
Ke esokkan pagi nya.
Sinar mentari mulai datang, cahaya yang hangat dengan silau nya dan angin yang masih berhembus sejuk di tempat berbukit dan penuh dengan rumput hijau itu.
Jemari gadis bergerak, ia terbangun dengan membuka mata nya perlahan yang masih begitu mengantuk.
Selimut tebal yang amburadul itu karna ia yang bergerak selama tidur nya masih menutupi setengah tubuh nya.
Sakit, kenapa sakit semua?
Gadis itu membuka mata nya, tak mengenakan apapun di tubuh nya dan ia masih tak menyadari nya.
Tenggorokan yang terasa haus, tubuh yang merasa pegal dan sakit dan tentu masih ada beberapa bagian lagi yang belum terasa efek nya.
Louise beranjak bangun dengan malas, namun ia harus tetap menegakkan punggung nya karna ia ingin meneguk air mineral untuk saat ini.
Mata nya yang melihat buram itu kini sudah jernih, tak ada siapapun di kamar nya dan ia sendirian.
"Zayn di mana?" gumam nya lirih yang ingin beranjak bangun.
Auch!
Gadis itu meringis, bagian inti nya terasa nyeri yang membuat nya tersentak dan kini ia terkejut saat menyadari jika tak mengenakan apapun.
"Tunggu!"
"Kapan aku?"
Louise mengernyit, ia menarik selimut nya dan berusaha mengingat malam sebelum nya.
Mata nya memejam dengan menahan denyut di kepala nya, kilasan tentang sesuatu yang panas tadi malam pun datang sepotong.
"Hah..."
Ia membuang napas berat sembari menyisir rambut nya jatuh dengan jemari nya.
Tak protes atau pun marah, bukan nya tidak ingin namun seperti dalam ingatan nya ia juga menginginkan nya kemarin malam.
Tidak tau jika itu adalah murni benar-benar keinginan nya atau ada pendorong yang di berikan untuk nya.
Dan lagi ia melakukan nya dengan seseorang yang terikat dengan diri nya.
Tunangan nya sendiri! Sekaligus pria yang dalam beberapa hari lagi akan menjadi suami nya.
Klek
Suara pintu kamar tersebut terbuka, mata hijau itu langsung menoleh dan melihat ke arah pria yang berdiri di ambang pintu.
"Kau sudah bangun?"
Zayn mendekat ke arah gadis yang masih duduk di ranjang nya itu.
Mata nya melihat ke arah bekas kepemilikan yang ia buat kemarin malam dan bahkan menutup bekas kecupan cinta pertama gadis itu.
"Hm, kau dari mana?" tanya Louise sembari melihat ke arah wajah tunangan nya itu yang walaupun tersenyum namun tak secerah seperti biasa nya.
"Kau bisa berjalan?" Zayn tak menjawab apapun dan malah melontarkan pertanyaan baru.
"Ya, aku baik-baik saja." jawab Louise pada calon suami nya.
Pria itu membuang napas nya lirih, ia sedikit menunduk dan mengendong gadis itu ke kamar mandi.
"Aku akan mandikan sekalian mencuci rambut mu." ucap nya yang tau rambut gadis itu pasti lengket saat terkena tumpahan vanila panas milik nya yang juga menyembur ke wajah.
Louise tak mengatakan apapun, ia tidak menolak atau pun membantah.
Keheningan yang cukup lama, hanya ada suara air dan busa sabun.
Tak ada pembicaraan sama sekali, kedua nya diam namun tangan pria itu tetap lembut memijat kepala gadis yang berada di dalam bath up saat mencuci rambut nya.
"Pejamkan mata mu," ucap nya yang ingin membilas busa di rambut gadis itu.
Louise memejam, dan pria itu melakukan semua yang bisa ia lakukan sendiri.
....
Sarapan sudah tersedia, gadis itu duduk dengan makanan hangat sekaligus susu coklat di pagi hari.
"Zayn? Seperti nya aku harus ke apotik," ucap nya lirih yang ingin membeli obat kontr*sepsi." ucap nya yang memerlukan hal tersebut.
"Untuk apa?" pria itu mengentikan sendok nya, ia menatap lurus ke arah tunangan nya.
"Ini masa subur ku, aku..."
"Kau tau kan? Aku masih belum siap kalau..." ucap nua lirih dengan kalimat sepenggal yang yang tak selesai.
Pria itu diam sejenak, dulu ia memang tak memakai gadis itu untuk harus mengandung bayi nya.
