
5 Bulan kemudian.
Kediaman Rai.
Panggilan yang mulai terdengar dan bergetar membuat pria itu menoleh sejenak.
Panggilan dari nomer tak di kenal terlihat dari ponsel nya, ia pun mengernyit dan mengangkat nya.
"Halo?" tak ada satupun sahutan.
"Halo? Dengan siapa?" tanya nya mengulang.
Namun sama, tetap tak ada jawaban sama sekali dari sebrang ponsel tersebut.
Karna tak ada jawaban sama sekali tadi ponsel tersebut membuat Louis berdecak dan mematikan ponsel nya.
Sudah lelah bekerja untuk mengembalikan beberapa aset yang hilang karna masalah sebelum nya, di tambah lagi dengan telpon iseng yang datang pada nya.
"Makin banyak yang aneh sekarang," gumam nya sembari membuang napas malas dan berdecak.
Fokus nya kembali teralihkan, ia pun menatap ke arah komputer pipih di depan nya.
"Aku harus bertemu dengan nya..." ucap nya lirih saat melihat ke arah foto pria yang berisikan data yang terlihat bersih itu.
Hanya keterangan pemegang saham di beberapa tempat, dan alamat rumah yang bahkan tak pernah di datangi, selain data informasi nya pun sangat terbatas.
......................
Roma, Itali.
Wanita itu terlihat gugup melihat ponsel nya yang sudah mati. Ia hanya asal mengetik dan acak saja mencoba menelpon nomor lama yang ia kenali.
"Dia tidak tau kan kalau itu aku?" gumam nya yang berguling di atas tempat tidur nya karna takut ketahuan.
Semenjak lima bulan berlalu Clara mulai mencoba salah satu hobi yang pernah ia sukai di bangku sekolah dulu.
Mencoba fotografer dan bahkan dekat dengan salah satu pria yang berada di bidang yang sama dengan nya.
"Astaga..." decak nya yang bangun dan mencari air dingin walaupun sudah tengah malam.
Terkadang ia sedikit lupa ketika sudah tinggal sendiri, tak ada yang membangunkan nya untuk sarapan, tak ada yang menunggu nya ataupun tak ada yang berbicara pada nya saat ia berada di rumah.
"Aku tidak boleh memikirkan orang yang sudah jahat pada ku..." ucap nya lirih sembari menjatuhkan kepala nya ke atas meja.
Semua perhatian kecil yang dulu selalu ia dapatkan dengan mudah dulu nya tak ada lagi, ia suka dengan kebebasan nya namun tak suka dengan kesendirian nya.
Membingungkan dan serba salah, itu lah yang ia rasakan saat ini.
......................
Mansion Dachinko.
Waktu yang berlalu selama beberapa bulan dengan sikap yang manis dan sama seperti dulu seperti tak terjadi apapun membuat pria itu mulai melunak.
Walaupun hanya melunak di sikap namun ia tak bicara sekasar dan sedingin seperti sebelum nya.
Dan gadis cantik itu selalu berusaha mempertahankan kewarasan yang ia miliki untuk tetap bisa tersenyum ataupun berinteraksi seperti biasanya.
Namun yang ia rasakan hanya satu persatu perasaan nya memudar, tak hanya perasaan nya tubuh nya pun seakan ikut menghilang.
...
Prang!
Wajah terlihat datar itu mengambil serpihan gelas kaca yang berserakan itu tanpa memanggil pelayan untuk membereskannya.
Tes...
Cairan merah kental itu mengalir dari ujung jemari nya yang lentik itu, ia tak meringis saat sekali karena tak merasakan apapun.
Mata nya terlihat bingung menatap mengapa jemari nya terus mengeluarkan darah walaupun ia tak merasakan apapun.
"Louise?"
Suara bariton yang memanggil nya membuat gadis itu menoleh, wajah datar itu kembali tersenyum menatap ke arah pria yang tak jauh dari nya.
"James," gadis itu langsung melangkah melewati serpihan kaca tersebut begitu saja, walau ia memakai sendal rumah namun tetap saja akan dapat melukai kaki nya.
Mata pria itu membulat sejenak menatap langkah yang tak hati-hati itu.
Tap...
Tap...
Tap...
Jiplakan tanda merah di langkah kaki gadis itu terlihat di lantai marmer coklat muda lantai mansion tersebut.
"Kau sudah kembali?" pertanyaan dengan senyuman manis yang seakan tak merasakan sakit sedikitpun.
James diam tak menjawab, jika ekspresi menahan sakit bukan seperti itu, ia yakin gadis itu tak merasakan luka apapun.
