(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia

(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia
Aku tidak bisa berhenti


__ADS_3

Tiga hari kemudian.


Suasana berkabung terlihat jelas, hanya sedikit orang yang datang karna kematian putri bungsu perusahaan dan rumah sakit ternama itu di rahasiakan.


"Louise? Siapapun yang buat kamu jadi begini, kakak bakalan balas..." ucap nya lirih dengan kesedihan dan rasa amarah yang memuncak.


Louis tak mengabarkan atau memberi konfirmasi atas berita meninggal nya sang adik, hal itu di lakukan agar tak terjadi keributan antara para dewan karna hanya tinggal ia sendiri.


Berita yang ia konfirmasi saat ini hanya lah sang adik yang mengalami kritis pasca kecelakaan dan hanya orang terdekat lah yang tau pemakaman gadis itu.


Ia terpaksa melakukan pemakaman lebih cepat karna tubuh yang hancur itu tak bisa di biarkan terlalu lama.


...


Bau dari obat-obatan rumah sakit tercium mengelilingi pria itu, ia membuka mata nya.


Suara monitoring dari alat yang berada di dekat nya terdengar dengan samar dan semakin jelas.


"Zayn?"


Suara dari wanita yang merawat nya sejak kecil terdengar ketika ia sadar.


Melihat pergerakan dari tubuh putra nya Larescha pun langsung berteriak memanggil dan mencari dokter untuk dan memeriksa putra nya.


.....................


Sementara itu.


Prang!


"Dia sudah mati?!" Alex merasa begitu kesal.


Entah mengapa ia marah sekaligus tidak rela gadis itu mati begitu saja, entah itu sebuah kecemburuan penjahat yang tidak rela mangsa nya di serang oleh yang lain.


"Kalau dia mati harus nya aku yang bunuh! Sialan!" umpat nya dengan kesal.


Napas nya naik turun dan mata tajam nya menatap ke arah televisi melihat berita lain nya.


"Kritis?" ucap nya dengan bingung.


Konfirmasi yang di berikan oleh JBS grup berbeda dengan berita yang memberikan keterangan jika gadis itu sudah meninggal.


"Benar, dari pada mati dia harus kritis saja. Aku masih bisa membunuh atau memiliki nya.


......................


Mansion Dachinko.


Gadis itu terdiam melihat ke arah sinar yang masuk dari balkon dan jendela kaca yang terbuka dengan angin yang bertiup.


"Aku harus keluar..." gumam nya lirih.


Ia tak mau berada di tempat yang bagaikan terkurung bersama singa yang siap melahapnya kapan saja.


Suara ketukan pintu terdengar, namun tak aja jawaban atau hirauan sama sekali.


"Nona? Tuan meminta anda untuk turun dan makan malam bersama." ucap salah satu pelayan pada gadis itu.


Louise bergeming, ia tetap diam tak bergerak sedikitpun ataupun peduli dengan ucapan yang baru ia dengar.


Merasa tak ada respon pelayan tersebut pun mulai berbicara dengan hormat lagi, "Tuan berkata kalau anda tidak turun sendiri anda akan di seret lagi." ucap nya kembali mengingatkan.


Wajah gadis itu memutar dan menatap dengan senyuman kosong, "Benarkah? Dia tidak takut anak nya terluka kalau terus kasar pada ku?"


Pelayan tersebut tak mengatakan apapun melainkan mulai memanggil pengawal berbadan tegap yang siap untuk membawa gadis itu.


"Lepas!" gadis itu memberontak, ia benci di tarik ataupun di bawa dengan paksa oleh orang lain seperti peliharaan.


"Aku jalan sendiri!" ucap nya sembari mulai berjalan turun.

__ADS_1


Langkah nya sedikit melambat, pria yang menunggu di depan meja makan berukuran besar dan makanan yang di sediakan dengan banyak dan terlihat lezat namun tak bisa menggugah selera nya sama sekali.


"Ku kira kau akan membuat drama lagi," ucap James saat melihat gadis itu datang.


Louise masih berdiri dan enggan untuk duduk namun saat kursi nya di tarik dan bahu nya di turunkan membuat tubuh nya langsung duduk dengan sendiri nya.


"Aku tidak mengerti, kenapa kau harus seperti ini pada ku? Berita kematian? Kenapa berusaha membohongi dunia?" tanya gadis itu dengan mata tajam dan tangan yang gemetar antara marah dan juga luapan emosi yang meningkat.


