
Langkah kaki itu kembali, anak lelaki itu menatap ke arah salah satu pengawal yang ia kenali. Siapa lagi yang di cari jika bukan ia dan adik nya.
"Tuan muda!" seru salah satu pengawal dan langsung mendatangi Arnold.
Mata pria bertubuh tinggi dan tegap itu menatap ke arah anak kecil di depan nya, tak ada satu lagi yang harus nya bersama dengan anak lelaki itu.
"Nona Bianca di mana?" tanya nya yang langsung mencari keberadaan anak kesayangan tuan nya itu.
Arnold menelan saliva nya sejenak, untuk sesaat ia merasa gugup namun ia juga sudah di buatkan dengan pikiran kekanakan nya.
Ia yang memang mengajak kabur sang adik agar lepas dari pandangan dan penjagaan pengawal yang di berikan sang ayah lalu meninggalkan gadis kecil itu sendirian di tempat asing.
"Tadi Bian lari ngejar anak anjing, terus Al ikutin. Tapi habis itu Al juga ga tau Bian kemana..." ucap nya lirih karna berbohong.
"Bian hilang..." sambung nya dengan mata yang berkaca seakan begitu sedih kehilangan sang adik.
Pengawal tersebut langsung terlihat gusar, ia pun menghubungi rekan-rekan nya yang lain untuk segera melakukan pencarian.
......................
Mobil berwarna hitam itu berhenti lagi di pinggir jalan, pria yang masih memegang stir nya itu menoleh ke arah gadis di samping nya.
"Kenapa tidak mau ku antar sampai rumah?" tanya James sembari melihat ke arah gadis itu.
Louise tak menjawab, ia hanya melirik sekilas ke arah pria itu dan kembali melihat jalanan yang terang dengan berbagai lampu kendaraan bangunan serta lampu jalanan.
Cup!
Mata hijau itu lambung membulat, pria di samping nya mencium pipi nya secara tiba-tiba dan tentu membuat nya langsung menoleh ke arah sang pencium.
"Apa yang kau la-"
Cup!
Satu kecupan singkat kali ini datang lagi namun langsung menutup bibir gadis itu, mata hijau yang tadi nya membulat dan terkejut itu langsung mengernyit menatap ke arah pria di samping nya.
"Kau tau? Penutupan kencan adalah ciuman," ucap pria itu tersenyum sembari mengedipkan satu mata nya menggoda gadis itu.
"Aturan dari mana?!" tanya Louise dengan wajah kesal.
"Tentu saja aturan dari ku," Cara jawab yang begitu percaya diri dengan tawa kecil.
"Menyebalkan, kau sangat menyebalkan..." ucap Louise dengan menatap kesal.
Pria itu hanya tersenyum kecil, walaupun kesal namun gadis itu tidak menampar ataupun langsung mengamuk saat ia mengambil ciuman nya, padahal ia sudah menyiapkan pipi nya jika mendapatkan pukulan atas sikap tak sopan nya.
"Tapi kau senang kan hari ini?" tanya pria itu dengan masih melihat ke arah wajah gadis yang sudah memalingkan pandangan nya itu.
"Tidak terlalu," jawab Louise ketus.
Pria itu menaikkan sudut bibir nya, seharian ini ia seperti menjaga anak kecil yang berlarian dengan senang ketika ia membawa ke tempat yang baru.
"Kalau begitu di kesempatan yang kedua nanti, aku akan ajak Bianca." ucap nya sembari mengalihkan tatapan nya ke arah jalanan lagi.
Wajah Louise langsung berubah begitu mendengar nama putri nya. Ia terdiam beberapa saat dan tak mengatakan apapun.
"Aku tidak nyaman dengan anak itu..." gumam nya lirih.
James tersentak, ia menarik napas nya lirih begitu mendengar gumam gadis di samping. Namun di bandingkan ia bertanya alasan yang sudah ia tau lebih ia bersikap seakan tak mendengar nya sama sekali.
"Anak itu punya kesukaan yang sama dengan mu," sambung nya tersenyum yang memilih mengatakan hal lain.
