
Mansion Dachinko
Mentari mulai naik, meja makan yang sudah penuhi dengan menu makanan yang bahkan cenderung kesukaan anak kecil.
Pria itu turun dari kamar nya, tak ada siapapun yang menduduki kursi di meja makan itu.
"Mana Bianca?" tanya nya pada salah satu pelayan.
"Nona belum bangun tuan," jawab pelayan tersebut.
James melihat ke arah jam tangan nya, sudah pukul 8 pagi dan putri kecil nya masih belum sarapan sama sekali.
"Dia mau makan di kamar nya?" tanya nya lagi yang menatap ke arah pelayan yang masih belum pergi itu sebelum ia perintahkan untuk pergi.
"Saya akan bangunkan nona," jawab nya pada tuan pemilik mansion itu.
"Tidak perlu, aku saja yang bangun kan." ucap James yang beranjak melangkah ke kamar putri nya.
Ia membuka pintu kamar dengan coretan di depan nya dan tentu coretan itu hasil tangan nakal putri semata wayang nya itu.
Gadis kecil itu tertidur dengan balutan selimut tebal dan bergulung di atas tempat tidur.
Wajah yang begitu menggemaskan dengan semua sifat polos dan nakal yang bercampur bersamaan tanpa ada yang pernah mengatakan apa yang boleh di lakukan dan tak boleh di lakukan.
James mendekat, ia duduk di pinggir ranjang sembari menggoyangkan lengan kecil itu sedikit.
"Bian? Bianca? Bangun, sudah pagi." ucap nya dengan suara yang bariton rendah dan terdengar lembut.
Gadis kecil itu tak beranjak bangun sedikit pun, masih terpejam tanpa menunjukkan reaksi pada sang ayah.
"Bianca? Bangun, sarapan sama Daddy..." ucap nya lagi yang kali ini sedikit kuat menggoyangkan tubuh mungil itu.
"Ngg?" Gadis kecil itu menggeliat, nafas nya terdengar sedikit berat dan wajah nya mulai tampak gusar dalam tidur nya.
"Bian?" panggil James lagi menyebut nama putri kesayangan nya.
Tak ada tanggapan, gadis kecil itu hanya menggeliat dengan suara tak jelas.
James mengernyit, ia pun tak lagi memegang lengan kecil itu beranjak melihat dahi putri kecil nya.
Deg!
Ia tersentak, suhu tubuh putri kecil kesayangan nya naik di atas rata-rata.
"Bian? Nak?" panggil nya lagi di dekat telinga putri kecil nya.
Mata bulat itu membuka dengan menyipit sembari melihat ke arah seseorang yang membangunkan nya.
"Daddy..." suara yang belum fasih dan terdengar tak jelas itu memanggil sang ayah.
"Kepala Bian sakit..."
"Sakit semua..."
Ucap nya dengan suara yang tak terdengar sama sekali.
James tak bisa mendengar apa yang di katakan putri kecil nya namun ia mencium dahi gadis kecil itu dan beranjak memanggil seseorang.
Putri kecil nya tak pernah sakit semenjak lahir, entah itu demam atau flu dan ini adalah pertama kali nya putri kesayangan nya itu jatuh sakit.
Padahal malam sebelum nya masih bercanda dengan nya dan bahkan menunjukkan gambar buatan nya.
...
Alat pengukur suhu tubuh itu di ambil dari telinga mungil itu sedangkan bayi perempuan yang menggemaskan itu tampak begitu tak nyaman.
"39 °C? Ini sangat tinggi, aku akan berikan dia obat." ucap Chiko pada tuan nya yang berdiri di samping tempat tidur putri nya.
"Kenapa dia bisa sakit?" tanya nya pada bawahan nya itu dan tentu merasa gusar dan gelisah melihat putri kesayangan nya itu sakit.
"Banyak alasan kenapa anak kecil bisa sakit, saya sudah berikan obat untuk nya nanti sore akan saya akan melihat kondisi nona lagi." ucap Chiko pada tuan nya.
James tak mengatakan apapun, melihat bawahan nya itu keluar ia pun kembali mendekat dan duduk di pinggir ranjang yang memiliki corak sprei mewah muda dan Barbie itu.