"Kalau kau mati tidak akan ada yang mencari mu kan? Bahkan kalau aku mengurung mu seumur hidup pun tidak akan ada yang tau, kenapa? Karna Elouise Steinfeld Rai sudah mati." ucap pria itu dengan senyuman tipis.


Gadis itu menatap tajam, wajah yang pucat tangan yang bergetar karna marah dan mata yang mulai berkaca.


"Kau merasa tidak adil? Oh iya tadi kau tanya kenapa aku seperti ini pada mu kan?"


"Karna aku harus menemui anak ku, aku tidak mau dia memanggil orang lain sebagai ayah nya." ucap pria itu dengan senyuman.


"Anak mu? Yang ada di tubuh ku itu adalah anak ku, tidak ada hubungan nya dengan mu." ucap gadis itu sembari berusaha menarik napas nya dan menenangkan diri nya.


"Benarkah? Kalau kau begitu yakin kenapa tidak kita tes saat dia lahir? Atau kalau tidak sabar kita bisa tes DNA sewaktu di kandungan kan?" tanya James dengan senyuman nya.


"Padahal kau sudah punya anak kan? Kenapa harus mengambil anak ku juga?" tanya Louise sembari menatap pria itu.


James diam tak menjawab pertanyaan tersebut, ia memang memiliki anak yang ia adopsi namun anak itu bukanlah anak biologis yang ia hasilkan dari darah nya.


"Kau bilang kalau kau membenci ku? Lalu bagaimana dengan anak ku? Apa dia juga alat balas dendam mu?" gadis itu menukar pertanyaan yang ia layangkan.


"Balas dendam? Aku tetap akan melakukan nya, tapi aku tidak akan melakukan nya pada anak ku, karna juga ada darah ku kan?" ucap pria itu sembari menatap mata yang melihat nya dengan luapan emosi yang tertahan.


"Kau akan membunuh ku setelah anak ku lahir?" tanya gadis itu lirih, "Aku sampai lupa sesuatu, kenapa aku bertanya seperti itu?" tawa gadis itu dengan menahan tangis nya.


"Wanita yang sangat kau cintai itu kan sudah kembali, tentu saja kau akan membunuh ku juga kalau anak ku lahir kan? Lalu membesarkan nya dengan wanita itu?" tanya nya dengan tawa namun tangan nya berulang kali mengusap air mata nya.


Pria itu tak mengatakan apapun, membiarkan gadis di depan nya terus membenci nya dan salah paham dengan perasaan yang bahkan tak pernah ia ungkapkan.


"Aku akan membunuh kakak mu sebagai ganti nya," ucap nya pada gadis yang sedang tertawa dan menangis secara bersamaan.


Deg!


"Kau tidak dengar? Akan ada saat nya aku melempar mayat nya di depan mata mu." ucap pria itu tersenyum.


Gadis itu tersentak, walaupun tersenyum pandangan mata itu seakan-akan benar ingin mewujudkan nya.


"Aku saja tidak cukup? Kau tidak puas jika hanya membunuh ku? Untuk dendam sialan mu itu?!" tanya gadis itu yang merasa begitu marah melihat ekspresi pria di depan nya yang tersenyum namun terlihat dingin.


"Apa aku pernah bilang akan membunuh mu? Aku tidak mungkin membunuh ibu dari anak ku kan?" tanya nya sembari menahan dagu gadis itu agar menatap nya.


"Menahan ku di sini sama saja membunuh ku," ucap Louise yang tau jika diri nya memiliki ketergantungan obat yang harus di masukkan dalam tubuh nya tepat waktu.


James tersenyum, "Aku sudah tau penyakit mu, obat nya juga sudah ku temukan."


"Jadi aku tidak akan membiarkan mu mati," sambung nya menatap gadis di depan nya.


"Kau mau aku melahirkan anak mu, lalu mengurung ku dan membunuh kakak ku?" tanya gadis itu tak percaya.


James tak menjawab nya, ia tak bisa berhenti dari balas dendam dan masa lalu yang selalu mengikat leher nya dan terus menghantui nya.


Namun ia juga tak bisa membunuh gadis di depan nya seperti yang seharusnya, maka dari itu ia memilih untuk mendapatkan kedua nya, dendam sekaligus cinta nya.


"Egois, kau pria yang paling egois yang pernah ku temui." ucap Louise lirih menatap pria itu.


"Benarkah? Kalau begitu kau bisa beri tau cara nya?" tanya pria itu menatap mata gadis yang melihat nya dengan tatapan amarah.


Cara agar aku bisa melupakan nya...


