
Mansion Dachinko
Suara tangisan anak cantik itu terdengar keras, para pelayan yang mengasuh nya mulai kebingungan.
"Daddy..."
"Daddy mana?"
"Daddy kenapa pelgi juga?"
Tangis nya yang membuat semua pengasuh nya merasa iba.
"Daddy juga udah ga sayang Bian? Kayak Mommy?" tanya nya dengan wajah yang memerah sembab menginginkan sang ayah.
"Nona? Daddy sama Mommy nona itu sayang sekali sama nona..." ucap sang pengasuh yang menggendong anak cantik itu.
Tak mau makan dan tidur dan hanya merengek atau menangis meminta sang ayah untuk bersama nya.
Apa yang anak berumur tiga tahun itu tau?
Bagi nya, jika seseorang meninggalkan nya maka orang itu tak menyayangi nya, jika meninggikan suara nya berarti marah dan orang yang jahat.
Ia tak tau apapun tentang situasi di sekitar nya, pikiran masih begitu pendek dan kekanakan.
"Daddy nona sebentar lagi pulang kok," jawab sang pengasuh sembari mengusap punggung kecil yang gemetar karna tangis itu.
"Daddy..."
"Hiks..."
Tangis nya yang masih tak bisa di hentikan sampai ia sudah benar-benar lelah dengan sendiri nya.
......................
Mobil-mobil mewah itu mulai berdatangan, suara dari tembakan terdengar, hujan peluru di atas udara yang saat itu sangat sejuk dan cerah.
Pemandangan berdarah di atas rumput yang hijau dan bunga yang bermekaran.
"Mereka tidak di sini lagi! Cari siapapun yang masih di gedung ini!"
Suara yang terdengar memenuhi bangunan yang sudah tua dan kotor itu.
Semua tampak sulit di kendalikan, mobil-mobil itu berpencar mencoba menemukan sesuatu.
"Mereka terjun ke jurang!" jawab salah satu pria yang tadi nya menembakkan peluru ke air namun kini tampak sudah seperti akan memenuhi ajal nya.
Wajah yang setengah terbakar, jemari yang di patahkan satu persatu agar segara mengatakan apa yang di tanyakan.
"Bunuh," perintah yang dingin saat sudah mendapatkan apa yang di inginkan.
Helaian udara yang begitu terasa dingin dan sejuk, suara berisik dari senjata api itu kini sudah hilang. Saat ini hanyalah suara angin yang terdengar seperti gemuruh yang marah.
Louis berdiri di atas tebing yang memperlihatkan bekas cetak dari ban mobil yang tampak terperosok.
"Ambil kapal, kita akan cari ke sana." ucap nya yang memberi perintah.
Salah satu penjaga mendatangi nya, "Tuan? Cuaca saat ini sedang tidak bagus. Air laut pasang dan angin juga sedang tidak memungkinkan untuk memakai heli," ucap nya menjelaskan.
Duk!
Satu tendangan langsung terhempas di tulang kering pria itu yang mengatakan tentang cuaca yang menjadi kendala.
"Lalu aku harus biarkan adik ku mati?!" tanya nya dengan begitu geram.
Takut dan khawatir menyelimuti nya, baru beberapa tahun adik nya ia temukan lagi.
Menunggu nya sadar dan kembali seperti semula, lalu sekarang?
"Kali ini dia juga akan baik-baik saja..." gumam nya yang berharap sang adik akan baik-baik saja sampai ia menemukan nya.
......................
Sementara itu.
Suara ombak terdengar, tubuh yang basah kuyup dan napas yang tersengal-sengal membuat nya ingin menarik udara dengan bebas sebanyak mungkin.
Jika saja ia tak memiliki stamina yang Barus sangat sulit untuk membawa seseorang dan berenang sampai ke bibir pantai.
"Satu dua, satu dua!" gumam nya yang memompa dada gadis itu untuk membuat nya terbangun.
Tangan nya menyilang di dada dan menekan nya agar gadis itu bisa kembali sadar.
Uhuk!
Air yang keluar dari mulut nya dengan tubuh yang tersentak. Namun itu semua juga belum berakhir.
Pria itu menarik bibir gadis itu dan kembali memberikan napas buatan lagi sampai mata sayu itu benar-benar terbuka.