__ADS_1
Louise tak menjawab ataupun menunjukkan rasa ketertarikan. Memang benar gadis kecil itu putri nya.
Namun itu adalah putri yang tidak ia inginkan, anak yang lahir setelah putra pertama nya meninggal.
Rasanya canggung, takut dan tak nyaman saat melihat mata coklat yang menatap nya dengan berbinar.
Bukan membenci nya hanya saja tak begitu nyaman dengan kehadiran nya.
"Aku turun di sini," ucap Louise sembari beranjak membuka pintu mobil pria itu.
James tak mengatakan apapun, gadis itu masih belum bisa menerima keberadaan putri mereka walaupun gadis itu sudah ingat.
Setelah turun seperti biasa Louise menelpon supir nya untuk datang dan menjemput. Dan pria itu pun memajukan mobil nya menjauh namun tetap dalam jangkauan agar bisa melihat gadis nya pergi dengan aman.
......................
Mansion Dachinko
Tatapan tajam terlihat begitu jelas, suara pukulan yang keras terdengar di dalam keheningan yang mencekik.
"Menjaga anak kecil saja kalian tidak bisa," pria yang sejak tadi senang kini berubah gusar.
"Maaf kan kami tuan," ucap pengawal yang bertugas berjaga anak-anak pria itu hari ini.
"Terima hukuman mu setelah Bianca di temukan," ucap nya yang tampak begitu gelisah.
Pengakuan dari putra angkat nya sudah di dengar, tak ada yang bisa membantu dari ucapan anak lelaki yang terus menangis itu.
"Al? Kau benar-benar tidak ingat Bianca lari ke arah mana?" tanya James mengulang.
Arnold menangis, antara takut melihat kemarahan sang ayah yang meledak pada para pengawal sekaligus tangisan yang takut jika ia yang membuat adik nya hilang.
"Huhu, maaf..."
James menarik napas nya, anak lelaki di depan nya terlihat sedih kehilangan adik nya dan ia pun tak memiliki pikiran sama sekali dengan kemungkinan putra angkat nya lah yang meninggalkan putri kecil nya.
Baginya tak ada alasan untuk anak berumur 8 tahun itu membenci putri nya, ia memberikan hak dan pengasuhan yang sama serta memberikan kasih sayang juga pada putra angkat nya itu walaupun anak berumur 8 tahun itu berpikir berbeda.
......................
Krukk!!
Bianca mulai memegang perut nya yang kecil bulat menggemaskan itu, suara yang mulai berbunyi keluar dan baru ia dengar.
Gadis kecil berumur tiga tahun itu tak pernah merasa kelaparan karna ia selalu mendapatkan makanan sebelum lapar dan kali ini ia baru pertama kali merasakan rasa itu.
Coklat yang di berikan sang kakak sudah habis sejak tadi namun sang kakak tidak kembali.
"Pelut Bian kok nyanyi?" ucap nya dengan polos yang tak mengerti.
Namun tentu mata nya langsung melihat ke arah toko roti yang tak jauh dari tempat ia berdiri, sudah mondar-mandir di tempat yang sama namun sang kakak tak kunjung tampak membuat nya berjalan sendiri ke arah toko roti tersebut.
"Wah..." mata nya begitu berbinar.
Walaupun ia terbiasa dengan makanan yang lezat dan mahal namun makanan kali berbeda.
Semua makanan tampak begitu lezat berkali-kali lipat karna ia yang sedang lapar.
Tangan mungil nya beranjak mengambil salah satu roti coklat yang di pajang, ia pikir semua roti itu sama seperti di mansion nya yang bisa ia ambil kapan pun tanpa membayar.
Greb!
__ADS_1
Tangan mungil itu langsung tercegah, mata coklat yang lambung menoleh ke arah seorang wanita penjaga toko roti yang mencegah tangan nya.
"Bian mau loti..." ucap nya pada sang penjaga toko.
"Kau punya uang?" tanya penjaga toko tersebut.