"Kau terluka," ucap nya sembari meraih tangan gadis itu.
"Iya, tapi aku tidak merasakan apapun." jawab nya enteng melihat jemari nya yang tersayat kaca sedikit.
"Kaki mu juga, kau seharusnya hati-hati. Kau bukan anak kecil lagi." ucap nya pada gadis itu sembari mulai menggendong gadis itu dan membawa nya ke tempat yang lebih aman.
"Kaki?" tanya Louise bingung yang tak merasa jika kaki nya terluka.
"Kau tak merasakan apapun? Bukankah itu sakit?" tanya James sembari menurunkan gadis itu ke sofa dan berjongkok guna melihat luka di kaki gadis itu.
"Sakit? Kenapa kau selalu tanya apa kau sakit atau tidak?" tanya Louise mengernyit.
"Jawab saja," ucap pria itu sembari beranjak mengambil kotak P3K.
"Kau mau aku sakit? Aku tidak suka sakit, aku juga tidak mau sakit..." jawab gadis itu lirih.
James menoleh, senyuman cerah itu terlihat memudar saat mengatakan nya. Ia pun kembali mengalihkan pandangan nya dan memilih untuk tak mengomentari ucapan gadis itu.
"Chiko sedang pergi, jadi seperti ini dulu sampai dia kembali." ucap nya yang lebih percaya jika bawahan nya yang menjadi dokter penanggung jawab gadis itu walau ia memiliki bawahan lainnya yang memiliki profesi yang sama.
"Hm, kau tidak akan membiarkan ku terluka kan untuk saat ini?" tanya gadis itu dengan senyuman walaupun di setiap ucapan nya sering terkandung sindiran.
Humph!
Gadis itu tersentak saat tiba-tiba pria itu memangut bibir nya ketika selesai memperban luka di kaki nya, namun ia tak menolak ataupun mendorong nya melainkan menerima dan bahkan membuka bibir nya agar pria itu lebih leluasa mencium nya.
"Kau tidak bisa diam sebentar saja? Baru saja ku tinggal sudah terluka? Hm?" tanya nya setelah mel*mat bibir gadis itu.
"Kalau begitu jangan pergi," jawab gadis itu tersenyum pada pria itu.
__ADS_1
James tak mengatakan apapun, ia sudah mengatakan pada Chiko jika gadis itu tak mulai tak bisa merasakan sensorik di tubuh nya.
Minum teh yang masih panas, tak sadar saat terluka dan tak merasakan sakit saat di berikan obat. Sama sekali berbeda dengan sebelum nya, dan jawaban yang diberikan hanya jawaban yang tidak ia inginkan.
Hal yang tak bisa di obati oleh dokter andalan nya karna karna psikologis gadis itu lah yang sakit dan Chiko sama sekali tak berada di bidang tersebut.
...
Tayangan film dari tv yang besar itu menjadi tontonan gadis cantik yang tengah menyandarkan kepala nya di bahu pria yang yang duduk di samping nya.
Film yang bagus namun dengan akhir yang tak ia sukai sama sekali, "Kau tidak bisa mengganti nya saja? Aku tidak suka akhir cerita nya."
James mengernyit, kenapa tidak suka? Padahal film tersebut berakhir dengan bahagia karna menikah di ujung cerita.
"Kenapa? Bukan nya ini akhir yang bagus?" tanya nya tak mengerti.
Gadis itu diam sejenak sembari menatap kosong ke arah televisi, "Mereka melakukan sesuatu yang tidak akan bisa ku lakukan."
Pria itu tersentak, jawaban dengan suara lirih dan terdengar tak memiliki asa itu berhasil membuat bibir nya terkatup sejenak.
"Kalau kau mau kau juga bisa melakukan nya," ucap pria itu dengan nada yang rendah.
Louise tersenyum miring mendengar nya, "Melakukan apa? Menikah? Dengan siapa? Bukan nya Elouise sudah mati?" tanya nya pada pria yang membuat nya keberadaan nya tak bisa di tentukan, hidup namun seakan sudah mati dari dunia.
James diam, mana mungkin ia bisa membantah dan menjawab nya begitu saja padahal ialah yang membuat gadis itu tak bisa memiliki kehidupan yang sama seperti sebelumnya.
"Kau bisa melakukan nya dengan ku, setidaknya bisa memiliki suasana yang sama." jawab pria itu pada gadis yang bersandar di bahu nya.
"Tidak perlu, kau menikah dengan wanita yang kau cintai saja..." jawab gadis itu lirih dengan suara yang sangat pelan.
