
3 Hari kemudian.
Pria itu memegang ke arah kertas yang berada di tangan nya, ia meremas nya dengan kuat sembari tertawa pahit.
"Kanker pankreas? Sial!" ucap nya berdecak dengan kesal.
Baru saja ia ingin membuat rencana yang ke yang bagus untuk kembali membuat pria yang ia benci itu terluka namun ia sudah mendapatkan sesuatu yang mengejutkan nya lebih dulu.
"Akan ku bunuh kep*rat lebih dulu sebelum aku mati!" ucap nya yang menatap dengan kesal.
Ia menggebrak meja di depan nya beserta dengan keras putih yang berisi hasil pemeriksaan nya sampai membuat gantungan kunci yang berada di atas meja itu ikut berbunyi.
"Hahh..."
"Dia..." ucap nya yang sempat melupakan sesuatu sejenak.
"Aku juga akan membawa mu," ucap nya dengan senyuman miring.
Baginya tak masalah menghabisi gadis yang bahkan berhasil masuk ke dalam hati nya untuk melepaskan rasa dendam nya dengan pria yang ia tuju.
"Lagi pula aku juga akan mati, jadi aku bisa membawa nya bersama ku juga..." ucap nya yang mulai tak ragu melakukan apapun.
......................
"Aku bayar sekalian untuk dia,"
Gadis itu menoleh ke belakang, kartu yang di terima kasih tersebut bukan nya milik nya namun milik pria di belakang nya.
Wajah menatap dengan mata yang mengenali pria itu namun ia mengernyit.
"Lama tidak jumpa," senyuman yang terlihat ramah namun juga seperti topeng.
"Akan ku ganti lain kali," ucap Louise menatap datar dan berbalik.
Pria itu mengikuti nya dari belakang, sejauh yang ia tau saat ini gadis itu di ikuti oleh 4 pria lain nya yang bergerak seakan mengawasi jadi ia pun tak berniat melakukan apapun saat ini.
"Kau minum sendiri? Bisa mengemudi?" tanya sembari berjalan mengikuti irama kaki jenjang yang memakai heels cantik itu.
Louise mengentikan langkah nya, ia menatap ke arah pria di samping nya.
Pria yang dulu nya ia kenal karna menjalin kerja sama dengan rumah sakit nya.
"Apa kita punya urusan satu sama lain? Saya rasa urusan kita juga sudah selesai," ucap nya yang membangun batas.
"Kau kesal karna aku menarik kerja sama dulu?" tanya Alex menebak.
Saat berita gadis itu meninggal mencuat setelah kecelakaan nya, banyak juga serangkaian kejadian yang hampir membuat perusahaan yang bergerak dalam bidang rumah sakit, farmasi dan properti itu hampir bangkrut.
Beberapa aset di ambil seperti hotel dan resort namun rumah sakit dan perusahaan inti masih di pertahankan.
"Tidak, sebagai pebisnis tindakan mu tidak salah." jawab Louise sembari menggeleng.
__ADS_1
Pria itu tersenyum sembari menatap wajah gadis itu penuh arti.
Greb!
Louise tersentak, tangan nya tertarik ke sisi lain nya secara tiba-tiba hingga membuat nya menoleh ke arah si penarik.
Mata nya mengernyit namun ia tak mengatakan apapun sampai yang menarik tangan nya itu menyembunyikan diri nya di balik punggung lebar itu.
"Ku dengar kau akan menikah kan? Tapi kenapa bertemu pria lain di hotel?" pertanyaan yang seakan menyudutkan dan juga ingin mencari kesalahan.
Iris yang beradu semakin tajam namun tak ada satu patah kata pun yang di ucapkan atau keluar dari bibir masing-masing.
"Kita pergi," ucap nya sembari menarik tangan gadis itu.
Sedangkan Alex yang masih berdiri itu menatap dengan senyuman kesal. Bahkan setelah bertahun-tahun pun gadis itu masih terlibat dengan seseorang yang ia benci?
Tak!
Gadis itu menghentikan langkah nya dan menepis tangan pria yang membawa nya secara tiba-tiba itu.
"Apa yang kau lakukan?! Kenapa di sini?!" wajah yang terlihat tidak suka dan kesal itu membuang wajah nya ke arah lain.
"Kau tidak jawab telpon ku terus beberapa hari ini, jadi ku pikir lebih baik mendatangi mu." jawab James sembari kembali menarik lagi tangan gadis itu dan menuju lift.
"Kau gila?! Bagaimana kalau ada yang salah paham?!" tanya nya sembari menatap dengan semakin kesal.
"Berarti pikiran mereka yang kotor, kau juga ke hotel bukan untuk tidur tapi untuk makan, kan?" jawab pria itu dengan enteng.
"Jangan dekat dengan pria yang tadi," ucap nya tanpa memandang wajah gadis di samping nya.
"Kenapa? Kau berhak mengatur dengan siapa aku mau dekat?" tanya Louise mengernyit, bahkan tunangan nya tak pernah melarang apa yang ia inginkan.
"Lakukan saja, firasat ku tidak baik tentang nya dan dia juga bukan orang baik." jawab James pada gadis itu.
