
Dua Minggu kemudian.
Kediaman Rai
Gadis itu memegang dan memutar ponsel nya, ia menarik napas nya dengan lirih dan melihat ke arah halaman kediaman nya yang luas itu.
Ia baru saja membaca pesan-pesan yang dikirimkan pada nya secara berkala dari pria yang terus memberikan informasi perkembangan tentang putri nya.
Ia tak pernah membalas ataupun mencoba mengatakan akan melihat nya, rasa nya gugup dan ingin menghindari makhluk mungil bermata coklat itu.
Louise membuang napas nya, ia membuka ponsel nya lagi. Melihat ke arah kontak nya dan mulai menelpon seseorang.
"Ya, saya ingin membuat reservasi." ucap nya lirih di salah satu pembicaraan telpon nya.
Setelah selesai gadis itu bernapas panjang, "Eh?" ia tersentak sesuatu yang dingin menyentuh ke pipi nya hingga membuat nya menoleh.
"Mikirin apa sih?" pria itu duduk di samping adik nya setelah memberikan minuman kaleng yang dingin itu.
"Gak ada tuh," jawab nya singkat sembari membuka minuman yang di berikan sang kakak.
"Kau tidak bertemu pria itu lagi kan?" tanya Louis sembari mulai menenggak soda kaleng itu.
"Kenapa? Kau takut dia membunuh ku lagi?" tanya gadis itu yang spontan membuat sang kakak terkejut.
Uhuk!
Louis hampir tersedak mendengar nya, ia langsung menatap ke arah wajah yang tak menunjukkan ekspresi apapun itu.
"Kau bilang apa?" tanya nya yang ingin mencoba untuk mendengar lagi apa yang di katakan adik nya.
"Bagaimana kalau ingatan ku sudah kembali? Apa aku akan baik-baik saja?" tanya nya lirih.
"Louise? Kau," pria itu meletakkan minuman kaleng nya di atas meja dan mengambil milik adik nya juga agar tidak tumpah.
"Apa yang harus ku lakukan? Menurut mu aku harus lakukan apa?" tanya menoleh ke arah sang kakak.
"Kak? Ingat? Tentang anak yang dulu pernah aku kandung? Anak itu sudah meninggal, aku bahkan belum kasih dia nama..." ucap nya lirih.
Sesuatu menggangu nya, namun ia juga bukan dalam kondisi baik.
Putri nya yang trauma karna mengalami hal berat?
Lalu ia harus apa? Pria itu terus mengabarkan perkembangan putri nya.
Dan ia juga tak bisa melakukan apapun, memberikan dukungan atau memulihkan trauma si kecil yang cantik itu?
Ia sendiri juga memiliki nya, bagaimana bisa seseorang yang sakit menyembuhkan orang sakit lain nya?
"Louise?" panggil pria itu lagi dengan suara lebih rendah sembari mulai menggenggam tangan saudari nya.
"Anak itu meninggal beberapa menit setelah lahir, karna aku mencoba kabur dari sana..." ucap nya lirih.
Tangan nya mulai bertaut, ia menunduk dan tak melihat ke arah sang kakak. Suara nya mulai berubah ketika ia membicarakan makhluk yang ia bawa hampir 9 bulan penuh dan lenyap ketika dalam dekapan nya.
"Hidung nya mancung, kulit nya masih merah, dia juga masih sangat kecil..." ucap nya lirih dengan suara gemetar.
"Tapi dia gak bergerak, gak nangis..."
"Dia dingin, suhu nya dingin sekali..."
"Sebanyak apapun aku peluk dia tetap dingin kak..." ucap nya lirih.
Lelehan buliran bening itu mulai jatuh turun ke hidung mancung nya yang menunduk. Suara nya tercekat, ia memang menyukai anak-anak namun setelah kehilangan anak nya dan mengingat semua peristiwa itu membuat nya bahkan tak ingin mendengar suara tangisan bayi.
"Louise kenapa?" pria itu bertanya-tanya, saudari kembar nya mengatakan jika ingatan nya sudah kembali dan bahkan menceritakan sesuatu yang seperti nya sulit untuk di katakan.
Gadis itu tak menjawab, tubuh nya mulai gemetar dan suara tangisan lirih terdengar. Pria itu tak bisa mengatakan apapun lagi selain mencoba memeluk satu-satu nya kelurga yang ia miliki itu.
Detikan jam sudah berjalan, pria itu memandang saudari nya yang kini tertidur, mata nya menoleh ke arah jam digital yang menunjukkan angka 11.56 yang berada di dekat gadis itu sebagai fungsi alarm.
