuri lengkung lehernya dengan ujung jemarinya.


Gadis itu tersentak, darahnya berdesir dan tubuhnya meremang, mata hijau nya membulat sejanak, ia merasa jika pria itu akan menyentuh nya lagi malam ini.


Tangannya meremas gaunnya dengan erat, ia takut menepis nya karna ingat akan mendapat perlakuan yang kasar yang diatas tubuhnya kembali.


Melihat gadis di depannya memejam dengan takut pria itu berhenti mengelus nya, ia menarik tangan gadis itu perlahan ke ranjang dan menidurkannya.


"Tidur, sudah malam..." ucapnya dengan nada rendah yang terdengar lebih lembut saat menutup tubuh gadis itu dengan selimut lalu keluar.


Iris hijau yang kembali terbuka menyimpan kaca di baliknya, membuat bantal yang ia tiduri basah tanpa mengatakan apapun.


......................


Tiga Minggu kemudian.


Bruk!


"Katakan siapa," ucapnya dengan nada dingin dan tatapan yang begitu tajam.


Tak ada jawaban, pria yang penuh akan luka itu hanya diam tak mengatakan sepatah katapun.


"Pukul lagi," ucapnya tanpa merasa iba pada seseorang yang sudah mengkhianatinya.


"Sa..saya tidak tau, saya tidak pernah melihat nya sama sekali hanya mendengar suara nya saja..." ucap Verdi lirih.


"Benarkah? Padahal sudah berkali-kali bertemu?" tanya Louis mengulang dengan wajah tak percaya.


Tak ada jawaban lagi dari pria itu, Verdi hanya diam tak ingin mengatakan alasannya.


"Apa yang dia tawarkan pada mu?" tanya Louis lagi.


Verdi kembali diam, bukan penawaran melainkan ancaman, jika ia ingin ibunya kembali ia harus mengikuti apa kemauan seseorang yang menahan sang ibu.


"Bunuh dia," ucap Louis yang tak lagi bisa menahan emosinya. Orang yang ia percayai mengkhianatinya.


"Maaf!"


Sekertaris Verdi mengatakan satu kata tersebut sebelum pelatuk di tarik dan juga timah yang tajam menembus kepala nya.


"Maafkan saya..." ucap nya lirih yang tak memberikan alasan apapun karna tau ia sudah bersalah.


Louis terhenti sejenak, namun tak ada penjelasan apapun mana mungkin ia bisa memaafkan seseorang yang membuat JBS hampir bangkrut?


Ia pun melanjutkan langkahnya, suara tembakan yang kuat terdengar namun ia tak menoleh sama sekali karna tak ingin merasakan iba pada seseorang yang sudah berkhianat.


......................


Dua bulan kemudian.


James tentu nya tau jika ia kehilangan salah satu mata-mata nya dan sesuai dengan janji nya ia melepaskan ibu dari mantan sekretaris kakak gadisnya dan jaminan hidup karna seperti yang ia katakan karna putra wanita itu telah mati.


"Dua hari lagi..." gumam nya yang sudah menyiapkan rencana untuk membunuh semua target yang ia inginkan.


......................


Mentari yang cerah di siang itu, serta mobil yang melaju dengan kencang karna jalanan yang cukup sunyi.


Hanya tiga orang di mobil tersebut, ia dan satu sekertaris baru nya serta satu supir yang mengendarai mobil nya saat ini.


DOR!


CKIT!!!


Sang supir langsung tak sadar saat peluru yang tajam itu mengenai tubuhnya. Mobil yang kehilangan kendali dan Michael pun langsung berusaha menggapainya.


"Apa ini?! Telpon tim kemanan!" ucap Louis langsung saat menyadari jika ia tiba-tiba di serang.


Michael langsung bergegas mematuhi perintah bosnya.


"Beri dia senjata," perintah yang terdengar dingin.


Ia bisa langsung membunuhnya, namun ia memberi kesempatan untuk kakak dari gadis yang ia cintai itu melawan.


Apa pesaingnya lagi? Itulah yang ada di pikiran Louis saat ini.


Pria yang berpakaian serta hitam itu melempar pistol padanya, hingga membuat Louis bingung.


Ia tak mengerti apa maksudnya sampai satu tembakan mulai di arakan padanya saat ia mengambil pistol tersebut.


Ia terperanjat namun dengan cepat ia mengindari nya, permainan hidup dan mati pun di mulai.


......................


Mansion Dachinko.


Louise diam menatap ke arah Nick yang memang sengaja di tinggal di mansion untuk menjaga gadis itu.


