
Kediaman Rai.
Suara tangisan bayi mulai terdengar di rumah mewah itu.
Kamar yang di siapkan untuk bayi tampan itu belum selesai dan tentu keranjang bayi itu akan berada di kamar orang tua nya.
"Dia tidur sama kita dulu ya? Sampai usia nya 6 bulan nanti baru kita pindah ke kamar sendiri." ucap wanita itu pada sang suami saat melihat ke arah bayi mungil yang menggeliat dan rewel itu.
Melihat senyuman di wajah sang istri, pria itu pun diam. Ia hanya mengiyakan nya asalkan wanita itu suka.
"Terserah mu saja, tapi kalau dia di kamar kita apa itu tidak akan buruk? Anak kecil kan tidak baik melihat sesuatu yang seperti itu." ucap nya pada sang istri.
"Kan bisa tunggu dia tidur, lagi pula kan banyak waktu juga kan?" tanya Clara yang tentu tak akan bisa mendengarkan hal lain selain melihat bayi mungil itu.
Louis membuang napas nya lirih, ia menatap sang istri dan mulai mendekati nya.
"Kau sekarang senang?" tanya nya sembari memeluk pinggang ramping wanita yang hanya melihat ke arah bayi mungil itu.
"Hum?" Wanita itu menoleh, ia membalik wajah nya lagi dan melihat ke arah bayi rewel itu.
"Iya, kalau begini kau tidak akan selingkuh kan? Kita sudah punya anak kan?" tanya wanita itu dengan senyuman tipis.
"Kalau pun kita tidak bisa, aku juga tidak berniat melihat wanita lain." ucap nya sembari mengesap lengkung leher yang putih itu.
"Tapi kan bisa saja berubah nanti," ucap nya lirih dengan kepercayaan diri yang masih rendah.
"Kalau aku mau selingkuh kan juga sudah bisa dari dulu, tapi aku mau nya dengan mu." ucap pria itu dengan mata yang kini juga menoleh ke arah bayi mungil yang kini sudah memakai nama belakang dari keluarga nya.
"Wajah nya semakin mirip dengan dia kan? Apa karna aku terlalu membenci nya jadi waktu dapat anak yang mirip dengan dia juga." ucap nya yang terkekeh saat melihat bayi rewel yang menangis itu.
"Maka nya ga boleh benci kebanyakan, sewajarnya aja. Lagi pula adik nya juga suka kan?" jawab Clara yang mulai beranjak menggendong bayi nya.
Walaupun bukan bayi yang berasal dari rahim atau darah nya namun ia mulai begitu menyayangi nya.
......................
Satu bulan kemudian.
Australia.
Apart
Rumah yang tersusun dari apartemen mewah itu hanya di tempati oleh tiga orang, satu pengasuh yang menetap dan tinggal di tempat itu, satu penjaga yang juga menetap dan satu anak kecil yang kini sudah menginjak usia 10 tahun.
Pelayan yang membersihkan pun juga ada namun datang pagi hari dan pulang di sore hari.
Langkah nya berjalan ke seluruh apart yang menampilkan kota dari atas itu.
Tak ada yang mencegah nya karna semua orang di sana pun tau jika ia pun termasuk pemilik tempat itu.
Suara pintu terbuka, pengasuh yang biasa nya tak menyambut kini mendatangi dan membuka pintu untuk anak kecil yang di tugaskan pada nya untuk di jaga.
"Tuan? Ada yang ingin menemui anda," ucap nya sembari mengambil tas yang di kenakan anak lelaki itu agar segera menemui seseorang yang menunggu nya.
"Siapa? Paman Nick?" tanya nya dengan menyebutkan nama seseorang yang biasa nya selalu mengunjungi nya menggantikan sang ayah namun dalam waktu dua tahun terakhir tak pernah menemui nya lagi.
"Bukan, seorang wanita dan lebih baik anda segera menemui nya." ucap pengasuh tersebut dan beranjak pergi.
Anak lelaki itu mengganti sepatu nya dengan sepatu rumah dan mulai masuk.
Mata nya membulat sejenak, ia melihat ke arah wanita yang sudah sangat lama tak ia temui dan ia tau siapa wanita itu.
__ADS_1
Gelas berisi teh itu kembali ke piring nya lagi, ia mulai menyadari jika seseorang yang ia tunggu sudah datang.
"Kau sudah pulang? Lama tidak bertemu." ucap nya dengan senyuman tipis.
"I.. iya..."
"La.. lama ti.. tidak bertemu kak..."
