
7 Hari kemudian.
JBS Hospital.
Pria itu melihat yang menjenguk nya kali ini, luka tembakan di tubuh nya mulai membaik seiring dengan perawatan yang ia jalani setelah sadar.
"Mah? Louise mana? Kenapa dia tidak pernah datang?" tanya pria itu mengernyit dan menoleh ke pintu.
"Kamu itu sembuh dulu, JBS farmasi kan lagi sibuk, apalagi kamu yang masih sakit gini." ucap Larescha pada putra nya.
Zayn hanya membuang napas nya, bagi nya ia sudah cukup beristirahat dan lagi pula hanya tinggal menunggu luka di tubuh nya sampai mengering.
"Tapi aku juga sudah bisa kerja Mah sekarang, ponsel ku mana? Biar aku telpon dia." ucap nya yang meminta ponsel pada sang ibu.
Ia tak tau kelanjutan dari pesta pertunangan nya, maka dari itu ia membutuhkan kejelasan dari orang-orang yang datang pada nya.
"Kamu masih sakit, jangan main ponsel." jawab wanita itu yang tak ingin berita tentang hari pertunangan itu di baca oleh putra nya.
Zayn diam sejenak, ia tak mengatakan apapun lagi namun beranjak dari duduk nya.
"Zayn mau keluar sebentar Ma," ucap nya yang mulai beranjak bangun.
"Pelan nak, luka kamu belum sembuh sepenuh nya." ucap Larescha pada putra nya, "Kamu juga masih sakit kan? Di dalam aja yah?" wanita itu takut putra nya mendengar tentang calon tunangan nya.
Zayn mengernyit, ia tau sang ibu sangat menyayanginya namun ia tak pernah melihat wajah gugup yang seakan menyembunyikan sesuatu itu.
"Ma? Zayn mau sup jamur buatan Mama. Mau nya makan sekarang, Mama mau buatin kan?" ucap nya sembari memandang sang ibu.
Hanya dengan begini sang ibu akan meninggalkan nya sejenak dalam ruangan nya. Larescha pun mengangguk, mana mungkin ia tak menuruti permintaan putra kesayangan nya yang ingin makan makanan buatan nya.
"Kamu tunggu di sini sebentar yah? Mama pulang dulu masakin sup jamur buat kamu, istirahat di kamar kamu aja jangan keluar." ucap nya mengingatkan.
"Iya Ma." ucap Zayn yang menuruti sang ibu walau hanya dengan kata-kata.
Setelah Larescha pergi pria itu pun mulai mendorong roda di kursi nya dan beranjak keluar.
Suasana rumah sakit masih sama seperti biasa, ia pun memanggil salah satu perawat yang lewat.
"Bisa antar aku keluar?" tanya nya pada si perawat.
Wanita itu pun mengangguk, tentu nya ia kenal siapa saja salah satu petinggi di tempat ia bekerja.
"Tunggu!" ucap nya yang langsung terkejut saat mendengar salah satu berita yang di tayangkan di televisi rumah sakit ketika ia lewat.
Perawat tersebut menuruti nya, sedangkan pria itu terlihat dengan iris membulat menatap ke arah berita yang ia dengar.
Walaupun berita meninggal tumpang tindih dengan berita konfirmasi yang di berikan jika saat ini pewaris kedua JBS grup itu tengah dalam kondisi koma dan bukan nya meninggal.
"Antar ke ruangan Presdir," ucap nya yang begitu terkejut dan dengan siapa lagi jika ia harus mengkonfirmasi berita yang sebenarnya.
"Zayn?"
Suara yang begitu ia kenali terdengar di telinga nya, siapa lagi jika bukan sang ayah yang tengah menatap nya panik.
Rian terkejut melihat putra nya yang sudah keluar dari kamar dan tepat berada di tempat yang menampilkan berita tentang calon tunangan nya itu.
"Ini yang kalian sembunyikan?" tanya Zayn sembari menatap tak percaya pada sang ayah.