Tangan nya mengusap kepala kecil yang panas itu, wajah imut yang terlihat gelisah dan tak nyaman walaupun masih terpejam.
"Sstt..."
"Nanti sakit nya hilang, sakit nya akan pergi..." bisik nya dengan lembut sembari terus mengusap kepala putri kecil nya.
Memang perasaan seseorang akan sangat berbeda saat sudah memiliki anak dan pria itu pun tak tau jika ia akan begitu menyayangi keturunan nya yang lahir ke dunia itu.
....
Pukul 01.35 pm
Mata coklat itu mulai terbuka, gadis kecil itu menatap sayup.
Rasa dingin di dahi nya karna kompres yang masih lengket terasa di kepala nya.
Sunyi tak ada seorang pun di kamar nya, karna ia memang di tinggalkan dan di cek setiap dua jam sekali.
"Daddy..."
Bibir kecil nya mulai berucap, tentu ia mencari seseorang yang ia kenali dan ia butuhkan.
"Daddy..."
Panggil nya lagi yang menginginkan sang ayah dan mulai bangun.
Klek
Pintu yang terbuka itu membuat nya menoleh, seorang pelayan yang mengecek kondisi nya langsung melihat ke arah nona muda yang sudah bangun itu.
"Nona? Anda mau ke mana? Kamar mandi?" tanya sang pelayan sembari membantu bayi berusia tiga tahun itu untuk bangun.
Bianca menggeleng, ia menatap dengan wajah yang masih layu dan kusut itu.
"Daddy..."
"Bian mau Daddy..." ucap nya pada sang pelayan.
Pelayan tersebut pun menggendong, kepala kecil itu begitu mudah jatuh bersandar pada pelayan itu karna ia pun masih belum memiliki banyak tenaga.
...
Tok... Tok... Tok...
James menoleh ke arah pintu, ia masih mengerjakan pekerjaan nya dan tentu ia memang harus menyelesaikan nya karna ia pun bukan pengangguran yang memiliki banyak luang.
"Masuk," ucap singkat dan kembali melihat ke arah laptop nya.
Pintu itu pun terbuka, seorang wanita yang mengenakan seragam pelayan dengan bayi cantik yang tampak lemas itu berada dalam gendongan nya.
"Tuan maaf, nona Bianca ingin menemui anda." ucap si pelayan pada tuan nya.
James menoleh ke arah putri kecil nya yang tampak tak bersemangat itu.
"Bawa dia ke sini," ucap nya pada pelayan yang membawa putri kesayangan nya itu.
Pelayan itu pun langsung mendekat dan memberikan nona muda nya ke tangan sang ayah lalu ia pun keluar dari ruang kerja itu.
__ADS_1
"Daddy..." gadis itu memanggil lirih dengan nada merengek seperti anak-anak pada umum nya.
"Anak Daddy sudah bangun? Masih sakit? Hm?" tanya James sembari mencium pipi putri kecil nya yang masih terasa panas.
"Daddy? Bian sakit, semua nya sakit..." rengek Bianca yang begitu tak nyaman saat seluruh tubuh dan sendi nya merasakan sakit.
James memeluk tubuh kecil itu dengan erat dan mengusap nya dengan lembut.
"Iya, nanti sakit nya Daddy marahi biar pergi ya..." bisik nya dengan lembut pada putri kecil nya.
"Sakit nya kulang Daddy malahi..." jawab Bianca karna merasa sakit nya masih terasa dan butuh lebih di marahi oleh sang ayah agar minggat segera.
"Iya, nanti Daddy marahi ya?" tanya nya pada putri kecil nya yang menggemaskan itu.
Bianca tak mengatakan apapun, namun ia bergerak seakan ingin sang ayah melepaskan pelukan nya dan ingin bicara sembari bertatap muka.
"Daddy?" panggil nya sembari melihat mata sang ayah yang begitu mirip dengan nya.
"Iya?" jawab James yang lebih lembut dari biasa nya karna putri kecil nya yang cantik itu tengah sakit.
"Mommy suluh ke sini, Mommy pengiyil yang bisa silil jadi ga sakit lagi." ucap nya pada sang ayah yang mempercayai sang ibu memiliki kekuatan sihir seperti kartun yang ia lihat.
