
Kediaman Rai
Cahaya mentari pagi kini mulai masuk ke dalam kamar nya, gadis itu beranjak turun dari ranjang nya dan bersikap seperti biasa karna ia yang memang tak tau situasi yang tengah terjadi.
Makanan tersedia, ia menuruni anak tangga dan melihat dari jauh sang kakak yang sudah duduk di kursi nya.
Di kursi tempat sang ayah dulu, "Ku kira kau tidak pulang," ucap nya sembari mengambil minuman nya.
"Kenapa pikir nya begitu?" tanya Louis mengernyit menatap sang adik.
"Biasa kan kalau uda pergi sama Clara pulang nya lama, malah gak pulang kadang." sindir Louise pada sang kakak.
Ia tak masalah mau seberapa banyak sang kakak menghabiskan waktu dengan wanita yang menjadi masalah untuk nya adalah ia yang tak bisa menggunakan waktu nya sendiri semau nya karna sang kakak masih mengontrol nya.
"Kan ini pulang," jawab Louis pada adik nya.
Louise mengangkat sendok nya dan memainkan di atas makanan nya.
"Kak?" panggil nya lirih.
Pria itu langsung menoleh, jarang-jarang sang adik memanggil nya kakak karna rentan umur yang sangat dekat dan bahkan hanya berbeda menit saja.
"Kenapa?" tanya nya pada gadis itu.
"Soal Bianca..." ucap nya lirih yang menggantung.
"Aku sudah bicara dengan pengacara, kita bisa ambil hak as-"
"Tunggu! Maksud nya apa?" tanya nya mengernyit seketika mendengar kata pengacara dan mengambil.
"Dia harus ke sini kan? Dia bagian dari keluarga ini," ucap nya pada sang adik.
"Memang nya aku bilang kalau aku mau mengambil nya?" tanya Louise yang langsung menatap dengan iris hijau nya.
"Aku yang akan urus kalau kau tidak mau mengurus nya," jawab pria itu seketika.
Mata hijau itu menatap tak percaya pada sang kakak, "Memang nya anak itu mau?" tanya nya seketika.
"Dia tidak pernah ke sini, atau mengenal mu dan mengerti kalau kau itu paman nya lalu? Tiba-tiba kau datang ambil dia begitu saja?" tanya nya pada sang kakak.
"Lagi pula kalau misal nya kau mengambil anak itu pun dan menang di pengadilan, kau yakin dia tidak akan mengamuk dan mengambil anak nya lagi?" cerca nya pada sang kakak.
"Kalau dia melakukan hal itu sama saja meledakan bom bunuh diri, kita memegang kelemahan nya kan?" tanya nya pada saudari kembar nya.
Louise terdiam sejenak, "Aku memberi mu itu bukan untuk mengancam dalam hal seperti ini." ucap nya yang membicarakan soal flashdisk yang ia berikan beberapa waktu lalu.
"Kau menanggap yang ku lakukan salah karna kau masih menyukai nya," ucap nya pada sang adik.
Tak ada bantahan dari gadis itu, ia pun meletakkan sendok nya kembali bahkan sebelum makanan itu masuk ke dalam mulut nya.
"Aku tau kau mau yang terbaik untuk ku, makanya aku menuruti perkataan mu kan? Aku tidak akan mengacaukan pernikahan ku, jadi..."
"Biarkan saja anak itu..." sambung nya lirih.
Mana mungkin ia bisa tiba-tiba mengambil putri nya yang hanya mengenal 'Ayah' sejak lahir?
"Tadi aku membicarakan soal dia karna, ku pikir kau ingin menemui nya juga dan mengenalkan nya dengan Zayn tapi bukan mengambil hak asuh nya." terang nya pada sang kakak walau pria itu masih diam tak mengatakan apapun.
......................
Pelabuhan
__ADS_1
Pagi yang menyingsing namun tak membawa hasil sama sekali, sudah banyak korban namun ia tak bisa menemukan apapun di tempat itu kecuali keterangan dari orang-orang yang sempat bertemu dan awal nya berniat membuat anak kecil yang tidak tau apapun itu ke laut.
"Sudah periksa cctv dari dashboard mobil dan kapal?" tanya nya pada pria yang baru datang ke samping nya.
"Hanya sebagian, selebih nya tidak bisa karna tidak ada jalan akses." jawab Nick yang mengatakan dengan kata lain jika tak ada yang bisa yang di temukan dalam pencarian.
"Siapa pengasuh dan pengawal nya hari itu?" tanya nya pada bawahan nya itu.
Setiap pengawal dan pelayan di mansion nya memiliki tugas tersendiri yang berbeda-beda dan tak bisa di rangkap karna memang harus memiliki tanggung jawab yang penuh di setiap tugas nya.
"Ya?" Nick bertanya ulang untuk memastikan pendengaran nya.
"Pengasuh dan pengawal yang lalai hari itu, bunuh semua." ucap pada Nick.
"Dan semua organ nya yang masih bagus ambil dan jual," ucap nya yang tak lupa dengan bisnis nya, "Oh ya, pengambilan semua organ nya harus di lakukan dengan setengah anestesi." sambung nya lagi.
"Baik, akan saya beri tau Chiko." jawab nya pada tuan nya.
