(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia

(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia
Daddy di sini


__ADS_3

Mansion Dachinko


Wajah cantik itu terlihat tenang dan tak memberikan reaksi apapun, ia masih termangu melihat ke arah kaca besar yang seperti dinding di bagian kiri mansion.


Ia masih tak dapat mengatakan apapun, mata yang biasa nya menatap dingin itu kini menangis.


Putri nya?


Gadis kecil itu masih tak sadar dan berada di kamar nya, ia bahkan belum melihat nya sama sekali.


"Ini teh mu,"


Suara dengan nada yang rendah dan berat itu terdengar dari belakang membuat Louise menoleh.


Sekarang seperti memiliki suasana yang kembali tenang dan seakan air mata itu tak pernah ada.


Ekspresi yang dapat kembali di atur dan mata yang bisa menatap nya dengan lurus.


"Bianca di-"


"Wanita itu hamil?" tanya nya yang memotong ucapan pria di depan nya tanpa sempat mendengar apa yang ingin di katakan.


James mengernyit, ia menatap bingung ke arah gadis itu.


"Siapa?" tanya nya yang tak mengerti, memang nya kalau ada wanita yang hamil itu jadi urusan nya?


"Bella," jawab Louise sembari membuang pandangan mata nya yang tampak tak suka.


"Dia hamil?" tanya James yang semakin bingung mendengar nya. Baginya ia tak memiliki urusan jika mantan kekasih nya itu hamil.


"Kenapa tanya aku?" ucap Louise yang kembali menatap pria itu lagi.


"Lalu? Kenapa bilang itu pada ku? Memang nya apa urusan ku dengan itu?" tanya nya sembari melihat ke arah gadis itu.


Pria itu menatap bingung sampai tatapan gadis itu menjawab nya walau tak terucap.


"Apapun yang di pikiran mu saat ini, itu tidak benar. Aku tidak pernah tidur dengan dia setelah kami putus," ucap nya yang mulai menyadari apa yang ada di kepala gadis itu.


"Tapi kau masih berhubungan dengan nya waktu mengurung ku, kan?" tanya gadis itu dengan tatapan mata yang seakan tak mempercayai nya sama sekali.


"Kalau ku bilang tidak kau akan percaya?" tanya nya sembari menatap ke arah gadis di depan nya.


Louise memilih diam tak lagi mengatakan apapun, jujur saja ada beberapa hal yang tak bisa ia percayai dari pria itu.


Entah itu pernyataan cinta atau suatu kesalahpahaman di masa lalu yang masih ia ingat.


Di bandingkan dengan kesalahpahaman pria itu memang memilih sesuatu untuk lebih menyakiti nya.


"Ada apa dengan anak itu?" tanya nya yang berusaha mengalihkan pembicaraan lagi.


"Dia sakit," jawab James singkat yang tak mengatakan kejadian secara keseluruhan.


Iris gadis itu menghijau sejenak namun ia membuang pandangan nya lagi, "Lalu?" tanya nya yang seperti tak ingin mengetahui keadaan putri cantik nya.


"Aku tau kau membenci ku tapi dia anak mu, dia tidak salah apapun. Dia bahkan tidak tau apa yang terjadi dengan kita." ucap James yang melihat reaksi wanita di depan nya.


"Kau juga lakukan yang sama kan? Kau membenci aku dan kakak ku karna membenci ayah kami?" tanya Louise sembari menarik napas nya.


Walaupun ia ingin tau atau merasa kasihan dengan putri nya ia tetap seperti memiliki tembok yang besar menghalangi nya.


James diam kehabisan kata, ia tak bisa menyangkal nya karna itu memang benar. Ia seperti mengembalikan semua perkataan pada dirinya sendiri.


"Tapi kau sudah janji untuk memberi ku 30 kesempatan kan? Jadi aku mau kau temui Bianca," ucap nya yang tak menyangkal dan menyebutkan hal lain nya.


"Itu bukan kesempatan untuk di gunakan seperti ini," ucap Louise menggeleng.


Mencari alasan untuk tak menemui putri kecil nya, ataupun memberikan perhatian pada nya.


"Kau ibu nya, temui dia..." ucap pria itu dengan suara yang lebih rendah.


"Kau mau aku menemui nya untuk apa? Untuk dia mati?" tanya Louise dengan tatapan mata bukan menunjukkan ketidakpedulian melainkan mengindari sesuatu yang akan menyakiti nya lagi.


"Apa maksud mu?" James menatap dengan bingung pada ucapan yang bagi nya tak masuk akal itu.


"He's died, when I gave my love for him..." ucap gadis itu lirih dengan suara yang bergetar.