"Bian mau ketemu Mommy?" tanya James pada putri kecil nya.
Bianca mengangguk saat sang ayah bicara, ia ingin ibu nya datang dan memberi mantra agar ia tak sakit lagi.
"Kita telpon Mommy?" tanya nya pada putri kecil nya yang duduk di pangkuan nya itu.
Sekali lagi, anggukan di wajah kecil itu terlihat, Bianca langusung memutar tubuh nya dan melihat ke arah ponsel sang ayah yang baru di keluarkan.
Jemari kecil nya ingin ikut berpatisipasi dalam menelpon sang ibu.
Ponsel pria itu mulai bergetar saat sambungan telpon yang ingin tersambung itu berusaha menyampaikan sinyal nya dan menunggu untuk di angkat.
......................
Sementara itu.
Drrtt... drrtt... drrtt...
Ponsel yang di miliki oleh seorang gadis yang masih bicara pada perancang dekor itu bergetar.
Ia tak mengetahui ny sama sekali karna meninggalkan ponsel nya terlebih lagi tak menghidupkan nada dering nya.
Sedangkan seorang pria yang berada di dekat ponsel yang bergetar itu tentu ia ternotifikasi untuk mendekat dan melihat.
Dahi nya mengernyit, ia menatap dan tak menyukai nomor seseorang yang menelpon tunangan sekaligus calon istri nya itu.
Jemari nya beranjak dan menggeser ke arah panggilan dengan lingkaran merah.
Ia mematikan nya namun, tak lama kemudian panggilan tersebut tetap datang walau ia sudah merejec nya beberapa kali.
Tangan nya pun beranjak mematikan lagi panggilan yang masuk dan mulai mengetikkan pesan agar dapat di baca karna ia begitu tak ingin mendengar suara pria itu.
Aku sedang sibuk, jangan menganggu ku.
Pesan yang ia kirimkan lalu kemudian menghapus nya berserta dengan panggilan-panggilan yang masuk.
Pria itu tak tau dari mana panggilan itu berasal, bisa saja bukan dari calon putri sambung nya melainkan dari pria yang menjadi cinta pertama tunangan nya.
Ia pun mulai menonaktifkan ponsel gadis itu dan meletakkan nya kembali sebelum menyusul gadis yang tengah berbicara itu.
......................
Mansion Dachinko
Bianca melihat ke arah sang ayah yang telpon nya tak kunjung di angkat dan kemudian masuk pesan.
Gadis kecil berusia tiga tahun itu masih tak dapat membaca dan tentu ia membutuhkan seseorang untuk membantu nya.
James diam sejenak, jika ia benar-benar membacakan nya sesuai pesan yang masuk maka putri kecil itu nya itu akan merasa sedih.
"Mommy bilang dia lagi ga bisa angkat sekarang, maka nya nanti Mommy mau bawa permen kapas buat Bianca." ucap nya yang memperhalus bahasa nya agar gadis kecil itu tak kecewa.
Bianca menggeleng, ia bahkan kehilangan selera makan nya untuk jenis apapun.
"Bian mau nya Mommy, bukan pelmen kapas..." ucap nya yang tanpa kebohongan sama sekali karna ia tak bisa mengatur startegi berbohong saat sedang sakit.
James diam, ia tak mengatakan apapun dan mengecup dahi putri kecil nya.
"Nanti kita telpon Mommy lagi ya?" ucap pria itu pada putri kecil nya yang tampak kecewa.
Bianca tak mengatakan apapun, namun raut lesu nya membuat sang ayah tau apa yang di rasakan putri kesayangan nya itu.
Drrtt... Drrtt... Drrtt...
Ponsel yang kembali bergetar membuat mata coklat itu langsung menoleh dan tentu dengan harapan sang ibu yang menelpon nya.
James mengernyit, bukan gadis yang tak menjawab telpon tadi melainkan salah satu dari bawahan nya.
Pria itu pun langsung mengangkat nya, sedangkan mata coklat putri nya itu menengandah melihat ke arah sang ayah yang tengah mendengarkan telpon.
"Itu Mommy?" tanya Bianca dengan raut polos nya yang mengira jika sang ibu tengah menelpon kembali.
James menutup telpon nya, melihat ke arah wajah bulat menggemaskan yang tampak lesu itu.
