(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia

(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia
Mendapat izin


__ADS_3

JBS Hospital


Louis membuang napas nya, ia menatap tajam ke arah adik nya yang tampak gugup.


"Jadi kau benar-benar hamil?" tanya nya yang mengulang sekali lagi.


"I.. iya..." jawab Louise gugup namun pada akhirnya ia menyetujui rencana pria itu untuk mengaku tengah hamil.


"Kalau begitu kau perlu lakukan pemeriksaan leb-"


"Ini," ucap nya yang sudah siap dengan surat hasil pemeriksaan berikut dengan obat yang sudah di formulasikan kembali.


Tentu mendapatkan nya harus mengajak kerja sama beberapa dokter agar terlihat ia benar-benar hamil.


Louis kehabisan kata-kata, ia menatap adik nya dengan tajam sesaat setelah membaca kertas yang di berikan pada nya itu.


"Jadi kau akan menikah dengan nya?" tanya Louis lagi sembari melirik ke arah cincin baru adik nya.


Memang gadis itu memiliki beberapa perhiasan cincin lain nya yang tak memiliki arti apapun.


Namun mengenakan perhiasan yang cantik di jari manis nya saat ini tentu akan menghasilkan pandangan yang berbeda.


Louise tak menjawab sama sekali, ia diam sejenak saat sang kakak bertanya pada diri nya.


"Lalu aku harus menjauhi nya?" tanya nya lirih dengan mata yang sayu.


"Kau tau kan? Aku mau kau itu dapat yang terbaik, punya pasangan terbaik, tinggal di tempat yang baik, mendapatkan barang yang terbaik! Semua nya!" ucap nya pada adik nya.


"Ta.. tapi aku mau dia..." jawab nya lirih pada sang kakak.


Louis diam sejenak, situasi nya sama seperti dulu saat ia mati-matian mengatakan jika pria itu tak baik untuk adik nya dan gadis itu tak menyangkal namun mengatakan tetap menyukai nya.


"Baik, kalau begitu lakukan apa yang kau mau sekarang. Terserah mu saja." ucap nya yang sudah kehabisan kata-kata dan bangun dari duduk nya untuk kembali ke meja kerja nya.


Louise menengandah ia menatap sang kakak yang terlihat enggan memberikan nya restu.


"Kalau aku menikah kau akan datang?" tanya nya lagi pada sang kakak.


"Tidak," jawab Louis singkat yang masih begitu berat melepaskan adik nya pada pria yang pernah membuat saudari nya terluka.


Louise tersentak, bagiamana mungkin ia bisa melakukan pernikahan tanpa satu-satu nya keluarga yang ia miliki.


"Jadi aku tidak usah menikah saja?" tanya nya lirih.


Louis melirik ke arah saudari nya namun ia berusaha tak menghiraukan nya dan melanjutkan pekerjaan nya.


Louise terdiam beberapa saat, ia melihat ke arah jemari nya yang terpasang cincin berlian yang cantik.


Apa harus ku kembalikan lagi?


Batin nya yang awal nya merasa senang namun sekarang malah merasa bimbang. Ia pun beranjak keluar dari ruangan sang kakak kembali ke ruangan nya sendiri.


Louis melirik ke arah saudari nya yang keluar dari ruangan nya, ia menarik napas nya dengan berat.


Ia ingin saudari nya bahagia, dan apa yang ia lakukan sekarang sudah benar?


......................


Dua hari kemudian.


Pria itu masih tersenyum, namun ia menoleh dan menatap ke arah jemari yang tak lagi memakai cincin yang ia berikan.


"Kau melepas nya?" tanya James pada gadis yang masih meminum coffe latte nya itu.


"Ya?" Louise tersentak, ia melihat ke arah pria yang bertanya dan kemudian mengikuti arah mata yang menoleh ke jemari nya.


"Aku menyimpan nya," ucap nya dengan senyuman tipis tak mengatakan jika ia memang sengaja melepaskan nya.


James menarik napas nya, walaupun gadis itu tak mengatakan apapun namun ia sedikit tau tentang rasa khawatir yang terlihat di wajah cantik itu.


"Aku akan bicara dengan kakak mu," ucap nya singkat pada gadis itu.


Louise langsung menengadah melihat ke arah pria yang berkata akan menemui saudara nya.


"Untuk apa?" tanya nya terlihat tak ingin pria itu bertemu dengan sang kakak.


"Apa lagi? Minta izin untuk menikahi mu?" tanya nya pada gadis itu.


Louise terdiam, ia tak mengatakan apapun lagi dan kembali mengesap minuman nya.


......................


Skip


JBS Hospital


Louis mengernyit, ia melihat ke arah ponsel nya yang berisi pesan dari seseorang yang ia kenal namun enggan ia simpan kontak nya.


