(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia

(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia
Chipmunk


__ADS_3

Ting!


Suara bell terdengar, pria yang bahkan masih mengusap rambut basah nya itu pun berbalik.


Langkah nya mendekat ke arah pintu dan membuka nya.


"Bianca?" Mata nya menatap ke arah gadis remaja yang penuh dengan senyuman itu.


"Aku berdiri aja? Ga di bolehin masuk?" tanya nya yang menatap ke arah pria itu saat tak ada tanda-tanda yang mengisyaratkan pada nya untuk bisa masuk.


Zayn diam sejenak, ia menarik napas nya dan kemudian membuka pintu nya lebih lebar, "Masuk."


Ucap nya yang membiarkan gadis remaja itu untuk menginjak kan kaki lagi di dalam apart nya.


"Kenapa kau ke sini?" tanya Pria itu yang mengikuti langkah kecil gadis yang seperti menganggap jika tempat itu milik nya.


"Paman abis mandi? Wangi!" jawab Bianca dengan perkataan yang tak ada hubungan nya dengan pertanyaan.


Pria itu tersentak, gadis itu tiba-tiba berbalik dan menghirup aroma di lengkung leher.


"Ada apa ke sini?" ucap nya yang menarik napas nya melihat tingkah gadis itu.


"Hum? Mau makan?" jawab Bianca dengan pertanyaan yang tampak sedikit bimbang.


"Makan?" tanya Zayn mengulang.


"Iya, tadi aku ke tempat kak Arnold terus dia ga ada di rumah jadi aku ke sini soal nya masakan Paman yang waktu itu enak!" ucap nya yang berasalan dengan berbicara lancar.


"Aku bukan koki mu, kau bisa pergi ke cafe yang di bawah atau ke restoran yang tidak jauh dari sini," ucap pria itu yang menatap ke arah gadis remaja yang memang hanya ingin beralasan saja ke tempat nya.


"Paman benci aku?" tanya nya yang menatap ke arah pria itu.


"Apa?" pria itu mengernyit saat mendengar nya, ia tak tau kenapa gadis itu menanyakan sesuatu yang bagi nya aneh untuk di dengar.


"Kenapa aku membenci mu? Aku tidak punya alasan untuk itu," tanya Zayn tak mengerti.


"Karna Paman mengusir ku," jawab Bianca dengan lirih dan tertunduk seperti tengah sedih.


Zayn menarik napas nya, ia tak bisa mengatakan apapun lagi.


"Di kulkas ku hanya ada daging dan udang selain itu isi nya sayuran. Kau mau makan apa?" tanya nya yang menyerah dan memilih mengikuti keinginan gadis itu.


Bianca langsung mengangkat wajah nya dan tersenyum, "Apa saja! Aku suka semua nya!" ucap nya yang menatap ke arah pria itu.


"Punya alergi?" tanya nya yang memastikan karna ia tau ibu gadis itu memiliki alergi dengan makanan protein tinggi jika di konsumsi cukup banyak.


Bianca menggeleng, "Tidak ada." jawab nya yang kemudian mengekor.

__ADS_1


30 Menit kemudian.


"Wah! Paman masak nya cepet juga sama kayak Daddy! Kalau Mommy yang masak pasti lama! Terus Mommy juga cuma bisa masak satu makanan lagi," ucap nya yang tertawa kecil dengan mata yang berbinar.


Pria itu tak mengatakan apapun, ia duduk tepat di sebrang meja makan berukuran sedang itu.


"Paman ga makan?" tanya Bianca yang mulai memegang piring nya dan mengambil nasi.


"Tidak, aku baru saja makan tadi." ucap nya yang menatap ke arah gadis itu.


"Benarkah?" gumam Bianca yang sedikit kecewa karena ia sebenarnya ingin makan bersama dengan pria itu.


"Kalau begitu nanti kita makan di luar bareng yuk!" ajak nya yang tak lelah.


"Kau bisa mengajak teman mu," ucap Zayn yang mengatakan penolakan secara halus.


"Tapi mau nya sama Paman!" jawab gadis itu seketika dengan wajah kesal.


Zayn tak menjawab, ia berdiri dan kemudian menunduk melihat ke arah gadis itu.


Bianca tersentak, wajah nya menengadah. Mata coklat nya menatap bulat pada pria yang tampak melihat nya dari dekat itu.


Apa ini? Apa aku beneran kelihatan cantik sekarang? Mau ciuman ya? Bukan nya terlalu cepat? Astaga!


Gadis itu berdebar namun ia juga senang, wajah nya terlihat seperti menyiapkan sesuatu tapi?


