
James melihat ke arah putri nya yang terlihat terkejut dan terduduk di lantai sedangkan wanita itu tampak memalingkan wajah nya seperti menahan sesuatu.
Ia meletakkan teh yang ia bawa dan langsung menghampiri putri nya dengan cepat dan membangunkan nya.
"Louise ke-"
Belum sempat ucapan nya selesai gadis itu sudah pergi lebih dulu meninggalkan ia dan putri nya.
Bianca terdiam dengan wajah murung dan menarik jari kelingking sang ayah.
"Daddy? Mommy kenapa gak suka Bian?" tanya nya lirih dengan wajah murung dan lesu walaupun ia tadi sempat tertawa.
Pria itu berjongkok dengan lutut nya dan memegang tubuh yang kecil dan mungil itu.
"Mommy itu sayang sama Bian, sayang nya sama seperti Daddy sayang sama Bian..." ucap nya pada putri kecil nya.
Bianca masih terdiam, jika sama kenapa perlakuan nya berbeda?
"Bohong," jawab nya pada sang ayah.
"Daddy gak bohong kok, sebenarnya Mommy itu lagi sakit makanya tadi begitu." ucap nya mencari alasan.
Bianca menatap bingung dengan mata bulat nya, "Sakit apa?"
"Sakit nya sama seperti Bian," ucap nya pada putri kecil nya itu.
"Mommy ketemu paman jahat juga?" tanya Bianca dengan memiringkan kepala nya.
"Hm," James menjawab dengan satu anggukan.
Jika di bilang bertemu paman jahat pun tidak sepenuh nya salah karna ia yang berperan sebagai paman jahat wanita itu.
Ia pun memanggil salah satu pengasuh putri nya dan setelah itu menyusul serta mencari di mana gadis itu berada.
"Louise?" panggil nya dengan dahi yang mengernyit.
Gadis itu tampak menarik napas nya dengan sulit, tangannya gemetar dan ia yang seperti mengeluarkan keringat dingin.
Sebelum nya ia memang baik-baik saja saat bertemu dengan putri kecil nya dan itu pun karna ia yang tak mengingat apapun, namun kini?
Ia mengingat semua nya, semua nya tanpa ada yang berkurang terkhusus nya tentang anak pertama nya yang telah tiada.
"Kau baik-baik saja? Cona tarik lagi napas mu," sambil membawa gadis itu ke balkon.
Louise tak menjawab apapun, ia hanya mencoba untuk menenangkan diri nya kembali sampai normal.
"Lepas," ucap nya sembari menggerakkan tubuh nya agar tangan pria itu yang mengusap punggung nya bergeser.
"Sudah lebih baik?" tanya James sembari menatap ke arah wanita itu.
Ia diam begitu pula dengan wanita di depan nya yang juga tak mengatakan apapun. Tak ada pertanyaan yang keluar dari mulut nya menanyakan tentang apa yang terjadi.
"Rey Gion Dachinko? Bagus tidak?" tanya pria itu sembari membuang pandangan nya ke arah di mana wanita itu melihat
__ADS_1
Louise langsung menoleh, ia mengernyitkan dahi nya dan menatap dengan bingung nama siapa yang di maksud.
"Rey?" tanya nya mengulang.
"Hm, aku tidak pernah bilang tapi aku pernah memikirkan nama itu waktu tau kau hamil dulu." ucap nya yang ingat jika putra pertama nya sampai sekarang belum memiliki nama.
Bahkan tulisan makam nya masih tertulis tanggal dengan latin 'My son' di atas nya.
"Kau memikirkan nama anak itu? Padahal kau dulu mati-matian mau menghancurkan ku." ucap nya dengan tawa getir yang tentu tak mempercayai nya.
"Tapi aku sempat memikirkan nama itu, walaupun dia belum sempat punya nama." ucap nya lirih sembari menarik napas nya.
Louise diam sejenak, bohong atau tidak sekarang tak akan ada guna nya lagi karna putra nya pun sudah tidak ada.
"Kenapa Rey? Bukan nya itu mirip dengan nama belakang orang yang kau benci?" tanya nya pada pria itu.
"Tapi itu juga nama panggilan orang yang ku sayang," ucap pria itu tersenyum tipis.
"Your Dad?" tanya Louise lirih.
"Hm," pria itu tak menoleh namun ia menjawab nya, "Apa tadi alasan kenapa kau tidak mau menemui Bianca?" tanya nya yang kini menoleh.
Mendengar tak ada jawaban pria itu sudah tau apa yang akan di katakan selanjutnya.
"Kalau tau akan seperti ini aku tidak akan mengurung mu waktu itu," ucap nya lirih.