"Louise?" panggil nya sembari menepuk pipi gadis itu.
"Louise!"
Panggil nya sekali lagi yang lebih keras agar gadis itu menjawab nya.
"Berisik..." balasan yang terdengar lirih dengan mata yang sayu.
"Hah.." James langsung menarik napas nya dengan lega dan langsung menidurkan diri nya di atas pasir putih itu.
Ia sangat lelah dan kini baru merasakan nya saat degupan di jantung nya mereda ketika melihat gadis itu yang sudah kembali bangun.
Kedua nya tak saling menanyakan kondisi satu sama lain dan masih diam seperti tengah mencari udara masing-masing lebih dulu.
...
Satu jam kemudian.
"Kita di mana?"
Tanya Louise saat tenaga nya kembali dan ia pun yang sudah tenang.
"Darat," jawab James singkat yang masih menidurkan diri nya di atas pasir putih sedangkan gadis itu sudah bangun dan duduk.
"Bukan itu jawaban yang ku mau," ucap Louise sekali lagi.
"Entahlah, aku cuma cari daratan untuk kita." jawab James yang memang tak tau sekarang mereka sedang berada di bibir pantai yang mana.
"Kita akan mati?" tanya nya lirih dengan menoleh ke arah pria itu.
"Tidak, kau tidak akan mati." jawab pria itu yang menoleh ke arah gadis dengan wajah yang terlihat pucat itu.
"Mereka akan segera menemukan kita..." sambung nya lirih pada gadis itu.
"Kalau yang duluan menemukan kita dia lagi? Bukan kakak ku atau orang mu?" tanya Louise menatap ke arah pria itu.
"Aku akan membunuh yang datang dan tetap menjaga mu sampai mereka menemukan kita." jawab James sekali lagi.
"Ya, mereka akan menemukan kita..." ucap Louise yang tak mengatakan apapun tentang racun yang masuk ke dalam pembuluh darah nya melalui suntikan.
"Tapi..." sambung nya yang menatap ke arah pria dengan pakaian yang tampak sobek di beberapa tempat akibat terkena pelesetan peluru.
"Kenapa?" tanya James yang menatap ke arah wajah gadis itu.
__ADS_1
"Kau baik-baik saja?" tanya Louise yang beranjak memegang dengan sendiri nya ke arah lengan pria itu.
Greb!
James menangkap tangan gadis itu dan mulai bangun.
"Aku baik-baik saja." ucap nya yang tak mau gadis itu melihat ke balik pakaian nya yang penuh dengan luka.
"Kau sendiri? Dia memukuli mu?" tanya nya yang melihat wajah gadis itu memiliki lebam di pipi seperti bekas tamparan dan luka di dahi.
"Ini? Kalau ku bilang siapa yang melakukan nya kau akan percaya?" tanya nya yang menunjuk ke arah luka nya.
James tak mengatakan apapun melainkan mata dan wajah yang hanya ingin mendengar siapa yang memukuli wajah gadis itu.
"Kekasih kesayangan mu itu yang melakukan nya," ucap Louise sembari menatap ke arah wajah pria itu untuk melihat reaksi nya.
"Bella?" tanya James memastikan.
"Ya," jawab Louise yang begitu singkat dan padat.
James sempat terdiam, sekarang ia semakin tak bisa mengenal mantan kekasih nya itu lagi. Mulai dari memukuli anak nya sendiri, bersikap seperti kehilangan harga diri nya dan sekarang?
"Aku juga akan membalas nya nanti," ucap nya lirih pada gadis itu.
Louise tersebut tipis mendengar nya, "Kalau aku tidak keluar dari sini, kau yang akan memukuli juga kan? Lakukan yang sama seperti yang dia lakukan pada ku." ucap nya lirih.
James tak mengatakan apapun lagi namun ia melihat raut wajah gadis itu.
"Kau baik-baik saja kan?" tanya nya mengernyit melihat gadis itu.
Louise menggeleng, "Mana ada yang baik-baik saja setelah di culik terus keluar dari peluru yah terbang sekarang malah jatuh ke laut sama terdampar." ucap nya pada pria itu.
James menghela, benar juga apa yang di katakan oleh gadis itu.