Ia tak mengatakan apapun lagi atau menanyakan sesuatu. Langkah nya berbalik ke kamar mandi gadis itu.
Ia membuka laci yang berada di balik cermin namun tak menemukan sesuatu.
Ia pun keluar lagi dan mecoba membuka laci-laci lain nya, "Hah..." pria itu menghembuskan napas nya dengan panjang.
Ia menemukan salah satu botol obat yang berisi pil anti-depresan lagi pada adik nya.
Obat itu dulu memang sempat di minum gadis itu ketika sang ibu meninggal namun ia tak kini obat itu pun kembali di konsumsi.
Tak sampai di situ Louis juga membuka beberapa tempat dan menemukan pil-pil lain nya seperti pil penenang untuk serangan panik.
"Apa aku melewatkan sesuatu lagi?" gumam nya lirih sembari melihat ke arah saudari nya yang sudah tertidur itu.
Pria itu menggenggam obat-obatan yang berada di tangan nya, ia tak tau kurang lebih selama dua tahun apa yang terjadi pada adik nya dan apa yang sudah di lakukan cinta pertama adik nya itu dalam kurung waktu yang terbilang cukup lama itu.
......................
Ruangan dengan aromaterapi yang nyaman serta udara yang bersih itu terlihat cukup bagus.
__ADS_1
Tas yang berwarna putih dengan logo buatan import dan memiliki harga fantastis itu di genggam dengan erat.
Bibir nya tak berbuka ataupun mengatakan sesuatu, ia datang ke tempat yang baru dah juga seseorang yang baru berbeda dengan terapis yang biasa ia temui.
"Nona tidak perlu gugup, anda bisa mengatakan apapun." ucap wanita berambut pendek dengan senyum yang ramah itu yang sabar menunggu sampai klien nya membuka mulut.
"Aku ingin menemui seseorang tapi aku tidak bisa..."
"Aku tidak bisa melihat nya, jadi walaupun aku menemui nya aku terus berbalik..." ucap nya lirih yang mulai bersuara.
"Kenapa? Apa dia melakukan sesuatu yang menyakiti hati nona?" suara yang terdengar lebih lembut dan dewasa itu bertanya.
Gadis itu menggeleng, "Tidak, dia tidak pernah melakukan apapun, aku hanya tidak bisa melihat wajah nya..." ucap nya menjawab dengan suara yang lirih.
Wanita itu tersenyum, lesung Pipit yang masih terlihat di wajah yang terawat baik walaupun mulai di makan usia itu melihat ke arah gadis di depan nya.
"Dulu..."
"Aku mau jadi seperti ibu ku, tapi ku rasa aku tidak bisa..."
ucap nya lirih, suara nya mulai berubah. Ia mulai mengalihkan mata nya dan menunduk melihat ke arah lantai dan sepatu yang ia kenakan.
"Siapa seseorang yang tidak bisa anda temui itu?" tanya sang terapis dengan suara yang dapat membuat hati seseorang luluh.
"Anak ku..." ucap nya lirih dengan suara yang terdengar getar.
Bukan sesuatu yang mudah untuk melupakan semua yang terjadi pada nya, secara alami alam bawah sadar nya membuat nya menghindari sesuatu yang mungkin akan menyakiti nya lagi.
......................
Mansion Dachinko
Luka-luka gadis kecil itu mulai pulih, memar di tubuh nya mulai memudar walaupun tulang yang patah belum pulih seutuh nya.
Tak ada suara tawa ataupun sikap nakal lagi, gadis kecil yang dulu nya sangat ceria dan cerewet itu kini pasif.
Ia tak memberikan respon dengan mainan yang berada di depan nya walau itu adalah mainan yang ia sukai.
Perawatan medis dan terapis kejiwaan juga di lakukan.
"Daddy..."
"Mau Daddy..."
Ucap nya yang tak ingin lagi di ajak berbicara dengan dokter nya.
Semenjak sadar dan tau jika ia sudah berada di rumah gadis kecil itu tak lagi memberontak ataupun berteriak menangis.
"Bianca?" mata coklat itu langsung menoleh ke arah suara pria yang memanggil nya itu.
"Daddy!" ucap nya yang dengan penuh semangat sembari membuka tangan nya dengan lebar agar sang ayah menggendong nya.
Gadis kecil itu tak bertanya atau mengatakan apapun, seperti ia yang di tinggal atau di mana kakak Al nya atau menanyakan sang ibu yang sangat ia ingin kan dulu.