"Ini harinya?"


Nick tersentak saat ia meletakkan teh untuk gadis itu, ia mendengar suara yang tak keluar selama beberapa bulan terakhir.


"Maksud nona?" tanya nya pura-pura tak mengerti.


"Dia akan membunuhnya hari ini kan?" tanya Louise lagi.


"Sebaiknya anda meminum teh nya sebelum dingin," ucap Nick yang langsung bergegas keluar tak ingin melihat wajah malang gadis itu.


Bruk!


"Ku mohon..."


Pria itu langsung berbalik, matanya membulat sempurna melihat gadis yang bahkan tak pernah berlutut pada tuan nya kini berlutut pada nya?!


"Nona, jangan seperti ini-"


"Biarkan aku menemuinya sekali lagi, bukan saat menjadi mayat tapi saat dia masih hidup..." ucap Louise lirih yang tau pria di depannya setidaknya lebih memiliki hati.


Kewarasan nya kembali saat ia dikalahkan dengan rasa cemas nya pada saudara kembarnya.


"Saya tidak bisa melanggar perintah tuan," jawab Nick yang berusaha membuat gadis itu terbangun.


"Kau pernah janji akan melakukan apapun yang ku minta sekali saja kan dulu? Apa aku tidak bisa mengambil nya sekarang?" tanya gadis itu lirih.


Wajah memelas dan mata yang memohon membuat pria itu iba, ia memang pernah membuat janji seperti itu namun tak tau jika akan memliki situasi seperti ini pada akhirnya.


"Saya tidak bisa nona," ucapnya lirih dengan merasa bersalah karna tak bisa menempati janjinya.


"Aku mohon..."


"Aku tidak minta di lepaskan, aku juga tidak akan melakukan apapun yang menyakiti tuan mu..."


"Ku mohon..."


Nick melihat gadis itu kehilangan semua sinar dan cahayanya saat tuannya mulai mengurungnya.

__ADS_1


"Anda hanya akan melihatnya dari jauh," ucap Nick pada gadis itu.


Ia pun mulai membawa nya keluar tanpa sepengetahuan pengawal yang lain.


......................


Tangan yang mengalirkan darah sampai ujung pistolnya, wajah yang terlihat kacau dan terkejut melihat seseorang di depan nya.


Sekertaris baru yang bersamanya saat ini tengah terluka tak bisa lagi memaksa kondisi tubuhnya untuk tetap melawan.


Sedangkan Louis masih terlihat begitu terkejut dengan pria yang berada di depannya.


"Kau? Kenapa..."


"Kita bertemu lagi," balas James dengan senyuman kecil sembari melihat beberapa bawahannya yang terluka ataupun mati walaupun hanya melawan dua orang saja.


"Kau di besarkan cukup baik rupanya," ucap nya lirih.


"Apa alasan mu melakukan ini?" tanya Louis tak percaya, mantan kekasih adiknya ingin membunuhnya.


"Reyhan Cowell Dachinko, kau pernah mendengar nya? Kalau kau tau apa yang di lakukan ayah mu kau pasti mendengarnya," jawabnya pada pria itu.


Louis mengernyit, ia memang pernah mendengarnya dan tau nama itu saat Rian mengatakan tentang permasalahan sang ayah dulu nya.


"Dia ayah mu?" tanya Louis mengernyit karna memiliki nama belakang yang sama.


"Hm, sekarang kau tau kenapa aku melakukan ini kan?" jawabnya dengan wajah dan tatapan yang tak memberikan ekspresi apapun.


Louis terdiam, kalau ia sekarang sampai seperti ini lalu bagaimana adik nya?


"Louise? Bagaimana kau memperlakukannya? Kecelakaan itu memang ada hubungan nya dengan mu?" tanya pria itu meremang dengan darah yang mendidih.


Tak ada jawaban, hanya senyuman kecil yang berada di wajah pria tampan itu.


Tangan Louis bergetar, bukan karna takut namun merasa marah, marah akan segala hal.


DOR!!!


Suara yang kembali menggema memecah keheningan, peluru yang tajam itu datang dan juga menuju ke arah pria yang berdiri dengan luka dan lumuran darah di tubuh nya.


Greb!


Louis tersentak, tubuh nya terhuyung saat seseorang tiba-tiba menarik dan memeluk nya.


"Kak..."


Deg!


Tubuh pria itu membatu seketika, adik yang ia kira sudah mati kini berada di depan nya sembari memeluk nya dengan erat, terlihat lebih kurus dan menatapnya dengan sayu.


