
"Sstt..."
"Ingat? Jangan mengeluh," ucap nya berbisik sembari membuka kaus putih yang ia kenakan.
Ia membawa gadis itu ke meja yang berada di dekat jendela apart nya, sehingga menampilkan kota paris dari atas.
Tangan nya besar dan hangat itu mulai meraba paha putih yang mulus itu, menggelitik nya dengan senyuman yang mengatakan permainan akan segera di mulai.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mata hijau itu berkedip beberapa kali, ia melihat ke arah pria yang menyimpan sesuatu di balik senyuman nya.
"Jam- Humph!"
Louise tersentak, pria itu kembali mencium bibir nya, tangan yang memegang belakang kepala nya dan meremas rambut halus yang tergerai.
Tak ada perkataan yang dapat di lakukan, tangan yang hangat itu mengusap paha nya yang terasa dingin.
Terus naik hingga mengusap lengkung punggung tubuh nya yang ramping dan membelai nya.
Pria itu melepaskan ciuman nya, wajah yang tampak sayup dengan menarik napas nya dan bibir yang basah karna ciuman nya.
Ia tersenyum simpul, tubuh nya berbalik mengambil sesuatu meninggalkan gadis yang masih terduduk itu di atas meja itu.
"Apa yang kau ingin lakukan?" Louise mengernyit melihat dasi yang berwarna hitam mengkilap yang di bawa oleh pria yang menghampiri nya itu.
"Apapun itu, aku tidak akan menyakiti mu. Dan kau sudah janji untuk tidak mengeluh kan?" tanya James yang beranjak menutup mata cantik itu dengan dasi hitam yang sepadan seperti lingerie yang di pakai.
Louise terdiam, pandangan nya menjadi gelap seketika dan indera perasa di atas kulit nya menjadi lebih kuat.
Cup!
Tubuh gadis itu tersentak, bibir yang lembut dan dingin itu menyentuh lengkung leher nya, janggut yang tumbuh di wajah pria itu membuat nya merasa geli saat ia menjadi lebih sensitif karna tak bisa melihat apapun.
"Kau menggemaskan sekali," bisik nya saat ia melihat reaksi terkejut gadis itu.
Sama seperti saat ia pertama kali mengajari gadis itu tentang hal dewasa, reaksi nya kembali sama.
"Hentikan, itu memalukan..." ucap nya yang memalingkan wajah nya.
Pria itu tersenyum, ia melihat gadis itu yang bereaksi malu.
Tangan nya beranjak memegang paha gadis itu lagi, dan kali ini terus naik dan mencoba memegang dan masuk ke balik kain tipis yang menerawang itu.
Sedangkan bibir nya kembali mengecup leher jenjang itu sekali lagi, mendorong tubuh gadis itu sampai ke jendela kaca yang menjadi sandaran nya hingga setengah tertidur.
"Uhh!"
Louise tersentak, ia merasa satu kaki nya naik dan bersandar di pundak pria itu sedangkan lingerie nya di singkirkan hingga membuat Piramida yang putih dan runcing itu keluar dari dalam pakaian tipis berwarna hitam itu.
Humph!
Bibir pria itu memangut apa yang ada di depan nya, tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil namun ia menyukai nya.
Tangan nya mengusap nya dan mencoba menggelitik sesuatu yang jarang tersentuh itu.
"James, tu.. tunggu..." ucap Louise lirih yang tersentak saat pria itu terus mengecup dan menggelitik nya berulang kali di bagian bawah.
"Engh!"
Tubuh nya menggeliat, sedangkan pria itu seperti nya puas dengan hasil kerja nya.
Ia menarik jemari nya yang terasa basah saat di jatuhi dengan cairan yang bagi nya terasa manis dan melepaskan hisapan nya di atas Piramida yang saat ini menjadi berwarna merah itu.
"Jangan sekarang,"
Bisik nya yang melepaskan semua tindakan nya saat gadis itu hampir mencapai penyelesaian nya.
Louise tak mengatakan apapun, ia menarik napas nya yang terlihat seperti habis berlari 500 meter itu.
"James?" panggil nya saat ia merasa pria itu tak lagi bersuara dan entah apa yang di lakukan nya sedang kan ia masih tak bisa bergerak akibat tangan yang di ikat.
"Kau suka minuman nya tadi?"
Suara pria itu datang, sedangkan gadis itu menengandah mencari sumber suara walaupun pria itu sudah berdiri di depan nya.
"Mau minum? Dengan ku?" tanya nya pria itu yang bersamaan dengan menarik dagu gadis yang tertutup mata nya itu.
__ADS_1
Humph!
