
Kediaman Rai.
Sesampainya kaki jenjang itu menginjak lantai kediaman nya, ia sudah di tunggu tepat di ruang tengah.
"Club' lagi?" sindir pria itu langsung.
"Cuma sekali kak," jawab nya yang langsung membuang pandangan mata nya, "Lagi pula kakak juga kenapa suruh orang ikutin aku?" tanya nya lagi.
"Iya, kau itu kalau ga di jagain nanti bisa hilang kayak debu." jawab Louis yang membuang mata nya juga tak ingin melihat protes sang adik.
"Iya, iya!" jawab gadis itu sembari beranjak memegang tas nya dan beranjak masuk ke kamar nya.
"Tunggu!" pria itu mengernyit, ujung bibir adik nya terlihat memiliki warna yang berbeda dari lipstick nya.
"Ini apa?" tanya nya sembari mengusap bibir gadis itu, "Kau habis makan apa?" tanya nya lagi.
"Ish! Tangan nya!" ucap nya yang langsung menepis tangan sang kakak.
Louis menarik napas nya memilih tak lagi berdebat dengan sang adik.
"Besok kau sudah bisa pilih bahan gaun mu dan tentukan design nya," ucap nya sebelum gadis itu beranjak semakin jauh.
Langkah kaki Louise terhenti, ia berbalik menatap sang kakak, "Gaun?"
"Iya, aku sudah tentukan tanggal pernikahan mu. Jadi untuk masalah gaun nya nanti kau bisa pilih sama Zayn untuk tempat nanti ku Carikan kau juga pilih tempat yang sudah ku dapat nanti." ucap nya tersenyum pada adik kesayangan nya.
Louise diam sejenak, ia tau jika sudah tunangan nanti nya akan menikah juga.
"Kenapa diam saja?" pria itu mendekat mendatangi adik nya yang diam di tempat dengan wajah membatu.
Tidak terlihat senang sama sekali namun juga bukan wajah yang menunjukkan kesedihan.
"Bukan nya terlalu cepat?" tanya nya lirih sembari menengandah menatap wajah sang kakak yang lebih tinggi dari nya.
"Terlalu cepat? Kau sudah satu tahun tunangan dengan nya kan?" jawab Louis seketika.
Gadis itu diam ia tak menjawab dan menurunkan mata nya.
"Louise?" tangan nya beranjak memegang kedua bahu gadis itu menatap iris hijau yang sama seperti nya.
"Kau tau kan? Aku tidak mungkin melakukan sesuatu yang akan merugikan mu, kau juga tau kan dia sesuka apa pada mu? Jadi...." ucap nya lirih agar sang adik bisa mendengar perkataan nya.
Gadis itu diam tak mengetakan apapun, ia merasa sang kakak selalu khawatir berlebihan semenjak ia bangun dari 'kecelakaan nya' menjadi benar-benar overprotektif di bandingkan yang sebelum nya.
"Apa ada sesuatu yang tidak ku ketahui?" tanya nya yang mulai menatap ke arah sang kakak.
"Kenapa?" tanya Louis yang langsung membuang pandangan nya.
"Tidak aku hanya-"
"Louise? Aku tidak tau apa yang ada di pikiran mu tapi aku juga melakukan nya untuk mu, aku mau kau bahagia, mau kau tertawa." potong nya yang menatap lurus ke arah mata saudari nya.
Louise membuang napas nya lirih, "Iya, aku tau..."
"Besok aku akan pergi lihat design dan pilih bahan nya." sambung nya dan langsung membuat wajah gelisah dan khawatir sang kakak menghilang.
Louis tersenyum, tangan yang semula berada di bahu gadis itu berpindah posisi ke pipi nya.
"Adik cantik ku, manis nya..."
"Padahal tadi aku mau blokir ATM mu karna kau ke club' lagi..." ucap nya tersenyum.
"Ih! Udah ih!" ucap Louise yang berusaha menepis tangan sang kakak yang merajalela di pipi nya.
"Oh iya! Lusa ke rumah sakit yah! Ada rapat! Kau harus ikut!" teriak Louis pada adik nya.
Ia memang ingin menyembunyikan adik nya namun pada akhirnya ia tetap harus menunjukkan wajah adiknya lagi.
"Iya!" jawab Louise dengan suara yang semakin menjauh.
...
Gadis itu menjatuhkan diri nya ke atas ranjang, ia membuang napas kasar ujung jemari nya yang halus menyentuh ke bibir nya sesaat.
"Ck! Harusnya aku lapor polisi saja!" ucap nya yang berdecak mengingat pria tak sopan yang tiba-tiba mencium bibir nya.
......................
Ke esokkan hari nya.
Design yang di buat di atas kertas putih itu menampilkan gaun yang akan di pakai nya beberapa bulan lagi.
"Kau mau pilih warna apa?" tanya Zayn sembari melihat ke arah gadis yang akan ia nikahi nanti nya.
"Champange? Aku mau cari warna yang seperti itu, tapi gaun untuk ikrar nanti warna putih saja." jawab Louise sembari menunjuk ke arah salah satu design pada perancang gaun nya.
