(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia

(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia
Who is he?


__ADS_3

Satu Bulan kemudian.


Kediaman Rai


Pria itu mengernyit menatap saudari nya yang ikut di balik tubuh tinggi dan tegap sahabat nya.


"Kau kenapa ikut juga?" tanya nya langsung, bukan tak ingin melihat adik nya namun ia ingin melindungi dengan cara nya.


"Kakak! Miss you! Love you! Sarang-"


"Gak mempan! Kenapa balik?" potong nya dengan ketus seketika.


Bibir Louise langsung terkatup mendengar nya, rayuan yang selalu mempan dan berhasil pada sahabat nya tak masuk sama sekali pada saudara kembar nya.


"Ini kan rumah ku juga!" jawab Louise langsung sembari semakin bersembunyi di balik tubuh tunangan nya.


Louis menatap ke arah adik nya, dan kemudian menghela napas nya sejenak lalu beranjak melihat ke arah teman nya.


"Zayn?"


"Hm?" ia tersentak saat nama nya yang di panggil.


"Kau tidak pulang? Pulang sana," ucap nya yang tak perlu mengkode karna sudah seperti mengusir secara langsung.


Louise memegang tangan pria itu dan menggeleng, ia tau kakak nya memang sangat menyayangi dirinya namun ada kala saudara nya itu begitu cerewet seperti ibu-ibu.


Zayn diam sejenak, namun ia tau ia harus menyingkir agar kedua saudara itu bisa bicara lebih leluasa.


....


Kini tak ada siapapun kecuali kedua saudara kembar itu, yang satu menatap tajam dan satu nya lagi terus menunduk mencicit pada nya.


"Kau kenapa kembali? Kalau ada yang kau mau di sana, bilang aja pasti bakal ku pe-"


"Kenapa?" potong gadis itu langsung.


"Kenapa aku gak boleh balik? Ini kan juga rumah ku," potong Louise langsung.


Semenjak sadar ia sama sekali tak pernah kembali ke rumah nya sendiri dan yang melarang nya pun kakak nya sendiri.


"Karna kau lagi sakit, makanya aku minta kau tinggal di sana." jawab Louis yang selalu menjadi alasan nya sejak dua tahun lalu.


"Sakit? Aku sangat sehat sekarang! Aku sakit dari mana?" tanya Louise seketika.


Walaupun ia memang memiliki penyakit bawaan namun ia sekarang benar-benar dalam kondisi yang sangat stabil.


"Kau kan tidak tau! Lagi pula ini juga untuk kebaikan mu juga, aku berharap kau terus baik-bai-"


"Yakin?" Louise mengernyit, alasan yang terus mengatakan ia sakit dan membuat nya tetap tinggal di tempat yang jauh.


"Hm?"


"Yakin cuma itu alasan nya? Aku sakit? Anggap saja karena aku sakit jadi kau mengirim ku jauh? Tapi aku sakit dari dulu kan? Dan kalau memang aku sembuh nya di sana terus kenapa aku masih hidup walaupun tinggal di sini dari kecil?!" tanya nya tak percaya.


"Kau pikir apa sih? Aku juga ga mungkin buat sesuatu yang akan menyakiti mu kan?" tanya Louis yang merasa kini adik nya memikirkan sesuatu yang lain.


"Tentu, kau kan kakak ku." jawab Louise yang tersenyum miring mendengar nya.


Louis langsung mengernyit melihat ekspresi adik nya yang sulit di jelaskan.


"Louise?" panggil nya pada gadis itu.


"Aku merepotkan?" tanya gadis itu dan langsung menatap netra bening saudara nya.


"Apa?" Louis tak mengerti maksud pertanyaan yang baru di dengar nya.


"Kau berpikir merepotkan punya adik seperti aku? Makanya kau mau cepat menikahkan ku, iya kan? Mau cepat aku keluar dari sini dan bukan tanggung jawab mu lagi?" ucap nya mengeluarkan yang selama ini menganggu nya.


"Merepotkan? Aku gak pernah pikir begitu!" jawab Louis langsung menyangkal.


"Terus? Apa alasan nya? Karna aku sakit? Aku juga sudah sakit dari dulu! Kau tau? Yang kau lakukan sekarang itu seperti mengatakan secara tidak langsung kalau aku hanya seperti beban saja untuk mu!" balas Louise lagi.


Ia tak tau jika pertengkaran mereka akan menjadi serius.


Louis diam, ia tak bermaksud demikian namun ia memang seperti ingin melepaskan tangung jawab nya dari adik nya.


Di mulai dari ingin menikahkan nya secepat mungkin, tak membiarkan nya kembali dan tetap menyuruhnya untuk tinggal yang jauh dari nya.


Ia tak bisa mengatakan alasan yang sebenarnya mengapa melakukan demikian karna nanti masa lalu yang melukai adik nya pun akan ikut kembali terkorek.


Ia menarik napas nya, melihat iris hijau yang menatap nya memalingkan pandangan yang menyimpan kaca bening di balik nya.


