
3 Hari kemudian
Hotel.
Ungh!
Wanita itu meyandarkan tubuh nya yang terlihat basah penuh keringat itu ke pria yang masih memangku nya.
"Udah? Mau ganti lagi?" pria itu tersenyum sembari mengusap punggung nya dengan lembut dan mengusap rambut yang panjang itu.
"Mau nya udah," jawab nya sembari mulai beranjak dari pangkuan pria tampan itu.
"Loh? Aku belum selesai Cla," pria itu pun menarik pergelangan kaki yang kecil itu sebelum sempat menuruni ranjang nya.
"Memang wanita yang tidak bertanggung jawab..." ucap nya menggeleng sembari melihat ke arah wanita yang ia tindih.
"Udah sor- Humph!"
Bibir dengan polesan lipstick yang memudar kini terbungkam lagi saat pria itu kembali menautkan bibir nya lagi.
Dan memulai penyatuan nya kembali, tangan yang mulai menggenggam tangan wanita yang berada di tubuh nya dan kembali bergerak dengan perlahan agar wanita itu bisa menyesuaikan diri nya kembali.
...
Restoran.
Louise membuang napas nya dengan lirih, sang kakak tiba-tiba minta di gantikan untuk pertemuan bisnis dengan alasan yang mendadak.
"Memang nya dia ngapain sih? Ck!" decak gadis itu yang kesal karna seharunya ia pergi bertemu dengan teman-teman kuliah nya hari ini.
Namun walaupun ia kesal ia tetap melakukan nya karna tau sang kakak juga tak pernah mengambil libur atau cuti selama menjabat menggantikan sang ayah.
Pertemuan bisnis kali ini berjalan lancar, kesepakatan yang berjalan dengan jutaan dollar itu sudah terjadi.
Kini gadis itu masih duduk di meja yang kosong karna para rekan bisnis nya sudah pergi terlebih dahulu.
Ia melihat ke arah ponsel nya yang masih tak menunjukkan apapun dari pria yang sebelum nya seperti memohon untuk rasa maaf nya.
"Kata nya mau mengejar ku? Baru beberapa hari aja udah hilang!" decak nya yang setengah tertawa kesal karna tanpa sadar ia menunggu pesan dari pria itu.
Louise pun mulai memegang tas nya dan beranjak bangun untuk keluar dari restoran tersebut.
Deg!
Baru saja langkah kaki nya ingin keluar dari gedung restoran namun ia terhenti, ia melihat ke arah wajah wanita yang ia kenali.
Tak hanya dirinya, wanita itu juga sangat terkejut seperti melihat seseorang yang bangkit dari kubur.
"Masih hidup?" tanya nya dengan tatapan sinis dan tak suka.
Louise bernapas dengan kasar dan membuang wajah nya, "Siapa? Saya tidak kenal," ucap nya dan melanjutkan langkah nya lagi.
"Dasar pengganggu!" Wanita yang tampak geram itu mulai menggerutu.
"Kau tidak bisa mati saja dan jangan menganggu ku lagi?"
Kali ini Louise menghentikan langkah nya kembali, ia mengernyit mendengar nya.
Memang nya apa yang ia lakukan?
Ia tak pernah menganggu atau pun mencari masalah pada wanita yang bertubuh molek itu, ia juga tak pernah bersikap obsesif pada pria yang di inginkan wanita itu dan malah sebaliknya.
"Kapan aku menganggu mu? Aku juga tidak pernah bertemu dengan mu? Kalau kau merasa terganggu karna hal yang tidak jelas seperti itu, kenapa bukan kau saja yang mati?" tanya Louise dengan kesal karna mendengar nya.
Ia memang pernah berpikir untuk mati dulu karna berada dalam puncak depresi namun tidak lagi untuk saat ini.
"Kau pasti sudah bertemu dengan nya, tapi jangan terlalu senang..." ucap Bella mendekat ke arah gadis itu.
"Dia tidak akan mendekat lagi pada mu karna sekarang kami sudah punya tanda cinta lagi," ucap nya sembari mengusap perut nya yang memang sedikit membulat.
Louise mengernyit, ia menurunkan pandangan nya ke arah perut wanita itu.
