(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia

(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia
Beranjak


__ADS_3

Satu Minggu kemudian.


Mansion Dachinko


Pria itu mengernyitkan dahi nya, walaupun saat ini sesuatu berjalan sesuai harapan nya namun tetap saja ia tak mengerti.


"Mereka membatalkan pernikahan?" gumam nya yang bingung.


Hari pernikahan telah lewat, tamu yang sudah di undang tentu mendapat pemberitahuan jika pernikahan tak jadi di langsungkan.


James menghela napas nya, walaupun pernikahan yang tidak ia inginkan itu batal namun masih tak ada kabar sama sekali dari Louise.


Klek


Pintu ruang kerja nya terbuka, seorang pelayan yang menggendong anak kecil itu datang.


Dan tentu jika hanya seorang pelayan tak akan berani membuka ruang kerja tuan nya tanpa mengetuk jika bukan tangan mungil itu yang bergerak sendiri.


"Daddy?"


Mata bulat nan jernih itu menatap ke arah sang ayah, ia meminta di turunkan dan mendekat ke arah pria yang duduk di atas kursi kerja nya itu.


"Bian?" James mengangkat tubuh mungil yang datang ke arah nya itu.


Ia memangku nya dan membiarkan putri kecil nya duduk walaupun tangan mungil itu sangat aktif menyentuh semua barang-barang di atas meja kerja sang ayah.


James menutup laptop nya lebih dulu, karna ia takut putri nya tanpa sengaja menghilangkan data yang berada di dalam nya.


"Kenapa?" tanya nya pada putri nya sembari menyuruh pelayan yang masih berdiri di depan mereka untuk keluar dengan isyarat dagu nya.


Bianca menghela napas nya seperti mengalami kehidupan yang pahit, "Daddy? Daddy lupa kan?" tanya nya pada sang ayah.


James mengernyit, apa yang ia janjikan pada putri nya sampai gadis kecil itu datang menagih?


"Tuh kan! Lupa!" ucap Bianca yang kesal.


"Memang nya ini hari apa?" tanya James pada putri kecil nya.


"Hehe, ga tau! Bian juga lupa!" jawab nya dengan tawa kecil dan mata yang menghilang ketika ia tersenyum.


James menarik napas nya, putri nya terkadang mulai berubah menjadi random saat semakin sering menemui sang ibu.


"Dad?" panggil Bianca sekali lagi.


"Iya?" tanya nya sembari berusaha merapikan rambut yang berada di sekitar wajah putri nya agar tak masuk ke mulut dan di makan.


"Mommy kenapa ga pelnah ke sini lagi?" tanya nya pada sang ayah dengan mata bulat nya.


James diam sejenak, ia menaikan tubuh kecil putri nya ke atas meja kerja nya dan setelah itu menatap mata coklat yang mirip dengan nya.


"Bian mau ketemu Mommy?" tanya nya pada makhluk kecil nan menggemaskan yang berasal dari darah nya itu.


Bianca mengangguk atas ucapan sang ayah, "Kita telpon Mommy? Bial suluh Mommy ke sini." ucap nya pada sang ayah.


Pria itu diam sejenak namun kemudian ia mengambil ponsel nya dan seperti biasa ia kembali menelpon gadis itu di depan putri nya.


Bianca mendekatkan wajah nya pada ponsel yang tengah memanggil dan memiliki bunyi dering itu.


Namun bukan suara sang ibu yang menjawab melainkan suara operator telpon yang mengatakan jika panggilan sedang sibuk.


"Mommy benelan ga mau jadi Mommy Bian lagi?" tanya nya dengan raut dan tatapan lesu.


Anak kecil yang masih berusia tiga tahun itu tentu hanya memikirkan sesuatu dalam sekala kecil yang bisa ia rasakan atau ia pelajari dari lingkungan nya.


James diam sejenak, melihat wajah yang lesu itu membuat nya tak tega.


"Bian mau keluar sama Daddy? Kita belanja habis itu makan di luar? Mau?" tanya nya menawarkan apa yang di sukai putri kecil nya.