Awal nya ia pernah curiga dengan pria itu namun sebanyak apapun ia menyelidiki pria 'bersih' pada dirinya.
Dalam artian bukan seseorang yang pernah mengusik nya dalam hal apapun, walaupun berdasarkan informasi yang ia dapatkan pria itu juga mengedarkan beberapa tumbuhan dan obat terlarang namun itu juga tidak pernah menganggu ranah nya sekali pun sehingga tidak ada alasan untuk nya membalas ataupun mengganggu juga.
"Lalu aku harus lakukan apa yang menurut mu tidak baik?" tanya nya sembari membuang wajah nya.
Lift hotel tersebut sudah turun tepat di basement parkiran mobil-mobil mewah itu.
"Mau kemana?" tanya Louise saat tangan nya di tarik lagi.
"Ikut saja, atau kau mau aku telpon tunangan mu dan bilang kita baru pesan kamar?" tanya nya sembari berbalik dan melihat ke arah gadis itu.
Jika gadis yang bersama nya saat ini terlalu banyak memberontak maka pengawal yang di berikan sang kakak akan langsung keluar da menghalangi nya.
"Kau sendiri yang bilang kalau orang di hotel bukan hanya untuk tidur kan?" tanya gadis itu membalikkan apa yang ia dengar.
"Ya, tapi seseorang mungkin akan berpikir sebaliknya jika melihat wanita nya bersama dengan pria lain di tempat yang seperti ini kan?" tanya nya menatap ke arah gadis itu.
__ADS_1
Louise diam dan pada akhirnya mengikuti langkah pria itu dan masuk ke dalam mobil nya.
"Ada apa?" tanya nya ketika ia duduk tepat di bangku sebelah pengemudi itu.
"Akhir pekan ini, ayo pergi dengan ku," ucap nya pada gadis di samping nya.
Tak ada jawaban, gadis itu masih memandang lurus ke arah mobil-mobil yang terparkir lain nya.
"Dengan Bianca juga, dia butuh udara segar juga kan?" ucap nya yang ingin setidak nya putri nya merasakan sesuatu seperti kelurga lain nya dengan orang tua yang lengkap tanpa harus tinggal di sisi yang lain.
"Nanti," ucap nya singkat.
"Apa?" pria itu mengernyit sembari menatap ke arah gadis di samping nya.
"Aku akan temui dia nanti jika semua nya sudah lebih baik," ucap nya lirih sembari memejam.
Ia masih beberapa hari melakukan terapi untuk menghilangkan bayang-bayang putra pertama nya.
"Mau sampai kapan kau seperti ini?! Dia juga anak mu! Kau juga ibu nya!" ucap pria itu seketika saat melihat gadis itu terus menghindari anak mereka.
"Hentikan James..." ucap nya lirih saat pria itu mulai berteriak pada nya.
"Dia tidak tau apapun, jangan membenci nya." ucap pria itu lagi.
"You gave me that fear! Did you forget it?" ucap nya sembari menoleh ke arah pria yang seperti ingin memarahi nya itu.
James tak mengatakan apapun lagi, kini setiap kali gadis itu tak mengangkat atau menjawab telpon nya ia mulai menjadi was-was.
Ia tak bisa menghentikan pikiran buruk nya dan gelisah bagaimana jika gadis itu sedang bersama tunangan nya dan melakukan sesuatu yang memang harus nya sudah di lakukan sejak lama.
Namun kali ini sebanyak apapun ia melihat tak ada bekas kepemilikan yang tampak, tapi bagaimana kalau mereka tidak meninggalkan bekas?
Tetap saja ia tak bisa berpikir tenang sama sekali.
Ponsel gadis itu bergetar, dan benar saja pria yang selalu membuat nya overthingking itu yang menelpon gadis di samping nya.
"Hm, aku sebentar lagi pulang, kau dengan Louis?" ucap nya saat menjawab telpon tersebut.
Sedangkan pria yang menggenggam erat stir mobil itu tampak panas dan menggertak gigi nya karna ingin sekali melempar ponsel itu agar pembicaraan selesai.
"Kalian belum menikah tapi seperti nya dia banyak mengatur mu," ucap nya yang mengomentari karna merasakan cemburu.
Tentu ia kesal dan marah karna gadis itu seperti terbagi, dan bukan menjadi milik nya sepenuh nya lagi.
Tapi ia juga tau kalau sebenarnya tidak alasan mengapa ia harus kesal dan cemburu karena ia tak memiliki hubungan apapun pada gadis itu.
"Setidaknya dia berniat menikahi ku," jawab gadis itu dengan senyuman pahit.
"Bukan seseorang yang hanya mengatur hidup ku dan membuat ku menjadi pelayan s*x nya kapan dia mau tapi tidak berniat mengambil tangung jawab apapun." ucap gadis itu yang seperti memberi tamparan kata pada pria di samping nya.
Pria itu diam tak membantah apapun, ia tau ucapan itu merupakan sindiran yang di lontarkan untuk nya dulu.
__ADS_1
"Maaf..." ucap nya lirih dan hanya itu yang bisa ia keluarkan dari mulut nya.