
JBS Hospital
Mata yang antara sadar dan tidak melihat ke arah sang kakak yang berjalan dengan setengah berlari mengikuti roda dari ranjang yang membawa nya.
Suara berisik yang memanggil nama nya, namun ia tak bisa menjawab.
Tenggorokan nya teras tercekat hingga tak ada satupun suara yang bisa ia jawab.
Semua samar, tak jelas dan seperti kabut yang menyelimuti kepala nya.
Rasa ingin memejam dan tertidur, saat tubuh mengalami rasa sakit yang teramat sangat dan berada di puncak nya pasti akan mulai terasa kebal satu persatu hingga mengantuk pun mulai ia rasakan.
Suara alat yang terdengar berisik dan campur aduk itu bersatu dengan suara sibuk para medis yang tengah mencoba melakukan segala cara.
"Tidak ada yang aneh di hasil lab nya!"
Selembar kertas yang membawa hasil itu telah keluar, namun tak menunjukkan keanehan sama sekali selain tekanan darah yang semakin menurun.
"Coba lakukan tes sekali lagi!" ucap nya yang mempertanyakan tentang tak ada keanehan sama sekali.
"Luka dalam tidak ada," ucap nya salah satu dokter setelah memeriksa hasil nya.
Kondisi yang tiba-tiba menurun namun tak ada satu pun alasan yang bisa di temukan akan penyebab mengapa demikian.
Para dokter kebingungan sejenak namun mereka juga tak punya waktu untuk berpikir terlalu lama.
"Detak jantung melambat!" ucap salah satu dokter lain nya yang melihat ke arah alat yang terpasang di dada gadis itu.
......................
Mansion Dachinko
Chiko tersentak, ia di desak untuk segera mengirim penawar dari racun ciptaan nya sendiri namun ia juga bahkan tidak tau kalau penawar yang sudah ia siapkan gagal dari efek yang sudah ia lakukan uji coba.
"Kau membuat racun sendiri tapi tidak ada penawar nya?! Bukan nya kau bilang kau punya?!"
Suara tinggi yang menatap nya dengan murka membuat pria itu menciut.
"Memang benar tapi setelah satu Minggu pengujian dari pemberian penawar nya tetap saja subjek gagal." jawab Chiko yang mengatakan nya.
"Buat! Buat lagi dengan cepat!" perintah James pada pria itu dengan nada tegas dan begitu menekan.
"Tapi racun kan memang di buat untuk membunuh jad-"
Ukh!
Leher nya tercekik, walaupun baru saja kembali dengan kondisi terluka ia tak tau tuan nya itu masih sangat kuat sampai bisa membuat nya kehilangan napas.
"Aku tidak peduli racun itu untuk membunuh siapa tapi lain jika racun mu menganai orang ku! Cari sampai dapat dalam waktu kurang dari 15 jam atau kau juga akan merasakan buatan mu sendiri!" tak ada teriakan atau suara yang keras.
Hanya nada yang terdengar rendah dan dingin namun begitu menusuk dan membuat siapapun bisa merasakan tekanan yang ingin membunuh itu.
Jika memang ketika penculikan waktu di suntik maka ia tak tau sudah betapa lama namun ia hanya memprediksi kasat dari hitungan nya dan mempercepat jam nya agar memiliki waktu untuk mengirim nya ke tempat gadis itu berada.
"Ba..baik tuan!" jawab Chiko yang langsung mengiyakan tuan nya.
James diam tak mengatakan apapun lagi namun terlihat jelas wajah dan suasana hati nya tak baik.
"Luka anda juga harus segera di obati tuan," ucap nya yang mendekat pada pria itu.
"Tidak, aku akan panggil orang lain kau buat penawar itu secepat nya." ucap nya pada Chiko.
Chiko mengangguk, memang penawar nya sudah ada namun masih belum sempurna. Ia pun segera berbalik untuk menyiapkan apa yang di minta oleh tuan nya.
"Daddy!"
Suara yang mungil menggemaskan itu memanggil nya dengan langkah yang berlari cepat menghampiri nya.
Duk!
Pelukan mungil itu langsung melekat di kaki nya karna memang tinggi gadis itu tak sampai sepinggang.
"Hua!!!"
"Da..Daddy tinggalin Bian telus..."
"Daddy gak sayang Bian juga..."
Tangis nya yang langsung membuncah saat melihat sang ayah lagi.
Pria itu menarik napas nya, ia melihat ke arah putri nya yang tampak seperti kehilangan berat badan nya selama beberapa hari semenjak menghilang.
James diam tak mengatakan apapun, ia berjongkok agar bisa melihat wajah imut yang menangis pilu itu.
Untung nya ia sudah mengganti pakaian nya walau belum mengobati luka nya sama sekali.
"Bian kenapa nangis sayang? Daddy itu ga akan tinggalin kamu..." ucap nya dengan lembut sembari mengusap air mata putri nya yang tak tau apapun itu.
"Ta...tapi Daddy pelgi juga tuh..."