Tangan nya kembali meletakkan ponsel nya dan mendengarkan lagi rapat yang tengah di lakukan dengan beberapa eksekutif dan dokter karna saat itu tengah membicarakan salah satu kasus pasien.


Drrtt... drrtt... drrtt...


Selesai rapat, ponsel yang berada di dalam saku itu bergetar. Ia pun melihat dan membaca nya.


"Mau apa lagi dia?" gumam nya lirih saat melihat nomor yang tak di kenal itu kembali menelpon nya.


Louis menarik napas nya dan kemudian mengangkat nya.


"Ada apa?" tanya nya dengan nada ketus saat ia mengangkat telpon nya.


"Bisakah kita bicara? Tentang Louise,"


Suara yang menjawab nya dari telpon.


"Aku sibuk, kalau kau mau bicara kau bisa tunggu." ucap nya yang kemudian mematikan ponsel nya secara sepihak.


"Bawa semua pekerjaan untuk tiga hari ke depan, aku akan lembur." ucap nya pada sekertaris Michael sesaat setelah mematikan panggilan nya.


"Baik Presdir," ucap pria itu yang tentu nya menurut dan mengikuti perkataan atasan nya.


...


Pukul 10.24 pm


Hampir tengah malam pria itu baru akan kembali ke kediaman nya yang nyaman.

__ADS_1


"Sekarang kita bisa bicara?"


Langkah kaki nya terhenti, seseorang benar-benar menunggu nya walau ia memang sengaja pulang lebih lama dengan mengerjakan pekerjaan nya lebih awal.


"Ya, karna kau sudah menunggu." ucap nya pada pria itu.


......................


Cafe


Orang-orang yang masih berlalu lalang dengan kendaraan yang tak ada henti nya walau sudah hampir tengah malam.


"Apa itu?" tanya Louis sembari melihat ke arah pria yang berada di depan nya.


"Biarkan aku menikah dengan Louise, kali ini aku tidak akan menyakiti nya." ucap nya tanpa basa-basi pada pria itu.


"Dulu kau minta aku membiarkan mu untuk mendekati nya, sekarang kau minta aku untuk membiarkan mu menikahi nya?" tanya nya dengan senyuman tipis.


"Aku akan lakukan apapun yang kau inginkan sebagai ganti dari izin mu," ucap James yang berusaha membujuk nya.


"Kalau aku meminta sesuatu untuk syarat menikahi nya sama saja seperti menjual adik ku sendiri di pasar pernikahan kan?" tanya nya yang membuang wajah nya.


"Bukan, bukan seperti itu maksud ku." ucap James yang tentu tak bermaksud demikian namun ia memang sudah seputus asa itu untuk mendapatkan restu.


"Kau tau aku memegang kelemahan mu kan? Salinan flashdisk dari apa yang kau lakukan selama ini." ucap Louis yang kembali mengingatkan.


"Ya," jawab nya karna ia sendiri yang memang memberikan nya pada gadis nya dan Louise memberikan pada saudara nya.


"Jadi kalau terjadi sesuatu pada Louise lagi aku juga akan menghancurkan mu." ucap nya sekali lagi.


"Ya," ucap nya yang tentu tau pria itu akan menggunakan nya jika merasa terancam.


"Kau mau mendapatkan izin ku?" tanya Louis sembari melihat ke arah pria yang kukuh tetap ingin menikahi adik nya.


James tak menjawab namun wajah nya sudah menunjukkan semua jawaban nya.


"Jangan hubungi dia selama satu bulan dalam bentuk apapun, dan kalaupun dia menghubungi lebih dulu di jawab juga." ucap nya pada pria itu.


James mengernyit, syarat nya sedikit aneh namun ia mengurungkan niat nya untuk bertanya.


"Kalau aku lakukan kau akan pertimbangkan?" tanya nya sekali lagi yang menginginkan kepastian.


"Hm, oh ya satu lagi. Jangan menghubungi nya dengan alasan Bianca juga." ucap nya yang tak ingin pria itu menggunakan putri nya untuk mendekati adik nya.


"Baik," jawab James singkat.


Ia tak tau pembicaraan nya kali ini akan berjalan lancar atau tidak namun ia harus berusaha kan?


......................


Satu Minggu kemudian.


Kediaman Rai


Gadis itu memeriksa ponsel nya, pesan yang ia kirim masih belum ada balasan sama sekali.


"Louise?"


Suara yang memanggil nya tak terdengar sama sekali, ia masih melihat ke arah ponsel nya sekali lagi.


Tap!


Kali ini gadis itu tersentak saat bahu nya di tepuk dan nama nya di panggil lebih keras.


"Kau tidak mendengarkan saat aku panggil," ucap Louis saat saudari nya menoleh.


"Iya, tadi aku lagi priksa dokumen." jawab nya singkat dengan berbohong.


