
Suara pintu yang terbanting membuat pria itu terperanjat, ia pun menoleh pada ruangan yang sebelum nya di masuki tuan nya.
Tempat yang tadi nya berada di mana gadis yang menggoyahkan hati tuan nya, ia pun melihat gadis itu keluar dengan raut yang begitu marah.
Nick pun masuk ke ruangan tersebut, ia melihat punggung tuan nya yang berdiri membelakangi nya.
"Tuan?" panggil nya dan membuat pria itu berbalik.
Nick mengernyit melihat bekas luka di bibir pria itu, "Apa yang terjadi?"
"Sedikit kecelakaan kecil," jawab James singkat sembari menyentuh sudut bibir nya.
Setelah mengatakan sepenggal kalimat tersebut ia pun berjalan melalui bawahan yang melihat nya dengan raut khawatir.
....
Brak!
Suara bantingan pintu mobil yang terdengar cukup keras itu membuat Zayn tersentak, ia menjemput saat gadis itu menelpon nya dengan nada kesal.
"Ada apa?" tanya nya saat gadis itu duduk tepat di samping nya.
"Pria si*lan!" decak nya kesal dengan gerutu yang serasa tak akan habis.
"Louise?" panggil Zayn lagi dengan nada rendah dan akhirnya membuat gadis itu menoleh ke arah nya.
"Tidak apa-apa," jawab Louise singkat sembari membuang napas nya dengan pelan.
"Kau mau ke toko cake yang dulu sering kita datangi?" tanya Zayn mengalihkan suasana.
Louise mengangguk kecil, mengiyakan ajakan sahabat nya.
......................
Apart La'Von.
Pria itu meletakkan gelas di atas meja di samping ia duduk sembari memperhatikan layar di depan nya.
Ia pun menyandarkan tubuh nya di atas kursi di yang ia duduki.
"Mereka ciuman? Tapi ku rasa bukan untuk kembali," gumam nya lirih.
Ia tau kejadian di restoran saat pria yang ia benci membalas ciuman mantan kekasih nya di depan gadis yang baru saja putus beberapa minggu dengan nya.
"Ini yang akan jadi penentuan nya," ucap lirih.
Jika ia tau pria itu masih mencintai gadis yang ia anggap menarik itu maka ia akan tetap memburu gadis itu dan melanjutkan rencana nya.
Lalu sebalik nya, jika hubungan mereka benar-benar berakhir maka ia akan berusaha mengincar gadis cantik itu untuk memuaskan rasa penasaran nya.
......................
Apart Greenlousc.
Bella mulai gelisah, tak ada panggilan nya yang terjawab sejak mereka berciuman di restoran.
"Apa jal*ng itu menggoda nya lagi?" ucap nya dengan sembari melihat ponsel nya yang masih belum terjawab.
"Mom?" panggil Arnold lirih sembari menyentuh gaun yang ia gunakan.
Ia pun menoleh dan melihat putra kecil nya, "Lapal..." ucap Arnold lirih.
Mata nya mengernyit dan memikirkan ide lain nya.
"Sini," ucap nya singkat sembari membawa anak kecil menggemaskan itu dan menyeret nya dengan kasar mengikuti langkah nya yang lebar.
"Mom?" panggil Arnold lirih yang mulai takut saat sang ibu mengangkat nya dan membawa nya ke lemari pendingin nya yang besar itu.
Sembari mengeluarkan beberapa bahan di dalam nya agar menyisahkan ruang yang cukup untuk di tempat anak berumur 4 tahun tersebut.
"Gak mau di sini..." tolak nya yang sembari mendorong sang ibu dan berusaha menjauh.
Auch!
__ADS_1
Ringisan nya terdengar saat sang ibu mencubit paha nya dengan kuat.
"Disini dulu! Jangan banyak tanya!" ucap nya membentak dan memarahi putra kecil nya.
Bam!
Ia pun menutup rapat pintu lemari es nya, lalu mengganjal nya agar tak bisa di buka dan membiarkan putra kecil nya yang malang itu kedinginan di dalam dan ia berharap jika anak laki-laki itu setidaknya bisa demam.
"Mommy! Buka, Al gak minta makan lagi huhu..." tangis nya yang berusaha mendorong pintu lemari es yang telah di ganjal tersebut.
Tangisan nya terdengar lirih, ia mulai merasakan hawa dingin yang menusuk nya dengan perut yang berbunyi memberikan sinyal bahwa ia telah lapar.
Sedangkan Bella melihat pintu lemari es nya yang memberikan suara dari dalam karna Arnold yang terus mengetuk.
"Kalau begini dia akan datang kan?" gumam nya sembari melihat putra yang terkurung kedinginan di lemari es.
......................
Pasir yang menyapu lembut telapak kaki nya membuat gadis itu kembali tersenyum.
"Kau suka? Sudah lebih baik?" tanya Zayn sembari memberikan senyum nya.
Louise menoleh, ia tersenyum ke arah pria itu dan menatap nya dengan tatapan yang terlihat mulai tenang.
"Iya suka!" jawab nya tersenyum.
Zayn juga memberikan senyuman yang sama, langit yang mulai berganti dengan guliran waktu yang tak terasa.
"Tempat nya bagus, nanti kita ke sini lagi." ucap lagi sembari kembali menoleh ke arah pria itu dan memegang leher nya.
"Kalau kau mau," jawab Zayn yang juga memberikan senyuman yang sama.