Bagi nya hanya ada pelukan ayah, suara ayah, aroma ayah dan ia akan aman.
Tidak akan ada yang menyentuh ataupun menyakiti nya saat bersama dengan seseorang yang ia panggil 'Daddy' itu.
"Mau makan es krim sama Daddy?" ucap pria itu sembari mengelus punggung dan rambut belakang putri nya yang memeluk nya dengan erat ketika berada dalam gendongan nya.
Bianca mengangguk dalam dekapan ayah nya, pria itu pun berjalan meninggalkan terapis nya dan memberikan sesuatu yang baru ia tawarkan.
"Suka?" tanya nya sembari mengusap es krim yang berserakan di pipi bulat dan bibir putri kecil nya.
Bianca mengangguk sembari terus memakan makanan yang begitu manis dan dingin itu.
"Bianca kangen Mommy gak?" tanya nya sembari melihat ke arah putri kecil nya yang cantik.
"Kalau Bian sama Mommy, Daddy pasti bakal pelgi..." ucap nya lirih.
Ia tau jika sang ayah tidak pernah bersama dengan nya saat ia bersama dengan ibu nya, tak ada waktu yang pernah di gunakan untuk habis bersama.
Hanya ada satu sisi yang bisa ia datangi karna kedua sisi itu terpisah.
James tak bertanya apapun, ia hanya mengusap ke arah pipi bulat putri nya dan memperhatikan anak itu makan lagi.
...
Wanita yang berdiri tepat di depan pria itu yang menatap nya dengan tatapan lurus dah tajam.
"Bagaimana dengan kondisi nya?" tanya James sembari melihat ke arah wanita itu.
"Perkembangan nya cukup cepat, karna sekarang nona muda mulai beradaptasi lagi dengan lingkungan nya." ucap nya pada ayah dari klien putri kecil nya.
"Tapi dia saat ini benar-benar membutuhkan anda, saya harap anda lebih banyak lagi meluangkan waktu untuk putri anda." saran wanita itu.
"Apa dia punya kemungkinan seperti itu sampai dewasa?" tanya nya menarik napas nya lirih.
"Usia nona masih sangat muda, dia juga bahkan belum mencapai 4 tahun, mungkin ini akan sulit untuk sekarang tapi ketika dewasa itu hanya akan menjadi seperti mimpi buruk yang samar untuk nya." ucap nya pada pria di depan nya.
__ADS_1
James tak lagi bertanya, ia hanya menggerakkan tangan nya agar wanita itu pergi.
"Benar juga, kami tidak pernah bersama..." ucap nya lirih yang sejenak terpikirkan tentang perkataan putri nya yang mengatakan ia harus berada di sisi lain nya jika ingin bersama dengan orang tua nya.
...***************...
...HARUS BACA!!!...
Hay pembaca othor👋👋👋 yang terluv-luv♥️♥️♥️
Othor ada baca banyak yang bilang tentang sikap Louise kenapa ga ada rasa ibu nya sama sekali sama Bianca.
Nah othor mau bilang kalau dia itu bukan nya gak sayang atau sama sekali gak peduli, di beberapa chap yang sebelum nya othor pernah bilang kalau dia masih terkurung atau terjebak sama anak pertama nya.
Dah itu jadi trauma tersendiri untuk dia, atau mungkin othor yang kurang dalam menggambarkan perasaan rasa takut, depresi dan trauma nya si Louise makanya banyak yang banget yang ngira kalau dia itu udah berubah total atau ngerasa kek gak nyambung🤧🤧🤧
Dan trauma ataupun depresi ibu bukan kayak yang bisa di anggap ringan dengan waktu satu atau dua bulan itu hilang.
Pernah lihat berita tentang ibu yang bunuh anak-anak nya dan setelah di wawancarai dia bilang karna gak mau anak nya menderita sama seperti dia.
Si ibu ini gak sayang sama anak nya? Gak dia sayang karna mikirin takut anak nya akan punya hidup yang sama seperti dia.
Lah terus kenapa anak nya di bunuh? Gak kasihan?
Karna itu bentuk kasih sayang nya, walaupun salah tapi itu yang dia anggap benar.
Itu karena apa? Sudah pasti karna dia gak bisa berpikir dengan sehat dan jernih.
Masalah setiap orang itu beda" dan si Louise nya punya masalah yang juga beda dari ibu" lain nya.
Thor? Apa hubungan nya si Louise sama ibu-ibu yang othor bilang di atas?