Louis diam tak mengatakan apapun, setidaknya ia tau pria itu menepati janji nya dengan tidak menghubungi adik nya.


"Ayo, makan malam dengan ku." ajak nya pada saudari nya.


Louise tak menjawab namun ia mengangguk saat mendengar nya.


"Kau terus melamun," Ucap pria itu saat tengah memakan makan malam nya.


"Hm? Aku?" tanya Louise mengulang dan tampak tak fokus sama sekali.


Louis mengangguk, wajah cantik adik nya tampak bingung namun tak menjawab nya.


......................


Dua Minggu kemudian


Mansion Dachinko


"Daddy..."


Suara memelas gadis kecil yang menggemaskan itu tampak sendu, ia menatap dan memanggil sang ayah dengan mata bulat nya yang tampak sayu.


"Kangen Mommy..." ucap nya yang merengek pada sang ayah dan menganggu pekerjaan pria itu.


"Iya, nanti kita ketemu Mommy ya..." ucap nya pada putri nya yang tampak merengek dengan wajah menggemaskan itu.


"Kapan? Mommy udah lupa sama Bian?" tanya nya lagi pada sang ayah.


"Mana mungkin Mommy lupa, Bian mau main sama Daddy dulu?" tanya nya sembari mengusap pipi bulat putri nya yang sangat lembut itu.


Bianca memelas, ia menggeliat dan merengek memukul sang ayah dengan tangan kecil nya.


"Kita beli es krim? Makan es krim yuk sama Daddy." ucap nya yang meraih tubuh mungil putri nya dan menggendong nya.


Sesuai yang di minta oleh saudara kembar gadis itu, ia tak mengubungi sama sekali dan bahkan tak membiarkan gadis itu datang ke mansion nya selama waktu yang di tentukan.


......................


Apart L'Boneu


Pria itu masih tak melepaskan wanita yang berada di pangkuan nya.


"Aku mau mandi, mau pulang juga..." ucap Clara yang mendorong pria itu agar melepaskan nya.


"Di sini dulu," ucap Louis yang terlihat enggan melepaskan wanita itu.


"Ada apa? Terjadi masalah lagi?" tanya nya yang menoleh dan menatap ke arah pria itu.

__ADS_1


Louis menengandah menatap wajah yang duduk di pangkuan nya dengan posisi yang membuat nya lebih tinggi.


"Louise seperti nya sakit lagi," ucap nya lirih.


"Sakit? Sakit apa?" tanya Clara yang langsung beranjak melihat ke arah pria itu.


"Sakit hati?" jawab pria itu dengan intonasi tengah bertanya.


"Louis," ucap nya yang kesal dengan pria yang tengah memangku nya karna seperti tengah bermain ketika menjawab pertanyaan nya.


"Entahlah, aku tidak suka kalau dia menemui pria itu..." gumam nya yang menjawab sesuai dengan isi hati nya.


"Kenapa?" tanya Clara yang melihat ke arah wajah tampan pria itu.


"Karna dia membuat Louise sakit," jawab nya yang sungguh merasa khawatir akan adik nya.


"Sampai sekarang? Dia masih membuat Louise sakit?" tanya wanita itu lagi.


Louis menggeleng mendengar pertanyaan dari mantan istri nya yang sebentar lagi akan ia jadikan istri kembali.


"Kalau begitu kenapa tidak biarkan saja? Mungkin dia akan bahagia kalau kau membiarkan nya?" tanya Clara pada pria itu.


"Bahagia? Dengan pria yang hampir membunuh adik ku? Aku tidak bisa mengerti jalan pikiran anak itu, kenapa dia masih bisa suka dengan pria seperti itu." ucap nya yang terlihat kesal.


Clara diam sejenak tak mengatakan apapun untuk beberapa saat.


"Lalu aku? Kau bisa mengerti jalan pikiran ku? Seharusnya aku tidak punya alasan untuk kembali dengan pria yang merusak reputasi ku, membuat ku keguguran dan menjadikan ku wanita yang mandul kan? Aku juga harus nya tidak menerima mu di sini kan? Dan satu lagi aku juga pernah buta untuk beberapa tahun." ucap nya yang membuat pria itu terdiam.


"Cla?" Louis memanggil lirih saat wanita itu mengingatkan segelintir perbuatan bejat nya di masa lalu.


"Lalu kau mau tau alasan ku masih bisa membiarkan mu dengan ku? Karna aku menyukai mu, mungkin cukup gila tapi kau bisa pahami itu." ucap nya pada pria itu.


Ia masih diam tak mengatakan apapun, tak ada kata yang di bantah pada ucapan wanita itu.


"Kebahagian seseorang itu cuma bisa di ketahui si pemilik tubuh, jadi biarkan saja dia memilih apa yang dia mau." ucap nya pada pria itu.