Siapa yang akan baik-baik saja mengalami peristiwa demikian?
"Aku lapar, kita cari makanan?" tanya nya menatap ke arah pria itu.
"Makanan?" tanya James yang langsung bangun dan melihat ke arah hutan di balik bibir pantai itu.
"Kita cari hewan saja? Aku tidak tau tentang tumbuhan." ucap nya yang takut salah mengambil buah beracun.
"Hm," jawab Louise mengangguk.
Kaki nya yang lemas mulai berdiri, walaupun belum mendapatkan tenaga yang pulih banyak namun ia setidak nya sudah lebih baik.
"Tunggu!" ucap nya yang mengehentikan langkah nya.
Siluet besaran yang cukup memanjang terlihat di perut bagian samping pria itu.
"Ini kenapa?" tanya nya yang menepis bagian jas yang menghalangi pandangan nya.
James berusaha menarik nya lagi dan menutupi nya namun gadis itu sudah kembali menarik nya.
"Astaga!" ucap gadis itu yang tersentak.
"Ini yang baik-baik saja?" tanya nya sembari memukul ke arah luka yang terlihat cukup dalam akibat besetan dari mobil yang tenggelam di laut itu saay ingin keluar.
Ack!
James meringis tanpa sadar dengan suara kecil, "Kalau di biarkan bisa infeksi..." ucap nya yang membuka jas pria itu dan memaksa untuk membuka keselurahan.
"Kau membuka pakaian pria sembarangan?" tanya nya pada gadis yang mengobati luka nya dengan bahan seada nya.
"Memang nya kau bisa apa?" jawab Louise lirih yang terlihat tak mendengarkan.
"Aku masih bisa melakukan banyak hal, apa lagi dengan mu." jawab James sembari membuang wajah nya pada luka besetan di perut samping nya.
Tengg....
Apa racun nya sudah berkerja? Atau mungkin aku memang tidak sehat?
"Louise?" panggil James saat melihat gadis itu yang seperti berhenti mengobati nya dan terdiam sejenak.
"Ya?" Louise menoleh, semua nya berlangsung cepat dan saat ini kembali baik-baik saja.
Memang efek racun tak langsung mematikan seperti sianida atau racun pestisida.
Racun yang membunuh secara perlahan dalam waktu tiga hari dan tidak akan terlihat seperti kematian dengan racun.
Louise menutup luka di perut pria itu dan dan saat ini kembali menatap nya.
"Kau kenapa?" tanya James saat melihat wajah gadis itu semakin pucat.
Ia tak melihat sama sekali jika ada yang di suntikan ke tubuh gadis itu karna dari siluet pandangan nya hanya melihat jika Louise di cekik saja.
"Lapar," jawab Louise yang mengatakan hal lain tentang kebenaran yang ia rasakan.
Karna saat ini ia memang lapar.
"Ayo, kita cari makanan." ucap James yang beranjak bangun dan membawa gadis itu.
Ia takut meninggalkan Louise sendirian karna teringat dengan kemungkinan jika mungkin komplotan Alex yang menemukan mereka lebih dulu.
Louise diam saja, ia tak banyak memberontak ataupun memarahi pria itu seperti biasa nya.
"James? Yang dia bilang tentang dulu itu benar?" tanya nya mendekat ke arah pria yang berjalan berdampingan dengan nya.
"Apa? Tentang aku memperk*sa adik nya?' tanya James mengernyit.
Louise mennagguk karna ingin mendengar nya.
"Tidak, aku tidak melakukan nya dan satu-satu nya yang pernah ku paksa untuk tidur bersama cuma kau." jawab nya dengan wajah yang sama sekali seperti bukan candaan.
"Benarkah? Kalau begitu aku akan percaya." ucap nya mengangguk lirih.
"James?" panggil nya lagi saat pria itu tengah mematahkan ranting pohon agar mereka bisa lewat.
"Ya?" jawab pria itu singkat.
"Kau itu seperti mafia ya? Jangan-jangan mafia beneran? Kan banyak tembak-tembakan nya." ucap Louise absurd
James menoleh ke belakang, wajah gadis itu terlihat tersenyum tanpa beban membuat nya sedikit bingung.
