
Sekolah
Anak-anak kecil yang menggemaskan itu tampak bermain dan belajar di waktu yang bersamaan.
Sylviana si bocah yang cantik namun penakut itu mendekati salah satu teman sekelas nya.
"Bian, Bian." panggil nya dua kali pada teman sebaya nya yang tampak tengah menyusun kubik di depan nya.
Gadis kecil yang tengah asik itu tampak tak menghiraukan, ia lebih memilih untuk terus melanjutkan apa yang sedang ia lakukan.
"Bian!" ucap Sylviana yang sekali lagi sembari menggoyangkan lengan kecil teman nya itu.
Bruk!
Menara kubik yang sudah tinggi itu langsung jatuh seketika, Bianca menatap kesal ke arah teman nya yang menggoyangkan tangan nya.
"Apa sih Syl? Jadi jatuh kan?!" ucap nya yang terlihat marah karna merasa usaha nya jadi sia-sia.
"Hu..." Sylviana terkejut, di antara murid lain nya memang ia yang paling mudah menangis.
"Ma..maaf... Syl kan ta.. tadi manggil Bian..." ucap nya yang menangis dengan bibir mengerucut dan tampak semakin menggemaskan.
"Ih! Kok nangis?" tanya Bianca yang menghela napas nya sekali lagi.
Semenjak beberapa hari lalu ketika ia membantu mengambil kembali mainan Sylviana yang di ambil alih dengan teman sekelas nya yang lain membuat gadis kecil itu terus mengikuti nya.
Saat sedang dalam pembelajaran, saat jam makan siang, saat jam olahraga bahkan sampai saat ia meminta izin pada guru untuk ke toilet.
Dan yang paling membuat Bianca merasa kesal adalah teman sekelas nya itu sangat mudah menangis.
"Syl tadi mau kasih ini..."
"Huhu..." tangis nya yang memberikan permen dengan kecil dengan bentuk kepala beruang.
Bianca menatap dengan wajah kesal nya yang menggemaskan namun ia ketika ia melihat sesuatu yang lucu berada di tangan teman nya itu membuat wajah nya kembali berbinar.
"Lucu! Kayak kepala beluang!" ucap nya yang mengambil apa yang sebelum nya masih berada di atas telapak tangan Sylviana itu.
"I..iya..." jawab Sylviana yang cegukan karna tangis nya.
"Buat Bian?" tanya gadis kecil dengan mata coklat yang bulat dan jernih itu saat ia memegang permen cantik yang manis itu.
Sylviana mengangguk, ia ingin memberikan permen nya namun teman nya itu asik bermain sendirian.
Karna walaupun terlihat bisa berbaur, Bianca terlihat lebih individual dan tak begitu menyukai sesuatu yang ramai.
"Bian makan ya?" ucap Bianca yang membuka permen yang baru ia dapatkan dan memakan nya.
Rasa manis yang masuk ke dalam mulut nya membuat nya kembali tersenyum walaupun sebelum nya ia begitu jengkel dengan teman nya itu karna membuat kubik nya jatuh.
Sylviana mengangguk, seperti biasa ketika ia menangis maka sangat sulit untuk menghentikan tangisan nya.
"Syl kok nangis telus sih? Cengeng!" ucap Bianca sembari memakan permen yang di berikan oleh teman nya itu.
Bibir Sylviana semakin gemetar, hidung nya memerah yang tampak jelas di wajah putih nya.
"Hua!"
"Syl ga cengeng! Huhu..." tangis nya yang semakin besar dan kemungkinan sebentar lagi seorang guru akan datang.
Bianca mengernyit, setiap kali teman nya itu menangis pasti telinga nya akan terasa sangat berisik.
Ia pun berbalik dan mengambil susu nya yang selalu di siapkan oleh pengasuh nya di rumah.
"Nih! Bial diem! Besok tutu Bian balikin lagi!" ucap nya yang kesal dan memberikan susu yang di buatkan pengasuh nya di mansion untuk teman sekelas nya itu.
Sylviana langsung diam, ia mengangguk dan meminum susu rasa coklat yang di berikan teman nya.