"Berhenti bersikap sok akrab dan enyahlah!" ucap nya yang berbalik dan melangkah dengan cepat.
Bella masih berdiri di tempat nya semula, menatap gadis yang pergi dengan raut tak suka itu.
Hamil?
Ia memang hamil dan saat ini tengah dalam proses mengugurkan nya dengan cara meminum pil.
Dan tentu nya ayah dari anak yang ia kandung bukanlah dari pria yang ia cintai karena ia saja sangat sulit untuk menemui pria itu.
"Untung aja masih ada nih anak," ucap nya yang senang membuat gadis itu merasakan sakit.
...
Gadis itu masuk ke dalam mobil nya, ia terdiam sejenak.
Memang ia tidak lagi berharap pada pria yang sudah memberi nya, dan ucapan yang ia dengar pun juga belum tentu kebenaran nya tapi entah mengapa ia masih merasa tak nyaman.
"Itu bukan urusan ku lagi..." gumam nya sembari menarik napas nya dan mulai menyalakan mesin mobil nya.
Ponsel nya membunyikan notifikasi, lagi-lagi dari tunangan nya yang manis itu.
Pesan yang mengatakan ingin mengajak nya keluar, ia pun membalas nya dan tentu tak ada alasan bagi nya untuk menolak hal tersebut.
......................
__ADS_1
Skip
"Ih ini gimana sih?" gadis itu tertawa kembali.
Senyuman nya terlihat dan sejenak pikiran yang membuat kepala nya sumpat itu hilang.
Pria yang selalu tau membuat nya kembali tersenyum itu tentu nya melihat ke arah gadis yang membuat bentuk gelas yang tidak beraturan itu.
"Kalau seperti ini sekali angkat juga jatuh," ucap nya tersenyum yang mengejek tunangan nya.
"Zayn!" Louise menatap dengan mengernyitkan dahi nya, wajah yang cemberut menjadi raut nya saat ini.
Pria itu tersenyum, waktu yang tanpa terasa mulai semakin larut karna begitu asik bermain membuat gelas dari tanah itu.
"Mau tukar," ucap Louise setelah melihat hasil buatan nya dan juga buatan tunangan nya.
Zayn tersenyum, gelas yang tak beraturan itu tentu ingin di tukar dengan gelas yang lebih rapi dan bagus.
"Boleh tapi harus bayar," ucap nya tersenyum sembari menunduk agar menyamai tinggi wajah nya.
"Hm?" Louise menatap bingung karna yang menjadi tujuannya adalah gelas buatan tangan tunangan nya yang terlihat bagus.
Cup!
Satu kecupan ringan melayang di bibir nya, gadis itu terlihat masih memproses namun gelas yang berada di tangan nya sudah terganti.
"Mau ku antar pulang? Setelah makan malam?" tanya Zayn sembari melihat gelas buatan gadis yang tampak buruk namun biar pun begitu ia tampak sangat menyukai nya.
"Aku tidur di apart mu aja, lagi pula Louis juga seperti nya gak pulang malam ini." ucap nya sembari berjalan ke samping pria itu.
......................
Mansion Dachinko
James menarik napas nya dengan sembari melihat ke arah putri nya yang masih belum terbangun.
"Kenapa dia belum bangun? Ini sudah hampir seminggu!" ucap nya bertanya pada Chiko.
"Nona mengalami gegar otak dan tentu ini salah satu akibat dari kondisi nya, tapi saya yakin dalam beberapa hari ke depan nona bisa sadar." ucap nya karna ia memantau kondisi nona muda nya terus menerus.
"Paling lambat mungkin sekitar beberapa bulan tidak sadar," sambung nya lirih yang juga mengatakan adanya kemungkinan lain.
James hanya membuang napas nya dengan kasar, putra angkat nya sudah di kirim ke Austria dua hari yang lalu.
"Keluar," ucap nya agar bawahan nya itu pergi dari kamar putri cantik nya yang saat ini tak lagi bersuara.
Dan sindikat perdagangan anak yang di lakukan diam-diam di bawah pengawasannya pun sudah ia habiskan.
Ia menatap ke arah putri nya, dengan banyak nya hari sibuk yang ia lalui tentu membuat nya sampai lupa menghubungi ibu putri nya.