Pria itu terdiam kembali, kata-kata yang tentu ia tau siapa yang di ucapkan.


Putra pertama nya dengan gadis itu yang terlambat ia ketahui, dan kehilangan nya tepat sebelum ia menyentuh nya.

__ADS_1


"Tapi kali ini dia hidup, dia masih hidup saat ini dan kau bisa tau kalau menggendong nya..." ucap James yang membicarakan putri nya.


"Kau mengatakan aku gila? Ingat? Kau juga menyalahkan ku saat itu," ucap nya lirih.


"Tapi aku juga tidak tahan dengan mu, kau terlihat membenci tapi juga menginginkan ku, kandungan lemah tapi kau juga membuat ku seperti pel*cur,"


"Aku meminta mu untuk hanya berhenti pada ku, lakukan apapun yang kau inginkan dan meminta mu melepaskan kakak ku. Tapi sebaliknya..."


"Aku tidak bisa bernapas di tempat ini setiap hari dan mencoba hidup, dan aku mencoba nya..."


"Tapi itu hanya membuat ku terkurung dengan mayat..."


"Padahal aku sangat menginginkan anak itu, aku sangat mencintai nya..." ucap nya lirih.


Pria itu diam sejenak, semua yang baru saja ia dengar adalah sesuatu yang tidak bisa di sangkal dan terlebih lagi ia tak tau dampak dari sikap nya yang memaksa gadis itu untuk untuk mengurung dengan putra mereka yang telah tiada sebagai hukuman karna mencoba melarikan diri memberikan dampak yang sangat besar.


"Kalau aku menyayangi anak itu juga, dia seperti akan segera mati dan itu menakutkan untuk ku..." sambung nya lirih.


"Hanya satu menit, tidak! 30 detik! Dia sakit, dia benar-benar sakit..." ucap nya yang memilih untuk tetap membujuk gadis di depan nya.


....


Iris hijau itu membulat sejenak dengan dahi yang mengernyit.


"Kau tidak memukuli nya kan?" tanya Louise begitu melihat gadis kecil yang tak sadar itu dengan tubuh penuh bekas luka.


James tak menjawab, ia hanya melirik dengan tatapan yang mengatakan jika ia tidak mungkin melakukan nya.


Louise memperhatikan cukup lama dan kemudian berbalik keluar dari kamar tersebut.


"Sekarang sudah kan? Aku mau pulang," ucap nya sembari membuang pandangan wajah nya.


James diam sejenak memperhatikan raut wajah gadis itu setelah melihat putri mereka, "Akan ku beri tau nanti kalau dia sudah sadar."


"Ti..tidak perlu," jawab gadis itu yang terdengar ragu.


Pria itu menarik napas nya lirih, raut itu bukan seperti tidak menunjukkan kepedulian ataupun kebencian.


"Dia tidak akan mati meskipun kau mencoba mencintai nya, kalau merasa dia membebani mu kau tidak perlu khawatir dia tanggung jawab ku bukan tanggung jawab mu," ucap nya yang setelah itu berbalik.


Pria itu kembali dengan membawa jaket di tangan nya, ia memasangkan dan menutup tubuh gadis itu dengan rapat.


Bahkan bekas yang tertinggal pun terus mengganggu nya.


"Aku tidak merasa dingin," ucap Louise yang menolak ketika pria itu memberikan nya jaket.


"Dingin, kau merasa dingin." ucap pria itu sembari terus memasangkan jaket itu dengan tatapan mata yang mengarah ke bekas cinta yang akan terlihat itu jika di perhatikan.


Louise menyadari apa yang menjadi sorotan pria itu, ia tau jaket yang di berikan pada nya bukan untuk menghangatkan suhu tubuh nya melainkan untuk menutupi bekas percintaan nya.


Tak ada lagi pembicaraan, entah itu bahasan tentang anak ataupun tentang diri masing-masing.


......................


Apart Sky Blue


Langit sudah berganti gelap hari ini, gadis itu tak bisa menyembunyikan raut nya yang seperti memikirkan sesuatu sejak ia kembali.


"Kau sedang memikirkan apa?"


Gadis itu tersentak, tangan yang menyentuh bahu nya dari belakang dan memeluk nya erat seperti perangko.


"Tidak ada," jawab nya singkat.


Ia memang tak ingin memberi perhatian untuk sesuatu yang terlihat akan hilang di depan mata nya lagi, namun tetap saja hal itu menganggu nya.


"Zayn? Kalau misal nya, hanya semisal nya..." ucap nya dengan ragu.


"Aku sudah punya anak dengan pria lain bagaimana?" tanya nya tanpa menatap pria yang memeluk nya dari belakang itu.