"Beluang nya enak?" tanya nya menatap ke arah Bianca yang terlihat sedang mengisap permen yang ia berikan.
Bianca mengangguk, "Enak, besok bawa lagi." ucap nya tentu masih tak akan bisa menghapuskan jiwa anak-anak nya.
"Okey!" ucap Sylviana yang langsung setuju saja gadis kecil itu memerintah nya untuk membawa permen nya lagi.
"Besok Bian juga bawain colat deh! Colat Bian enak juga!" ucap nya yang mengatakan tentang camilan coklat yang ia miliki di mansion nya.
Sylviana tersenyum walau mata nya masih sembab akibat tangis nya, ia mengangguk dan juga menantikan coklat yang akan di bawa oleh teman nya itu.
......................
Rumah keluarga Daniel
Wanita itu membuang napas nya, ia menatap ke arah pria yang terlihat tersenyum dan sedang bersama dengan ayah nya.
"Mah? Mamah ga suruh dia pulang?" tanya Clara pada sang ibu yang tengah bersama nya.
"Kenapa? Dia juga masih mau di sini kok, mungkin dia suka di sini? Kamu bilang orang tua nya sudah meninggal kan?" tanya Freya pada putri nya.
Di mata nya mantan suami putri nya adalah pria yang baik karna membantu putri nya setelah kecelakaan.
Ia tak pernah tau sama sekali jika yang membuat putri cantik nya terluka dulu adalah menantu yang ia sayangi.
"Tapi kan dia banyak kerjaan Ma, suruh pulang aja Ma." ucap nya sekali lagi pada ibu nya.
Clara pun tak pernah mengatakan satu kali pun jika mantan suami nya itu yang menyebabkan kecelakaan nya dulu sekaligus yang pernah membuat reputasi nya tercoreng di tempat kerja.
Freya tersenyum, ia mengangguk dan beranjak bangun dari duduk nya.
"Louis," panggil nya pada pria yang tengah bersama dengan suami nya itu.
Louis menoleh, ia menatap mantan ibu mertua nya atau bisa di bilang calon ibu mertua?
"Iya?" jawab nya sembari melihat ke arah wanita paruh baya yang masih tampak cantik itu.
__ADS_1
"Clara kata nya ada yang mau di bilang sama kamu," Ucap Freya pada pria itu.
Clara langsung menoleh, ia menatap sang ibu dengan mata bingung. "Aku? Mah!" ucap nya dengan suara berbisik sembari meraih tangan ibu nya.
Louis mendekat, ia mendatangi wanita yang tampak bingung itu.
"Kau mau bilang apa?" tanya nya saat mendatangi Clara.
"Mamah mau keluar sebentar untuk masak makan malam, kamu di sini sampai malam kan?" tanya Freya dengan senyuman nya yang lembut dan menurunkan senyuman itu pada putri nya.
"Kalau boleh, tentu saja saya akan makan malam di sini." jawab Louis yang tersenyum tanpa menolak sama sekali.
Freya mengangguk, ia memanggil suami nya untuk menemani nya berbelanja bahan untuk makan malam.
Sekarang, kedua orang yang dulu nya pernah terikat dengan ikrar itu hanya berdua dan duduk berdampingan satu sama lain.
"Kapan kau mau bilang siapa kau yang sebenarnya?" tanya Clara yang membuka suara namun tak menyuruh pria itu pulang karena ucapan nya tentu tak akan di dengarkan.
"Nanti, waktu lamaran." jawab Louis pada mantan istri nya itu.
Orang tua dari mantan istri nya itu masih menganggap nya sebagai seorang perawat seperti apa yang ia katakan dulu saat ia masih menjadi 'Rai'
"Mereka tidak akan tiba-tiba membenci ku kan?" tanya pada wanita yang berada di samping nya.
"Mungkin, kau kan sudah bohong." jawab Clara yang mengangguk untuk membuat pria itu menjadi risau.
"Tapi yang penting kan aku cinta sama anak nya, iya kan?" tanya Louis yang tersenyum dan mulai menempel pada wanita itu.