Batin pria itu yang tak bisa mengucapkan nya sama sekali, kenangan yang ia lihat dengan mata kepala nya sendiri terus menghantui nya dan bahkan sangat sulit untuk ia lepaskan seberapa banyak usaha yang sudah ia lakukan.


Kenangan yang menjadi trauma terburuk nya itu tentu nya menjadi belenggu terkuat yang terus menyiksa nya setiap kali ia menutup mata.


"James? Kau tau? Dendam itu seperti meminum air laut, sebayak apapun yang kau minum kau akan tetap haus..."

__ADS_1


"Dan kau tau? Pada akhirnya itu hanya akan menghancurkan mu sendiri..." ucap nya pada pria di depan nya.


"Hancur? Kau mungkin tidak tau, tapi aku sudah hancur berulang kali..." ucap pria itu menatap mata yang melihat nya.


Pria itu menarik napas nya dan kembali menatap makanan nya, "Lanjutkan makan mu dan jangan berpikir bodoh untuk kabur, kalau kau melakukan nya aku akan membuat mu tidak bisa berjalan lagi." ucap pria yang bersungguh-sungguh dengan ucapan nya.


...


Pukul 01.35 am.


Tubuh yang berkeringat, napas yang terdengar berat seperti tengah berlari puluhan mil jauh nya.


Deg!


Tubuh yang tersentak dengan mata yang terperanjat terbuka. Pria itu menarik napas nya dan mengatur nya dengan menatap ke arah langit-langit kamar mewah itu.


"Kenapa sekarang aku mimpi hari itu lagi?" ucap nya lirih.


Tak pernah ada yang menyuruhnya untuk menjadi seperti sekarang ataupun membalaskan dendam dengan cara yang brutal.


Kedua orang tua yang ia sayangi serta paman bibi dan sepupu yang merawat nya dengan kasih sayang seperti kelurga sesungguhnya mungkin tak akan mau melihat diri nya yang sudah berusaha untuk di selamatkan agar tetap hidup menjadi seperti sekarang bahkan mungkin membalas dendam sampai pada akhir nya melukai diri nya sendiri.


Namun, tak ada yang mengatakan hal itu pada nya. Orang-orang yang ia sayangi tak lagi bisa mengatakan untuk melepaskan semua yang ia lihat dan ia rasakan.


Guncangan psikologis, trauma berat, rasa amarah dan kesedihan yang menumpuk serta menjadi bibit yang berada di dalam diri nya menumpuk dan hidup di lingkungan yang membuat nya merasa tidak adil.


Bahkan berbuat baik pun pada akhirnya malah membuat nya menjadi narapidana atas tuduhan yang bahkan tak pernah ia lakukan.


Langkah nya tanpa sadar mulai berjalan, ruangan kamar tidur yang hanya berada di samping tempat nya itu membuat nya begitu mudah memasuki nya.


Wajah yang masih terlihat pucat tanpa polesan make up, serta mata yang terlihat tidur dengan tenang dan nyenyak karna di berikan obat tidur saat makan malam.


"Pada akhirnya aku menemui mu lagi..." ucap nya lirih yang tanpa sadar pada akhirnya kembali menemui gadis itu.


Tangan nya mulai beranjak menyentuh pipi yang halus dan lembut serta pucat itu secara perlahan.


"Egois? Ku rasa aku benar-benar egois..."


"Kau bisa katakan bagaimana cara nya agar aku berhenti? Aku sekarang mulai takut dengan diri ku sendiri..."


"Tapi aku juga masih tidak bisa berhenti..."


Ucap pria itu lirih, tangan nya mengelus wajah yang terpejam itu dengan ujung jemari nya secara lembut.


Sentuhan yang membuat nya merasa tenang, hasrat yang memiliki dan menghancurkan sekaligus.


Pria itu mulai mendekat dan beranjak mencium dahi gadis itu dengan dalam dan cukup lama.


...****************...


Mau kasihan sama babang James karna dia juga korban tapi kelakuan nya juga jadi pengen othor sentil ginjal nya๐Ÿ˜Œ๐Ÿ˜Œ


Ntar kehilangan baru kicep nyari nya, waktu ada di sakitin terus๐Ÿ˜Œ๐Ÿ˜Œ


Maaf yah up nya tak menentu, bulan depan deh tunggu side Story cerita sebelah Uda selesai wkwk


Happy reading๐Ÿ’•๐Ÿ’•๐Ÿ’•


...


Bonus nih othor kasih visual mereka yang lagi mirror Selfie



Athan James Dachinko / Xavier Haider Dachinko



Elouise Steinfeld Rai

__ADS_1


__ADS_2