Zayn terdiam, entah mengapa sikap gadis itu semakin hari semakin berbeda. Seperti sudah mendapatkan ingatan nya kembali dan ia pun memang mencurigai hal itu.


"Kalau begitu aku langsung dapat bonus kan?" tanya dengan senyuman kecil, karna ia memang sudah tau gadis itu memiliki seorang anak.


"Kau tidak masalah?" tanya Louise mengernyit.


"Tidak, aku suka kau dan suka apapun yang berasal dari mu. Jadi tidak masalah buat ku..." ucap nya jujur sembari terus memeluk dan mengecup lengkung leher gadis itu.


"Tapi bukan nya kau juga harus nya tanya tentang ayah nya?" ucap Louise sekali lagi.

__ADS_1


"Aku tidak peduli tentang ayah nya, asalkan kau tetap dengan ku," jawab pria itu yang semakin suka dan tidak ingin melepaskan gadis yang bersama nya.


"Louise..." panggil nya lirih.


"Hm?"


"Apapun yang terjadi nanti, jangan tinggalkan aku..." ucap nya lirih.


"Memang aku mau ke mana? Aku di sini kan?" tanya Louise saat merasakan tangan yang memeluk nya itu semakin mendekap nya.


"Tidak bukan itu, hanya saja..."


"Aku selalu merasa kau akan membuang ku nanti..." ucap nya lirih.


Louise diam, lidah nya kelu tak bisa mengatakan apapun bahkan ucapan penghiburan untuk mengatakan hal itu tak kan terjadi.


......................


Mansion Dachinko


Netra coklat itu perlahan mulai terbuka sedikit demi sedikit, cahaya yang masuk ke dalam mata nya membuat nya mulai melihat dengan jelas.


Deg!


Gadis kecil yang seperti boneka itu tersentak, ia kembali melihat pria yang tinggi dan bertubuh tegap berdiri di samping nya.


Karna takut gadis kecil itu tak bisa membedakan apa yang di lakukan pria yang berada di samping tempat tidur nya itu.


"HUA!!!" tangisan dan teriakan nya terdengar menggelegar dengan kuat walaupun ia baru bangun.


Penjaga yang baru saja mengatur infus gadis kecil itu pun langsung menoleh ke arah nona muda nya.


"Nona? Anda sudah bangun?" tanya nya dengan tersenyum lega melihat anak kecil yang sudah sadar walaupun menangis kencang itu.


"HUA!!! HUHU!!!"


Tangisan nya semakin menjadi, tubuh mungil nya gemetar dengan hebat dan terlihat ingin kabur. Ia merasa akan kembali di pukuli lagi dengan paman-paman jahat yang memukuli nya.


Bruk!


"HUA!!!"


"Nona? Anda tidak bisa turun dengan tiba-tiba," ucap nya yang berusaha mengembalikan tubuh mungil itu ke tempat tidur lagi.


Tangan yang terlihat kecil dan mungil itu mengeluarkan darah karna infus yang tercabut secara tiba-tiba.


"Sakit!!! Hua!!!"


Wajah nya basah, tubuh yang gemetar dan pergerakan yang tiba-tiba bisa membuat seluruh tulang nya semakin patah.


Mendengar teriakan dari putri nya pria itu pun segera datang, ia melihat ke arah penjaga nya yang kesulitan membawa putri kecil nya kembali ke atas tempat tidur karna terus memberontak.


"Bianca?"


Mendengar suara tuan nya penjaga itu pun mulai beranjak menyingkir.


Sedangkan tubuh kecil mungil yang gemetar itu terlihat bersembunyi di sudut ranjang nya dengan ketakutan.


"Bian? Lihat? Ini Daddy?" ucap nya yang meraih jemari kecil itu dengan tangan nya.


Wajah yang memerah karna tangis dan masih terlihat penuh memar itu menoleh.


"Da..Daddy?" panggil nya lirih dengan suara serak.


"Hua!!!"


Tangisan itu semakin besar saat melihat sang ayah, namun ia tak lagi memberontak ketika. tangan itu mengambil nya.


James menggendong nya perlahan, tangan kanan nya tampak masih mengeluarkan darah karna selang infus yang tercabut tiba-tiba membuat nya robek.


Belum lagi kemungkinan tubuh kecil itu ya h patah tulang lagi akibat bergerak tiba-tiba ketika memberontak tadi.


"Daddy di sini,"


"Sstt..."


"Jangan takut lagi..."


Ia menggendong dan menyandarkan tubuh kecil itu ke dada bidang nya, tangan yang menahan putri kecil nya dan mengusap nya dengan lembut.

__ADS_1


Gadis kecil itu masih belum bisa mengatakan apapun selain menangis ketakutan.


__ADS_2