Louise tetap tak menjawab nya, ia hanya menarik napas nya. Waktu tidak bisa di ulang dan trauma nya juga tak bisa di tarik mundur.
"Aku mau kembali," ucap nya yang beranjak.
"Kenapa bisa ada dengan mu?" tanya Louise mengernyit sembari mengambil ponsel nya.
"Tadi jatuh," jawab pria itu berbohong namun wajah yang lurus tanpa berkedip sehingga tak terlihat berbohong sama sekali.
......................
Kediaman Rai
Louis menarik napas nya, pulang larut dengan di antar seseorang yang sangat tak ia sukai.
"Kau tadi sedang apa? Sampai tidak jawab telpon?" tanya pria itu pada saudari nya.
Louise berbalik, ia tau sang kakak akan marah namun ia tidak menjawab telpon yang masuk dengan nya secara sengaja.
Ia memang tak tau jika ada yang menelpon nya karna kehilangan ponsel nya sejenak.
"Tidak ada, hanya jalan keluar." ucap nya sembari membuang pandangan wajah nya.
"Jalan? Dengan siapa?" tanya pria itu menatap tajam ke arah saudari nya.
Louise mendekat, ia mengambil sesuatu di saku nya dan memberikan sang kakak.
"Ini," ucap nya sembari memberikan flashdisk di telapak tangan pria itu.
__ADS_1
"Apa ini?" Louis mengernyit menatap ke arah sang adik tak mengerti mengapa di berikan flashdisk.
"Kau bisa tau kalau melihat nya, dan aku harap kau tidak lakukan apapun tentang itu." ucap nya pada sang kakak.
"Memang apa isi nya?" Louis mengernyit dan semakin tak mengerti.
"Kau membenci nya kan? Dan ini berisi semua kelemahan orang yang kau benci itu," ucap Louise sembari melirik ke arah benda kecil itu.
"Kenapa bisa ada pada mu?" Louis masih menatap tak percaya.
"Jaminan, dia tidak akan menyakiti ku kalau aku punya ini. Dia pasti setidaknya akan berpikir dua kali sebelum melakukan nya karna dia juga akan hancur." ucap nya lirih.
"Kau akan menghancurkan nya untuk ku kalau hal itu terjadi," ucap nya lirih pada sang kakak.
"Lalu kau memberikan ini pada ku sekarang? Bagaimana kalau aku menggunakan ini? Aku bukan kau yang menyukai nya," ucap nya sembari menatap tajam ke arah mata yang menunduk itu.
"Makanya nya kau tidak akan melakukan hal yang gegabah seperti itu." ucap nya pada sang kakak.
"Jangan terlalu sering bertemu dengan nya, setidaknya kau juga harus pikirkan tentang Zayn." ucap nya pada adik nya sembari menyimpan flashdisk yang di berikan.
"Hm," jawab Louise singkat sembari kembali masuk ke kamar nya.
......................
Mansion Dachinko
Ponsel nya bergetar, panggilan telpon dari nomor tak di kenal menelpon nya.
Ia pun mengangkat nya, dan mendengar suara yang terdengar berat seakan menyaring dengan pemberat suara.
"Kali ini tidak akan gagal lagi,"
Pria itu mengernyit, ia sudah menghabiskan beberapa tahun untuk memburu satu persatu yang berhubungan dengan orang-orang yang mengancam nya termasuk orang-orang terlibat dengan mantan kekasih nya dulu.
"Kau akan melihat nya mati, kau juga akan tau bagaimana rasa nya,"
Hanya berisi tentang ancaman dan pria itu pun menarik napas nya karna ia memang sudah sering mendapatkan ancaman.
"Seperti nya kau punya putri yang cantik,"
Deg!
James tersentak, ia menjaga agar tak banyak orang lain yang tau jika ia memiliki seorang anak namun kini malah ada yang menyebutkan tentang anak nya.
"Kau seperti nya sangat pengecut? Kenapa selalu bersembunyi di balik ponsel? Takut?
"Takut kalau bertemu dengan ku kau akan mati?" tanya nya yang mulai kesal.
"Tidak, aku hanya jijik melihat mu."
"Seperti nya dia juga masih hidup, kau juga masih berhubungan dengan dia?"
"Tenanglah, aku juga akan mengubur nya di tempat yang sama nanti dengan anak manis itu,"
__ADS_1
Panggilan tersebut terputus, pria itu mengepal dengan kuat. Ia yakin ia sudah banyak menghabisi dan mengambil alih kekuasaan orang lain tapi kenapa masih ada sisa tikus yang terus bersembunyi di lubang yang dalam?