Bianca menatap bingung mendengar nya, "Uang itu apa?" tanya nya dengan polos yang masih belum mengerti apa itu uang karna ia selalu mendapatkan apa yang ia mau tanpa memikirkan seberapa mahal nya itu.
Penjaga toko tersebut pun menarik napas nya, "Kau kehilangan orang tua mu?" tanya wanita itu dan mulai berjongkok.
Bianca menggeleng, ia bahkan tak tau arti hilang itu seperti apa. "Bian nunggu kakak, Bian mau loti..." ucap nya yang begitu ingin memakan sesuatu.
Krukk!!!
Suara perut nya kembali berbunyi, penjaga toko itu pun memberikan sebungkus roti dan ingin bertanya lagi tentang keberadaan orang tua gadis itu namun gadis kecil itu langsung berlari ke arah tempat sang kakak meninggalkan nya karna ia pikir ia akan seger di jemput.
"Dadah tante baik," seru nya dengan wajah full senyuman ketika di berikan roti coklat yang tadi di ambil.
Penjaga toko tersebut heran namun membiarkan nya karna mungkin memang gadis itu akan bertemu keluarga nya lagi.
Bianca kembali ke tempat semula dan memakan roti yang baru ia dapatkan, setelah roti tersebut habis pun sang kakak tak kunjung kembali.
"Kakak kemana sih?" gumam nya yang mulai sebal dan marah dengan wajah nya yang tampak semakin menggemaskan.
Mata gadis itu pun melihat ke arah tas yang memiliki gantungan kunci dengan tampilan beruang dan bulu yang tampak lebat menggemaskan di tas salah satu pejalan kaki.
Anak kecil tetaplah anak kecil yang mudah tertarik dengan sesuatu yang bagi nya cantik. Ia pun tanpa sadar mengikuti orang tersebut hingga ke tempat yang ia semakin tak tau dan berhenti ketika pejalan kaki itu naik bis.
"Hum? Bian di mana?" gumam nya yang baru sadar dan semakin tersesat.
"Kak?"
"Daddy?"
Panggil nya mencari seseorang yang biasa ia kenal.
Anak kecil yang tampak cantik seperti boneka dengan pakaian dan sepatu yang tentu bermerek itu pasti nya menarik perhatian jika berdiri terlalu lama sendirian.
Tingkat kejahatan tak memungkinkan tak ada walaupun di negara maju sekali pun.
"Adik cantik?"
Bianca lambung menoleh, mata nya berkedip dengan bingung menatap salah satu pria yang turun dari mobil yang memili seluruh kaca yang di lapis hitam.
"Mau ikut paman?" ajak pria itu dengan senyuman palsu pada anak kecil yang tau apa-apa itu.
Bianca menggeleng, ia masih menunggu sang kakak yang menjemput nya.
"Bian nunggu kakak," jawab gadis kecil itu sembari menatap dengan mata yang polos.
"Kakak? Oh, tadi kakak kamu minta paman yang jemput. Kamu mau ikut? Kakak kamu juga bilang nanti di kasih permen kapas loh..." ucap pria itu yang kebetulan sama seperti ucapan sang kakak.
Bianca langsung berbinar menatap nya, namun ia tak melihat permen kapas yang ia mau tentu membuat nya tak percaya.
"Mana? Pelmen apas nya?" tanya nya sembari celingak-celinguk mencari makanan yang manis itu.
Pria itu berbalik melihat rekan nya seperti mengkode untuk mencari permen kapas, tak lama kemudian makanan yang manis itu datang dengan bentuk kepala beruang yang tentu menarik minat anak-anak.
"Ikut paman yuk? Kakak kamu udah siapin banyak loh permen kapas nya," ajak nya lagi pad gadis kecil itu yang memanfaatkan cerita buatan nya yang kebetulan cocok.
Bianca yang tak tau apapun itu meraih tangan asing yang di ulurkan pada nya, gadis kecil itu masih tak tau apa itu bahaya. Yang ia tau semua orang akan menyayangi nya seperti mansion sang ayah tanpa tau banyak sekali orang-orang jahat di mana pun.
__ADS_1