(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia

(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia
Tanggung jawab


__ADS_3

Zayn memarkirkan mobil nya, suara dari senandung gadis itu terdengar ruang seakan tengah begitu menyukai kencan ala-ala nya malam ini.


"Sekarang sudah tidak marah lagi?" tanya Zayn sembari menyadarkan kepala nya di atas stir mobil nya agar bisa melihat ke arah gadis itu.


Bianca menoleh, senyuman nya tampak cantik dan terlihat jelas wajah yang yang senang.


"Paman? Paman?" panggil nya seperti anak kecil yang memanggil sang ibu.


"Ya?" Zayn menjawab dengan nada yang selalu terdengar lembut.


"Pacaran yuk? Sama aku," ajak Bianca yang tampak dengan polos seperti mengajak membeli permen di pinggir jalan.


Zayn tertawa kecil mendengar nya, "Nanti kalau kau sudah dewasa kau pasti akan menyesali ajakan mu barusan." ucap nya yang tertawa melihat gadis itu.


"Kenapa?" tanya Bianca mengernyit.


"Karna kau akan menemukan banyak pria yang lebih menarik lagi, mungkin lebih tampan dan tentu nya lebih muda dari ku." ucap Zayn yang menatap ke arah gadis yang selalu tampak bersemangat itu.


"Tapi kan belum di coba! Masa Paman ga mau coba sih? Aku jelek apa?" tanya Bianca yang langsung mengerucut karna ia tak setuju dengan apa yang di katakan oleh pria di depan nya.


"Tidak, kau itu cantik. Cantik sekali..."


"Maka dari itu kau harus dapatkan pasangan yang sesuai untuk mu." jawab Zayn yang menatap ke arah kekesalan anak remaja itu.


"Paman kan sesuai, tampan, kaya, have a hot body sama kepribadian baik! Cocok ga pakai tawar menawar lagi!" ucap Bianca yang tampak bersemangat.


Zayn hanya menarik napas nya, ia mengusap kepala kecil itu dan kemudian mengantar nya kembali.


......................


Mansion Dachinko


"Dari mana?"


Bianca tersentak, sang ayah belum tidur dan menunggu nya.


"Main Dad, sama temen." jawab gadis itu dengan kebohongan yang lancar seperti air yang mengalir.


"Main sama teman nya yang dua kali lipat ya usia nya?" tanya James yang melihat ke arah putra nya.


"Kalau aku main sama anak umur satu tahun lebih aneh lagi loh Dad..." ucap Bianca pada sang ayah yang tentu tak akan mendengarkan nasihat pria itu.


"Lagian Daddy juga kenapa sih? Sensitif banget sama Paman Zayn? Dia baik loh?" ucap nya yang tak mengerti rasa khawatir sang ayah.


"Kau mirip dengan Mommy mu," Ucap James yang menatap ke arah putri nya.


"Kan aku anak nya, mirip lah! Kalau aku mirip. nya sama istri tetangga baru perlu di pertanyakan Dad!" ucap Bianca pada sang ayah.


"Dan dia sangat mencintai Mommy mu, lebih dari yang kau bayangkan." ucap James sekali lagi.


Deg!


Bianca tersentak, kali ini tak ada jawaban yang ia keluarkan dari mulut nya.

__ADS_1


"Dan kau tanya kenapa aku sangat sensitif? Aku tidak mau kau terluka, kalau dia bersama mu untuk alasan ingin balasan dendam pada ku atau mungkin katakan saja kalau dia tidak memiliki dendam tapi?"


"Ada anak perempuan yang mirip dengan wanita yang dia cintai lalu mengejar nya, kau tidak tau apa yang di pikiran pria." ucap James yang menatap ke arah putri nya.


Bianca terdiam seribu bahasa, ia tak mengatakan apapun dan hanya melihat dengan mata coklat nya.


Di bandingkan mengomeli nya sekarang sang ayah lebih mendekat ke arah memberikan peringatan.


"Mungkin akhir terburuk kau akan jadi pelampiasan, kau yakin baik-baik saja dengan itu? Aku tidak akan peduli kalau kau putri orang lain, tapi sekarang kau putri ku!" ucap James yang menarik napas nya.


"Pria baik pun pasti terkadang punya pikiran yang brengsek sesekali, jadi aku tidak ingin kau membuat cela agar dia bisa berpikir seperti itu." ucap nya yang kemudian berbalik dan ingin membiarkan putri nya berpikir.


Bianca masih berada di tempat nya tanpa beranjak sedikit pun.


"Berarti Daddy juga brengsek?" tanya nya yang membuat sang ayah menghentikan langkah nya.


James berbalik menatap ke arah mata yang tampak kukuh itu, entah akan terbakar atau membeku namun terlihat tak peduli sama sekali.


"Kalau dia memang mencintai Mommy sampai seperti itu kenapa dia melepaskan pernikahan nya? Daddy tidur sama Mommy waktu Mommy masih ada hubungan sama Paman Zayn?" tanya Bianca yang menatap ke arah sang ayah.


James diam sejenak, "Ya, aku meniduri nya dan aku juga menawarkan jadi selingkuhan nya waktu itu. Aku juga pernah punya pikiran untuk membunuh nya sama seperti kau membawa wanita itu untuk di jual."