"Kita kembali ke kamar kamu dulu," Rian pun memberikan isyarat agar sang perawat menyingkir dan ia bisa membawa putra nya sendiri.
"Bukan kamar ku Pa, tapi aku mau ke ruangan Louis." ucap nya pada sang ayah.
"Kamu masih sakit, nanti Papa jelasin apa yang mau kamu tau." ucap Rian yang tentu nya tak ingin putra semata wayang nya semakin terluka.
Zayn diam, dada nya bergemuruh mendengar nya. Hal sepenting ini malah di sembunyikan dari nya?
"Kalau Papa gak mau antar, aku pergi sendiri. Lagi pula yang luka bukan kaki ku kan?" tanya nya dan mulai beranjak bangun.
Tenaga nya masih lemah karena ia yang terus berada di tempat tidur namun seakan mendapatkan cadangan energi dari mana ia bisa meninggalkan sang ayah.
Brak!
"Ini maksud nya apa? Louise di mana? Kau bilang dia koma kan?" tanya yang langsung menerobos masuk ke dalam ruangan teman nya.
Sedangkan sang ayah mengejar nya di belakang karna tak sempat menghentikan nya.
Louis tersentak, ia masih menyelidiki kecelakaan adik nya sekaligus tengah melihat dokumen donor mata yang cocok dengan istri nya.
"Kau sudah dengar? Apa paman yang bilang?" tanya nya pria itu dengan wajah lirih saat mendengar nama adik nya yang ia tau sudah tiada.
"Sekarang dia di mana? Kalian menyembunyikan hal sebesar ini dari ku?!" ucap nya yang mendekat.
Tak peduli luka tembakan nya mengalami robekan atau tidak namun yang jelas nya ia sedang meminta jawaban.
"Kau sedang seperti itu! Mana mungkin aku bilang kalau tunangan mu-" ucap Louis tercekat, "Sudah tidak ada..."
Deg!
Pria itu terkejut, ia baru saja akan pulih namun mendengar sesuatu yang membuat nya sangat terkejut.
"Apa? Coba ulangi? Apa maksud nya?!" tanya Zayn sembari mencengkram kedua bahu teman nya.
Louis mengernyit, ia pikir paman nya telah mengatakan segala nya.
Rian yang baru sampai pun tersentak melihat putranya sekaligus putra sahabat nya yang terlihat dalam ekspresi yang kacau.
"Zayn? Tenang dulu." ucap nya yang menarik tangan putra nya.
__ADS_1
Sedangkan pria itu terlihat membatu dan seperti sangat terkejut dengan sesuatu yang ia dengar dan masuk dalam telinga nya.
......................
Sementara itu.
Bocah kecil yang masih berumur 4 tahun itu melihat ke arah jendela dan membuang napas nya.
Semenjak hari di mana sang ayah membawa nya, pria itu tak lagi menemui nya. Ia di berikan perawatan dan juga fasilitas yang mumpuni namun yang di butuhkan tak hanya itu.
Anak kecil malang itu pun juga membutuhkan kasih sayang dari kedua orang tua nya.
"Daddy kapan datang? Al kangen..." gumam nya lirih.
"Mommy gimana yah? Kalau Al gak ada nanti Mommy sendiri," ucap nya yang berpikir tentang ibu nya.
Sebanyak apapun sang ibu menyakiti nya sekarang namun ia tetap mendambakan kasih sayang seperti dulu dan ia berpikir jika sang ibu marah karna dirinya yang memang pantas di marahi.
"Nanti tuan juga datang, tuan muda yang sabar yah?" ucap salah satu pengasuh yang menjaga bocah malang itu.
Arnold mengangguk dengan menurut pada si pengasuh, ia berharap kedua orang tua nya bisa datang dan bermain dengan nya.
......................
Mansion Dachinko.
Gadis itu menatap ke arah balkon di kamar nya, berulang kali pikiran jahat nya datang saat melihat ke arah bawah dan memperkirakan berapa kerusakan yang akan terjadi pada nya ketika ia lompat.