"Bian? Bian sama kakak pengaruh dulu ya? Daddy nanti malam pulang." ucap nya yang menggendong putri kecil nya tanpa memberi kesempatan agar Bianca bisa merengek.
"Daddy mau ke mana?" tanya Bianca dengan sendu.
Sudah sang ibu yang tak mengunjungi nya dan kini malah sang ayah yang pergi entah kemana padahal ia sangat membutuhkan seseorang untuk bersama nya.
James mengecup dahi putri nya yang terasa panas, "Nanti malam Daddy pulang ya."
Ia tak bisa mengatakan jika saat ini pengiriman yang bernilai ratusan juta dollar yang sedang ia lakukan terancam.
Dan jika ia tak mengatasi nya dengan segera maka ia hanya akan mendapatkan kerugian yang begitu banyak.
Karna memang pekerjaan yang ia lakukan selalu seperti ini, penuh dengan sesuatu yang memacu adrenalin.
Mafia?
Satu kata yang bukan hanya mendeskripsikan tembakan dan peluru melainkan, penggelapan dana, perebutan kekuasaan, pengatur orang-orang berkuasa dan banyak menyimpan pekerjaan ilegal lain nya.
...
Pukul 09. 35 Pm
Sang ayah belum kembali dan gadis kecil itu tak bisa tidur sama sekali.
Obat sakit nya sudah membuat nya tertidur sampai sore dan ketika malam ia pun terbangun.
"Daddy? Daddy belum pulang?" tanya nya pada pengasuh yang menjaga nya.
"Sebentar lagi tuan akan kembali," jawab si pengasuh pada nona muda nya yang sangat menggemaskan itu.
"Mommy?" tanya nya dengan mata bulat yang baru kali ini mencari sang ibu saat ia merasa sendirian dan membutuhkan seseorang.
Sang pelayan bingung bagaimana menjawab nya, jika tuan nya sudah dapat ia pastikan akan kembali.
Tapi bagaimana dengan ibu nona muda nya?
__ADS_1
Ibu yang bahkan tak tinggal bersama dengan nona muda nya dan ia pun tak tau cara menghubungi nya.
"Sebentar, akan saya tanyakan dulu." ucap si pengasuh yang berusaha mencari cara untuk menghubungi ibu nona muda nya yang malang itu.
"Jangan lama-lama," ucap Bianca yang memegang tangan sang pengasuh.
Wajar jika anak sekecil itu menginginkan untuk di temani dengan seseorang saat ia merasa sakit.
"Baik, nona." ucap si pengasuh dengan dengan wajah dan suara yang lembut pada anak kecil yang tengah sakit itu.
Pengasuh itu pun keluar dan mulai mencari tau nomor yang bisa di hubungi, ia pun mendapatkan nomor ibu nona muda nya setelah menanyakan pada Chiko.
"Bian?" panggil Chiko yang ke kamar putri tuan nya yang sedang sakit itu.
"Mau telpon Mommy?" tanya nya sekali lagi karna ia tau tuan nya saat ini sedang mengurus sesuatu yang memang harus di tangani sendiri.
Bianca mengangguk, Chiko pun mengeluarkan ponsel nya dan menghubungi nomer yang ia miliki.
......................
Kediaman Rai.
Louise mengambil ponsel nya, ia melihat ke arah nomor baru yang memanggil nya.
Tangan nya pun langsung mengangkat dan menjawab panggilan telpon tersebut.
"Mommy!"
Suara yang ia kenali berada di sebrang telpon.
"Bian? Bianca?" tanya nya saat mendengar suara putri nya.
"Mommy..."
"Hiks..."
"Bian sakit..."
Gadis kecil itu terdengar menangis dan merengek yang tentu membuat Louise terkejut.
"Bian di mana? Bian?" panggil nya lagi pada putri kecil nya.
Ia merasa khawatir mengingat peristiwa yang terkahir kali terjadi.
"Di lumah..."
"Daddy ga ada, Mommy juga ga ada..."
"Mommy ke sini yah..."
Louise diam sejenak, ia melihat ke arah jam di kamar nya sebentar dan kembali menjawab.
"Iya, Mommy ke sana." ucap nya pada putri nya.