"Kayak Mommy!" tangis nya dengan suara serak dan wajah yang memerah serta mata yang bengkak karna terus menangis.
__ADS_1
"Mommy itu sayang Bian..." ucap nya sembari merengkuh tubuh mungil putri nya yang saat ini sangat cengeng.
Bianca menggeleng, "Ta...tapi Mommy tinggalin Bian, Bian di lempal dali mobil..." adu nya pada sang ayah dengan tersedu.
Ia tak tau alasan sang ibu meninggalkan nya, ia bahkan tak mengerti apa yang sudah di lakukan ibu nya itu untuk menyelamatkan nya dan kembali membuat nya berada di tempat yang aman seperti sekarang.
Pria itu tak mengatakan apapun lagi, berdebat dengan anak kecil tentu tak akan memiliki hasil.
Ia memeluk nya sejenak dan menggendong nya, tangan nya mengusap punggung mungil itu dengan lembut.
"Nanti Bian juga tau sendiri, kalau Mommy itu sayang sekali sama Bian..." bisik nya saat menggendong putri nya.
Tangan dan perlakuan tangan nya memang sangat lembut pada putri nya saat ini, namun pikiran nya sudah mengalami buana panas seperti tungku api yang di bakar dengan rasa khawatir dan gelisah karena mengingat tentang keadaan gadis nya.
Setelah beberapa saat gadis kecil itu mulai tenang, ia tak lagi menangis ataupun merengek namun kali ini pipi bulat nya menggembung dengan makanan yang masuk.
James tak bertanya ataupun menyalahkan tentang berat badan putri nya yang menurun karna ia tau anak manja nya itu saat kesal atau pun sedih tak akan mau makan sama sekali.
....
Chiko sudah seperti profesor gila yang harus menemukan penawar racun buatan nya sendiri.
Ia mengganti formula nya dan mempekatkan sebagian dari formula penawar yang sudah ada lalu mengagungkan nya lagi agar tidak tercipta efek kupu-kupu seperti penawar sebelum nya.
"Yang ini berhasil! Ku mohon raja iblis!" ucap nya yang memohon meminta bantuan dalam doa nya.
"Sudah?"
Pria itu tersentak mendengar suara bariton yang datang di belakang nya.
"Belum, perlu satu jam lagi." jawab Chiko pada tuan nya dengan perasaan berdebar.
James mendapatkan perawatan luka nya setelah membuat putri kecil nya tertidur pulas dan setelah itu pun juga melihat kerja bawahan nya.
"Tuan!" panggil Nick yang tampak menghampiri tuan nya.
James menoleh namun ia tak mengatakan apapun, perasaan nya semakin gelisah tak menentu tak bisa ia jelaskan.
"Nona Bianca bangun dan kembali menangis," ucap nya yang memberi tau tentang putri tuan nya yang terbangun dan menangis kembali saat melihat sang ayah sudah pergi lagi.
"Katakan aku pergi, dan nanti kalau dia mulai membaik kau juga bisa ajari dia cara melindungi diri sendiri," ucap nya pada bawahan nya itu.
"Baik, saya akan mengajari nona Bian bela diri nanti," jawab Nick pada pria itu.
"Bukan bela diri, ajari saja dia membunuh lawan nya." jawab pria itu dengan wajah yang dingin.
Nick diam sejenak namun ia tetap akan mengiyakan apa yang di minta tuan nya.
"Masih dalam pencarian," jawab nya pada tuan nya.
"Beri tau siapa yang terlibat pada pihak Louise," perintah nya sekali lagi agar saudara kembar gadis itu pun tau siapa yang menyebabkan adik nya seperti sekarang.
......................
JBS Hospital
Louis menatap ke arah sang adik, gadis itu masih terlihat tertidur dengan tenang kecuali keringat dingin yang terus jatuh dan juga jemari nya yang tampak semakin membiru.
Obat-obatan yang di berikan tak memberikan efek, tak ada penyebab yang di temukan mengapa kondisi gadis itu bisa tiba-tiba turun drastis.
Suara yang berbunyi membuat pria itu tersentak.
"Louise?" panggil nya yang terkejut dan langsung menekan tombol emergency agar para dokter yang berjaga untuk adik nya segara datang.
"Tekanan darah nya turun drastis lagi!" ucap sang dokter yang melihat kondisi pasien nya.
Sementara itu.
Para pengawal tetap berada di pekerjaan nya yang tak membolehkan siapapun naik ke lantai atas.
Penjagaan di perketat dan seseorang yang memang datang bukan untuk berkelahi itu tak akan akan membawa senjata ke rumah sakit.
"Kenapa kau datang?"
Zayn datang setelah keributan yang terjadi, ia di beri tau kepala sekuriti yang membuat nya turun dan melihat apa yang terjadi.
"Kita tidak punya banyak waktu, walaupun mungkin bukan tapi tetap harus di coba!" jawab James menatap pria yang ia tau juga sangat membenci nya.