Setengah anestesi memiliki arti jika operasi yang di lakukan hanya membuat seluruh anggota tubuh tak dapat bergerak dan berbicara namun sebenarnya masih sadar dan dapat merasakan.
.....................
Mansion Alex
Hua...
Huhu...
Pria itu menarik napas nya, memangku dagu nya dengan tangan kanan dan menatap anak kecil terus menangis sepanjang malam itu.
Ingin rasa nya ia membekap mulut yang berisik itu dan melempar nya dari lantai 4 mansion nya agar batita itu bisa diam.
"Udah? Udah nangis nya? Nangis terus," keluh nya dengan mata yang tampak lebih layu karna tak bisa tidur.
"Mau Daddy! Hua..."
Alex memejam, ia memang pernah tinggal dengan anak kecil sebelum nya dan itu tidak seberisik gadis kecil itu.
"Diam! Kau tidak bisa diam! Nangis! Nangis terus! Anak cengeng!" bentak nya membuat gadis kecil itu langsung membatu.
Bianca tampak merapatkan bibir yang gemetar keriting menahan tangisan di tambah ia yang sangat sensitif dengan suara bentakan.
"HUA!!!"
"DEDDY!!!"
"HUHUHU!!!"
Alex yang kali ini tersentak, mendengar suara yang menggelegar seperti petir di siang bolong itu.
"Sial! Apa harus ku racun sekarang?!" umpat nya yang tak tahan dengan tangisan anak kecil yang semakin kuat itu.
Ia pun memilih pergi keluar dari mansion nya meninggalkan batita itu sendirian dengan tangisan nya.
3 Jam kemudian.
Alex kembali, kini gadis kecil itu tak lagi meraung menangis karna sudah kelelahan dan kehabisan suara sampai tertidur dengan sendiri nya.
Pria itu membuang napas nya, ia mengambil ponsel nya dan menelpon seseorang.
......................
__ADS_1
Kediaman Rai
Louise langsung mengangkat panggilan yang masuk ke dalam ponsel nya.
"Halo?"
"Kau menjawab dengan cepat?"
Gadis itu mengernyit, "Kalau tidak penting akan saya matikan panggilan nya." jawab nya yang merasa tak suka dengan jawaban telpon tersebut.
"Anak mu di sini, kalau kau mau dia baik-baik saja, datang ke alamat yang ku beri tau sendirian dan aku akan mengembalikan nya."
Ia semakin mengernyit, tak ada yang tau ia memiliki anak kecuali orang-orang inti nya saja, bahkan calon mertua nya pun tak tau SM sekali.
"Seperti nya salah sambung, saya tidak punya anak." jawab nya pada si penelpon karna memang sangat aneh jika ada yang menyebutkan soal anak pada nya.
"Benarkah? Bianca Anastasya..."
"Kau juga tau nama belakang nya tanpa ku sebutkan,"
Deg!
Gadis itu tersentak mendengar nya, "Halo? Halo!" panggil nya lagi yang merasa panggilan itu seperti sudah berakhir.
Ting!
Satu pesan berserta Poto masuk ke dalam ponsel nya.
Anak kecil yang cantik itu tampak tak sadar di atas lantai putih dengan alamat yang tertera di bawah Poto yang di kirim untuk ia datangi.
Besok pukul 3 sore di bawah jembatan jalan xx, ingat jangan sampai menyalahi janji dan memberi tau pada orang lain, datanglah sendiri
"Ini sungguhan?" gumam nya yang mulai merasa gusar.
Ia pun langsung meneruskan pesan itu pada ayah anak dari Poto yang terambil.
Tentu ia tak akan datang sendirian karna terlalu tampak jebakan untuk nya, "Louis!" panggil nya yang langsung keluar dari kamar nya memanggil sang kakak.
......................
Mansion Alex
Ukh!
Keringat dingin jatuh di pelipis pria tampan itu, wajah nya pucat pasi sembari mulai memporak-porandakan laci lemari nya mencari obat pereda nyeri nya.
"Paman? Paman sakit?"
Bianca menoleh, ia memang ribut menangis mencari sang ayah. Namun jika di tanya apakah ia takut seperti penculikan nya beberapa waktu lalu jawaban nya adalah tidak.
Ia di berikan mainan dan makanan yang ia sukai serta pelayan yang ramah untuk nya dengan tempat yang baik tidak mirip sama sekali dengan penculikan walau sebenarnya ia sudah termasuk di culik.
Dan pria yang sempat membentak nya itu pun kembali sembari membawakan makanan yang ia sukai.
"Paman?" panggil nya mengulang.
Pria itu menarik napas nya dan terduduk lantai saat ia sudah menegak obat-obatan yang ia butuhkan.
"Ini buat paman deh, harus nya buat Mommy sih tapi kalna paman yang sakit jadi Bian kasih ke paman dulu." ucap nya sembari memberikan sebungkus coklat yang hancur remuk karna sudah ia genggam dan ia bawa sejak kemarin.
Alex menoleh ke arah coklat yang sudah remuk hancur lebur itu dan menatap mata coklat polos yang jernih.
__ADS_1
"Nanti kita pulang kan? Bian mau Daddy..." ucap nya lagi yang kembali meminta sang ayah.