Karena ia lah yang paling tau seberat apa trauma gadis itu saat bangun dari koma nya selama tiga tahun, dan ia pun masih memikirkan hal itu sebagai alasan saat gadis itu mengatakan tak siap menjadi ibu atau hamil lagi saat ini.
Namun sekarang?
Ia sulit mempercayai nya, entah memang karna tidak siap atau karna tidak ingat anak dari nya?
"Kau tidak ingin hamil dengan ku?" tanya nya pada tunangan nya itu.
Louise tersentak mendengar nya, ia tak bermaksud seperti itu karna tak mungkin ia mengatakan tidak ingin hamil dengan pria yang akan menjadi suami nya.
Namun masalah nya ia belum siap sama sekali untuk kembali mengandung dan memiliki anak yang lain terlebih dahulu.
"Bukan! Bukan begitu!" ucap nya yang langsung menggeleng atas pertanyaan yang baru ia dengar.
Zayn diam sejenak, ia menatap sekilas ke arah susu coklat yang ia berikan.
"Habiskan makanan mu dan susu coklat nya, kau mau coba jalan pagi? Ada aliran sungai kecil di sini." ucap nya mengajak gadis itu berpergian tanpa mengatakan apapun lagi.
Louise diam, ia tak lagi membahas apotik atau pun obat pencegah kehamilan itu karna ia tau pembahasan nya mulai berubah menjadi sensitif.
"Nanti sore? Aku mau istirahat dulu," ucap nya pada tunangan nya.
Zayn tersenyum tipis ia mengangguk akan permintaan gadis yang sangat ia cintai itu.
......................
Mansion Dachinko
Pria itu tersenyum tipis melihat lirikan tajam putri nya yang malah berubah menjadi menggemaskan.
"Ih Daddy! Kan Bian hilang nya boneka Lauw! Kok malah di kasih Miaw?" ucap nya kesal yang menatap ke arah sang ayah.
"Iya, Daddy salah..." ucap nya yang langsung dengan mudah mengaku tanpa berkutik pada putri cantik kesayangan nya itu.
"Ga mau ah! Bian mau malah!" ucap nya yang tak ingin melihat sang ayah.
Pria itu mendekat, ia menggendong putri nya dan menghujani pipi bulat itu dengan ciuman.
"Daddy ga di maafin? Hm?" tanya nya lagi sembari melihat dengan tatapan gemas pada putri nya.
Bianca tak menjawab, ia hanya memanyunkan bibir nya seperti sedang marah.
"Kalau Bian marah sama Daddy berarti Daddy pergi aja? Bian main sama pengasuh?" tanya James lagi memancing putri nya.
__ADS_1
Bianca langusung menoleh dan memeluk pundak sang ayah yang tengah mengendong nya.
"Jangan pelgi..." ucap nya lirih yang ingin bermain lebih banyak dengan sang ayah.
James tersenyum tipis, ia mengusap punggung mungil itu dengan lembut.
"Daddy?" panggil Bianca saat memeluk sang ayah.
"Ya?" James masih berdiri dan berjalan memutar ke sekeliling kamar putri nya karna ia masih menggendong batita itu.
"Tadi Bian dengel kata nya kalau Mommy nikah lagi belalti Mommy ga akan jadi Mommy Bian lagi?" tanya nya lirih.
Pembicaraan pelayan mulut ember yang membicarakan tuan nya dan mengatakan malang untuk anak berusia tiga tahun yang tidak tau apapun itu.
James melepaskan pelukan mungil putri nya namun tetap menggendong nya.
"Bian dengar dari mana?" tanya pria itu yang tampak begitu terkejut dan tentu ingin menghukum mulut yang sembarangan bicara itu.
"Mommy kenapa ga mau jadi Mommy Bian lagi Dad? Kalna Bian nakal ya? Mommy kan bilang Bian nakal," tanya nya dengan wajah dan tatapan polos karna memang sifat nya belum terbentuk sama sekali dan hanya tau bermain.
"Kata siapa Bian anak nakal? Bian anak baik kok, dan Mommy bakal tetap jadi Mommy Bian." ucap nya sembari membeberkan poni putri kecil nya.
Bayi berusia tiga tahun itu tak mengatakan apapun, entah apa yang di pikiran oleh kepala kecil nya.
"Telus kenapa Mommy ga tinggal di sini?" tanya nya pada sang ayah.
"Mommy kan bakal nikah sama Paman Zayn Bian udah kenal kan?" tanya nya pada putri kecil nya, walaupun ia tak suka menyebut nama pria itu namun pada akhir nya ia harus membuat putri nya mengerti saat ia rasa pernikahan itu tetap akan terjadi.