"Dulu waktu kita di culik terus kabur, kakak yang lindungi aku, kan? Sekarang gantian, jadi kita sama-sama hutang nyawa satu kali kan?" tanya gadis itu tersenyum.


Louis tak bisa mengatakan apapun, tangannya yang memeluk tubuh ramping itu mulai basah, bibir nya terkunci serta tenggorokan tercekat tak bisa mengatakan apapun.


Senyuman kecil dengan tangan yang dingin mengusap air mata nya yang jatuh tanpa sadar, entah harus sedih atau senang namun ia tak bisa mengatakan apapun.


Sementara itu, pria yang tadinya menarik pelatuknya tersentak, tubuh nya meremang dengan tak bisa bergerak, dari mana munculnya gadis itu?


Bukan nya tadi masih berada di mansion?


Ia tak tau jika pistol yang di siapkan dengan peluru mematikan itu bukan besarang di tempat yang ia tuju melainkan di tubuh gadis yang ia cintai.


"Louise kenapa dia disini..." gumam nya yang masih tak percaya dan semua seakan seperti mimpi yang ingin di putar kembali ke persekian detik yang lalu.


Gadis itu berbalik, menatap ke arah pria yang membatu terkejut setengah mati melihatnya yang tiba-tiba datang menjadikan tubuh rapuhnya sebagai perisai.


Punggungnya penuh akan warna merah yang membuat warna gaunnya berubah, wajah nya semakin pucat namun saat ia melihat pria itu tatapan yang biasanya kosong kini tampak lega.


Bukannya memberi tatapan kebencian dan marah, namun gadis itu tersenyum, sorot yang lelah dan tak lagi berharap pada pria itu.


Ini yang kau inginkan, iya kan? Jadi berhentilah...


Deg!


Gerakan bibir gadis itu dapat terbaca, membuat sesuatu seperti jatuh di dada pria itu.


Louis kembali sadar, ia menarik napasnya sembari merengkuh tubuh adiknya, mengarahkan pistol yang ia pegang untuk membalas peluru pada pria yang membuat adiknya seperti itu.


DOR!!!


Tak!


Louise yang langsung menepis tangan sang kakak hingga peluru yang harusnya melaju itu meleset tak mengenai kepala ataupun jantung pria itu.


Tubuh James terdorong ke belakang karna peluru yang mengenainya, bibir nya terkunci rapat, ia tak sempat melakukan apapun karna pikirannya yang kosong saat ini.


Tidak, Louise...


Aku...


Bukan peluru yang membuat jantungnya ingin berhenti namun melihat gadis yang hampir mati di tangannya tak bisa bernapas.


"Kak? Jangan..." tubuh gadis itu tak lagi bertahan, ia terjatuh dan sang kakak yang langsung menopang.


Louis menatap tak mengerti pada adiknya, "I love him, please don't..."


Hati pria itu tersentak, menatap adik kesayangannya yang mengatakan mencintai seseorang yang menyakitinya secara nyata.


Walaupun tak lagi berharap, namun perasaan gadis itu masih ada, pada pria dan cinta pertamanya.


"Kak? Aku pergi yah? Boleh kan kak?" tanyanya lirih.


Pria itu tersentak, ia tak bisa menahan lelehan buliran bening yang jatuh di matanya, "Mau kemana? Kita pulang? Hm?" tanya pria itu yang tak lagi bisa memikirkan apapun kecuali terpaku pada saudaranya saat ini.


Gadis itu tak menjawab, namun ia tersenyum kecil saat mata sayunya perlahan terpejam.


Melihat gadis itu yang tak lagi bergerak, Louis tersentak, tangannya kecil itu jatuh tak lagi memeluknya, pria itu tak bisa mengatakan memikirkan apapun, yang ia lakukan hanya memeluk gadis itu dengan dengan erat.


Bahkan jika ada seseorang yang mengatakan pistol ke kepalanya pun pasti tak akan membuatnya sadar.


🌼🌼🌼


Kak?


Kakak?


Kenapa nangis?


Katanya sayang sama aku? Mau lihat aku bahagia?


Tapi aku gak bisa bahagia kak, aku sakit...


Sakit sekali...


Aku mau jadi bintang aja kak, seperti Mama Papa...


Nanti kan kakak bisa lihat aku?


Kalau aku pergi aku bisa lupa tentang dia juga kak...


Aku gak bisa benci dia walaupun dia jahat kak...


Aku suka dia, suka sekali...


Jadi pergi dan lupa tentang dia, lebih baik kan kak?

__ADS_1


Aku boleh pergi yah kak?


__ADS_2