
Apart Sky Blue
Mentari mulai naik, cahaya yang masuk melalui tempias kaca jendela kamar yang terpasang lebar itu.
Mata hijau itu mulai terbuka setelah tidur pulas nya, tak ada siapapun di samping nya saat ini.
Louise membaringkan tubuh nya dari posisi yang awal nya memiring ke kanan, nafas nya berhembus dengan kasar dan ia mulai menutup mata nya dengan lengan kanan nya.
"Apa yang ku lakukan?" gumam nya lirih.
Gadis itu terdiam cukup lama sampai, sampai memiliki niatan untuk bangun.
Ack!
Louise meringis, pinggang nya terasa pegal ketika ia ingin bangun. Gadis itu pun memiringkan wajah nya dengan bingung. Padahal ia yakin semalam tunangan nya itu tak bersikap kasar sama sekali tapi tetap saja seluruh tubuh nya terasa pegal.
"Kau sudah bangun? Aku tadi but sarapan untuk kita,"
Suara pria yang datang dari pintu itu menatap ke arah gadis yang terlihat ingin bangun itu.
Zayn tersenyum tipis melihat gadis itu yang tak menjawab nya namun terlihat mengatur selimut nya.
Ia pun mendekat dan mengangkat tubuh gadis itu, "Kau mau mandi kan? Kenapa sulit sekali meminta tolong?" ucap nya sembari menggendong tubuh gadis cantik itu ke dalam kamar mandi nya.
Menyiapkan bak mandi serta memberikan sabun aroma ke dalam nya untuk tunangan tercinta nya.
"Mandi dan setelah itu keluar sarapan dengan ku," ucap pria itu dengan senyuman yang hangat dan mengecup dahi gadis di depan nya.
"Atau mau ku mandikan?" tanya pria itu dengan wajah yang tersenyum cerah menggoda tunangan nya.
Louise langsung menggeleng, "Aku mandi sendiri!" ucap nya langsung dan Zayn hanya tersenyum lalu meninggalkan gadis itu untuk mandi.
Ia tak bertanya ataupun mengatakan tentang telpon tadi malam, hanya bersikap tak tau apapun.
Louise keluar setelah membersihkan tubuh nya yang masih terlihat jelas bekas kepemilikan yang tertinggal di leher dan dada nya.
"Kau yang masak sendiri?" tanya nya tersenyum canggung.
Zayn tersenyum, ia mengambilkan makanan untuk gadis itu dan menuangkan jus nya.
"Zayn?" panggil Louise lirih saat ia tau pria itu terus memperhatikan nya dengan senyuman cerah dan tatapan berbinar.
"Aku benar-benar merasa senang, kalaupun ini hari terakhir ku aku juga tidak akan menyesal." ucap nya yang menandakan ungkapan yang begitu bahagia.
"Baguslah kalau kau senang..." jawab Louise lirih dengan senyuman tipis.
"Bagaimana dengan mu? Kau senang?" tanya pria itu yang menatap dengan tatapan yang menanti jawaban.
Louise diam sejenak, senang? atau sedih?gembira? atau menyesal?
Ia bahkan bingung bagaimana mengatakan nya, hanya saja rasa nya membuat nya sedikit tak nyaman dan ingin keluar dari topik pembahasan tentang malam yang baru saja mereka lalui.
"Ya, aku juga..." jawab nya lirih dengan senyuman kaku.
Ia tak ingin membuat binar mata dan senyuman cerah itu lenyap jika ia mengatakan yang sebalik nya.
"Makan ini, aku akan antar pulang nanti sekalian waktu kerja." ucap Zayn dengan wajah yang tersenyum dan memberikan sepotong filet ikan yang di panggang garlic itu.
......................
Skip
Kediaman Rai
Drrtt...drrtt...drrtt...
Ponsel yang terus bergetar itu berada di samping bathtub yang penuh dengan air itu beserta gadis yang mandi mencelupkan diri di dalam nya.
Fyuah!
Louise mengangkat wajah nya, ia mengusap wajah basah nya dengan satu tangan dan beranjak mencari ponsel nya yang berada di bathup yang memiliki meja itu.
__ADS_1
Ia mengernyit, pria yang tadi nya sempat menghilang beberapa hari itu kini menghubungi nya lagi.
"Ada apa?" tanya nya begitu menjawab ponsel tersebut.
"Louise?"
Suara yang memanggil itu terdengar seperti sedang memastikan.
"Katakan, aku tidak punya banyak waktu." ucap nya dengan ketus namun tanpa sadar tadi nya ia mengangkat telpon tersebut dengan cepat.