Bianca menatap dengan mata coklat nya yang jernih dan wajah yang terlihat bingung nan menggemaskan.
"Kenapa bukan nikah nya sama Daddy?" tanya nya dengan bingung.
James yang kali ini terdiam, tak mungkin ia menceritakan sejarah kelam pada putri nya kan?
"Apa kalna wayah Daddy?" tanya Bianca lagi dengan tatapan polos nya sembari membandingkan wajah sang ayah dengan calon ayah sambung nya itu.
"Memang nya Daddy sama Paman Zayn mana yang lebih tampan?" tanya James yang menarik napas nya mendengar pertanyaan putri kecil nya.
"Tapan itu siapa?" tanya nya dengan polos yang masih belum banyak suku kata yang ia mengerti.
"Kalau wajah Daddy sama wajah Paman Zayn, Bian lebih suka yang mana?" tanya nya pada putri kecil nya tanpa menjelaskan siapa 'Tampan' itu.
Bianca terlihat membandingkan dan mencoba berpikir dan tentu jawaban nya adalah wajah yang juga tampan dan terlebih lagi tak setiap hari ia temui.
"Paman Zayn," jawab nya dengan polos karna penampakan tingkat ketampanan dan kecantikan seseorang berbeda di mata yang memandang.
James membuang napas nya, "Kau ini ada di pihak Daddy atau pria itu?" tanya nya lirih.
"Piyak siapa Dad?" tanya Bianca yang juga tak mengerti.
"Bian lebih sayang Daddy atau paman Zayn?" tanya nya lagi.
"Daddy! Yang paling Bian sayang itu Daddy abis Daddy balu Mommy!" ucap nya yang menempatkan sang ayah di posisi teratas kasih sayang nya.
James tersenyum lagi, ia kembali mencium gemas pipi bulat putri nya.
"Iya Daddy juga sayang Bian," balas nya sembari memeluk tubuh putri kecil nya yang mirip dengan boneka bayi.
Dan juga Mommy mu
Ia tak mengatakan kata selanjutnya dan memilih bermain dengan putri cantik nya.
......................
Murren, Switzerland.
Gadis yang tengah berdiri di teras villa sembari melihat perbukitan dan pemandangan pedesaan yang bagai negeri dongeng itu.
Pluk!
"Louise?"
Suara pria yang terdengar memanggil nya itu membuat nya menoleh ke belakang dan pria itu pun melonggarkan rangkulan nya agar tubuh gadis itu bisa memutar.
"Ya?" Louise menengandah menatap ke arah pria yang baru saja memanggil nama nya itu.
"Are you happy?" tanya nya lirih dengan pertanyaan yang sama seperti yang pernah di berikan pada nya.
"Zayn? Why?" Louise mengernyit merasakan pria itu terus menanyakan hal yang berulang.
"Look at me and answer, Are you happy?" tanya nya mengulang.
Louise terdiam, tak ada sesuatu yang bisa membuat nya tidak bahagia namun mengapa ia tetap merasa sulit menjawab nya.
"Ya," jawab nya lirih dengan mata yang membuang ke arah lain tak bisa melihat ke arah pria yang bertanya pada nya.
Zayn diam, ia tau gadis itu berbohong lagi. Sesuatu yang meluap di dada nya membuat nya begitu tertekan dan merasakan sakit namun ia masih tak bisa melepaskan genggaman nya.
"Do you love me?" tanya nya lagi mengulang dengan lirih.
Louise diam sejenak, ia mengalihkan mata nya lagi saat di tanya.
"Zayn? Tadi kau bilang kita mau keluar kan? Bagaimana kalau sekarang?" tanya nya mengalihkan dengan senyuman di wajah cantik nya.
Zayn tak menyahut lagi lagi, ia hanya membalas senyuman gadis itu dan mengangguk.
...
"Udara nya bagus," ucap Louise sembari menarik napas nya.
Pria itu tak mengatakan apapun, ia hanya melihat dan terkadang menangkap tangan gadis itu saat langkah nya seperti akan terpeleset.
"Louise?" panggil nya lirih.
"Hm?" gadis itu menoleh, sedangkan ia melihat tunangan nya mendekat maju ke arah nya seperti ingin mencium nya.
James...
Deg!
Pria itu tersentak, ia berhenti sebelum sempat menautkan bibir nya pada gadis itu.
Ia tiba-tiba teringat dengan suara lirih dan sayu gadis itu saat menyebut nama cinta pertama nya setelah berhubungan dengan nya.
"Zayn? Kenapa?" tanya nya sembari melihat ke arah pria yang membatu itu.