"Tidak, aku harus keluar dari sini dan bukan nya mati di sini..." gumam nya lirih sembari mengelus perut nya yang mulai membulat.
Suara ketukan terdengar di telinga nya namun ia tak ingin menanggapi nya sama sekali, gadis itu tak mengacuhkan nya hingga si pengetuk pun mulai masuk.
"Nona? Tuan menyuruh Anda untuk turun dan makan malam dengan nya." ucap Nick yang masuk dan melihat punggung gadis itu dari belakang yang tengah melihat ke arah balkon.
"Ku rasa ucapan mu benar, dia hanya bermain dengan ku..." ucap Louise lirih.
Ia ingat sebanyak apa dulu pria itu tak menyukai nya sehingga selalu mengatakan hal tak ia senangi.
"Maaf karena saya tidak sopan dulu nya." ucap Nick pada gadis itu.
Louise diam, ia memilih tak berdebat ataupun membahas yang sama seperti dulu.
"Kalau aku tidak mau turun? Apa yang akan kau lakukan? Kau akan menarik ku seperti sebelum nya?" tanya gadis itu.
Ia tak mengerti mengapa pria yang hanya ingin anak nya itu selalu menyuruh nya untuk makan malam bersama setiap kali pria itu berada di mansion.
Nick tak menjawab tentu nya ia harus menjalankan perintah tuan nya walau kini ia mulai merasa iba dengan gadis di depan nya.
"Aku turun sendiri," ucap nya yang memilih untuk tak membuat ulah malam ini.
"Kau turun lebih cepat? Dan lebih tenang saat ini?" hanya James saat melihat wajah yang tak memakai polesan make apapun itu namun tetap terlihat cantik.
Louise mendekat ke arah meja, makanan yang terlihat lezat dan tersusun rapi itu berada di pandangan nya namun.
Prang!!!
Dalam satu kibasan tangan nya langsung menyapu dan membalikkan makanan-makanan itu ke lantai.
James terkejut sejenak namun hanya mengernyitkan dahi nya dan menatap ke arah gadis itu lagi, "Apa yang kau lakukan?" tanya nya dengan nada yang penuh penekanan.
Gadis itu tersenyum miring, ia merasa frustasi dan sangat ingin keluar karna saat ini tengah di kurung bagaikan burung kenari yang langka.
"Bukan selera ku," jawab nya enteng.
"Oh ya? Lalu apa yang kau inginkan?" tanya James dan mulai berdiri dari duduk nya serta membersihkan percikan makanan yang mengenai tubuh nya.
"Kau bisa berikan? Tapi ku rasa masakan di mansion mu tidak ada yang enak, aku tidak suka semua nya, kurasa aku sudah kehilangan seleraku." ucap nya pada pria itu.
"Benarkah? Lalu apa aku harus menghukum orang-orang yang membuat selera mu hilang?" tanya James sembari menatap gadis itu.
Louise terlihat bingung mendengar nya, jika pun ada maka pria itu lah yang membuat nya tak bisa memiliki selera makan.
"Panggil yang memasak makanan ini," ucap nya memberi perintah.
Tiga pelayan yang memiliki pekerjaan khusus hanya memasak itu pun terlihat takut ketika di panggil.
"Cambuk mereka," ucap nya dengan wajah yang datar.
Louise maupun ketiga wanita itu terkejut mendengar nya, sedangkan pengawal yang tak jauh dari mereka pun segera menahan tubuh ketiga wanita itu dan mulai mengambil tali yang besar itu untuk mencambuk ketiga pelayan masak yang tak tau apapun itu.
"Kau gila?!" Louise menatap dengan tajam pada pria yang menatap nya dengan ekspresi yang datar itu.
James tersenyum, ia menahan tangan gadis di depan nya dan memutar tubuh ramping itu membelakangi nya agar bisa melihat ketiga pelayan yang akan di cambuk itu.