"Kesempatan kedua itu aku mau pakai," ucap James yang langsung mengatakan inti nya agar bisa menemui gadis itu lagi.
"Aku tidak bisa hari ini, mungkin lusa." jawab Louise yang bukan nya jual mahal namun memang hari ini jadwal nya cukup penuh.
"Tidak bisa harus hari ini, ini tentang Bianca."
Gadis itu diam sejenak mendengar nama yang di sebutkan, ia menarik napas dengan dalam sebelum menjawab nya.
"That's none of my business, she's your daughter," ucap nya dengan suara yang tampak bergetar.
Memang nya apa yang harus ia lakukan ketika bertemu dengan anak itu lagi?
Setiap kali melihat wajah cantik menggemaskan yang tumbuh dengan sehat itu ia hanya akan mengingat tubuh mungil yang dingin dengan mata yang terpejam dalam gendongan nya.
"But you're her mom, Please..."
Gadis itu terdiam untuk beberapa saat, suara yang terdengar di balik telpon itu seperti tidak baik-baik saja.
Ia tak pernah mendengar pria arogan itu mengatakan meminta pertolongan nya ataupun memohon untuk sesuatu.
"Kau ayah yang sangat baik untuk putri mu tapi kenapa kau tidak bisa lakukan untuk putra mu?" tanya gadis itu lirih dengan suara yang mulai parau.
Baginya kehilangan putra pertama nya adalah trauma yang sangat mendalam, tak hanya kehilangan anak yang memberi nya kekuatan untuk bisa bertahan namun ia malah di kurung seharian bersama bayi yang tak lagi bernyawa itu.
Sekarang apa?
Meminta nya untuk tiba-tiba menjadi ibu yang baik untuk anak yang bahkan tidak membuat nya merasakan apapun, ia bahkan tak pernah memberikan asi nya untuk putri nya.
Wajah yang mirip dengan nya, tingkah yang nakal dan suara yang lucu. Ia tak tak harus melakukan apa ketika melihat hal itu.
"Aku akan jemput kalau kau tidak datang,"
Balas pria itu dan mematikan ponsel nya, Louise masih diam tak mengatakan apapun dan melihat ke arah layar ponsel dengan sambungan telpon yang terputus dan kembali ke menu utama itu.
......................
Mansion Dachinko
Wajah yang tampak ketus dan kesal itu kini masih duduk di samping bangku pengemudi.
Pria itu tak main-main dengan ucapan nya, ia benar-benar datang menjemput gadis itu ketika merasa tak ada gerangan untuk datang.
"Turun," ucap nya sembari mulai keluar lebih dulu dan membukakan pintu untuk gadis yang berada di samping nya.
Mata hijau itu melihat ke arah pria yang membuka kan pintu namun ia tak beranjak keluar sedikit pun.
Ia tak ingin pergi namun terpaksa pergi karena tak ingin sang kakak tau pria itu menemui nya dan menimbulkan keributan.
"Ayo," ucap James dengan sedikit memaksa dan menarik tangan gadis itu untuk keluar.
Louise menepis dengan kuat, pakaian nya tersingkap membuat nya memperlihatkan bentuk bahu nya yang masih memiliki bekas kemerahan itu.
James membatu sejenak, namun gadis itu tampak langsung membenarkan pakaian yang ia kenakan dan beranjak masuk ke dalam mansion besar namun bagi nya masih menyesakkan itu.
Pria itu masih berdiri di tempat semula, dengan semua pikiran negatif yang coba ia tepis namun semakin sulit jika bekas cinta juga banyak tertinggal di tubuh gadis itu.
Greb!
Tangan nya langsung meraih tangan gadis itu sesaat setelah memasuki wilayah mansion nya.
"Kau sudah tidur dengan nya?" tanya nya lirih.
__ADS_1
Rasanya ia seperti menunggu jawaban yang sangat membuat jantung nya berdetak lebih cepat.
"Hm, itu wajar kan? Dia pria yang akan menikah dengan ku," wajah yang terlihat dengan ekspresi yang sulit di jelaskan itu walau terkesan datar karna berusaha menyembunyikan emosi yang tersimpan di balik nya.
Deg!
Jantung yang berdegup itu seperti berhenti dan menghantam batu besar. James kehabisan kata-kata, ia membatu sejenak dan tak bisa memberikan respon apapun.
"Kenapa? Kau pikir cuma kau? Kau bisa bersama dengan wanita manapun dan kemudian bersama ku, lalu aku tidak? Bagaimana rasa nya?" tanya gadis itu dengan senyuman pahit.