"Tidak, aku tidak apa-apa." ucap pria itu sembari melihat ke arah gadis di depan nya dan pada akhir nya ia tak jadi mencium gadis itu.
Kini suasana tenang kembali dengan angin yang sejuk dan udara yang harum rerumputan serta bunga yang mekar saat itu.
Dudukan yang hanya beralaskan selendang di atas rumput hijau itu membuat kedua orang itu merasa begitu nyaman.
"Kau sudah melupakan nya?" tanya Zayn membuka suara.
Louise menoleh, ia diam sejenak untuk beberapa saat. "Sudah." jawab nya yang mengatakan dengan sendiri nya saat ia tau pria yang berada di samping nya ingin mendengar nya.
Zayn terdiam, ia tersenyum pahit namun tak mengatakan apapun.
"Ini pertanyaan ku yang terkahir, kau bahagia?" tanya nya lagi mengulangi apa yang tadi ia katakan saat berada di villa.
"Ya," jawab Louise dengan cepat dan lirih seperti berat untuk mengatakan nya.
__ADS_1
Pria itu langsung menoleh, "Jawab dan lihat aku! Jangan memalingkan mata mu!" ucap nya yang kali ini menarik bahu gadis itu melihat ke arah nya.
Louise terdiam, ia tak bisa melihat tatapan mata pria itu.
"Kau bahagia?" tanya pria itu sekali lagi.
Gadis itu bungkam saat mata nya di paksa untuk melihat pria itu dan mengatakan nya.
"Aku tanya lagi, kau bahagia? Bahagia dengan ku?" pria itu mengulang pertanyaan nya.
Suara nya terdengar gemetar saat menanyakan nya seperti menahan sesuatu di dada nya.
"Ya..." jawaban gadis itu tetap sama namun ia menunduk dan tak bisa kembali menatap ke arah pria itu.
"Louise!" pria itu meninggikan suara nya.
Gadis itu tersentak namun ia tetap tak mengatakan apapun lagi dan bahkan menatap ke arah pria itu.
"Aku..."
"Aku ingin melakukan apapun agar kau bahagia, kau cukup mengatakan apa yang kau inginkan. Aku akan mencoba nya." ucap pria itu dengan suara gemetar dan tertahan.
"Kalau kau meminta ku bersikap seperti pria itu dan mengikuti nya aku juga akan lakukan, tapi..." sambung nya lirih.
Gadis itu langsung menoleh seketika, ia tak tau mengapa tunangan nya sangat berbeda beberapa hari terakhir dan pagi ini pun semakin berbeda.
"Zayn? Aku..."
"Tapi aku bukan dia, jadi apapun yang ku lakukan tidak akan cukup. Iya kan?" tanya pria itu dengan suara yang terdengar begitu berat.
Kalau saja ia tau cinta itu akan sangat menyakitkan ia tak ingin jatuh ke dalam nya. Ia akan membatasi setiap kedekatan nya dengan orang lain.
"Kau tidak bahagia," ucap pria itu menggeleng sembari menyentuh pipi yang basah gadis itu.
"Zayn? Kau mungkin salah sangka, waktu itu aku..." ucap nya yang bingung harus melakukan apa sedangkan ia takut dengan perasaan bersalah yang ia miliki, "Bekas di leher ku itu, aku tidak melakukan sampai..."
Pria itu tersenyum tipis, bukan hanya itu yang ia tau namun ia tau segala nya.
"Aku berharap kau bahagia, apapun dan di mana pun." ucap nya lirih dengan senyuman tipis yang terasa begitu berat.
"Aku..."
"A..aku..." ucap Louise tergagap yang ingin menyangkal nya.
"Ku pikir dengan mencintai mu saja akan cukup, tapi ku rasa tidak." ucap nya pada gadis itu dengan lirih.
"Zayn? Aku..." bibir nya tertahan saat ingin mengatakan sesuatu.
Ia cukup mengatakan 'aku mencintai mu dan aku bahagia dengan mu' tapi ia malah tak bisa mengatakan apapun.
"Apa kita batalkan saja..." ucap nya lirih.
"Pernikahan kita?" tanya nya lagi pada gadis itu dengan suara yang berat.
"Zayn?" Louise tersentak mendengar nya.
Pria itu tersenyum tipis sembari menahan mata nya saat melihat gadis itu yang terkejut dengan ucapan nya.
"Lalu kau tidak mau? Kalau begitu katakan kau mencintai ku atau kau bahagia dengan ku dan lihat aku saat kau mengatakan nya." ucap nya lirih sembari meraih wajah gadis itu.