Arnold tampak gugup, ia menunduk dan tak bisa menatap ke arah wajah wanita itu.
Walaupun ia tak datang namun Nick sudah memberi tau nya tentang pernikahan ayah angkat nya itu dan otomatis wanita di depan nya adalah ibu yang sah secara hukum.
"Duduk, aku bukan di sini untuk memakan mu jadi jangan takut." ucap Louise yang menatap ke arah anak lelaki yang tampak gugup itu.
Arnold berjalan mendekat duduk di sofa berhadapan dengan wanita yang mengunjungi nya itu. Ia merasa takut dan gugup.
Ia mengira wanita itu datang untuk memberi nya surat pembatalan adopsi dan membuang nya, karna ia pikir hal itu tak mustahil untuk apa yang sudah ia lakukan pada putri wanita itu.
Dan mungkin secara tak sadar akan tindakan nya yang dulu membuat ayah nya menjadi mendidik adik nya dengan cara yang lain agar terhindar dari peristiwa seperti yang ia buat dulu.
"Sa.. saya akan belajar! Sa.. saya tidak akan menyusahkan dan menganggu Bianca la.. lagi..." ucap nya yang gagap dan tak melihat ke arah wanita yang duduk di depan nya.
Louise mengernyit, yang ia dengar anak lelaki itu di kirim jauh karna untuk pendidikan dan ia pun tak tau apapun tentang kejadian penculikan yang menimpa putra nya dua tahun yang lalu ada hubungan nya dengan anak angkat suami nya itu.
"Bianca? Kenapa kau menganggu nya?" tanya nya namun bersikap seperti sudah tau.
"Sa.. saya sa.. salah.."
"Saya tidak tau kalau Bianca akan di.. di cu..lik..." ucap nya gugup dan begitu takut.
Louise mengernyitkan dahi nya, ia memang ingat dulu putri cantik nya itu pernah luka cukup parah dengan tubuh yang membiru dan di perban. Ia juga ingat di mana ia membalikkan tubuh nya tak ingin melihat anak kecil yang terluka itu.
Kini wanita itu menarik napas nya, anak lelaki di depan nya tampak sudah menyesali perbuatan nya.
"Kau sudah tau kalau aku sekarang adalah ibu tiri mu?" tanya nya pada anak lelaki yang tak bisa melihat nya itu.
Ia ingat dulu anak di depan nya adalah anak kecil yang tersenyum dan berlarian serta bersembunyi di belakang ibu nya.
Arnold mengangguk, namun tetap saja ia tak melihat ke arah wanita itu.
"Kau membenci ku?" Louise menautkan alis nya ketika melihat anak kecil yang tampak enggan itu.
Mata yang takut dan gugup itu langsung melihat dan menggelengkan kepala nya, "Ti.. tidak! Saya tidak benci kakak!"
Panggilan nya tetap sama seperti dulu ketika ia baru pertama kali bertemu dengan wanita itu.
"Kalau begitu lihat aku waktu aku bicara dengan mu." ucap Louise pada anak kecil itu.
"Ma.. maaf.." ucap nya yang masih gugup hingga saat berbicara ia masih begitu terbata.
"Dulu kau anak yang ceria, tapi sekarang terlihat sangat berbeda. Wajar kalau kau membenci ku karna aku membuat ibu mu tidak bisa bersama dengan ayah mu." ucap Louise sembari menatap ke arah anak lelaki yang masih menundukkan kepala nya itu.
Arnold menutup mulut nya, tanpa mengatakan apapun. Ia tau kematian ibu nya berhubungan dengan sang ayah dan ia juga tau apa saja yang sudah di lakukan oleh ibu nya karna bawahan yang di sangat di percayai ayah nya yang mengatakan sendiri.
Ia tak di minta untuk percaya namun ia hanya di beri tau karna untuk percaya atau tidak hal itu berasal dari diri nya.
Awal nya ia merasa marah namun kemarahan nya mulai berubah menjadi kekosongan dan pikiran yang berandai.
Andai jika ibu nya dulu tak begitu terosebsi dengan ayah nya, ia tak masalah jika harus hidup berdua saja.
Atau, andai saja ia yang saat itu bisa tetap menyayangi adik nya tanpa memiliki pikiran untuk membuang nya.
__ADS_1
Mungkin hasil akhir nya ia tak akan sendirian di tempat yang jauh.
Iris hijau itu menatap ke arah anak kecil yang terus menunduk tak mengatakan apapun atau melihat ke arah wajah nya itu.