"Daddy lupa kasih tau Mommy, tapi sekarang Bian gak perlu takut lagi, Daddy udah hukum semua yang jahat sama Bian..."
"Bian bangun yah nak?"
Suara nya terdengar lebih lembut dan parau, ia begitu menyayangi putri kecil nya itu.
Putri kecil nya yang bagi nya adalah separuh dari dunia yang ia miliki.
......................
Apart Blue Sky
Hah...
Hah...
Hah...
Suara tarikan napas yang berat itu terdengar, entah bagaimana permulaan nya ia juga sudah tidak tau lagi.
Sweter yang ia kenakan sebelumnya sudah berada di lantai, celana panjang nya pun entah sudah berhambur kemana tak tau.
Pria itu mengecup leher nya dengan lembut sembari mulai melepaskan pengait br* yang ia kenakan.
"Aku boleh?" suara berat yang seperti sudah berada di ujung tanduk itu meminta persetujuan nya.
Gadis itu diam sejenak, suara nafas yang hangat itu bertiup di telinga nya. Ia bingung bagaimana cara menjawab nya.
Menolak?
Sudah dua tahun ia menolak untuk melakukan kontak fisik yang lebih jauh pada tunangan nya sendiri.
"Ya..." jawab nya dengan satu kata dan membuat pria itu kembali mel*mat bibir nya.
Mungkin ia seperti menjadikan pria itu hanya sebagai pelampiasan rasa sakit nya setelah di lukai oleh cinta pertama nya.
Tapi siapa yang nanti nya akan menjadi lebih terluka?
Membiarkan seseorang menggunakan balon dan mengangkat tubuh nya sampai ke angkasa dan menjatuhkan nya kembali ke dasar, tentu sakit bukan?
Tak memikirkan hal lain dan tak ingin memikirkan apa yang terjadi, hanya saja ia berada dalam suasana yang tak mungkin bisa menolak terus menerus.
"Mau pindah ke kamar ku?" tanya pria itu dengan suara yang berat.
Tanpa menunggu jawaban pria itu pun langsung mengangkat tubuh wanita yang berada dalam kungkungan nya itu.
__ADS_1
Memindahkan nya ke kamar dan menurunkan nya dengan lembut ke atas ranjang.
Ciuman pun datang lagi secara bertubi, walupun terasa lembut dan pelan namun meninggalkan jejak di atas tubuh mulus itu.
"Tunggu Zayn!" ucap nya yang mendadak tersentak saat satu-satu nya pelindung di atas tubuh nya akan di tarik ke bawah.
Pria itu diam dan menghentikan tangan nya sejenak sembari melihat ke arah wajah tunangan nya itu.
"Ti..tidak, ku rasa kau bisa lanjutkan..." jawab Louise yang tak mengatakan apapun dan memalingkan wajah nya.
Sudah terlalu jauh kalau ia menolak sekarang kan?
Pria itu diam sejenak tanpa sepatah kata pun, namun ia mulai mencium perut rata gadis itu dengan lembut.
Tangan nya kembali melepaskan apa yang sempat tertahan sebelumnya.
Tubuh tetaplah tubuh yang juga membutuhkan sesuatu. Walaupun gadis itu antara mau dan tidak namun tubuh nya memberikan respon atas perlakukan yang begitu lembut itu.
Auch!
Gadis itu meringis, ia yang sudah lama tak melakukan hal seperti itu tentu sedikit sulit untuk melakukan awalan nya lagi.
Terlebih lagi walaupun ia sudah memiliki anak namun ia tak pernah melahirkan normal.
"Kau baik-baik saja?"
Pria itu masih sempat bertanya pada nya walaupun tubuh nya sedikit gemetar karna merasakan hal yang begitu baru untuk nya.
"Ya, aku tidak apa-apa..." gadis itu menjawab dengan lirih sembari memegang lengan pria yang bersama nya saat ini.
Walaupun ia menyala namun ia tak semenyala seperti melakukan hubungan yang sebelum nya.
4 Jam kemudian.
Gadis itu sudah jatuh tertidur lelap, sedangkan pria yang berada di samping gadis yang tertidur itu tampak tersenyum cerah sembari merapikan rambut yang terlhat basah itu.