Louis membuang napas nya, ia menarik tubuh wanita itu dan memeluk nya serta menyandarkan kepala nya ke dada yang empuk dan lembut itu.


"Benarkah? Aku harus membiarkan nya memilih?" tanya nya lirih.


"Apapun yang kau pikirkan kau mau kebahagiaan nya kan?" tanya Clara sekali lagi namun tak ada jawaban.


......................


Dua Hari kemudian.


Cafetaria


Gadis itu tampak kesal, kali ini ia menunggu pria yang baru memberi kabar pada nya setelah sekian lama seperti terkubur oleh bumi.


Bahkan ia tak bisa menemui putri nya sendiri saat menjemput nya ke sekolah.


Louise sudah menghabiskan dua milkshake pesanan nya ketika ia merasa kesal.


"Ck! Itu dia!" ucap nya berdecak saat melihat pria yang melamar nya namun juga menghilang dengan sendiri nya.


Ia menatap kesal sampai tak menyadari jika seseorang sudah mendekati nya.


"Maaf?"


Louise tersentak, ia langsung menoleh ke arah pria yang memakai kemeja tapi berwarna putih dan tampak tengah makan istirahat siang di tempat itu juga.


"Iya?" jawab nya yang melihat dan mencoba ingat apakah ia mengenal pria itu.


"Saya sering melihat anda di sini juga selama beberapa hari, jadi..." ucap pria itu yang sedikit gugup.


Louise memiringkan kepala nya menunggu pria itu menyelesaikan kalimat nya.


"Boleh saya minta nomor nya? Saya tau ini tid-"


"Oke, sini." jawab Louise singkat yang langsung mengambil ponsel pria itu dan mengetik nomor nya.


"Terimakasih," ucap nya yang merasa senang dengan wajah berseri.


Louise memberikan senyuman nya sembari melirik ke arah pria yang berjalan mendekat dan tampak terkejut dengan ulah nya, "Sama-sama."


Sesaat setelah pria itu pergi, James sampai di meja gadis yang menunggu nya.


"Tadi siapa?" tanya nya yang begitu sampai langsung menginterogasi gadis yang sedang kesal itu.


"Tidak tau, tadi dia minta nomor ku." jawab Louise sembari mengendikkan bahu nya dan tampak santai.


"Lalu kau berikan?" tanya James sekali lagi dengan mengernyit tak suka saat gadis itu memberikan nomor nya pada pria asing.


"Iya! Seperti nya aku masih punya daya tarik walaupun sudah jadi ibu anak satu." jawab Louise yang tampak bangga walaupun ia ingin membalas rasa kesal nya karna pria itu menghilang selama beberapa Minggu terakhir.


James tak mengatakan apapun, ia berbalik mengejar pria yang tadi sempat memiliki nomor gadis itu.


Tap!


Pria yang memakai kemeja putih itu langsung tersentak, baru saja ia ingin menyimpan dan menamai sementara nomor yang baru ia miliki.


"Apa-apaan kau!" ucap nya yang kesal pada pria itu.


"Wanita yang duduk tadi adalah istri ku, seharusnya kau tanya dulu dia punya hubungan dengan orang lain atau tidak." ucap James yang mengembalikan setelah menghapus nomor gadis nya yang berada di ponsel pria itu.


Pria itu terdiam sejenak, ia tak mengatakan apapun bahkan setelah James berbalik pergi dan duduk di meja gadis nya lagi.


Mata hijau itu menoleh, ia menatap ke arah pria yang tampak kesal itu.


"Kau tadi bilang apa pada nya?" tanya Louise saat pria itu duduk depan nya.


"Jangan berikan nomor mu ke orang asing lagi, kau kan tidak tau siapa dia!" ucap James yang merasa kesal karna cemburu.


"Biarin! Dari pada sama pria yang baru lamar udah hilang!" ucap Louise kesal.


James menarik napas nya, ia mencoba menurunkan rasa kesal nya lebih dulu dan kembali bersabar.


"Kita akan menikah setelah pernikahan kakak mu, jadi kita bisa tentukan tanggal nya setelah dia." ucap nya yang mengatakan maksud tujuan nya.


"Setelah Louis? Tapi dia..." ucap nya lirih yang ingat jika sang kakak tak menyetujui pernikahan nya.


James tersenyum simpul, ia menatap ke arah gadis itu dengan tatapan yang sekaan membawa berita yang bagus.


"Aku mendapatkan izin nya, jadi kita bisa menikah." ucap nya yang tersenyum.

__ADS_1


Louise mengernyit sejenak, "Sungguh?" tanya nya tak percaya kakak nya yang keras kepala bisa setuju.


"Iya, dan juga maaf karna menghilang dan tidak memberikan kabar apapun pada mu." ucap nya yang mengusap kepala gadis itu.


__ADS_2