
Dua bulan kemudian.
Roma, Itali.
Pembicaraan yang akan menentukan dari berapa nilai yang akan masuk ke dalam rekening itu berjalan lancar.
Pembicaraan itu pun berakhir di siang yang cerah, Louis diam sejenak, menatap ke arah jalanan yang terlihat selalu ramai dari dinding kaca yang besar itu di salah satu restoran hotel ternama.
Setelah beberapa bulan berlalu ia datang ke tempat di mana mantan istri nya tinggal karna urusan bisinis yang tidak dapat ia hindarkan, walaupun ia mengetahui detail tempat tinggal wanita itu namun ia tak berniat untuk mendatangi nya hanya karna ia sudah berjanji untuk melepaskan wanita itu.
"Sudah ada pemberitahuan dari asosiasi?" tanya Louis saat Michael baru saja duduk di kursi nya setelah menelpon salah satu rekan bisnis yang lain untuk temu janji.
"Belum Presdir," jawab Michael lirih saat melihat wajah pria di depan nya yang terlihat lelah.
"Mereka pasti akan menemukan nya," gumam Louis yang berharap pencarian darah yang sama dengan adik nya cepat di temukan agar bisa melakukan operasi dengan segera.
Bahkan jika ia menggunakan semua uang dan kekuasaan nya hal yang ia inginkan tak mudah di dapat karna hal itu bukanlah sesuatu yang bisa di buat oleh kepintaran manusia melainkan sesuatu yang ada sejak lahir.
"Presdir? Apa anda tidak ingin menemui nyonya Clara?" tanya Michael merubah topik saat melihat mata yang sekali lagi kecewa dengan jawaban nya perihal darah.
"Clara?" tanya Louis mengulang.
Pria itu tertawa kecil, bukan ejekan namun terlihat getir mendengar nya.
"Kalau dia lihat aku di sini dia mungkin akan berpikir aku menguntit pada nya kan?" Louis yang membalas perkataan tersebut.
"Lalu anda tidak ingin bertemu dengan nya lagi?" tanya Michael mengernyit.
"Bukan aku, tapi dia yang tidak akan mau bertemu dengan ku lagi." ucap nya tersenyum tipis, "Lagi pula sekarang prioritas ku Louise dulu..."
"Anak itu harus bangun..." sambung nya lirih dengan harapan penuh jika adik nya yang super manja dan menyebalkan itu akan segera membaik.
"Nona Louise pasti akan segera pulih," balas Michael pada pria itu.
"Hm, nanti kalau dia pulih aku juga mau membawa nya ke resto ini, makanan penutup di sini dia pasti akan suka." sambung Louis dengan senyuman pengharapan jika hal tersebut akan cepat terwujud.
Ia tau apa yang di sukai sang adik, desert dengan pancake dan es krim yang di berikan selai stroberi itu tentu nya akan sangat di sukai gadis yang begitu menyukai buah berwarna merah berbintik hitam itu.
...
Suara dari tombol pin yang di tekan dan pintu yang terbuka memenuhi apart tersebut.
Wanita itu menghela napas nya dengan lirih, sudah beberapa bulan berlalu pasca perceraian nya, memang ada yang mendekati nya namun ia tak merasakan perasaan yang sama yang ia lakukan saat ini hanya fokus pada hobi yang pernah tertunda dulu nya.
Clara pun mengambil salah satu jepit rambut nya dan mengikat untaian dari ribuan helai yang berwarna hitam kecoklatan tua itu ke belakang.
Ia pun melepas blazer yang ia kenakan dan hanya mengenakan dalaman blazer nya saja. Kamera yang ia miliki masih tergantung di leher nya.
Ia pun memeriksa nya sejenak melihat beberapa tangkapan gambar yang sudah ia ambil tadi nya.
Wajah cantik itu mengernyit, ia pun mulai menatap dengan lebih detail sembari menzoom foto yang terambil dalam kamera nya.
"Louis?" gumam nya lirih.
"Dia di sini?" suara lirih yang bertanya pada diri sendiri itu tak memiliki jawaban.
Foto yang ia ambil memang tak memperlihatkan mantan suami nya itu sendirian melainkan bersama dengan beberapa orang lain nya.
"Dia sedang ada perjalan bisnis?" gumam nya yang tanpa sadar terus melihat ke arah foto yang ada di depan nya.
Clara membuang napas nya, melepaskan kamera nya dan duduk di salah satu sofa ruang tengah nya.
"Astaga! Buat apa sih mau tau tentang dia lagi?!" gerutu nya yang kesal pada dirinya sendiri.