"Terlalu cepat untuk memanggil ku gila," bisik nya sembari menahan tangan dan tubuh gadis itu.
Ctass!
Satu cambukan kuat dan di ikutin dengan suara teriakan, satu persatu cambukan mulai di layangkan.
Sedangkan para pelayan itu tak bisa lari ataupun mengelak.
"Ampuni saya tuan..."
"Nona tolong maafkan saya..."
"Saya akan menuruti permintaan anda..."
__ADS_1
Ucap ketiga pelayan tersebut bersahutan satu sama lain memohon pengampunan agar pria itu menghentikan perintah nya.
Tak ada jawaban namun, hanya cambukan yang terus di layangkan dengan kuat dan suara jeritan yang memenuhi mansion tersebut.
Gadis itu membatu, cambukan yang semakin lama itu sudah sampai mengenai kulit dari ketiga pelayan itu hingga membuat cairan merah kental itu mulai mengaliri lantai putih yang bersih itu.
"James? Berhenti..."
"Mereka bukan binatang, mereka manusia..." ucap gadis itu lirih yang tak ingin lagi melihat nya, namun setiap kali ia ingin memberontak, tubuh nya terkunci tak bisa bergerak.
"Anjing yang tidak patuh pada majikan nya harus di hukum kan? Semua yang berada di tempat ini adalah milik ku, termasuk kau..." bisik nya dengan dekat di telinga gadis itu.
Louis memejam, walau pun ia tak bisa melihat ekspresi pria itu karna membelakangi nya namun ia bisa merasakan hawa penekanan yang teramat dalam di setiap kata yang di ucapkan pria itu.
Tubuh gadis itu gemetar, ia menutup mata nya tak ingin melihat ketiga wanita yang hampir meregang nyawa karna kehabisan darah.
"Tu...tuan? Sebaiknya anda berhenti, nona Louise sedang hamil..." ucap Nick lirih melihat gadis itu yang semakin terlihat pucat ketakutan melihat ketiga wanita di depan nya.
James perlahan melepaskan nya, Louise seakan baru bisa bernapas saat ia di lepaskan, ia mengambil udara sebayak mungkin.
"Kau gila, pria gila brengsek sialan..." ucap nya lirih sembari terus mengambil napas nya dan menjatuhkan air mata nya tanpa sadar.
Entah air mata karna takut ataupun sedih ia tak tau yang jelas nya buliran bening itu juga terjatuh di iris hijau nya.
"Sekarang kau tau di mana tempat mu? Di sini bukan seperti tempat kau sebelum nya, kau bukan lagi pewaris kedua dari keluarga konglomerat." ucap nya sembari memegang dagu gadis itu.
"Kau milik ku, sebaik nya kalau tidak ingin sesuatu terjadi lebih jauh, diam dan menurut lah!" ucap nya dengan tajam dan menekan.
Louise diam sejenak, gadis yang di besarkan seperti berlian dan memiliki harga diri yang tinggi itu harus menurut dan patuh pada seseorang seperti anjing pelatih yang harus mengikuti perkataan tuan nya.
"Tidak! Sampai kapanpun aku bukan milik mu! Kau tidak bisa memiliki ku dengan cara seperti ini!" jawab nya dengan mata yang teguh dan membalas tatapan tajam itu.
"Nona? Anda har-"
James mengangkat tangan nya agar Nick berhenti bicara.
Nick tak ingin tuan nya merasa terprovokasi karna walaupun ia merasa iba ia juga bukan orang yang bisa mengkhianati ataupun tidak mematuhi perintah pria yang sudah pernah menyelamatkan nya.
"Kau mau tetap seperti ini? Kau sendiri yang akan menyesal bukan aku." ucap James sembari melihat ke arah wajah gadis itu dan mulai mencengkram rahang nya.
"Telinga mu sudah tuli? Aku bilang aku bukan milik mu! Dan kau juga tidak bisa memiliki ku dengan cara seperti ini!" ucap Louise mengulang lagi.