"Kenapa suka nempel sih? Nanti kalau Mama sama Papa ku pulang terus lihat bagaimana?" tanya Clara yang mendorong dada bidang pria itu.
"Mereka tidak mungkin kembali hanya dalam 30 menit kan? Lagi pula rumah ini juga tidak pasang cctv kan?" tanya Louis yang tersenyum menatap ke arah wanita di depan nya.
Clara membuang napas nya, ia tau apa yang di pikirkan oleh pria di depan nya. Tangan nya yang memiliki jemari yang kecil itu langsung menutup mulut pria yang selalu ingin menyerempet bibir nya.
"Jangan sekarang, aku ga mau." ucap nya yang langsung ingin membuat pria itu berhenti.
"Berarti kalau besok boleh? Eh? Nanti malam? Aku harus kempesin ban mobil? Biar bisa nginap?" tanya Louis sembari membuka telapak tangan yang menutup mulut nya untuk menghalangi ciuman nya.
"Engga semua! Tadi kan udah! Sebelum ke sini!" ucap Clara yang menarik napas nya dengan wajah mengeluh pada pria itu.
Louis tertawa kecil melihat nya, hanya tinggal beberapa bulan lagi ia berniat melamar wanita itu kembali.
Dan kali ini ia akan mengadakan pesta pernikahan yang sesungguh nya untuk wanita yang ia cintai itu.
......................
3 Minggu kemudian.
Mansion Dachinko
Wajah yang tersenyum itu tampak melihat ke arah ponsel nya, siapa lagi yang ia hubungi sampai bisa membuat wajah kaku itu tergerak?
"Dia lucu," ucap nya yang merasa gemas sembari membaca chat terakhir yang dapat di baca dengan nada kesal namun malah membuat nya tertawa.
Tok... tok... tok...
Dan tentu nya kurir yang mengantar paket tidak datang ke mansion nya karna tempat tersebut yang bersifat rahasia.
Ia akan memesan lewat alamat apart nya dan kemudian di antar di sana lalu pengawal nya yang akan membawa pesanan nya ke mansion.
"Ini tuan," ucap pria itu yang menunduk sembari memberikan kotak yang ia berisikan pesanan nya.
James langsung tersenyum, entah apa yang berada di dalam nya dan ia pun langsung menyuruh penjaga nya untuk keluar.
Pria itu meraih kotak yang berisikan pesanan nya, ia pun membuka nya dan tampak sebuah lingerie tipis, tali dan berbagai benda yang akan ia gunakan nanti nya.
"Tapi dia tidak akan menolak kan nanti?" gumam nya yang memiringkan kepala nya.
Ada beberapa hal yang ingin ia lakukan, seperti suatu imajinasi dalam hal dewasa yang ia inginkan namun tak pernah ia lakukan sebelum nya.
"Lingerie nya lebih tipis dari pada yang di foto," gumam nya yang melihat ke arah pakaian tipis yang tentu sekali tarik akan langsung hancur itu.
"Si*l" gumam nya saat ia tiba-tiba memikirkan malam saat semua pesanan nya hari ini akan di gunakan termasuk lingerie berwarna hitam yang begitu tipis itu.
James meletakkan nya kembali, ia tiba-tiba teringat dengan kalung yang ia pesan tempo hari untuk gadis nya.
"Kalung nya sudah jadi atau belum?" gumam nya yang teringat dengan perhiasan yang ia sendiri yang mendesain nya sebelum menyuruh seseorang untuk membuat nya.
Pria itu beranjak ke meja kerja nya lagi dan meninggalkan kotak tersebut di atas meja yang berada dekat sofa.
Ia pun mengambil ponsel nya dan menelpon seseorang yang bertanggung jawab atas pembuatan kalung yang ia pesan.
Sementara itu anak kecil yang menggemaskan itu terlihat menuju ruang kerja sang ayah.
Kaki mungil nya berjalan sambil melompat dan menyenandungkan lagu yang ia nyanyikan di tempat TK nya.
Klek
Pintu ruangan itu terbuka tanpa perlu ia ketuk dahulu.
"Daddy?" panggil nya saat memasuki ruang kerja sang ayah.