Lagi-lagi pria itu diam, ia tak bisa mengatakan apapun saat ia sendiri tak pernah mengatakan bagaimana perasaan nya.
"Kau tidak mau menikah dengan ku?" tanya James mengernyit.
"Memang nya kau bisa menikah dengan ku? Tidak kan? Kau sendiri punya wanita yang ingin kau nikahi," jawab gadis itu dengan sindiran dan mood yang langsung berubah menjadi jelek.
"Bagaimana kalau ak-"
"James! Stop!" gadis yang langsung memotong ucapan pria yang tengah bersama nya saat ini, "Jangan bicara hal seperti itu dengan mudah," sambung Louise yang mulai tak lagi bersandar di bahu pria itu.
"Kau sendiri yang tanya apa aku mau menikahi mu atau tidak kan? Itu hal terserah pada ku, bukan hal-"
"Okey, say you wanna marry with me, but can you answer my question first?" potong gadis itu segera.
"Do you love me?" sambung gadis itu sembari menatap mata pria yang berada di depan nya dengan lekat.
Ya, I love you, but...
Pria itu diam dengan kata yang tak bisa ia keluarkan dari bibirnya, sedangkan gadis itu tak lagi bisa menatap dan memejam sejenak.
"See? You don't love me..." gumam gadis itu lirih.
Berharap pada benang rapuh hanya akan selalu menyakitinya, namun ia juga tak pernah benar-benar bisa melepaskan.
"Louise? Kau..." ucap pria itu lirih sembari memegang lengan gadis itu.
Tak ada jawaban, gadis itu menunduk tak menunjukkan wajah nya, mengatur ekspresinya yang berubah sejenak tadi.
"Hm? Maaf aku terbawa perasaan tadi," ucapnya dengan senyuman kecil menatap ke arah pria itu.
"Kau mau tidur? Kita pindah ke kamar?" tanya James yang tak jadi mengatakan apapun.
Semenjak lima bulan terakhir ia memang bisa di hitung dengan jari betapa kali tidur sendiri karna pria itu mulai kembali membawanya masuk ke kamar yang sama terus menerus.
"Kita akan tetap tidur bersama sampai hari kelahiran mu," ucap pria itu yang baru sadar apa yang ia katakan, "Bukan, maksud ku, bukan hanya samp-"
"Kalau begitu kita tidur, aku juga sudah ngantuk." sela gadis itu sembari memeluk pria yang duduk di sampingnya.
Perut yang semakin membesar dari hari ke hari itu pun kini mulai menghalangi pelukannya.
...
Tanpa polesan make up wajah cantik itu terlihat lebih pucat, mata yang terpejam, hidung mancung dan juga napas teratur.
Pria itu mengusap rambut halus yang kini sudah panjang itu, "Louise? Kau sudah tidur?" tanyanya saat melihat gadis itu tak lagi mengeluarkan suara.
"Louise?" panggil pria itu dengan nada bariton yang rendah sembari mendekat ke telinga gadis itu.
"Hm? Kau mau menganggu tidur ku? Atau karna anak ini perempuan bukan anak laki-laki?" tanya gadis yang masih memejamkan matanya.
Tak ada jawaban sejenak untuk pertanyaan tersebut, memang dari hasil USG sebelum nya anak yang berada di kandungan gadis itu adalah anak perempuan bukan anak laki-laki seperti anak pertamanya.
"Aku tidak permasalahkan itu," jawab James yang bagi nya sama saja, anak laki-laki atau anak perempuan.
"Lalu biarkan aku tidur," ucap Louise lirih.
"Ada yang kau inginkan? Selain tadi?" tanya pria itu ragu.
Louise membuka mata nya menatap ke arah pria yang tengah melihatnya sembari memangku rahang nya dan memberikan harus wajah yang semakin tampak dengan jelas.
"Tadi? Apa menikah?" tanya gadis itu memastikan.
"Hm, kau tidak mau melakukan nya dengan ku jadi mungkin kau punya keinginan lain?" James yang bertanya pada gadis itu.
"Bukan tidak mau, tapi aku mau menikah dengan pria yang mencintai ku, kau kan tidak cinta aku," jawab gadis itu lirih.
James tak menjawab, ia tak bisa mengatakan apapun untuk balasan dari jawaban gadis itu.
"Maka nya katakan kalau kau menginginkan sesuatu, selain bukan kebebasan mu aku bisa penuhi." ucap pria itu yang mengalihkan pembicaraan ke topik semula.
"Aku mau bunga..."