Bianca terdiam dan kehabisan kata-kata untuk sang ayah.


"Aku benar-benar brengsek maka dari itu aku takut kalau putri ku bertemu dengan orang seperti ku." ucap James pada putri nya.


Bianca diam sekali lagi, ia menarik napas nya dan mendekat pada sang ayah.


"Tenang aja, kalau Daddy pria brengsek aku bakal jadi wanita brengsek jadi bukan aku yang terluka." ucap nya yang memberikan senyuman kecil lalu beranjak pergi walaupun perkataan sang ayah sudah mempengaruhi nya.


"Kau pikir orang brengsek tidak akan terluka? Seharunya aku menyikat otak mu agar lebih bersih dulu," gumam James yang melihat putri nya yang begitu keras kepala.


...


Bianca menjatuhkan tubuh nya, ia kehabisan kata-kata.


Ucapan sang ayah masuk ke dalam pikiran nya namun ia tetap tidak bisa menyerah begitu saja sampai rasa penasaran ataupun rasa keinginan nya terpenuhi.


"Suka ya? Memang nya secinta apa sih dia sama Mommy?" gumam nya dengan wajah cemberut yang merasa kesal dengan kata-kata itu.


......................


Dua hari kemudian


Apart Sky Blue


Zayn menarik napas nya, ia mendengar ajakan yang sama dari gadis berusia 17 tahun yang tak merasa lelah.


"Bianca-"


"Jangan gunakan umur sebagai alasan," potong gadis itu dengan cepat dan tatapan mata nya yang menyilang tajam.


Zayn diam, ia meletakkan kuas nya dan beranjak mencuci tangan nya sedangkan gadis itu mengekori nya di belakang.

__ADS_1


"Paman ga mau sama aku karena benci Daddy? Atau masih suka sama Mommy?" celetuk nya saat pria itu masih mencuci tangan nya di wastafel.


Tap!


Suara guyuran air itu terhenti seketika, pria tampan itu tampak terdiam sejenak saat mendengar nya.


"Siapa yang bilang begitu?" tanya nya yang langsung menatap ke arah mata coklat yang bulat itu.


"Kalau masih suka sama Mommy kan bisa sama aku, aku mirip sama Mommy, secara wajah." dengan senyuman kecil nya saat mengatakan tentang wajah cantik nya itu.


Zayn menggeleng mendengar nya, "Kau itu masih terlalu muda jadi kau tidak atau apa yang baik atau buruk untuk mu."


"Kalau begitu paman bisa beri tau apa yang baik atau buruk untuk ku," ucap nya dengan senyuman tipis dan langkah yang mendekat pada pria itu.


"Kalau begitu aku akan katakan, kau tidak menyukai ku. Itu hanya rasa penasaran dan karna kau tidak bisa mendapatkan kau menjadi lebih semangat." ucap Zayn yang menatap ke arah gadis remaja itu.


Bianca terdiam sejenak dan kemudian tersenyum, "Tapi ku rasa tidak sesimpel itu? Paman tau?"


"Aku biasa nya menghancurkan sesuatu yang tidak bisa ku miliki agar orang lain tidak bisa miliki juga," sambung nya dengan suara berbisik dan senyuman manis.


Zayn mengernyit, ia menatap ke arah gadis itu sesaat dan tampak bingung dengan apa yang di katakan nya.


"Jadi paman..."


"Kesimpulan nya kenapa Paman ga coba mulai aja dulu kan sama aku, mana tau paman suka? Aku bantu paman buat lupain Mommy atau mantan paman deh." ucap Bianca dengan senyuman manis.


Pria itu masih terdiam, ia beranjak mendorong pelan tubuh kecil dan berjalan menjauh.


"Kau bukan tipe ideal ku dan kau tau kan ada beberapa hal yang tidak bisa kau lakukan," ucap Zayn yang sekali lagi menggunakan alasan yang tidak bisa di bantah.


Bianca terdiam, ia melihat ke arah pria yang mulai menata cat lukis nya dan mengisi nya untuk di gunakan lalu duduk kembali di depan lukisan itu.


"Tidak bisa ya? Bagaimana kalau dengan ini?" gumam nya yang mendekat dengan langkah cepat.


Greb!


Tangan kecil itu menangkup dan memegang pipi pria yang duduk di depan canvas itu, lalu...


Humph!


Mata pria itu membulat, ia membatu sebagai respon alami nya saat terkejut.


Mata yang saling memandang dan tidak terpejam sama sekali.


Deg!


Deg!


Deg!


Degupan jantung gadis itu terdengar keras, rasa nya ingin meledak dan ia sungguh merasa gugup walaupun tindakan nya begitu berani.


Zayn tersentak, ia langsung memegang kedua bahu kecil itu dan mendorong nya lalu menatap dengan mata yang begitu terkejut.

__ADS_1


"Sekarang sudah bisa kan? Paman kan harus tanggung jawab! Hihi!" senyuman cerah itu tampak dengan pipi yang memerah dan wajah berseri.


Zayn kehabisan kata-kata, apa menghadapi anak pubertas yang keras kepala penuh penasaran memang serumit ini?


__ADS_2