James menoleh pada putri kecil nya dengan ponsel yang masih menempel di telinga nya. Ia lupa dengan paket yang baru saja sampai dan masih berada di atas meja nya.
Bianca melihat ke arah sang ayah yang masih tengah menelpon, tanpa perintah kaki kecil nya masuk begitu saja ke ruang kerja sang ayah.
"Hum?" mata bulat nya yang jernih itu tampak tertarik pada kotak baru yang ia lihat.
Kaki kecil nya yang pendek dan mungil itu berjinjit, ia menatap ke arah di dalam nya dan melihat beberapa benda yang tak ia mengerti.
"Apa nih? Mainan?" tanya nya dengan suara lirih sembari mengambil salah satu benda yang berada di dalam kotak.
"Tongkat sihil!" ucap nya tersenyum dan mengangkat nya kemudian mengayunkan nya.
__ADS_1
"Eh? Ini apa?" ucap nya yang mengambil lingerie tipis berwarna hitam itu.
Mata bulat itu menatap dengan bingung, terlihat seperti pakaian namun bukan pakaian karna begitu tipis.
Ia merentangkan nya, dan mengikat ke atas kepala nya seperti memakai bandana.
James menutup telpon nya, begitu ia berbalik mata nya lambung membulat melihat putri nya yang sudah mengotak-atik isi paket yang batu saja datang itu.
"Bianca," panggil nya yang langsung membuat anak kecil yang masih polos itu menoleh.
"Daddy! Bian dapat tongkat silil! Ablacadabla! Bian kutuk Daddy jadi batu! Ting!" ucap nya pada sang ayah yang mengayunkan benda yang mirip dengan tongkat namun bukan tongkat itu.
Tentu saja kutukan dari tongkat jadi-jadian itu tak akan memiliki dampak sama sekali.
"Astaga anak ini!" ucap James yang mendekat tanpa memperdulikan putri nya yang terlihat ingin bermain.
"Loh? Kok Daddy ga belubah?" tanya Bianca yang melihat ke arah sang ayah yang bahkan tidak pura-pura jadi batu.
"Kau mau mengetuk Daddy mu jadi batu? Anak nakal," ucap pria itu yang ingin meraih putri kecil nya dan mengambil lingerie yang di ikat ke kepala sekaligus dengan mainan yang harus ia gunakan untuk kegiatan dewasa nya.
"Hihi! Peli jahat nya malah! Kabul!" ucap Bianca yang malah tertawa dengan ucapan sang ayah.
Karna ia memang sudah terbiasa bermain dengan sang ayah seperti kejar-kejaran atau menjadi penyihir baik dan peri jahat.
"Bian! Bianca!" panggil James yang tersentak melihat kaki kecil yang lincah itu malah berlalu keluar dari ruang kerja nya.
"Hihi!"
Suara tawa yang menggemaskan itu berlari keluar ruang kerja sang ayah dan mengelilingi mansion.
Sedangkan James tentu mengejar putri nya sebelum pekerja nya melihat apa yang ada di tangan dan kepala putri nya.
Greb!
Kaki kecil itu tak lagi berlari, melainkan melayang saat tubuh mungil nya di angkat oleh seseorang.
"Hehe!" Bianca masih tertawa lepas, wajah ceria nya dan juga mata nya yang langsung hilang seperti sabit saat ia tertawa.
"Yah! Bian ketangkap!" ucap nya yang masih tertawa saat kini sang ayah sudah memegang nya.
"Sini, Daddy boleh minta kembali tongkat sihir Bian? Nanti Daddy belikan yang baru." ucap nya yang meminta pada putri kecil nya.
"Nih, tongkat nya ga sakti! Masa Daddy ga belubah jadi batu," ucap nya yang memberikan pada sang ayah.
James hanya menarik nya napas nya, biasa nya orang tua yang akan mengutuk anak nya namun saat ini anak lah yang mengutuk orang tua.
"Yang di sini, Daddy ambil juga yah?" ucap nya yang melepaskan lingerie yang di ikat di kepala kecil putri nya.