Ia melihat pria itu yang terluka sama seperti nya dulu, namun entah mengapa ia juga masih tidak merasa senang.
"Sekarang lepaskan tangan ku," ucap Louise yang mulai membuang wajah nya ketika melihat pria itu yang membatu sejenak.
Greb!
Ia tersentak, iris hijau itu membulat dengan sempurna dan berusaha melepaskan diri dari pelukan yang sangat erat itu hingga membuat nya sesak.
"Kau akhirnya juga melakukan itu dengan dia?"
"Aku sangat ingin membunuh nya..."
"Membunuh nya lalu mengurung mu lagi dan mengikat kaki mu dengan rantai supaya kau tidak bisa pergi..."
Suara yang berbisik di telinga gadis itu terdengar berat seperti tengah menahan emosi yang memuncak.
Louise meremang, walaupun waktu sudah berlalu namun tubuh nya masih mengingat rasa takut yang di berikan pria itu.
Ia semakin memberontak dan merasakan takut ketika pria itu memeluk nya dengan semakin erat.
Gadis itu tak lagi mengunakan tenaga nya, ia perlahan hanya berhenti memberontak dan membiarkan pelukan yang erat sampai terasa akan meremukkan tubuh nya.
Namun pelukan erat itu pun tak akan selama nya, James melepaskan pelukan nya ia menatap ke arah iris hijau itu dan mengunci nya.
Tangan nya yang berada di bahu gadis itu perlahan hanya memegang pakaian nya agar tak membuat bahu yang kurus itu merasakan sakit.
"Tapi aku tidak bisa melakukan itu kan? Aku hanya akan kehilangan mu lagi..." ucap nya dengan senyuman namun mata yang tak tampak tersenyum sama sekali.
Louise membuang pandangan nya, ia tak ingin melihat mata dan wajah pria itu yang entah mengapa membuat nya merasa tak nyaman lagi.
"Tidak apa-apa, aku juga meniduri banyak wanita sebelum kau..." ucap nya dengan suara yang lirih namun tangan yang tampak gemetar dengan meremas pakaian di bahu gadis itu.
Louise diam tak mengatakan sepatah kata pun, ia bisa merasakan pria itu yang tengah berusaha meredam amarah dan emosi yang memuncak tinggi itu saat ini.
"What should I do? I think I might gone crazy right now, I don't know if I've fallen for you too deep..."
"I don't wanna lose you again,"
Suara yang terdengar parau dan berat itu, membuat gadis itu kembali menoleh menatap ke arah pria di depan nya.
Deg!
Wajah yang datar tak memberikan ekspresi itu kini terlihat memiliki iris coklat yang di lapisi kaca yang terlihat ingin tumpah.
"James?" panggil nya lirih dengan nada yang melemah tak lagi terdengar ketus.
Pria itu seperti nya sedikit sulit mengendalikan emosi dan perasaan nya saat ini, putri semata wayang nya yang tak kunjung bangun dan juga gadis yang ia cintai bersama dengan pria lain.
Ia tau, kalau hal itu bukanlah hal yang salah karna melakukan nya dengan pria yang akan segara menjadi suami nya dan bahkan pria yang sudah memiliki tanggal pernikahan.
Berbeda dengan dirinya yang bukan siapa-siapa, namun tetap saja ia merasakan sakit, sesuatu yang terasa meluap di dada nya dan perasaan yang sangat tidak rela melihat gadis itu bersama pria lain.
Entah itu karna kelelahan dan juga shock terapi yang datang beruntut selama beberapa hari terakhir membuat pria itu pertama kali menunjukkan kelemahan nya.
Kelemahan yang bahkan tak pernah di lihat cinta pertama nya dulu.
Louise tak tau harus mengatakan apa, wajah yang terlihat datar dengan mata yang terlihat kelelahan, marah, berharap dan terluka itu menjatuhkan buliran bening yang terasa dingin itu.
Tangan nya bergerak tanpa sadar ke pipi pria yang berdiri dan memiliki postur yang lebih tinggi dari nya, iris hijau nya terkunci seperti tak bisa lari ke manapun.
"I love you, and I wanna you to know that..."
__ADS_1
Kalimat pertanyaan yang tak pernah bisa ia katakan dulu, dan begitu banyak penyesalan yang ia dapatkan karna ego nya itu.
Ego yang menahan nya untuk mengatakan kalimat sederhana namun memiliki jutaan arti itu.