Bianca langsung menoleh, awal nya ia sedih namun mendengar bujukan sang ayah langsung mengembalikan senyuman nya.


"Kita ke mana? Mall? Nanti beli mainan juga?" tanya nya pada sang ayah.


Memilih sendiri dengan sesuatu yang sudah di pilihkan atau di berikan tentu adalah sesuatu yang berbeda.


James mengangguk, mana mungkin ia tak bisa menuruti permintaan kecil putri nya itu.


"Cuma Bian sama Daddy kan? Kakak pengasuh ga ikut kan?" tanya nya pada sang ayah.


Ia ingat pengalaman nya pernah berbelanja di mall bersama sang ayah sedikit mengesalkan.


Sang ayah terlihat sibuk dengan ponsel nya dan ia memilih serta di gendong dengan pengasuh yang menemani nya.


Dan tentu ia pun masih tak tau apa itu kesibukan orang tua yang terkadang tak bisa di tinggal.


James mengangguk, "Kali ini cuma Bian sama Daddy."


"Mommy?" satu kata itu keluar lagi dari mulut kecil nya.


James menarik napas nya, ia mengajak putri nya keluar agar sedikit melupakan tentang ibu nya namun kini kembali terdengar.


"Kali ini cuma Bian sama Daddy aja dulu, nanti kita pergi nya sama Mommy." ucap nya pada putri nya.


"Kapan?" tanya Bianca dengan nada tak percaya.


"Nanti tanggal 33 bulan depan," ucap James pada putri nya yang tentu tidak tau jika tak ada tanggal segitu.


Bianca menarik senyuman nya, ia tak tau jika tanggal 33 di kalender itu tak ada. Namun ia akan lebih percaya jika di berikan waktu yang terlihat dapat di tinggu di bandingkan nya hanya kata 'Besok'


"Gendong," ucap nya yang membuka tangan nya.


James beranjak menggendong tubuh mungil itu karna memang putri kecil nya sudah terbiasa dan lebih suka di gendong di bandingkan berjalan sendiri.


......................


Kediaman Rai


Pelayan yang berada di kediaman itu tampak membuang napas nya dengan panjang.


Nona yang mereka layani terlihat kurang bersemangat dalam beberapa hari setelah memutuskan pernikahan nya.


Walaupun sejak awal ia tidak begitu menginginkan pernikahan nya, namun membatalkan nya dan menyakiti hati seseorang membuat nya terus merasa bersalah.


Louise berbalik, ia membuka ponsel nya yang sudah beberapa hari tak ia buka.

__ADS_1


Beberapa pesan masuk ke ponsel nya dari teman-teman nya yang penasaran dan tentu akun media nya tak membahas soal ini sama sekali walau ia memiliki pengikut yang terbilang cukup banyak dan tak banyak menghilang selama kabar meninggal nya 4 tahun yang lalu.


"Kenapa dia telpon?" gumam nya saat melihat ke arah ponsel nya.


Gadis itu tak kembali menelpon, melainkan kembali merebahkan tubuh nya ke atas ranjang.


Ia tidak berada di fase patah hati melainkan berada di fase yang tidak bisa melakukan apapun akibat perasaan yang tak nyaman.


Walaupun ia tidak mencintai pria itu setidak nya ia menyayangi nya sebagai teman yang tumbuh bersama sejak kecil.


"Maaf, dan aku juga berharap agar kau bisa lebih bahagia..." gumam nya lirih.


Menyesal?


Dari pada merasakan itu ia malah merasakan perasaan lega saat sesuatu yang berat seperti terangkat dari nya namun tetap saja perasaan bersalah nya belum bisa ia hilangkan.


Dan tentu memulai hubungan baru setelah menyakiti seseorang akan membuat hati kecil nya sedikit tak nyaman.


......................


Mall


Pria itu pergi dengan wanita yang berada di samping nya.


"Seharusnya aku menyuruh nya belanja online saja?" tanya Louis pada wanita di samping nya.