Louise tersentak, aliran dari alkohol yang manis dan memabukkan itu masuk ke dalam mulut nya bersamaan dengan lidah nakal yang menelusuri seluruh isi mulut nya.
Sampanye yang berwarna bening kecoklatan muda itu tampak mengalir dari bibir dan dagu gadis itu.
Rasa manis nya mengalahkan hisapan yang membuat nya lebih merasa mabuk.
Pria itu melepaskan ciuman nya, wajah yang memerah dengan sampanye yang menetes membasahi dagu dan leher jenjang itu.
Botol besar itu masih berada di tangan nya, ia beranjak menuangkan minuman yang ia pegang ke tubuh gadis itu perlahan hingga membuat nya jatuh seperti sungai di atas tubuh indah itu.
"Ja...James..." panggil gadis itu lirih saat merasakan dingin di tubuh nya.
Tak ada jawaban sama sekali, pria itu meletakkan kembali sampanye nya dan perlahan mengesap minuman yang jatuh dan membuat tubuh gadis itu terasa manis.
Louise tersentak, Sapuan yang hangat itu terus turun sampai ke tempat di mana harus nya berhenti.
"No, Don't do that Ahh..."
Tubuh yang memberontak itu namun tak bisa melakukan apapun hanya semakin membuat pria itu merasa tergoda.
"Bukankah seharusnya sampanye nya habis jika ku minum? Tapi kenapa semakin banyak?"
Senyuman pria itu terlihat meninggi, ia menoleh ke arah wajah yang memerah itu.
"Nakal sekali? Kau menumpahkan nya di wajah ku?" tanya pria itu yang beranjak bangun.
"A..aku tidak menyuruh mu mencium di sana..." balas Louise yang memiringkan wajah nya seperti ingin menyembunyikan nya.
Pria itu beranjak membawa nya turun, dan melepaskan tali yang mengikat kedua tangan gadis itu kebelakang.
Bukan benar-benar melepaskan nya ia hanya mengubah nya ke depan, Louise tak protes lagi kali ini melainkan ia merasa bingung.
"Hum?" ia tersentak, sesuatu yang hangat mengenai wajah nya.
"Kau tau ini apa kan?" tanya pria itu yang perlahan membuka mulut gadis itu dengan ibu jari nya.
Tak ada jawaban namun tubuh gadis itu bergerak dengan sendiri nya.
Cahaya yang dari menara Eiffel yang selalu bersinar membuat siluet yang indah dari kamar yang menampilkan seseorang yang tengah menikmati nya.
"Louise..." panggil nya dengan lirih sembari meremas rambut yang halus itu.
Gadis itu merasa sesak dan menelan semua yang masuk ke dalam tenggorokan nya.
Pria itu menatap dengan sayup, ia menarik dan melempar tubuh gadis itu ke ranjang yang empuk sehingga tak menyakiti nya sama sekali. Dan permainan inti nya sudah di mulai sekarang.
3 jam kemudian.
Ranjang yang terus berderit dan berisik, istirahat dalam lima menit dan kemudian kembali terguncang dengan gempa yang membuat nya gemetar.
"Ti.. tidak lagi..."
"Ku... pikir aku pingsan..."
Suara yang tak jelas karna tersengal-sengal itu menoleh ke belakang, mata hijau nya masih tertutup namun ia tau posisi pria itu di belakang nya.
"Kau menangis?" pria itu memperlambat Rodeo nya dan menarik dagu gadis itu untuk melihat nya.
"Sakit?" tanya nya lagi saat ia mendengar suara yang gemetar tak kuat itu.
Gadis itu menggeleng, memang mulai sedikit sakit namun bukan sesuatu yang ia benci atau tidak ia sukai.
"Ku rasa aku kehilangan akal ku..." ucap pria itu yang malah merasa semakin bergairah saat melihat wajah yang sudah tampak pasrah itu.
Humph!
Kecupan nya, yang terasa menyahut di dalam mulut nya dengan Rodeo yang kembali berlari dengan cepat dan memutar membuat gadis itu bisa ikut merasa gila.
Malam yang panjang, sesuatu yang merasa melayang membuat gadis itu berada di ambang batas nya.
Pria melepaskan pelukan nya, kali ini ia memangku gadis itu berada di atas tubuh nya dan membuat nya bisa menghisap Piramida yang merah itu tepat di depan mata nya.
Ia merasakan tubuh gadis itu yang lemas lunglai, ia pun melepaskan dasi yang menutup mata hijau yang indah itu. Ia pun juga merasakan tali di tangan kecil gadis itu.