Ia pun mengambil kamera nya dan ingin menghapus gambar yang tak sengaja memfoto seseorang yang ia kenali tadi.
Ujung jemari lentik nya hanya bermain di atas pilihan opsi menghapus tanpa benar-benar menghapus nya.
"Tapi kalau di pikir lagi dulu perceraian ku dekat dengan berita itu kan?" gumam nya yang baru sadar sekian lama jika ia meminta cerai di saat bersamaan adik mantan suami nya itu di kabarkan kecelakaan.
Walaupun tak bisa melihat melihat bukan berarti ia tak bisa mendengar, hanya saja dulu hal tersebut bukan sesuatu yang ingin ia pahami karna ia merasa harus dapat terbebas lebih dulu.
__ADS_1
"Ya ampun..."
Clara berdecak, meringkuk di atas sofa besar nya, jika berita tersebut memang benar maka ia adalah teman yang buruk.
Walaupun awal nya ia pernah berteman dengan mantan adik ipar nya dulu sebelum ia menjalin hubungan dan Louis menghancurkan kehidupan nya namun pertemanan itu seperti es tipis yang mudah rusak karna kebencian nya pada pria yang menghancurkan hidup nya.
"Tidak nyaman..." gumam nya lirih.
Di pikiran wanita cantik itu ia akan segera terbiasa dengan kesendirian yang ia idam-idamkan namun di luar dugaan ia tak pernah terbiasa sama sekali.
"Apa dia baik-baik saja sekarang?" sekali lagi wanita cantik berlesung Pipit itu bertanya pada pertanyaan yang tak akan ada jawaban nya.
Walaupun benci namun ia tak bisa menyangkal jika ia juga rindu di saat yang bersamaan.
......................
Mansion Dachinko.
Geliat dan tawa menggemaskan baby Bianca membuat sang ayah terus melihat nya, walaupun wajah tampan itu tak memiliki ekspresi sama sekali namun tangan yang mengusap nya dengan handuk putih itu terlihat begitu lembut.
"Tuan?"
Pria itu tak menoleh sama sekali dengan panggilan yang datang pada nya, ia hanya menatap ke arah putri kecil kesayangan nya itu.
Entah sejak kapan ia berlatih dan memiliki ketrampilan untuk merawat bayi namun kini putri kecil nya sudah memakai pakaian beserta tubuh yang wangi setelah mandi.
"Tuan?"
Panggil Nick mengulang saat tak melihat ada nya balasan dari tuan nya.
"Jangan terlalu mengeraskan suara mu, dia bisa terkejut." balas pria itu sembari berbalik dan menggendong putri kecil nya.
"Tuan muda Arnold ingin bertemu dengan anda," ucap Nick lirih.
Semenjak Louise melahirkan Al tak lagi datang ke mansion walaupun ia bertanya bagaimana penampilan 'adik' yang berada di perut besar 'kakak baik' nya setiap saat namun tak ada yang menjawab nya.
Dan alasan Nick melaporkan hal tersebut adalah karna bocah kecil itu sudah sampai demam karna keinginan nya.
"Kau tidak bisa mengurus anak lima tahun?" tanya James sembari melewati bawahan nya itu.
"Tuan? Tapi tadi saya men-"
"Dia pasti akan tanya tentang Louise," potong James sembari menghentikan langkah nya sejanak.
Nick tak lagi bisa mengatakan apapun, ia diam dan membiarkan tuan nya berjalan keluar sembari membawa putri kesayangan nya itu kemanapun ia ingin pergi kecuali ketika melakukan pekerjaan yang berbahaya.
James?
Anak kecil saja rindu aku, kau tidak rindu?
Pria itu diam, langkah nya tak lagi berlanjut, menatap kosong apa yang ada di depan nya sembari membawa putri kecil kesayangan nya yang sering menggeliat tertawa dan menangis itu.
Membedakan realita dan khayalan semakin sulit untuk nya, setiap hari bayangan gadis itu datang pada nya dengan berbagai ekspresi.
Bahagia, sedih, marah, kesepian, dan putus asa. Gadis itu memiliki banyak wajah yang berada dalam pandangan nya.
Namun sorot mata nya tetap sama, ia tetap memiliki sorot yang terlihat kehilangan asa nya, ia bahkan hampir melupakan bagaimana sosok dengan mata yang berbinar dan ceria tanpa adanya beban kesedihan saat ia terus menerus membuat gadis itu menangis.