Ia menatap dengan memiringkan kepala nya dan sedikit menggeleng.
"Apa kepala mu juga geser?" tanya nya dengan bingung dengan tingkah yang tidak seperti biasa nya.
"Uhh, Papa mafia nya marah..." ledek gadis itu dan berjalan mendahului pria itu.
James kehabisan kata-kata, ia tak tau apa yang harus ia ucapkan pada gadis itu.
"Kita harus cepat sebelum malam," ucap nya yang bergegas.
...
Api yang menyala, angin yang mulai dingin dengan pakaian yang kering dengan sendiri nya.
Gadis itu mengusap hidung nya berulang kali yang terus saja menjatuhkan darah segar.
"Louise? Kau sedang apa? Ke sini."
__ADS_1
Panggil pria itu yang sudah membakar dua tupai besar di atas api yang di hidupkan dan mendestilasi air seadanya nya agar mereka bisa minum.
"Iya, sebentar!" teriak Louise yang membelakangi dan berada di dekat bibir pantai agar lebih mudah membersihkan darah yang keluar tiba-tiba dari hidung nya.
Ia membersihkan nya dengan cepat dan berbalik kemudian mendekati api yang bisa hidup tanpa korek itu.
"Cara nya ngidupin api nya gimana?" tanya nya yang baru datang setelah ia rasa tak ada lagi darah yang keluar dari hidung nya.
"Cara nya datang sendiri karna mau hidup," jawab James singkat.
"Kita tidak apa-apa makan ini?" tanya Louise yang menatap tak yakin dengan tupai besar yang di bakar itu.
"Lagi pula kita juga bukan makan bisa ular," jawab James yang mengatakan secara tak langsung jika mereka akan baik-baik saja walau memakan daging tupai.
Louise memamgguk kecil, "Mau main truth or dare?" tanya nya yang menawarkan sesuatu saat makanan itu sudah matang.
"Truth or dare? Kau mau main itu?" tanya nya yang bingung melihat gadis itu yang seperti tanpa beban dan mirip anak kecil.
"Ya, kita suit dulu untuk tau mana yang memang mana yang kalah." ucap Louise.
James mengangguk, ia menurut saja dengan permainan kekanakan gadis itu.
"Kalah! Mau Truth or Dare?" tanya gadis itu menyuruh pria itu memilih antara jujur atau tantangan.
"Truth," jawab James singkat.
Louise memutar mata nya ke atas, ia mencoba mencari sesuatu untuk di tanyakan.
"Kapan pertama kali kau tidur dengan wanita?" tanya nya yang memikirkan hal yang acak.
Jika diri nya sendiri sudah jelas kalau pria yang ada di depan nya lah yang mengambil perawan nya, namun pria itu?
"Kau serius mau tanya hal seperti itu?" tanya James mengernyit.
"Aku kan mau tau." jawab Louise enteng.
"Waktu kelas dua di tingkat sekolah akhir," jawab pria itu sembari membuang napas nya.
"Berarti masih 18 tahun ya? Sama siapa? Bella?" tanya nya mengulang namun terlihat jelas wajah pria itu tak ingin mengatakan apapun.
"Ya," jawab nya singkat tanpa tambahan komentar apapun.
Louise diam sejenak, "Kau dulu sangat menyukai nya?" tanya nya lirih yang tampak berubah dari suasana wajah nya.
James diam sejenak, "Jika dulu jawaban nya Ya..."
Louise membatu sejenak, salah nya sendiri yang bertanya tentang cinta pertama pria itu.
"Terus lebih suka tidur sama aku atau dia?" tanya nya tiba-tiba.
James hampir tersedak mendengar nya, "Kau tanya terlalu banyak. Bukan nya sekarang harus mulai lagi?" ucap nya yang mengalihkan pertanyaan karna apapun yang akan ia jawab pasti nya akan salah.
"Iya..." jawab Louise yang menatap ke arah pria yang tampak tak ingin menjawab nya.
Suit kedua di mulai dan kali ini gadis itu yang kalah karna mengeluarkan kertas saat pria itu mengeluarkan gunting.
"Truth or Dare?" tanya James pada gadis yang tampak tak terima karna kalah itu.
"Truth," jawab Louise yang terlihat kesal dan ingin suit ulang.