Nah kalau ada yang merasa gak nyambung othor bilang yah, kalau si ibu di atas membunuh anak nya sebagai bukti kasih sayang nya yang ada di alam bawah sadar nya yang gak sehat si Louise juga sebenarnya ngelakuin hal yang sama.
Sama nya dari mana? Louise nya aja gak peduli.
Yaps! Itu! Dia coba gak peduli ataupun naruh perhatian untuk anak nya sebagai kasih sayang yang ia punya karna dia ibu nya.
Dia kayak merasa kalau dia sesayang anak kedua nya sama kayak anak pertama nya, berarti anak itu bakalan mati juga. Dan alam bawah sadar nya itu kayak Uda ngasih tau dia kalau dia bakal gak akan sanggup buat kehilangan anak lagi.
Lah kok aneh?
Si Louise nya itu udah trauma berat karena kehilangan anak yang bener" dia mau dan dia sayang secara otomatis trauma nya itu pasti buat dia jauh dari anak-anak lain nya termasuk anak nya sendiri yang kedua.
Belum lagi situasi yang dapet waktu itu, kalau ada yang merasa, yah salah dia sendiri lah kenapa kabur padahal udah hamil besar?
Hey!
Memang nya ada yang tahan? Di kurung terus di tekan mental nya belum lagi rumah sakit dan properti bisnis yang mau dia lindungi itu mulai di rusak sampai perusahaan (JBS) dalam krisis waktu itu.
Belum sampai di situ, dia juga ngadepin manusia yang kelakuan nya kayak dakjal, gak pernah sekalipun di tunjukkin atau di perlakukan kayak seseorang berharga.
Harga diri di injek, keluarga yang di sayang setiap hari di bilang bakal di bunuh di depan nya dan bahkan dia tau sendiri rencana untuk pembunuhan kakak nya, siapa yang tahan?!
Dan mungkin kalau ada yang masih merasa sikap Louise ke Bianca gak nyambung dengan sifat asli nya ataupun yang merasa si Louise nya itu terlalu jahat yah othor gimana lagi yah?
Mungkin othor yang kurang memberikan gambaran tentang luka yang di rasa Louise nya🤧🤧🤧
Othor akan jadikan ini sebagai masukan juga untuk penggambaran trauma yang lebih mendalam, karna memang menggambarkan jiwa yang terluka itu lebih sulit dari pada raga yang terluka🤧🤧🤧
Karna bukan cuma Bianca aja yang punya luka, tapi sisi si Louise nya juga Uda banyak luka🤧🤧
...
Dan yang ngerasa kenapa si Louise nya itu berat banget terima James lagi walaupun dia masih suka yah itu satu!
Dia masih gak bisa percaya gitu aja waktu James bilang kalau cinta sama dia, ibarat nya ini uda di hancurin sampai jadi remahan, Uda berharap sampai rela ngelapasin segala nya tapi tetap bergeming gak ada gerakan sama sekali.
Waktu Uda capek, udah lelah, udah gak berharap tiba-tiba si James nya Dateng lagi bilang kalau cinta sama dia,
Louise nya pasti mikir kan? Lah selama ini kemana aja? Banyak banget kesempatan untuk James nunjukin kasih sayang sayang nya, banyak waktu untuk lurusin kesalahpahaman kalau hubungan si James sama Bella Uda berakhir.
Banyak waktu untuk setidak nya balas 'aku juga' waktu si Louise bilang dia suka sama si James tapi malah James nya Uda batu.
Terus tiba-tiba balik dan bilang kalau dia cinta sama si Louise?
Dan kalau Louise dan Clara juga gak bisa di samain yah, Clara gak pernah di ancem bakal di bunuh orang tua nya atau di jadikan pabrik buat anak dan di kurung selama bertahun-tahun terus semjak pisah pun si Clara nih memang gak punya yang Deket sama dia kecuali Reno mantan pacar nya yang di bunuh Louis.
Beda sama si Louise yang mulai merasa kalau perasaan si Zayn itu mbenbankan karna dia udah terlalu banyak terima cinta terlebih lagi dia tau banget rasanya ngarep sama orang yang menganggap ada aja engga.
Hope they will get them happiness♥️
See you👋😘😘
Oh iya, tapi othor mau tanya dulu? Greget kan sama kelakukan mereka? wkwk
Othor nya gak pande buat cerita lawak, suka nya cerita halu yang bikin emosi ✌️✌️✌️
Dah lah, happy reading😘😘♥️♥️♥️
__ADS_1
Luv-luv sama semua nya🥰🥰🥰