Matahari mulai terbenam sedangkan gadis itu masih bermain di atas pasir lembut yang berada di atas kaki nya.
Apapun!
Asalkan melihat senyuman gadis itu membuat dirinya merasa puas, walaupun belakangan ini sudah mulai sedikit demi sedikit berubah saat ia mulai merasakan keserakahan yang semakin kuat.
Rasa serakah yang bagaikan haus dehidrasi membuat nya yang mulai tak merasa cukup hanya dengan melihat senyuman, karna kini ia juga ingin memiliki senyuman itu.
Hoek!
"Kenapa?" tanya nya yang segera datang mendekat.
"Mual," jawab Louise singkat.
"Kita kembali? Mungkin kau juga harus makan," ucap nya sembari melihat sekilas ke perut gadis itu.
Louise mengangguk pelan dan mengikuti langkah pria yang saat ini menggenggam tangannya.
"Sering muntah?" tanya Zayn lagi saat membawa gadis itu.
"Lumayan," jawab Louise singkat, raut nya kembali berubah.
Ia tak bisa membaca apa yang di pikirkan ayah dari anak yang berada dalam kandungan nya.
Baru beberapa hari yang lalu ia melihat pria itu mencium wanita lain namun kemarin ia juga mendapatkan ciuman yang sama.
"Separah itu?" tanya Zayn lagi.
Louise tak menjawab, morning sickness nya memang sering menjadi dan rasa mual yang teramat dalam, dan itu semua juga harus ia tanggung sendiri.
"Zayn? Kalau dia tanya ayah nya bagaimana?" tanya Louise lirih sembari menyentuh perut nya.
Langkah nya terhenti membuat langkah pria itu terhenti.
Zayn menoleh, ia melihat wajah yang tertunduk tak bisa menatap nya.
__ADS_1
"Kau ingat yang pernah ku katakan?" tanya nya sembari menangkup wajah gadis di depan nya.
"Aku..."
"Aku bahkan masih belum bisa mengurus diriku sendiri dengan benar, apa aku bisa mengurus nya? Aku harus jawab apa kalau dia tanya Ayah nya?" tanya Louise lagi tanpa menghiraukan pertanyaan pria di depan nya.
Pikiran nya kembali berkecamuk takut jika anak yang berada di kandungan nya menanyakan sang ayah yang bahkan tak tau kehadiran nya.
"Manfaatkan aku," ucap pria membuat iris indah di depan nya melihat ke arah nya.
"Aku pernah katakan itu kan? Kau bisa memanfaatkan ku dari segi apapun," ucap nya lagi.
"Aku akan jadi wanita br*ngsek kalau melakukan nya," ucap Louise yang tertawa pahit sembari membuang pandangan nya.
"Aku tidak masalah, bagi ku kau yang paling baik. Aku sudah bilang tidak akan masalah kan?" ucap nya lagi.
Louise diam sejenak, ia tak bisa mengatakan apapun, pikiran nya kembali kacau.
"Kau bisa manfaatkan aku,"
"Aku bisa jadi ayah pengganti nya, dia tidak akan tau siapa ayah biologis nya, kau bisa manfaatkan aku untuk itu kan?" tanya lagi.
Louise menggeleng, "Aku tidak punya perasaan seperti itu untuk mu, aku suka..."
"Tentu saja aku menyukai mu, tapi hanya sebatas perasaan yang seperti ini bukan perasaan yang lebih..." ucap nya lirih.
"Aku juga belum siap untuk perasaan seperti itu lagi," sambung nya lagi.
"Aku tidak minta kau untuk balas perasaan ku, aku cuma ingin memberi penyelesaian untuk masalah yang mungkin akan datang kan?" ucap nya lagi.
"Itu hanya untuk menguntungkan ku, tidak untuk mu." ucap gadis itu.
"Aku tau, tapi kau juga bahkan tidak beri kesempatan pada ku." ucap Zayn pada Louise.
"Setidak nya manfaatkan aku untuk membuat mu bersenang-senang, atau mungkin berusaha melupakan dia, atau bahkan untuk anak mu?" tanya pria itu yang seakan memberi tawaran.
"Kau tau? Semua yang kau katakan tadi itu hanya akan menyakiti mu," ucap Louise yang tak mengerti dengan jalan pikiran pria itu.
"Aku tau," jawab pria itu tersenyum pahit.
Louise menatap bingung melihat pria yang tengah menatap nya dengan tulus saat ini.
Satu lagi pria yang tak bisa ia mengerti jalan pikiran nya, pria yang bahkan rela terluka hanya untuk melepaskan kesedihan nya.
Karna menyukai sejak lama aku sudah tau rasanya...
Dan mungkin ku rasa aku juga sudah terbiasa terluka untuk hal seperti itu..
Tapi setidaknya, aku bisa berada di sisi mu...
...****************...
Maaf yah up nya lama, othor nya PBL ngerjain propsal plus sakit lagi waktu di desa karna kecapean wkwkwk
Tapi othor kangen kalianπππ
Jangan lupa dukungan nya yahππ
Likeπππ
Komen π¬π¬π¬
Rate 5βββββ
Vote ποΈποΈπ₯³π₯³
Favorit β₯οΈβ₯οΈβ₯οΈ
Hadiah πππ
Biar othor makin semangat hihiπππ
Happy Readingπππ*
__ADS_1