"Tempat yang banyak bunga nya dan tidak melihat tembok di ujung nya, hanya seperti itu..." jawab gadis itu lirih sembari membayangkan melangkahkan kakinya keluar dari mansion megah yang mengurungnya.
"Berarti maksud mu bukan taman yang ada di mansion?" tanya James mengernyit.
"Kau bisa berikan?" tanya gadis itu menatap dengan mata berharap.
Hampir setahun ia terkurung di mansion pria itu tanpa bisa melihat seperti apa lagi di luar sana, gadis yang tak pernah bisa diam itu kini di paksa menetap di satu tempat setelah sayap yang ia miliki di patahkan.
"Dua Minggu lagi ulang tahun mu kan?" tanya James sembari menggulung dan memainkan rambut panjang gadis itu.
"Hm,"
"Aku akan membawa mu keluar di hari itu, tapi hanya hari itu saja dan jangan berpikir untuk kabur lagi." ucapnya yang semakin melunak pada gadis cantik itu.
Louise tersenyum tipis tanpa menjawab terimakasih ataupun mengiyakan pernyataan tersebut.
Kabur? Ia sendiri takut untuk melakukannya lagi, takut jika kejadian yang sama terulang kembali padahal traumanya tentang kehilangan bayinya masih belum hilang sama sekali.
Bahkan di kehamilan keduanya, jalinan rasa antara ibu dan bayi yang berada di kandungan nya tak sekuat seperti sebelumnya, ia sama sekali tak menginginkan anak yang berada di rahim nya, ia bahkan tak siap sama sekali.
__ADS_1
Jangankan siap, melihat pakaian anak ataupun visualisasi bayi dan anak kecil saja membuatnya mental nya terkurung di situasi dan tempat yang sama saat ia menggendong bayi mungil yang tak bernyawa itu.
Tak ada yang tau bagaimana jadinya nanti ketika ia sudah benar-benar menjadi ibu untuk anak kedua nya nanti.
James melihat gadis itu kembali memejam, ia pun masuk ke dalam selimut nya dan memeluk gadis itu.
Ia menarik gadis itu dan merasa setiap hari sikap gadis itu semakin membuatnya mengganjal seperti sesuatu yang akan meledak.
......................
5 Hari kemudian.
Langkah pria itu terhenti, ia menatap pria di depan nya yang menatap nya dengan pandangan dingin dan datar.
Seperti saling tak mengenal walaupun sudah tau sama sekali, pria itu melanjutkan langkah nya tanpa ragu.
"Bisa kita bicara?"
James menghentikan langkah nya, ia menoleh ke arah pria yang sangat ingin ia habisi namun tak bisa karna tertahan oleh janji yang sudah ia buat.
"Bukankah seharunya ada perkenalan lebih dulu?" tanyanya seakan tak pernah mengenal pria yang berada di depan nya saat ini.
"Lewatkan saja itu, kau sudah mengenal ku kan?" tanya Louis.
...
Dau kopi hangat yang tak begitu memiliki rasa manis itu pun terlihat di atas meja kedua pria itu.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya James sembari meminum kopi nya.
Louis sendiri bingung apa yang ingin ia tanyakan dan bicarakan saat ia sendiri hanya mengandalkan perasaan nya yang tak enak pada pria di depannya.
"Entahlah, bagaimana kau bisa mengenal adik ku?" tanya Louis pada pria itu secara random.
James diam sejenak, "Sebelum nya aku turut berduka atas kepergian adik mu." ucapnya yang seakan tak mengetahui apapun.
Louis tersenyum miring mendengar nya, sudah jelas dari pihak nya menyangkal tentang kematian gadis itu.
"Aku tidak pernah memberi konfirmasi kalau adik ku sudah meninggal, dan lagi apa kau pantas mengatakan nya?" tanya Louis yang tau siapa yang meninggalkan adik nya dalam kondisi hamil walau ia tak pernah mengatakan lnya.
"Aku harap kau dapat yang terbaik," ucap nya yang memilih tak membahas semua nya lebih panjang.
"Lalu kau hanya ingin tanya bagaimana aku kenal adik mu?" tanya James lagi.
"Kalau aku tanya apa alasan kau mencoba membunuh adik ku akan terasa aneh kan?" tanya Louis pada pria itu.
Deg!
James tersentak namun dengan cepat ia kembali mengatur ekspresi nya dan kembali menatap datar.
"Apa maksud mu mengatakan itu?" tanyanya dengan wajah tak suka.
"Aku juga tidak tau, tapi kalau kau tidak mungkin melakukan nya kan? Kau tidak punya alasan untuk itu, tapi kalaupun ada aku ingin tau kenapa," jawab Louis ambigu.