Setelah itu hal yang di lakukan selanjutnya adalah ke toko bahan pakaian, Zayn menatap ke arah gadis yang lebih banyak diam di hari ini.
__ADS_1
"Louise?" panggil nya saat mata gadis itu menatap kosong ke salah satu jenis bahan pakaian eksklusif itu.
Louise menoleh menatap ke arah pria yang memanggil nya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Zayn saat memperhatikan raut yang tak begitu baik itu.
Senyuman tipis terlihat di wajah cantik itu, "Iya, aku baik-baik aja kok." ucap nya tersenyum.
"Kau..."
"Tidak suka akan menikah dengan ku?" tanya nya lirih.
Mata hijau itu menatap ke arah pria yang melihat nya sendu seperti tak tega jika ia mengatakan ia memang masih belum siap untuk hal seperti itu.
"Bukan, kenapa sih?" tanya nya yang langsung tersenyum cerah berganti dengan suasana muram nya sebelum nya.
"Are you happy with me?" tanya pria itu menatap ke arah raut yang kini sudah tersenyum cerah lagi.
"Ya, I'm happy." jawab gadis itu langsung, lagi pula tidak ada alasan ia tidak akan bahagia jika menikah dengan teman kecil itu.
Tampan wajah dan fisik, makmur secara materi, mencintai nya dan begitu perhatian. Tidak ada kekurangan sama sekali yang di tunjukan dari calon yang di tunjuk sang kakak.
"Thanks," ucap pria itu tersenyum kecil sembari mengecup dahi gadis itu.
Louise diam sejenak, ia bahkan tak berani memberi tau jika ada yang mencium nya kemarin malam.
Sudahlah, lagi pula aku juga tidak akan bertemu dia lagi kan?
Batin nya yang merasa ia tak akan menemui pria aneh itu lagi.
......................
Mansion Dachinko.
Kaki kecil itu berlari ke arah sang ayah dan langsung melompat masuk ke dalam pelukan nya.
"Daddy!" panggil nya tersenyum cerah.
Walupun ia sering tersenyum untuk ayah nya namun ia takut melihat senyuman ayah nya.
"Daddy? Tadi Bian lihat sepatu cantik!" ucap nya sembari turun dari gendongan sang ayah dan mengajak nya ke tempat di mana ia melihat sepatu cantik nya.
Gadis kecil itu menuntun dan menarik tangan sang ayah sampai ke kamar di mana pria itu pernah mengurung ibu putri nya dulu.
"Ini Dad! Tapi Bian gak bisa pakai!" keluh nya dengan wajah cemberut.
"Ini punya siapa Dad?" tanya nya lagi melihat sang ayah terdiam.
Pria itu tersentak, lamunan yang awal nya seakan terpaku kembali lagi.
"Punya Mommy Bianca," jawab nya sembari mengusap puncak kepala putri nya.
"Telus mana Mommy nya? Mommy gak bisa beli di toko aja Dad? Lama banget sampe nya,' celetuk nya yang tak kunjung melihat sang ibu.
"Mommy kan cuma satu, mana mungkin ada di toko." jawab pria itu sembari melihat putri nya yang terlihat berbinar menatap barang-barang yang pernah ia beli dulu untuk gadis nya, walau sebagian besar itu adalah barang-barang baru karena tidak pernah di pakai.
"Daddy bilang kan Mommy itu doktel kok gak di sini? Paman Chiko aja di sini?" tanya nya pada sang ayah.
"Mommy kan tidak kerja sama Daddy," ucap nya pada putri nya yang selalu penuh rasa penasaran itu.
"Kelja itu apa?" tanya nya dengan polos.
"Ya kerja, jadi Mommy itu bukan dokter yang ada di sini." ucap nya yang bingung bagaimana menjawab putri kecil nya.
"Telus Mommy di mana?" tanya nya pada sang ayah.
"JBS?" jawab nya menyebut nama rumah sakit milik gadis itu.
"Hum?" mata bulat berwarna coklat itu terlihat berpikir keras seperti sudah mengerti walaupun ia tak tau tempat yang di sebutkan sang ayah.
...
Dua hari kemudian.
"Bianca di rumah aja, lagi pula kan Daddy gak kasih Bianca keluar lagi." ucap Al melihat adik nya yang merengek ingin ikut mengantar nya.
"Di kasih kok! Bian uda bilang sama Daddy!" jawab nya yang langsung memakai tas kucing kecil nya berisi mainan nya.
Arnold diam, adik nya itu begitu mudah mendapat izin keluar. Tentu saja karna gadis kecil itu adalah anak kesayangan.
"Bian itu suka keluar, bisa makan es klim, bisa main juga!" ucap nya tersenyum ceria.
Memang di mansion nya selalu di sediakan es krim namun tentu nya akan berbeda jika di makan di tempat berbeda walaupun satu merek.
"Sama Daddy?" tanya nya lirih.
Bianca mengangguk dengan mata bulat nya, sedangkan sang kakak terlihat menunduk muram.