"Louise? Kau itu bukan beban, kau juga tidak merepotkan, kalaupun mungkin merepotkan aku juga suka di ga masalah." ucap nya sembari menyentuh pundak gadis itu dan perlahan memeluk nya.


Tangan nya mengusap rambut belakang adik nya dengan lembut, "Maaf, kau jadi punya pikiran begitu..." ucap nya lirih yang memilih tak mendebat lagi.


......................


Tiga hari kemudian.


Apart Blue sky


Segelas coklat panas itu datang pada gadis yang tengah menyelaraskan tubuh nya sembari di temani dengan lampu hias seperti bongkahan bunga tersebut.

__ADS_1



Louise membuka mata nya dan menatap ke arah Zayn dengan tersenyum.


"Iya! Ternyata yang aku pikirin salah," jawab Louise yang terlihat lega.


"Aku tidur di sini yah?" sambung nya setelah meminum coklat panas yang di berikan pada nya.


"Oh iya? Besok kita ke taman bunga yah? Kangen sama taman di sini!" ucap nya tersenyum sesaat sebelum beranjak.


Zayn diam tak menyahut namun tetap saja besok ia akan mengantarnya juga.


...


Pria itu melihat dengan wajah cemberut nya ke arah gadis di samping nya, sekarang ia harus menghadapi cobaan lagi karna gadis itu tidur di samping nya kembali.


"Kau kenapa tidur di sini lagi si? Hm?" tanya nya sembari mengusap pipi dan bibir gadis itu bahkan sesekali mencubit nya.



"Masa gak boleh? Lagi pula kan nanti kita juga bakal-"


"Nikah?" sambung pria itu langsung.


"Tapi kan kalau terus gini aku nan-"


"Jadi sekarang mau apa? Mau aku pindah? Atau pulang walaupun udah malam gini?" tanya Louise lagi.


"Mau cium," jawab pria itu tanpa sadar ketika tangan nya terus mencubit pipi gadis itu.


Louise diam sejenak mendengar nya, tapi ia juga penasaran. Penasaran karna tak pernah merasakan apapun saat melakukan kontak fisik dengan pria di depan nya saat ini.


Humph!


Zayn tersentak, gadis itu tiba-tiba memangut bibir nya, tangan nya pun langsung beranjak memeluk tubuh ramping yang berada di di atas tubuh nya.


Membalas ciuman yang gadis itu sembari mengelus punggung halus gadis itu saat tangan nya tanpa sadar masuk ke dalam sweter yang tebal tersebut.


Louise membuka mata nya, bibir nya saat ini tengah di pangut dan tubuh nya yang mendapatkan kontak fisik lebih banyak dari biasanya.


Namun tak ada perubahan sama sekali di perasaan nya, hanya datar seperti jalan tol yang mulus.


Ciuman yang awal nya lembut itu mulai berubah, semakin agresif dan usapan di punggung nya semakin menjalar dan membuat sweter nya semakin naik.


Louise mendorong dada pria itu dan membuat nya perlahan bangun adat dapat melepaskan pangutan nya.


"Za...Zayn..." panggil nya lirih.


Deg!


"Aku ke kamar mandi dulu," ucap nya yang langsung beranjak setelah gadis itu tak lagi di atas dada bidang nya.


Gadis itu diam melihat tunangan sekaligus sahabat nya itu ke kamar mandi, ia menunggu sejenak namun perlahan mulai tertidur karna tak melihat pria itu kembali.


......................


Louise melihat ke arah pria yang menyetir mobil tersebut.


"Zayn? Mata mu kenapa cekung?" tanya nya lirih melihat ekspresi kaku pria itu.


"Iyalah! Gak bisa tidur," jawab Zayn langsung, mana mungkin ia bisa tidur setelah melewatkan ciuman panas yang berada di atas ranjang itu?


"Tapi ganteng kok, ih manis nya adik kakak ini." ucap Louise yang malah terkekeh melihat pria yang berusaha marah pada nya namun tetap saja tak bisa.


Zayn tak mengatakan apapun, hanya melihat gadis itu tersenyum saja ia semakin tak bisa marah ataupun memarahi nya.


Ia pun mulai memakirkan mobil nya sedangkan gadis itu langsung turun dan masuk ke area taman lebih dulu.


Sedangkan yang tidak mereka ketahui adalah siapa saja bisa datang ke tempat itu, entah untuk melihat bunga ataupun mengenang sesuatu.


...


Aroma lembut dari bunga yang bermekaran di musim semi menyertai indra penciuman pria itu.


Ia berjalan di tempat yang dulu sangat di sukai gadis nya. Tempat dimana gadis itu berdiri dengan senyuman cerah yang selalu membuat nya tenang.


Aku merindukan nya...


Tak ada yang bisa ia keluhkan saat semua nya terjadi karna kesalahan nya. Membiarkan gadis itu pergi dan mendorong nya menjauh.


"Aku mau lihat kesana!" suara gadis yang terdengar senang sembari berjalan ke arah bunga sweet pea yang bermekaran.


Deg...


Suara yang membuat jantung nya hampir berhenti berdetak sesaat mendengar suara yang begitu ia rindukan.