"Ma..maaf..." Louis menunduk, ia tak bisa mengatakan nya.
Padahal hanya beberapa kata dalam satu kalimat namun terasa begitu sulit.
"Kenapa minta maaf? Kali ini aku yang meninggalkan mu, jadi harus nya kau marah pada ku kan?" tanya nya dengan senyuman namun mata yang menggambarkan semua nya.
Louise terdiam, tubuh nya gemetar saat ia menahan air mata nya yang entah kenapa jatuh dan membuat nya menangis padahal ia tau tau mengapa ia sedih.
Kenapa dada nya terasa sakit dan kenapa ia yang masih begitu keras kepala.
Rasa bersalah?
Hutang Budi?
Atau kasih sayang sebagai sahabat yang bahkan mendekati kasih sayang yang mirip saat ia bersama saudara?
Apa begitu sulit untuk meningkatkan sayang untuk sahabat yang mirip dengan saudara menjadi cinta sebagai pria dan lawan jenis?
"Mereka tidak akan mengatakan apapun pada mu nanti, aku yang akan mengatakan pembatalan pernikahan kita." ucap nya sembari mengusap air mata gadis itu.
"Dan kali ini aku yang meninggalkan mu, bukan kau. Jadi jangan merasa bersalah..." sambung nya lagi.
Louise menoleh, ia tak bisa mengatakan apapun lagi. Mata nya hanya menyimpan buliran bening yang tidak bisa ia hentikan untuk jatuh.
"Aku juga sudah memberi mu pil pencegah tadi saat sarapan, kau bisa memeriksa nya secara berkala nanti nya." ucap nya pada gadis itu.
"Setelah kita kembali dari sini, kau harus bahagia, dan..." ucap nya terputus.
"Aku harap kita tidak bertemu lagi..." ucap Zayn tersenyum dengan air mata yang jatuh saat ia tak bisa menahan nya.
Ia bersungguh-sungguh dengan ucapan nya, sulit untuk kembali melihat gadis itu.
Melepaskan itu tidak mudah, dan cinta yang ia miliki terlalu besar dari apa yang bisa ia tanggung.
Luka yang menusuk nya pun juga begitu dalam, sampai mungkin kali ini akan 'Truma' dengan perasaan seperti itu dan tentu melihat gadis yang ia cintai sekaligus yang memberikan luka terbesar untuk nya akan begitu sulit.
Aku tidak membenci mu...
Sungguh!
Aku hanya terlalu mencintai mu...
Karna itu ku rasa aku akan sulit untuk menahan nya...
Aku ingin kau bahagia, tertawa dengan ice cream saat kau meminta nya di musim dingin...
Tersenyum cerah seperti yang biasa kau tunjukkan...
Aku tetap berharap kau seperti itu...
Maaf...
Aku egois untuk sementara waktu, aku ingin kau bahagia tapi aku juga menginginkan kebahagiaan ku...
...****************...
Hay pembaca othor, nah othor kan banyak baca di beberapa eps lalu tentang yang ga suka dengan Zayn nya yang maksa banget.
Tapi ya gimana juga🤧🤧 Terkadang tu ada orang bisa se-love itu sama orang lain, sampai nutup semua mata nya.
Bucin beg*, bucin nurut semua nya lah. Dia ga mau nyakitin tapi ga mau di tinggalin juga dan Si Zayn nya itu adalah contoh dari sebgaian orang-orang itu.
Dan soal Louise yang mau tidur Zayn karna kan memang harus nya Zayn yang bisa nyentuh dia bukan nya James, karna James itu cuma terhitung masa lalu nya si Louise dan Zayn tunangan nya dan James ga punya hak untuk marah.
Karna kalau si Louise sama dia berarti ke hitung dia yang jadi selingkuhan.
Terus kalau mikir nya, kalau gitu kenapa waktu itu si Louise mau di tiduri James waktu di pantai?
Ya karna dia ngira dia bakalan mati dan tentu dai jadi lebih jujur sama apa yang dia mau.
Dan yang paling utama adalah semua karakter yang othor buat itu di novel apapun ga pernah pakai adat ketimuran nya, semua nya punya pemikiran bebas seperti negara bagian barat (Western)
Yauda babang Zayn sama othor aja yuk, join buat jadi sadboy yang masuk ke friendzone kayak bocah tengil yang di cerita sebelah yang milih sugar nya🤧🤧
__ADS_1
Yang penting ga othor tumbalin meninggoy ya bang🤧🤧
Happy reading dari othor😘😘💕💕💕🥰🥰🥰