__ADS_1
"Boleh yah kak..." ucap lagi sembari menyatukan tangan nya dan tersenyum merayu sang kakak.
......................
Bianca terlihat senang, kali ini ia keluar dari mansion nya untuk yang kedua kali nya.
"Bye! Kak!" ucap nya melambaikan tangan nya pada sang kakak.
"Sekalang kita ke BJS!" ucap nya memberi perintah pada supir nya.
"Kemana nona?" sang supir bingung mendengar nama tempat yang baru ia dengar itu.
"BJS loh! Tempat Mommy jadi doktel!" ucap nya sekali lagi
"JBS?" tanya sang supir yang merangkap menjadi pengawal itu.
Siapa yang tidak tau tentang gadis yang terkurung satu tahun lebih di mansion pria itu.
"Iya! Padahal Bian uda bilang dali tadi loh!" keluh gadis kecil itu yang tak sadar jika penyebutan nya salah.
"Maaf nona," ucap sang supir yang memilih tak ingin berdebat dengan majikan kecil nya.
...
JBS Hospital.
Gadis itu sedikit bingung saat tiba-tiba mengikuti rapat, walaupun ia tak melakukan apapun dan hanya duduk diam namun dalam beberapa tahun terakhir banyak pengembangan yang terjadi.
Bahkan ia tak ingat ia pernah meluncurkan salah satu jenis produk yang berjalan di bidang kecantikan beberapa tahun lalu dan sempat hancur kemudian di sambung oleh sang kakak walaupun awal nya ia yang mengembangkan nya.
"Ternyata rumor itu salah, saya senang melihat anda kembali." ucap salah satu petinggi JBS tersebut saat sudah selesai rapat.
"Ya, terimaksih." jawab gadis itu tersenyum.
Ia tak tau rumor apa dan apa yang terjadi namun ia tak bisa bersikap seperti orang bodoh yang tak tau apapun.
"Myy? Mommy?"
Suara anak kecil yang mendekat ke arah sekumpulan orang dewasa itu berdiri membuat semua mata memandang nya.
Gadis kecil yang cantik seperti boneka dengan mata coklat itu berjalan mendekat. Tak ada yang tau siapa yang ia panggil di antara beberapa wanita dan pria itu.
"Mommy!" panggil nya lagi sembari menarik tangan gadis itu.
Semua terkejut melihat nya tak terkecuali gadis itu sendiri yang lebih terkejut.
"Loh? Bukan! Bukan anak ku ini!" ucap nya langsung agar para petinggi itu tak lagi menyandang nya bingung.
"Mungkin dia kehilangan ibu nya," ucap salah satu petinggi tersebut.
Louise mengernyit, mata nya menatap ke arah mata coklat yang berbinar melihat ke arah nya.
...
Louise membuang napas nya, kemanapun ia berjalan gadis kecil itu selalu mengikuti langkah nya.
"Dik? Mommy mu mana? Ya ampun," ucap nya yang frustasi menanyai anak kecil di depan yang tak menjawab seperti stelan robot kecuali menyebut 'Mommy'
"Mommy! Hihi!" jawab nya tertawa yang terus mengikuti nya.
"Ya ampun!" keluh Louise yang tak lagi bisa berkata-kata.
Saat akan di tinggalkan di tempat yang memungkinkan agar orang tua anak kecil itu menemukan nya, gadis kecil itu malah mengikuti nya kembali.
"Yaudah di sini aja, nanti kalau aku sudah ketemu Mommy mu, ku bawa ke sini, okey?" ucap nya pada gadis kecil itu dan beranjak turun dari bangku nya.
Ia memberikan es krim di cafe rumah sakit karna gadis kecil itu selalu mengikutinya dan tentu nya ia tak mau ada gosip aneh yang tersebar karna ada anak kecil yang mengaku anak nya.
Wajah cantik yang menggemaskan itu terlihat kesal dan kembali ikut turun agar mengikuti wanita di depan nya.
"Loh? Di bilang jangan ikut!" ucap Louise tersentak melihat kaki kecil itu kembali membututi nya seperti anak kucing yang mengikuti induk nya.
Ia pun mulai berjalan cepat sampai berlari tanpa sadar, bagi nya cukup aneh dan risih jika ada anak-anak yang mengaku anak nya padahal ia saja tak pernah merasa membuat nya sebelum nya.
"Mommy mu dari mana? Buat nya aja belum!" ucap nya yang berjalan cepat hingga berlari kecil.
"Mommy!"
Teriakan kecil dan riang itu mengikuti nya dengan kekuatan full stamina, karna berbeda dengan dirinya yang punya fisik lemah gadis kecil itu seperti tak memiliki kelemahan apapun.
Duh! Tolong! Anak siapa ini?!
Kaki nya yang tanpa sadar semakin berusaha berjalan cepat walau ia tak bisa berlari lama karna kondisi fisik nya.
"Yeyyy! Main kejel-kejelan sama Mommy!"
__ADS_1
Suara yang terdengar ceria dan berlari kencang menyusul sang wanita di depan nya yang mulai kabur namun ia mengikuti dengan stamina yang tidak ada habis nya.