Zayn tak mengatakan apapun, pada pria itu ia melihat dengan tajam dan menatap tanpa kata.
"Biarkan aku masuk, aku bisa membuat nya lebih baik! Dia mungkin di beri racun dan aku punya penawar nya!" ucap nya James sekali lagi.
Zayn tetap diam namun ia berbalik, "Biarkan dia masuk." ucap nya memberi perintah dan lift pun bisa di buka.
...
Suara alat yang terdengar berisik, orang-orang yang tampak sibuk ke segala arah dengan mengupayakan sesuatu untuk membuat seseorang tetap bernapas.
Louis terdiam, jantung nya berdebar tak bisa ia kendalikan.
Ia sangat takut jika kali ini benar-benar kehilangan adik nya lagi.
__ADS_1
"Kenapa dia-"
"Biarkan, dia bilang dia punya sesuatu untuk Louise," ucap Zayn saat ia tau apa yang ingin di pertanyakan oleh teman nya ketika ia membiarkan seseorang yang tak di sukai masuk.
Chiko segara memasukkan ampul yang berisi penawar ke dalam aliran darah gadis itu, namun.
Titt....
Suara panjang yang membuat alat EKG itu menampilkan garis yang semakin menurun hampir lurus.
Deg!
Deg!
Deg!
Semua nya tersentak, bukan nya kembali normal namun alat nya malah menunjukkan yang sebalik nya.
Chiko mengernyit, bahkan jika penawar nya gagal maka ia tak akan memberikan efek langsung seperti ini.
"Defribrilator!" ucap nya yang segera meminta alat pacu jantung itu.
Para dokter yang lain pun langsung mendekat dan membuka piyama pasien yang di kenakan gadis itu kemudian meletakkan gel di alat itu lalu mulai menempelkan nya di dada untuk memberikan kejut listrik.
Dep!
Tubuh gadis itu tetikut dengan alat defribrilator yang di berikan pada nya, namun tak dapat juga mengembalikan irama jantung nya.
"Naikkan!" ucap nya lagi yang malah berganti posisi dengan dokter yang harus nya merawat gadis itu.
Ia memang dokter yang hebat jika tak menggunakan kehebatan nya di jalan yang salah sehingga membuat lisensi nya di cabut.
Masih sama!
Tak ada perubahan sama sekali yang terlihat dan bahkan semakin menurun drastis.
Ia pun lantas memeriksa jemari tangan gadis itu dan belakang telinga nya, belum membiru keseluruhan yang berarti masih kurang dari 72 jam setelah di berikan racun, tapi...
Tapi kenapa?!
James tersentak, ia linglung melihat nya dan berharap ada sesuatu yang salah di mata nya.
"Kau bilang kau sudah temukan penawar nya tapi kenapa?!" tanya menatap ke arah bawahan nya itu.
Chiko tak bisa menjawab, ia juga bukan tuhan yang bisa menciptakan nyawa.
James seperti kehilangan akal nya, ia mendorong seseorang yang mendekati ranjang pasien nya.
"Kau mau mati?! Kata siapa kau bisa mati?!" tanya nya sembari mencengkram lengan gadis itu.
Mata nya berubah, ekspresi yang tak bisa di jelaskan oleh siapapun.
"Kalau kau mati pun aku tidak akan menguburkan mu! Aku akan mengambil mayat mu dan menyimpan nya menjadi patung!"
Bugh!
Seseorang menarik nya, memukul wajah nya hingga membuat nya goyah.
Pria itu merasa kalut namun ia tak berteriak menangis histeris melainkan tertawa dengan air mata.
"Memang nya kau siapa sampai bilang begitu?! Kalian sama saja! Kalau kalian tidak ada adik ku tidak akan menjadi seperti sekarang!" suara yang terdengar gemetar itu itu terdengar parau.
James tak mengatakan apapun, ia hanya tertawa seperti seseorang yang kehilangan akal namun dengan mata yang memerah menyimpan kaca.
Mata nya tak bisa berhenti berair, ia tak menghiraukan seseorang yang memukul nya. Kepala nya menoleh ke arah gadis itu dengan alat yang masih terpasang penuh.
Hanya butuh waktu lima menit untuk membuat nya seluruh fungsi otak gadis itu rusak akibat jantung yang tak berdetak dan tak berfungsi semestinya.
Tangan nya meraih jemari yang kaku itu dan memegang nya, kaki nya terasa lemas membuat nya berlutut di atas lantai itu.
Ia mencium tangan yang pucat memburu itu dan menggenggam nya.
Maaf...
Maafkan aku...
Kali ini...
Berikan aku satu kesempatan lagi...
Aku akan lakukan apapun, kalau kau meminta ku untuk pergi aku juga akan lakukan...
Aku tidak akan menganggu mu lagi...
Jadi biarkan aku tetap melihat mu...
Ku mohon...
Jika tidak untuk ku, lakukan itu untuk anak mu...
Katakan sendiri kalau kau juga mencintai nya...
__ADS_1