"Kenapa? Kalau pilihan bukan nya lebih bagus?" jawab Clara yang berbicara pada pria yang bingung ingin menghibur adik nya itu.


Clara yang sudah tau tentang pembatalan pernikahan itu tak mengatakan apapun, tak penasaran dengan alasan nya karna bagi nya setiap orang memiliki privasi tersendiri.


"Apa aku belikan dia mobil saja?" tanya Louis yang memberikan usulan.


"Mobil? Kau tidak takut salah warna seperti waktu itu?" tanya Clara yang ingat saat ia dulu masih bekerja sebagai sekretaris pria itu dan pria itu pun salah membelikan mobil yang berbeda warna.


Dan apa yang terjadi?


Tentu pada akhirnya dia yang memakai nya sendiri karna sang adik malah memilih menukar dengan salah satu mobil yang ia miliki.


"Kan itu aku tidak tau kalau dia sudah punya tiga mobil berwarna abu-abu," jawab Louis pada Clara.


"Apa garansi kalian terpisah? Aku tidak mengerti kehidupan orang kaya," gumam Clara yang hanya menggeleng karna orang tua nya hanya memiliki dua mobil itu bekerja masing-masing dan tentu ia lebih suka memakai fasilitas yang di miliki oleh orang tua nya.


"Apa aku beli sesuatu untuk Zayn saja? Dia akan pergi ke Italy besok," ucap Louis pada wanita di samping nya.


Clara mengangguk kan kepala nya, ia pun tak menanyakan apapun dan hanya bersikap seperti awal tujuan pria itu membawa nya.


Yaitu meminta saran untuk hadiah!


Sementara itu.


Gadis kecil itu tampak senang, semua keinginan nya terpenuhi saat sang ayah mengabulkan nya.


Tes...


Pria itu menutup mata nya, putri kecil nya yang tidak mau turun dari pundak nya namun memakan es krim dan menjatuhkan nya ke rambut nya.


"Bian? Es krim nya cepat di habiskan," ucap nya yang berjalan sembari membawa belanjaan dari putri nya.


Dan tentu isi nya adalah mainan, beberapa mainan yang besar akan di kirimkan ke mansion nya dan mainan yang kecil dan bisa di bawa adalah yang ia pegang saat ini.


James kembali berjalan sembari mengusap wajah nya yang kejatuhan es krim manis yang dingin itu.


"Daddy!"


Pluk!


James kembali memejam, kali ini bukan kejatuhan satu tetes melainkan satu gumpalan es krim stroberi dengan toping coklat milik putri nya ke rambut nya dan turun melewati wajah nya.


"Paman Uwis!" panggil gadis kecil itu dengan suara nyaring saat ia melihat ke arah seseorang yang ia kenal.


Pria yang berada di ujung itu menoleh, mata nya mengernyit melihat ke arah anak kecil yang duduk di pundak seorang pria dan melambaikan tangan nya.


"Bian?" gumam nya lirih yang tentu langsung mendekat.


"Paman?" panggil Bianca yang menatap ke arah pria yang tinggal dengan ibu nya itu.


Louis tersentak saat ia mendekat ke arah suara yang memanggil nya, ia menatap ke arah pria yang memiliki ekspresi datar dengan wajah yang tertutup oleh krem merah muda dan coklat serta beberapa meses yang juga menjadi hiasan.


"Walaupun aku membenci mu, tapi kau butuh tisu?" tanya nya menghela napas nya.


"Tidak apa," jawab James yang sudah mengalami experience mengurus anak bukan lah hal yang mudah.


"Hum? Kenapa Paman benci Daddy?" tanya Bianca dengan bingung, "Daddy? Es krim Bian kok jatuh?" tanya nya dengan polos pada sang ayah sembari menunduk mencoba melihat ke mana es krim nya turun.


James hanya menghela napas nya, salah siapa es krim itu jatuh?


Tentu putri nya yang tiba-tiba memanggil dan menunjuk seseorang menggunakan es krim yang ia makan.


"Nanti kita beli lagi ya," ucap pria itu yang tak bisa memarahi putri nya.