"Bian? Kau bisa lihat? Mommy mu cantik kan?" tanya nya lirih sembari melihat ke arah bayangan gadis yang terus muncul di balik mata nya setiap saat.
....
Malam yang sudah naik dan memberikan tampilan bulan yang sudah sepenuhnya keluar itu tak membuat nya tertidur.
Suara ketukan terdengar, namun tak ada jawaban sama sekali.
Nick pun tetap masuk, semenjak bangun dan tau gadis yang tak lagi ada di sisi nya, pria itu menjadi semakin irit berbicara bahkan menawan pun sudah jarang.
"Tuan?"
James lagi-lagi seakan tak menanggapi nya.
"Saya menemukan sesuatu tuan, JBS melakukan pencarian darah golongan Rh-null saat ini, tapi pencarian sejak kapan di mulai saya masih belum bisa mengakses nya." ucap Nick pada pria itu.
__ADS_1
James memutar tubuh nya agar melihat ke arah pria yang ia belakangi.
"Rh-null?" tanya James mengulang.
Tentu nya ia sangat tau gadis itu memiliki golongan darah golden blood tersebut.
"Alasan nya?" tanya nya lagi.
"Tuan Louis juga mengumumkan di asosiasi golongan darah nona Louise dan alasan mereka mencari golongan darah tersebut untuk penelitian dan pengembangan sains." terang Nick.
"Seperti melakukan penghormatan pada orang lain yang memiliki golongan darah yang sama dengan nona Louise," sambung nya lagi.
"Menurut mu darah itu benar-benar untuk pengembangan sains? Atau untuk Louise sendiri?" tanya James mengulang.
"Bisa kedua nya, karna saat ini mereka juga akan meluncurkan produk alat kesehatan yang baru tetapi hal ini masih bersifat rahasia karna tidak semua mengetahui nya.
"Darah? Asosiasi? Penelitian...." gumam nya yang kini terlihat serius dan memikirkan sesuatu yang baginya terlihat penting.
"Kalau begitu berikan," perintah nya pada bawahan dan tangan kanan nya itu, "Bukan nya kita masih memiliki darah Louise? Berikan tiga kantung dan cari tau alasan lain kenapa mereka membutuhkan,"
"Baik tuan," jawab Nick
"Pastikan pekerjaan mu berjalan dengan baik," ucap nya sekali lagi agar bawahan nya itu tak membuat cela agar orang-orang tau dari mana darah yang mereka berikan berasal.
James?
Suara itu kembali datang saat pria itu kini sendiri lagi.
Wajah yang tersenyum dan berdiri di sebelahnya membuat James memutar kepala nya.
Kau berharap darah itu untuk ku, ya?
Ia tak bisa menjawab suara halusinasi yang ada di telinga nya saat ini.
Namun bayangan itu mendekat pada nya, merasakan sentuhan di rahang kekar nya yang sebenarnya tak ada.
Padahal kau yang membunuh ku? Harapan apa itu?
Bisikan yang terdengar tajam, dan menusuk ke jantung nya.
Pria itu tertegun, bayangan gadis itu masih menatapnya dengan senyuman manis dan perlahan menghilang.
......................
Satu Minggu kemudian
JBS Hospital
Telpon mulai berdering, sementara di tempat lagi nya tengah berdiri beberapa orang yang mengenakan jas putih sembari dengan sibuk mengembalikan detak yang tiba-tiba abnormal.
"Kita harus mengambil peluru nya sekarang!" ucap salah satu dokter mendekat pada Louis.
"Tapi darah nya kan belum dap-"
"Tidak ada pilihan, kalau di biarkan jantung nona Louise akan berhenti lebih dulu di bandingkan mati karna perdarahan." jawab sang dokter yang memang sudah di buru dengan waktu.
"Berapa persen kemungkinan dia bis-"
"Presdir!"
Suara Michele yang menggema membuat pria itu menoleh.
"Darah nona Louise sudah di temukan!" ucap Michael dengan mata menggebu, "Asosiasi sudah memberi tau jika ada yang memberikan tiga kantung darah dan sudah di konfirmasi jika itu memang golongan darah Rh-null!"
Louis memejam lega sejenak mendengar nya, "Baik lakukan operasi nya,"
Ia tau bahkan jika dengan memiliki cadangan darah pun tak memungkinkan jika sang adik akan mati di atas meja operasi namun bukan berarti ia hanya pasrah diri tanpa mencoba melakukan apapun.
Ku mohon...
Semoga ini berjalan lancar...
Dia adalah yang paling berharga untuk ku saat ini...
__ADS_1
Jangan mengambil dia dari ku...