"Yang itu apa Dad?" tanya Bianca yang menatap ke arah sang ayah.
"Hm?" Jamea menoleh menatap ke arah wajah yang saat ini tak lagi tersenyum melainkan tampak penasaran.
"Ini?" tanya James yang mengangkat tangan nya sedikit yang tengah memegang lingerie hitam itu.
Bianca mengangguk dan terlihat begitu penasaran.
"Pakaian?" jawab James yang sedikit bingung menjelaskan nya pada putri nya namun ia tetap harus menjawab agar gadis kecil itu tak meneror nya dengan pertanyaan terus menerus.
"Punya Daddy?" tanya Bianca lagi yang tampak bingung.
"Ya, mungkin." jawab James pada putri nya karna saat ini memang milik nya namun untuk gadis nya.
"Daddy ga kedinginan?" tanya Bianca lagi yang bingung bagaimana sang ayah bisa memakai pakaian yang tipis karna ia memang masih belum tau fungsi nya sama sekali.
"Tidak! Daddy kan selalu merasa panas! Nah sekarang kita makan es krim biar dingin!" ucap James yang menjawab sekaligus mengalihkan perhatian putri nya.
"Hole! Menuju es klim!" ucap Bianca yang kembali tertawa dan menginginkan es krim yang di katakan oleh sang ayah.
......................
Tiga hari kemudian.
Restoran
"Besok kita bisa pergi kan? Aku mau perayaan nya di tempat lain," ucap pria itu saat gadis di depan nya tengah makan siang karna ia memang menjemput di jam istirahat.
Louise menghentikan makan nya dan mnoekeh ke arah pria yang bicara pada nya.
"Di mana?" tanya Louise yang tak menunjukkan penolakan atas ajakan pria itu.
"Paris," jawab nya tersenyum.
Ia memiliki salah satu apartemen baru yang belum pernah ia tempati di tempat itu dan dekat dengan pemandangan menara Eiffel secara langsung.
"Okey, kita bisa pergi besok malam." jawab Louise mengangguk.
Dan tentu tak akan semudah itu karna ia harus memikirkan alasan apa yang akan cocok ia gunakan nanti untuk mengatakan nya pada sang kakak agar tak mencurigai kepergian nya.
"Sekolah Bian?" tanya nya yang mengira jika putri nya juga akan ikut.
James langsung menoleh, "Bianca tidak ikut, dia punya ujian." ucap nya nya yang beralasan padahal putri nya masih belum memiliki ujian di sekolah sama sekali kecuali hanya belajar motorik.
"Benarkah? Kenapa anak sekarang cepat sekali ujian nya?" gumam Louise yang bingung karna ia dulu mendapatkan ujian sekolah pertama kali saat berumur 7 tahun ketika memasuki sekolah dasar.
Dan tentu ia percaya begitu saja pada pria yang mengatakan jika putri nya tak bisa ikut ujian karna pria itu lah yang mengurus segala keperluan bahkan sesuatu yang tak tidak ia ketahui tentang putri nya.
"Lalu kau mau minta apa nanti? Kau mau sesuatu?" tanya Louise yang menanyakan apakah ada benda yang di inginkan pria di depan nya.
James tersenyum, ia menggeleng dan menatap dengan mata yang menyimpan arti. "Aku cuma mau kau menepati janji mu saja, dan juga jangan menangis atau mengeluh dan satu lagi! Juga jangan memohon untuk minta berhenti." ucap nya yang tersenyum.
Louise mengernyit, ia memikirkan hal yang lain dan menatap curiga. "Kau tidak akan mengurung ku di sana kan?" tanya nya dengan tatapan penuh selidik.
"Kau tidak bisa berhenti berpikiran negatif?" tanya James pada gadis itu yang masih tak bisa melupakan kesalahan nya yang sebelum nya dan terus mengungkit nya.
__ADS_1
"Terus kenapa aku nangis?" gumam Louise yang memiringkan kepala nya dan meraih garpu nya lagi saat ia menusuk steik yang berada di depan nya.
Pria itu melirik dengan ekor mata nya, sudut bibir nya naik dan menunjukkan senyum simpul nya.