Bianca mengangguk, ia kembali melihat ke arah paman nya, "Paman? Mommy mana?" tanya nya sekali lagi yang menginginkan wanita yang melahirkan nya.


"Di rumah, Bian mau ikut paman? Biar ketemu Mommy?" tanya Louis menawarkan sesuatu pada keponakan nya.


"Mau!" jawab nya tanpa pikir panjang.


Louis melihat ke arah pria yang masih memiliki wajah es krim itu.


"Kembalikan dia sebelum jam 8 malam," ucap nya yang menunduk agar pria itu bisa mengambil putri nya yang masih dengan tenang duduk di pundak nya.


Bianca tak menolak saat sang paman menarik nya, "Daddy ga ikut? Kita main sama Mommy." ucap nya pada sang ayah.


"Ih! Daddy milip olang colat! Bental lagi Daddy punya kekuatan buat bikin es klim dali jali!" ucap nya yang terkejut melihat sang ayah ketika Louis sudah menggendong nya dan berpikir sebentar lagi sang ayah akan menjadi manusia es krim.


James tak menjawab, putri kecil memiliki banyak pertanyaan dan imajinasi yang melampaui batas dari pikiran orang dewasa.


"Daddy pulang dulu, jangan nakal kalau sama Mommy ya." ucap nya pada putri kecil nya.


Bianca mengangguk, sedangkan ia tak mengatakan apapun pada saudara kembar Louise karna memang ia selalu memiliki suasana yang dingin.


Sedingin es krim yang jatuh ke atas kepala nya.


Clara memberikan senyuman kecil dan sedikit menundukkan kepala nya, seperti sapaan tanpa suara agar suasana tak begitu tegang.

__ADS_1


....


"Hum?" mata coklat itu tampak bersinar saat melihat ke arah paper bag yang terlihat mewah di samping ia duduk.


"Paman? Paman?"


Panggil nya pada pria yang tengah mengendarai mobil saat itu.


Clara berbalik menoleh ke belakang untuk melihat gadis kecil dengan wajah cantik dan menggemaskan itu.


"Iya? Kenapa?" jawab Louis yang sedikit memiringkan kepala nya ke belakang agar bisa mendengar apa yang ingin di ucapan oleh keponakan pertama yang ia miliki.


"Itu apa?" tanya nya sembari menunjuk ke arah paper bag di samping nya.


"Oh itu? Itu buat paman Zayn," jawab Louis pada keponakan kecil nya.


"Paman Eyn? Paman mau ketemu Paman Eyn? Bian ikut!" ucap nya yang cepat berubah haluan.


Louis diam sejenak, ia menoleh ke arah wanita yang duduk di samping nya.


"Tanyakan dulu," ucap Clara pada pria itu saat ia tau tatapan yang meminta pendapat nya.


"Paman Zayn nya kan lagi sibuk Bian, nanti ya?" jawab Louis yang sedikit enggan membawa anak saudari nya setelah pernikahan sang adik batal.


"Tapi kan Bian mau ikut! Semua sibuk! Mommy sibuk! Paman Eyn sibuk! Daddy juga seling sibuk!" ucap nya yang protes dan tampak marah.


Louis menarik napas nya tak bisa mengatakan apapun, awal nya ia berniat untuk memberikan hadiah nya lebih dulu dan kemudian kembali ke JBS namun perubahan rencana datang ketika keponakan nya muncul.


Dan sekarang?


Telpon nya berdering menandakan seseorang yang memanggil nya.


"Ya, aku akan ke sana." jawab nya sebelum menutup ponsel nya.


"Ada apa?" tanya Clara pada pria yang memutar ke arah berlawanan dari tujuan nya.


"Ada sedikit urusan, seperti nya aku harus kembali ke JBS." jawab Louis.


......................


JBS Hospital


Pria itu berkedip, ia tak tau akan tak sengaja bertemu dengan bayi berusia tiga tahun dengan tinggi tak sampai paha nya.


"Paman Eyn?" sapa nya pada pria di depan nya.