"Kau lebih suka tidur dengan ku atau tunangan mu itu?" tanya nya dengan pertanyaan yang sama.
Mata hijau yang tampak hitam saat malam itu lambung membulat.
"Kau balas dendam?" tanya nya saat mendapatkan pertanyaan yang sama.
"Aku kan cuma tanya," jawab James dengan dalih yang sama.
"Ganti! Yang lain!" jawab gadis itu yang enggan menjawab.
James menghela napas nya, ia merasa gadis itu tengah tak ingin membahas pertanyaan yang memang tak bisa di jawab.
"Kalau begitu kau harus jawab kali ini," ucap nya dengan Kilauan mata yang tampak beda.
"Kau benar-benar tidak mencintai ku lagi?" tanya nya pada gadis itu.
Louise terdiam, makanan yang belum habis di atas daun namun ia yang seakan tak ingi memakan nya lagi.
"Apa itu penting?" tanya nya dengan senyuman tipis dan membuang wajah nya ke sisi laut.
"Ya, itu sangat penting untuk ku." jawab James yang memang terlihat sangat menginginkan jawaban nya.
"Aku tidak bisa memaafkan mu, bukan tidak bisa tapi sulit." jawab nya lirih.
"Karna aku membuat mu terlalu sakit?" tanya James lirih.
"Bukan aku, tapi Louis." jawab nya dengan suara yang terdengar rendah. "Kalau aku mungkin bisa saja memaafkan mu, tapi kau mau membunuh kakak ku..." sambung nya lirih.
"Aku memohon untuk tidak menganggu nya dan sebagai ganti nya kau bisa membalas nya pada ku, tapi kau? Kau mau semua nya." ucap Louise lirih.
"Lalu aku harus apa?" tanya James pada gadis itu yang tak tau lagi harus melakukan apa agar gadis itu mau lagi bersama nya.
"Coba buat dia memaafkan mu," jawab gadis itu dengan senyuman tipis.
"Lalu kau? Bagaimana dengan mu?" tanya nya pada gadis yang duduk di depan nya.
"Hum? Aku akan memaafkan mu tapi untuk percaya dengan mu lagi sangat sulit." ucap nya pada pria itu.
"Tiba-tiba?" tanya James mengernyit saat gadis itu mengatakan memaafkan nya sekarang.
"Ya, jadi kalau misal nya aku mati tiba-tiba kau tidak menyesal terlalu banyak jadi Bianca bisa punya Daddy yang normal." jawab Louise dengan tawa ringan.
"Aku tidak bercanda!" ucap James saat melihat gadis itu terkekeh walau ia sebenar nya sedang tak bercanda sama sekali.
"Aku juga," sambung Louise dengan senyuman yang kini tampak menipis.
"Oh iya, nanti kalau kau bertemu Bianca bilang pada nya kalau aku menyayangi nya juga." ucap nya pada pria itu.
"Kau bisa bilang sendiri, dia akan lebih suka kalau kau yang mengatakan nya." ucap nya pada gadis itu.
"Kalau aku tidak sempat bilang saja." jawab Louise dengan senyuman tipis.
James diam sejenak, ia menarik napas nya. Walaupun gadis itu menjawab nya namun sejak awal itu bukan jawaban dari pertanyaan nya.
"Lalu? Jawaban mu? Kau tidak mencintai ku lagi?" tanya nya mengulang.
Louise diam sejenak, ia tak menjawab nya pertanyaan pria itu dan malah menatap nya.
"Louise? Kau har- Humph!"
Pria itu tersentak, gadis itu beranjak mendekat pada nya secara tiba-tiba dan mencium bibir nya.
Tak butuh waktu lama untuk nya memahami situasi atau keinginan untuk menolak nya.
Tangan nya beranjak memegang pipi gadis itu dan menarik pinggang ramping nya untuk membuat nya lebih dekat dengan nya.
Kali ini tak ada satu pun yang di katakan, suara decakan dari lidah bertaut dan bibir yang mel*mat satu sama lain itu terdengar.
Ada apa dengan nya?
Tapi...
__ADS_1
Apapun itu, aku harap waktu berhenti saat ini...
Aku ingin memeluk nya lagi...