Pria itu diam dan datar sejenak, namun kemudian ia tersenyum dan tertawa mendengar nya.
Ia memang mencintai gadis di depan nya, tapi bukan hanya cinta namun ia juga memiliki rasa obsesif yang kuat serta keinginan memiliki yang memuncak yang di balut dengan dendam dan trauma yang masih membekas di kepala nya.
Ia ingin kedua nya, gadis itu dan juga pemuasan atas rasa dendam yang menumpuk di dalam diri nya.
James menarik napas nya, ia menatap mata yang melihat nya tanpa berkedip, "Bagaimana aku harus mendisiplinkan mu? Hm? Aku tidak mungkin mencambuk mu seperti mereka kan?" tanya nya yang tau gadis itu tengah hamil anak nya.
"Brengsek!" jawab gadis itu lirih sembari menepis tangan mencengkram rahang nya.
Pria itu diam sejenak melihat tangan nya kosong setelah di tepis, namun wajah datar itu mulai tersenyum dengan smirk yang memiliki arti lain.
"Kau mau tau apa arti brengsek yang sebenarnya? Mau ku tunjukkan?" tanya James yang mulai menarik tangan gadis itu.
Louise tersentak, ia memberontak dan ingin melepaskan tangan yang membawa nya kembali ke kamar itu.
"Lepas!"
Tak ada jawaban, hanya tarikan yang membuat pergelangan tangan nya merasa sakit, hingga langkah itu sudah berhenti saat sudah sampai di kamar yang biasa ia tiduri bersama pria itu dulu.
"Gila! Kau pikir kau akan bisa membunyikan ku berapa lama?!" umpat gadis itu menatap tajam wajah datar pria di depan nya.
"Entahlah, Mungkin... "
"Selamanya?" jawab pria itu tanpa ekspresi sembari menyentuh wajah gadis yang sudah ia klaim sebagai milik nya.
"Aku akan membunuh mu! Sungguh!" balas gadis itu dengan amarah yang menumpuk di mata nya.
Ia tak mengatakan nya karna benar-benar ingin membunuh nya namun ia tak bisa menahan rasa amarah nya saat pria itu membuat terkurung bagai burung kenari yang cantik dan mengklaim diri nya sebagai milik dari seseorang.
"Do it! I'll be waiting for that," pria itu mengeluarkan smirk licik nya dan melemparkan tubuh gadis itu ke ranjang.
Humph!
Bibir nya terbungkam dengan tangan yang sudah di kunci ke atas kepala nya hingga ia tak lagi bisa bergerak.
Louise tersentak, belum sempat ia bangun namun kedua tangan nya sudah terkunci begitu juga dengan bibir nya, ia pun mengigit dengan kuat bibir pria itu hingga James melepaskan nya.
"Kenapa kau ingin memiliki orang yang kau benci?" tanya gadis itu lirih sembari berusaha meloloskan tangan nya walau sia-sia.
"Cause..."
I Love you ...
Batin pria itu dan mulai kembali menyentuh gadis nya, kata-kata yang tak bisa ia ucapkan secara langsung pada gadis yang sudah menguasai hati nya.
Gadis itu berusaha memberontak sebanyak mungkin dan sekuat mungkin namun tubuh nya yang ringkih itu sama sekali bukan tandingan pria bertubuh tegap itu.
James mengangkat wajah nya menatap wajah gadis yang berada di bawah kungkungan nya, "Kau bilang aku gila dan brengsek kan? Akan ku tunjukkan seberapa gila dan brengsek nya aku." ucap nya dengan suara yang pelan dan smirk nya sembari melepaskan dasi di leher nya.
Louise berusaha memberontak, namun kedua tangan nya telah terikat dengan kuat kini hingga membuat nya tak bisa memberontak.
Humph!
Pria itu kembali memangut bibir yang terlihat sedikit pucat itu sembari mulai menarik gaun nya.
__ADS_1