"Bian? Kenapa bisa di sini?" tanya pria itu yang berjongkok agar gadis kecil itu bisa melihat nya tanpa harus menengandah.


"Ikut Paman Uwis!" jawab nya dengan jujur pada pria itu.


Zayn diam sejenak, ia tak membenci anak kecil dengan wajah yang mirip gadis yang ia cintai dan mata yang mirip dengan sang ayah.


"Tapi kan bahaya kalau keluar sendiri? Tadi sama siapa?" tanya nya yang melihat anak kecil itu berkeliaran di sekitar rumah sakit.


"Sama Tante kepala," jawab nya yang sedikit sulit menyebutkan nama 'Clara' walaupun sudah di ajarkan.


Pria itu beranjak menggendong anak kecil itu agar bisa membawa nya kembali ke tempat semula.


"Tante Clara nya mana sekarang?" tanya nya yang sambil berjalan dan membawa bayi cantik itu yang hampir menjadi putri sambung nya.


"Bian tinggal, hihi..." jawab nya dengan tawa kecil.


Tentu mengasuh anak yang super aktif dan lincah di tambah lagi dengan nakal akan sangat menguras tenaga.


Zayn hanya menarik napas nya, ia tak mengatakan apapun dan membawa anak kecil itu kembali ke ruangan sahabat nya.


"Paman?" panggil Bianca saat pria itu menggendong nya.


Zayn menoleh sambil berjalan, "Ya?" jawab nya melihat ke arah wajah bulat itu.


"Paman jangan nikah sama Mommy ya..." ucap Bianca yang pada pria yang membang batal nikah itu.


Zayn diam sejenak, dan kemudian membalas nya dengan senyuman tipis.


"Iya, paman ga nikah sama Mommy Bian." ucap nya yang tersenyum walau hati nya masih sakit saat mengatakan nya.


"Yeeyy! Mommy ga jadi nikah sama Paman!" ucap nya yang merasa begitu senang dan tidak tau perasaan pria yang menggendong nya saat ini.


Zayn tidak mengatakan apapun, ia membiarkan anak kecil itu senang dengan berita yang baru ia dengar.


"Paman?" panggil nya lagi.


"Iya?" jawab pria itu yang kembali menoleh.


"Besok nikah sama Bian yuk," ajak nya yang tak mengerti apa itu arti menikah.


Zayn hanya membalas dengan senyuman tipis, "Besok paman mau pergi,"


"Kemana? Balik nya kapan? Malam?" tanya Bianca yang sesuai dengan apa yang sering ia lihat saat sang ayah pergi dan kembali di malam hari.


"Nanti balik nya, kalau Bian udah ga pakai popok lagi," ucap nya pada anak kecil itu dengan sedikit menggangu nya sebelum keberangkatan nya ke Italy besok.


Bianca langsung mengernyit, wajah nya yang marah tampak menggemaskan. Memang benar jika ia masih memakai diapers sesekali dan setiap malam.


"Ih! Bian malah nih!" ucap nya yang terlihat kesal.


Pria itu tertawa sejenak, "Iya nanti paman beliin cake biar ga marah lagi." ucap nya pada bayi tiga tahun itu.


Gadis kecil itu tak mengatakan apapun karna masih kesal, namun ingatan anak kecil cenderung samar dan mudah pudar ketika beranjak dewasa.


......................


Satu bulan kemudian


Louise sudah tau jika mantan tunangan nya itu pergi ke Itali, namun ia tak ikut mengantar atau bertemu setelah kembali dari Switzerland karna ia tau jika suasana nya akan berubah menjadi canggung dan memberikan udara tak di inginkan.


Dan sekarang ia kini?


Kenapa jadi begini?!


Gadis itu tak bisa bergerak, putri kecil nya yang bergulung dengan selimut dan tidur menimpa tubuh nya.


Sedangkan ia melihat ke arah pria yang juga tidur bersebrangan di samping nya.

__ADS_1


Tadi dia ga ada kan?!


Batin nya yang terkejut saat bangun melihat seseorang yang juga bersama dengan ia dan putri nya di atas ranjang itu.


__ADS_2