"Seperti nya kau benar-benar pingsan?" gumam pria itu yang tersenyum dan menidurkan gadis itu di samping nya lalu memeluk nya.
__ADS_1
...
Pukul 11.30 am
Mentari telah meninggi dan hampir mencapai tengah hari. Gadis itu terbangun saat merasakan sesuatu yang mengusik nya.
"Engh..."
Pria itu menoleh, ia terbangun satu jam yang lalu dan tengah membersikan beberapa vanila yang meleleh itu agar saat gadis nya bangun tak begitu risih.
"Hum? James?"
Suara yang serak dan hampir hilang itu karna menggunakan nya habis-habisan saat malam tadi.
"Ya? Aku membersihkan nya, ku pikir kau akan suka nanti." ucap pria itu yang memegang handuk yang basah.
Mata yang sayup dan berpikir masih berada dalam mimpi nya.
"Oh ya? Bagiamana kau akan membersihkan nya?" senyuman tipis yang berpikir menggoda pria itu dalam mimpi nya tanpa tau saat ia tengah berada dalam kenyataan.
James terdiam, ia sudah bangun setelah beristirahat dan ia juga merupakan pria normal yang begitu kuat.
"Kau masih sanggup?" tanya nya pada gadis yang menatap nya dengan sayup itu.
"Bersihkan, serigala nakal..." jawab gadis itu dengan senyuman kecil dan kemudian kembali memejam lagi.
Pria itu berkedip namun ia perlahan mencium bibir gadis itu lagi.
Reaksi tetap di tunjukkan oleh gadis itu di setiap sentuhan nya namun mata hijau itu tak terbuka sama sekali walau bibir nya mengeluarkan suara yang lirih yang indah.
Siang yang cerah dengan hawa panas saat gempa susulan datang di atas ranjang yang berantakan itu.
...
Pukul 01.37 pm
Mata hijau itu perlahan kembali terbuka, kali ini ia sudah cukup tidur sampai perut yang lapar membangunkan nya.
Semua rasa pegal dan nyeri mulai menyerang nya, "Sudah pagi?" gumam nya lirih yang tak tau jika saat ini sudah siang bukan pagi lagi.
"Hum?" ia menarik napas nya, ia merasa sudah memimpikan hal gila yang memalukan tanpa sadar jika itu bukan mimpi melainkan kegiatan real action yang beberapa jam lalu baru ia lakukan.
"Ack!"
Gadis itu meringis, ia merasakan nyeri ketika ia ingin bangun.
"Sudah bangun?" suara yang masuk ke dalam kamar yang sudah terang dengan cahaya mentari yang masuk itu.
Louise mengernyit, wajah pria itu tersenyum berseri secerah mentari yang bersinar hangat siang ini.
"Aku memberikan obat tadi, karna sedikit bengkak." ucap pria itu menjelaskan sedikit.
Louise tak mengatakan apapun, ia bahkan malas mengeluarkan suara nya akan membuat tenggorokan nya sakit.
"Afternoon, my dear..." ucap pria itu dengan lembut sembari mengecup kening gadis itu.
Louise mengernyit, bukan nya ia tak suka namun pria itu terlalu berseri dan bersinar seperti mentari yang masuk ke kamar yang ia tiduri saat ini.
"You scared me, James." balas Louise lirih saat melihat wajah yang seperti tengah mendapatkan keberuntungan dewa itu.
"I love you," balas pria singkat dengan senyuman cerah nya yang seperti memperlihatkan tak pernah memiliki wajah dingin kutub Utara lagi.
...****************...
Nih othor kasih full nya biar ga nanggung lagi wkwk 🤭🤭🤭
Semalam othor ngantuk soal nya maka nya lanjut dan lagi pula juga ga cukup kalau di gabung semua😭🤣
Nah Mbak Louise othor kasih tau yah. babang James nya senyum sumringah gitu karna dah puas dapat jatah, eh dapat hadiah ultah maksud nya🤭🤭🤭
Oh iya, untuk tempat mereka tinggal selain tempat berpergian itu di luar yah, pokok nya yang bagian Eropa, terserah pembaca mau bayangin di mana tapi bukan di Indo yang jelas nya.
Kenapa?
Karna mereka terlalu memiki kehidupan yang bebas yang tidak mencerminkan kehidupan adat ketimuran ya, dan lagi othor memang ga pernah buat latar Indo agar tidak membuat keributan atas pola kehidupan pemain nya yah😘😘😘
Happy reading dan juga lupa dukungan nya ya 💕💕💕🥰🥰😘🥰🥰
__ADS_1
salam penuh luv dari othor😘😘