Mata nya menatap berseri, walaupun ia merasa lelah namun entah mengapa ia sangat merasa senang.
Ia merasa kini gadis itu sudah menjadi milik nya seutuhnya, hanya tinggal mengucapkan ikrar janji pernikahan yang belum di lakukan.
Drttt...drtt...drtt...
Suara ponsel yang bergetar itu terdengar, Pria yang belum tidur itu tentu dapat mendengar nya.
Mata nya mengernyit, nomor yang tak di kenal memanggil di ponsel tunangan nya.
Ia pun mengangkat nya, meletakkan alat canggih itu ke telinga nya.
"Kau belum tidur? Louise aku mau memberi tau mu sesua-"
"Dia sudah tidur," potong Zayn langsung.
Tangan nya mengepal, wajah seri nya langsung berubah begitu mendengar suara pria yang ia kenali menelpon tunangan tercinta nya.
"Kau bersama nya?"
Zayn diam sejenak, siapa yang tidak akan cemburu melihat mantan kekasih tunangan nya menelpon larut malam.
"Ya, dia kelelahan jadi jangan menelpon atau menganggu nya lagi." ucap nya yang tak ingin berbagi wanita yang ia cintai.
"Aku punya sesuatu yang harus ku katakan pada nya,"
"Katakan pada ku," ucap Zayn yang beranjak bangun dan berbicara di balkon agar tak mengganggu tidur gadis nya.
"Tidak bisa,"
"Kenapa? Aku tunangan nya, dan kau juga mungkin lupa sesuatu. Dia adalah wanita yang akan segara menikah." ucap pria itu yang tak ingin hubungan nya terganggu.
"Ya, aku tau. Tapi kau juga melupakan sesuatu. Kalau kami memiliki sesuatu yang tidak bisa di putuskan atau di hilangkan."
Zayn diam, jujur saja ia sangat merasa cemburu dan tak nyaman. Ia takut jika tunangan nya itu meninggalkan nya dan memilih kembali dengan mantan kekasih sekaligus cinta pertama nya yang memiliki anak nya.
"Jangan menganggu dia lagi, dan kalau kau bicarakan tentang anak mu dengan nya, anak itu juga akan menjadi anak ku setelah pernikahan kami." ucap nya yang menutup telpon nya segera.
Pria itu terdiam sejenak dan tak masuk kembali ke kamar nya, ia berdiri melihat ke arah jalanan dan lampu gedung yang menyala malam itu.
"Zayn?"
Suara yang terdengar serak karna baru saja terbangun, pria itu pun langsung menoleh dan melihat ke arah tunangan nya.
"Kenapa di luar?" tanya Louise melihat tunangan nya yang baru masuk dari balkon dengan mata yang masih menyipit karna mengantuk.
"Tidak apa-apa," jawab pria itu sembari memberikan senyuman yang lembut dan menaikkan selimut untuk menutupi tubuh polos gadis nya.
Ia mengusap kembali kepala gadis itu dengan perlahan sampai tertidur lagi.
Gadis yang tertidur itu tak tau apa yang akan terjadi nantinya, bermain di atas kaca rapuh yang bisa melukai siapa saja.
Entah itu dirinya sendiri ataupun orang lain yang berada di sekitar nya.
......................
Mansion Dachinko
James memegang ponsel nya, tangan nya menggenggam erat benda persegi panjang itu dengan kuat hingga tampak gemetar.
"Menjadi anak nya?" gumam nya yang tak bisa membayangkan putri tercinta nya akan memanggil pria lain dengan sebutan 'Daddy' selain dirinya.
__ADS_1
Di tengah rasa lelah yang menumpuk pria itu tak bisa menjernihkan pikiran nya yang penuh dengan kecurigaan dan rasa cemburu ketika mendengar tunangan gadis nya bersama sampai malam seperti saat ini terlebih lagi ia mendengar kata 'Kelelahan' yang membuat nya semakin overthingking.
Ia memang bukan siapa-siapa untuk gadis itu namun ia merasa kan cemburu dan juga rasa sakit yang Doble ke dalam diri nya.