Ia bangun dari duduk nya, dan berjalan mendekat.
"Kau bisa membenci ku, tapi ku harap hanya sewajar nya dan..."
"Jangan benci anak-anak ku juga, mereka tidak ada hubungan nya dengan ibu mu. Oh ya, apa kau sudah tau kalau kau punya adik lagi?" tanya nya yang kali ini sudah berdiri tepat di depan anak lelaki yang masih duduk di sofa.
Arnold dapat melihat kaki jenjang yang memakai heels berwarna hitam itu mendekat ke arah nya.
"Hum?" ia menengandah melihat ke arah wanita yang menjadi ibu tiri nya saat ini karna ia masih memakai nama belakang dari pria yang mengadopsi nya.
"Seperti nya belum? Kau punya dua adik yang baru lahir beberapa bulan yang lalu, mereka kembar tapi satu lagi bersama kakak ku. Jadi walau pun secara hukum kau punya dua adik tapi sebenarnya ada tiga jadi jangan lupa tentang itu." ucap Louise yang melihat ke arah mata anak lelaki yang menengandah pada nya.
Arnold terdiam, ia tak tau arti kata itu dan menafsirkan sendiri sesuai yang ia mau.
"A.. anda akan membuang sa.. saya?" tanya lirih dengan gugup saat mendengar hal tersebut.
Wanita itu tersenyum kecil, ia menatap ke arah anak lelaki yang tampan lesu dan takut itu.
Tap!
Tubuh yang masih beranjak dalam masa pertumbuhan itu tersentak saat ia merasakan tangan yang berada di atas kepala nya.
"Tidak, karna secara hukum kau anak suami ku berarti aku juga secara hukum menjadi ibu mu kan? Aku hanya ingin menemui mu dan..."
"Sekaligus meminta sesuatu dari mu," sambung pada anak lelaki itu.
"Sa.. saya ti.. tidak akan menyusahkan!" ucap nya seketika saat mendengar wanita itu mau meminta sesuatu dari nya.
"Bukan itu, aku mau minta pada mu untuk ingat dengan adik-adik mu dan tidak membenci mereka. Jadi kata lain nya adalah aku mau kau menyayangi mereka." ucap nya pada anak lelaki itu.
Arnold tak menjawab, mata nya terkunci sejenak menatap ke arah wanita yang mengusap kepala nya itu.
"Aku akan kembali sekarang, tadi aku mau mengajak mu makan malam dulu tapi seperti nya kau tidak terlalu menyukai ku." ucap nya yang beranjak pergi.
"Dan ini untuk mu," ucap nya sembari memberikan satu paper bag besar berisi kotak hadiah.
"Lalu selamat ulang tahun." sambung nya yang beranjak pergi.
Arnold melihat ke arah paper bag nya, kotak yang berisi di dalam nya pun langsung ia buka.
"Eh?" mata nya berbinar menatap ke arah sepatu roda yang di berikan untuk nya.
Ia memang tak menerima hadiah setiap ulang tahun namun ia tetap di berikan uang bulanan yang cukup banyak hingga ia bisa membeli semua keperluan nya tanpa kekurangan.
Namun tentu membeli sendiri dengan di belikan dalam sebuah hadiah adalah dua hal yang berbeda.
"Kak! Kak Louise!" ucap nya yang berbalik dan mengejar wanita yang hampir memegang gagang pintu untuk keluar.
Wanita itu berbalik, "Ya, ada apa?" Louise tersentak saat mendekat suara yang memanggil nya secara tiba-tiba itu.
"Ma.. makan malam..." ucap nya lirih dengan suara yang pelan.
Wanita itu tertawa kecil mendengar nya, "Kalau begitu kita makan malam di luar? Jangan harap untuk makan masakan ku, aku tidak bisa masak apapun." ucap nya yang tersenyum pada anak lelaki itu.
"I.. iya, ma.. makan di luar juga tidak apa-apa." ucap nya lirih.
Wanita itu berjalan mendekat, ia tak memaksa anak lelaki itu untuk memanggil nya dengan sebutan ibu walau seharunya hal itu di lakukan karna secara hukum memang ia lah ibu anak tersebut.
__ADS_1
"Oh ya, ku harap kau juga bicara pada ku dengan santai, jangan terlalu ketat." ucap nya sembari mengusap kepala anak lelaki yang sudah tumbuh mecapai dada nya.
Satu anggukan terlihat dengan kepala yang masih menunduk dan merasa canggung.