Mata nya menuju dan melihat wanita yang sangat ingin ia temui di depan nya.


Senyuman yang dulu sering ia lihat namun ia juga membuat banyak air mata di wajah cantik itu.


Dia benar-benar hidup...


Darah itu memang untuk nya?

__ADS_1


Batin pria itu sembari berjalan mendekat ke arah gadis yang tengah memegang bunga indah tersebut.


Greb!


Satu tarikan langsung membuat gadis itu mengandah pada pria yang tiba-tiba menyentuh nya.


Mata nya yang saling mengunci satu sama lain sesaat dan gadis itu pun langsung memalingkan wajah nya.


"Ini benar kau, kan?" tanya pria itu tak percaya dan langsung memeriksa pergelangan tangan gadis itu.


Ia pernah memberi tato di pergelangan tangan gadis itu tiga tahun yang lalu setelah ia mengambil pengalaman pertama wanita di depan nya.


Tanda kepemilikan yang ia buat dalam bentuk lambang sabit.


"Le-lepas!" gadis risih dan langsung berusaha menepis nya karna tak nyaman.


Pria itu menghela nafas nya dengan berat melihat tato sabit itu masih ada, ia kembali menatap wajah wanita di depan nya dengan lekat.


"Anda mengenal saya? Lepaskan sakit..." ucap wanita itu yang semakin ingin melepaskan tangan dari genggaman pria di depan nya.


Tatapan pria yang menatap nya dengan penuh kerinduan, penyesalan, dan kesedihan serta kebahagian yang berbaur menjadi satu.


Ia tak mengerti karna sama sekali tak ingat dengan pria yang baginya begitu 'Asing' dan baru pertama ia temui.


Set...


Dalam satu tarikan pria itu langsung mendekap gadis di depan nya, ia memeluk dengan begitu erat melepaskan semua kerinduan yang menumpuk di dalam dirinya.


Hati nya terasa tergelitik, perasaan senang yang teramat sangat hingga membuat nya sesak dan menitikkan air mata tanpa ia sadari.


"Kau masih ada..."


"Maaf..."


"Maafkan aku..." ucap nya lirih dengan suara tertahan sembari memeluk gadis itu.


Gadis itu bingung dan terkejut di saat yang bersamaan ketika pria yang ia anggap asing langsung memeluk nya erat.


Aduh...


Momen mengharukan ini...


Tapi kayak nya dia salah orang, di marahin gak yah? Kalau di marahin bisa malu sampai tulang ini...


Batin gadis itu yang menganggap pria yang tengah memeluk nya salah mengenali orang yang ia tuju.


"Tu-tunggu? Kau menangis? Kau orang mesum?! Lepas!" ucap nya tersebut yang merasakan suara lirihan pria itu.


"Tidak, aku sangat senang tapi aku juga tidak tau kalau akan seperti ini..." jawab pria itu sembari terus menahan pelukan nya dengan erat.


Setelah memeluk gadis itu dan melepaskan seikat rindu yang membelenggu hati nya, ia pun melepaskan nya dan kembali menatap iris hijau di depan nya.


Tatapan asing dan merasa begitu tak nyaman terlihat di mata gadis itu.


"Kau melupakan ku?" tanya perlahan pada gadis itu.


"Kita pernah bertemu? Tapi kurasa anda salah orang." jawab nya karna ia begitu merasa asing.


Apa aku terlalu menyakitkan untuk kau ingat?


Maafkan aku...


"Benarkah?" ucap pria itu lirih dengan senyuman pahit di bibir nya dan sorot mata yang begitu sedih.


"Anda mau ini?" ucap gadis itu dengan langsung mengambil asal bunga sweet pea dan memberikan ke pria tersebut.


Pria itu menggeleng pelan dan menatap sendu ke arah bunga indah yang melambangkan perpisahan dan selamat tinggal tersebut.


"Ma-maaf, saya pergi dulu nanti teman saya mencari." ucap nya tersebut dan langsung pergi berlari.


Sorot mata dan senyuman kesedihan pria itu membuat nya tak nyaman dan langsung berlari pergi meninggalkan pria itu.


"Aku mencintai mu!" ucap pria itu tiba-tiba sebelum langkah kaki yang ia rindukan itu semakin pergi.


Langkah nya terhenti dan menoleh ke arah pria asing yang ia anggap aneh tersebut.


"Aku hanya ingin kau tau kalau aku sangat mencintai mu..." ucap pria itu dengan senyuman yang memberikan sorot kesedihan di dalam nya.


Gadis itu berbalik pergi dan kembali berlari semakin menjauh.


Deg...


Deg...


Deg...


Jantung nya berdetak cepat bagian dari hati nya terasa sakit namun ia tak tau dimana yang bermasalah.


Tes....


Air mata nya luruh tanpa ia sadari, dada nya terasa berdenyut dan sesak. Bukan sakit karna penyakit nya namun karna hal yang tak ia mengerti.


Jantung ku bermasalah lagi? Karna aku berlari? Tapi kenapa rasa nya berbeda?

__ADS_1


Ini...


Menyesakkan...


__ADS_2