"Kenapa kau nakal sekali? Dari tadi kau terus berteriak dan keras kepala," ucap Zayn yang menjentik dahi gadis itu dan kemudian duduk kembali.


Bianca membatu, ia sudah terlalu percaya diri jika pencintaan nya akan semulus jalan tol tanpa ia tau ternyata jalan yang di lalui adalah jalan berlubang.


"Kenapa kau menutup mata? Apa mata mu sakit?" tanya Zayn yang kemudian mengernyit melihat gadis itu masih terdiam seperti jaringan yang loading.


Bianca langsung melihat dan menatap ke arah pria itu dengan tatapan kesal.


"Kenapa suka sekali memukul ku! Daddy aja ga pernah mukul!" ucap nya yang kesal sembari mengusap dahi nya.


"Tapi aku bukan Daddy mu," jawab Zayn santai sembari menyeduh teh nya.


"Ish!" Bianca tampak kesal dengan wajah yang menggerutu.


Pria itu tak mengatakan apapun, ia hanya tersenyum kecil melihat gadis yang terus menggerutu dengan suara bergumam yang tak bisa ia ketahui sambil makan itu.


Setelah beberapa saat makanan yang berada di atas meja itu mulai berkurang dan sebagian telah habis.


"Sekarang kau sudah mau pulang? Akan ku pesankan taxi," ucap Zayn yang kemudian mengambil piring kotor yang berada di atas meja itu.


"Taxi?" tanya Bianca mengulang.

__ADS_1


Pria itu menghentikan langkah nya sejenak, sesaat ia lupa dengan kejadian yang berhubungan dengan taxi.


Bianca pun tak ingat masalah perampokan di taxi yang ia alami sebelum nya karna ia sama sekali tak merasa trauma akan hal itu.


Namun ia mengulang kata tersebut karna ia masih belum mau pergi.


"Tidak, aku akan mengantar mu atau meminta kakak mu yang mengantar nanti." ucap Zayn yang langsung merevisi perkataan nya.


"Aku langsung di usir?" tanya Bianca yang menatap ke arah pria itu.


"Kau mau di sini dulu?" tanya Zayn yang menatap ke arah gadis itu.


"Iya! Lagi pula Paman tuh harus nya tanggung jawab tau! Lihat nih kening aku sakit!" protes nya dengan banyak alasan.


"Pukulan itu bahkan tidak akan membuat kucing meringis?" ucap nya yang menggelengkan kepala nya.


"Aku di samain sama kucing?!" ucap Bianca yang semakin protes karna ia tak suka dengan kucing.


Zayn meletakan piring kotor nya di mesin pencuci piring dan kemudian mendekat ke arah gadis itu.


Tap!


Bianca tersentak, kedua tangan yang besar itu menangkup pipi lembut nya di wajah yang kecil itu.


"Tidak terlihat apapun," ucap Zayn yang memang jentikan nya tak akan berbekas.


"Ta.. tapi sakit!" Bianca yang masih kukuh dengan apa yang ia katakan.


"Fuhh..."


"Hum?"


Mata coklat itu sekali lagi membatu, ia merasakan pria itu meniup dahi nya, leher dengan jakun dan rahang maskulin itu tampak begitu dekat dengan mata nya.


Aroma khas tubuh yang masih tercium wangi dengan sabun mandi tanpa adanya parfum masuk ke dalam hidung nya.


"Sekarang Paman sudah baca mantra, jadi tidak akan sakit lagi." ucap Zayn yang kemudian melepaskan tangan nya dan mundur satu langkah.


Di mata nya gadis remaja itu masih sama seperti anak-anak yang masih bermain boneka dan memakai popok maka dari itu perlakuan nya pun masih tak jauh berbeda dari yang dulu ia lakukan.


Gadis itu masih membatu, ia menatap ke arah pria yang melihat nya itu. Wajah nya terasa panas dan pipi nya terasa memerah.


"Kau benar, kau bukan kucing tapi chipmunk." ucap Zayn dengan senyuman kecil.


Bianca langsung tersentak dan tersadar mendengar nya, "Aku mirip tupai gitu?!" tanya nya yang langsung kesal padahal sedetik yang lalu ia sedang berdebar.


Pria itu tak menjawab dan hanya tertawa kecil mendengar kekesalan gadis remaja yang suka marah-marah itu.

__ADS_1


"Jangan emosian terus, aku dengar anak muda juga bisa punya darah tinggi." ledek nya yang semakin menambah kekesalan gadis itu.


__ADS_2