Ia pun mematikan ponsel nya dan kemudian melihat ke arah luar kamar nya, ia tau sang kakak pasti tak akan membiarkan nya keluar walaupun dengan alasan untuk menemui putri nya.
Suara mobil yang menyala mulai terdengar, gadis itu pun mulai menginjak gas dan pergi.
......................
Mansion Dachinko
Bianca melihat ke arah Chiko dengan mata yang sembab, bukan akting melainkan ia yang langsung menangis saat mendengar suara sang ibu.
"Kenapa nangis?" tanya Chiko sembari mengusap air mata yang masih terasa hangat itu.
Bianca menggelengkan kepala nya, ia tak tau jika saat mendengar suara sang ibu akan membuat nya menangis.
Waktu berlalu, hampir dua jam setelah ia menelpon dan sang ibu masih belum datang begitu juga ayah nya yang belum kembali.
Chiko pun tak dapat menemani nona muda nya terlalu lama karna ia memang harus melakukan pekerjaan nya yang lain juga.
Gadis kecil itu kini di temani oleh pengasuh nya, dan masih mengunggu kedatangan sang ibu atau kepulangan sang ayah.
Klek
Bianca menoleh, ia melihat ke arah pintu yang terdapat wajah sang ibu di balik nya.
"Mommy!" ucap nya yang langsung turun dari ranjang nya dan memeluk kaki sang ibu karna memang hanya segitu tinggi nya.
Louise memegang tubuh mungil itu dan dapat merasakan bahwa memang gadis kecil itu demam.
"Bian sakit?" tanya nya sembari berjongkok untuk melihat wajah imut yang layu itu.
Bianca mengangguk, ia menatap ke arah sang ibu dan membutuhkan pelukan nya.
"Daddy tadi pelgi, padahal Bian sakit..." ucap nya pada sang ibu.
Louise menggendong tubuh mungil nya kembali ke ranjang nya dan menidurkan nya.
Tepukan dan usapan lembut serta obat yang baru di berikan membuat mata coklat itu kembali mengantuk.
...
"Hah..."
Pria itu sudah kembali ke mansion nya, ia bahkan tak tau jika ia memiliki tamu.
Tubuh nya terluka, ia masih memiliki musuh yang ingin mengincar nyawa nya untuk mengambil apa yang ia miliki.
Tak ada satu kata pun selain helaian napas yang berat itu dan tengah menunggu kedatangan bawahan nya.
Sementara itu meminum alkohol yang merupakan obat pereda nyeri alami yang membuat nya kehilangan sebagian rasa sakit nya.
Sementara itu
Louise yang sudah menidurkan putri nya pun beranjak keluar.
Dahi mengernyit heran menatap ke arah tetesan darah yang masih mengotori lantai marmer yang begitu mengkilap itu.
"Darah?" gumam nya yang mengikuti nya sampai ke tempat di mana yang ia kenali.
Ia membuka pintu nya perlahan, mata hijau nya membulat sempurna saat melihat ke arah pria yang terlihat terluka itu.
"James?" panggil nya lirih dan langsung mendatangi nya.
Pria itu menoleh, ia menatap ke arah suara yang ia kenali.
"Apa aku berhalusinasi lagi?" gumam nya yang sudah lama tak merasakan halusinasi melihat bayangan gadis itu.
"Kau terluka?" tanya Louise yang mendekat.
Pria itu diam, ia memang sering meminum alkohol saat merasa sakit sembari menunggu Chiko untuk datang dan mengobati nya.
Dan karna pengaruh alkohol yang ia minum saat ini terlebih dulu ia yang memang sering berhalusinasi tentang gadis itu membuat nya beranjak mendekati.
Ia tak tau sama sekali apakah gadis itu datang atau tidak ke mansion nya karna ia pun baru kembali.
"Darah nya banyak keluar, kita tutupi dulu-"
Humph!
__ADS_1
Louise tersentak, pria yang terluka itu langsung menarik nya dan mel*mat bibir nya sedangkan ia dapat mencium aroma darah yang menyatu dengan aroma tubuh pria itu.
James merasakan ciuman nya yang terasa nyata padahal ia hanya mengira kembali berhalusinasi melihat gadis itu saat merasa merindukan nya.