"Kau bicara seperti aku yang mencelakai adik mu," jawab James yang seolah tak pernah melakukan apapun.
"Bagaimana menurut mu? Ini jawaban yang mungkin hanya kau yang bisa jawab," ucap nya saat ia perlahan menyadari jika beberapa kejadian seperti mengarah pada pria di depannya walaupun ia tak memiliki bukti yang pasti.
"Aku anggap pembicaraan seperti ini tak pernah ada," ucap nya yang beranjak seakan pria itu telah mengambil waktunya yang berharga.
Louis tak mencegah saat pria itu pergi, ia berhasil mempertahankan saham utama dari JBS walaupun kehilangan beberapa aset yang bergerak di bidang resort dan hotel yang ia kembangkan ketika duduk di kursi Presdir.
"Dia menyembunyikan sesuatu," wajah kaku yang hanya bisa membaca wajah kaku lain nya tentu dapat dengan lebih baik.
......................
Mata gadis itu menatap dengan bingung, pria yang paling anti membiarkan nya mendekati pintu gerbang kini membolehkan nya untuk keluar.
"Kau benar-benar akan membawa ku pergi?" tanya Louise dengan bingung.
"Bukan membawa mu pergi tapi membawa mu ke tempat yang kau minta, anggap saja hadiah dari ulang tahun mu." ucapnya yang masuk ke dalam mobil lnya.
"Kau tidak mau?" tanya James saat melihat gadis itu bahkan belum beranjak masuk.
Gadis itu pun langsung bergegas dan duduk di samping pria itu, walaupun biasanya ia melihat gadis itu tersenyum, namun kali ini memiliki senyuman yang berbeda, senyuman yang memancarkan sinarnya.
...
Senyuman cerah dengan aroma bunga yang mengelilingi gadis itu.
Tak ada tembok putih dan besar di ujung pandangannya, hanya ada hamparan beraneka ragam bunga yang ia sukai.
Ia sadar jika tak ada siapapun yang berada di tempat itu kecuali mereka berdua, namun ia sudah tau tak mungkin pria itu membiarkan nya keluar tanpa persiapan apapun.
"Kau suka?" tanyanya pria itu sembari mendekat.
"Suka," jawab gadis itu singkat.
Senyumannya tak selebar saat ketika berada di mansion, hanya senyuman kecil.
Senyuman kecil yang terlihat lebih tulus, tatapan yang seakan tak ada tipuan untuk memaksakan wajah poker yang harus terus menerus menarik ujung bibir nya.
"James?" panggil gadis itu lirih sembari memetik salah satu bunga secara acak.
"Hm?"
"Kau suka seperti ini? Kau suka kalau aku tetap bersikap seperti ini pada mu?" tanya gadis itu sembari menatap ke arah bunga yang baru saja ia ambil.
Tak ada jawaban, namun terlihat jelas jika pria itu menyukainya.
"Kalau kau suka, apa kita tidak bisa seperti ini saja? Aku tidak akan minta lebih, aku juga tidak akan menuntut mu melakukan apapun yang bisa menganggu hubungan mu dengan wanita yang kau sukai, tapi..."
"Apa kau bisa lupakan tentang balas dendam mu?" sambungnya lirih.
Pria itu diam sejenak, ia ingin kedua nya. Gadis itu sekaligus pembalasan untuk luapan amarah dan kebencian yang selama ini sudah mendarah daging di tubuhnya.
"Tidak, kau lupa perjanjian nya?" tanya pria itu yang sekali lagi membuat harapan rapuh gadis itu hancur.
Gadis itu tersenyum pahit, ia pun kembali menoleh, "Kalau begitu kau bisa bilang kalau kau mencintai ku? Ini suasana yang bagus untuk pernyataan kan? Hihi," tawa gadis yang seakan bercanda untuk meminta hal yang tak mungkin.
"Louise?"
Panggilan yang membuat gadis itu sadar jika ia tak boleh meminta lebih lagi.
"Kalau begitu ambil ini, aku mengambilnya untuk mu," ucap nya sembari memberikan bunga cantik itu pada pria di depannya.
"Sweet pea?" gumam James yang mengernyit, ia tau beberapa arti bunga karna menyukainya.
Dan bunga indah yang di berikan gadis itu adalah bunga yang paling ideal untuk perpisahan karna mengartikan "selamat tinggal"
Namun terlihat jelas jika gadis itu tak apa arti dari bunga yang ia berikan.
__ADS_1