(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia

(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia
Sekarang resmi?


__ADS_3

Kantor Polisi


Tiga orang di bawa ke rumah sakit segera dan lima orang lain nya masih bisa di bawa dan gak membutuhkan perawatan yang begitu mendesak.


"Bukan aku, kalian percaya?" tanya Bianca yang tampak dengan wajah yang polos dan lugu itu seperti mengatakan jika bukan diri nya lah yang melakukan semua itu seperti pengaduan ke lima anak SMA tingkat akhir itu.


Polisi yang saat itu bertugas mencatat nya pun tampak bingung, yang satu terlihat gadis dengan perawakan tubuh yang kecil dan wajah yang cantik serta dua anak laki-laki yang terlihat masih di sekolah dasar yang tampak terluka juga.


"Oy! Iblis! Jangan berbohong! Kau yang membu-"


"Buat apa? Kata nya orang yang suka berbohong lidah nya hilang," potong Bianca yang tampak menatap dengan mata tajam nya yang seakan memberikan ancaman.


"Kalau begitu siapa nama mu?" ucap detektif dari kantor polisi itu.


"Harus ku beri tau?" jawab Bianca yang tampak enggan mendengar nama nya menjadi catatan di kantor polisi.


Polisi itu tampak menarik napas nya dan menatap ke arah kedua anak laki-laki itu.


"Sst! Nangis!" bisik Bianca pada Arche yang duduk di samping nya sedangkan Aldrich di samping Arche.


"Huhu! Pak Polisi..."


"Mereka jahat! Tadi aku mau ke cafe sama dia terus kami di hadang! Aku telpon kakak ku abis itu mereka mau mukul kakak ku juga..." ucap Arche dengan mata hijau yang tampak sendu dan memang struktur wajah nya begitu lembut.


Ia menyenggol bahu Aldrich namun saudara kembar nya itu tak pandai berakting seperti nya, Memang darah bisa sama namun sifat berbeda sekalipun kembar identik.


"I.. Iya! Ka.. Kami takut..." ucap Aldrich yang tersentak dan kemudian menutup wajah nya dengan tangan karna ia tak bisa berpura-pura melas ataupun mengeluarkan air mata.


Polisi tersebut memejam, sulit bertanya pada anak lelaki yang cengeng.


"Baik? Zayn Nathan Etrama, kau yang tadi melaporkan mereka kan? Kau lihat apa yang terjadi?" tanya polisi itu yang melihat ke arah pria yang sejak tadi hanya diam menatap ke arah gadis dengan seragam yang berlumuran darah itu.


Zayn menarik napas nya, sedangkan mata coklat yang bulat itu menatap ke arah nya menunggu jawaban beserta dengan kedua adik nya.


Tak hanya ketiga kakak beradik itu, anak-anak SMA itu pun menunggu jawaban nya karna mereka berharap pria itu mengatakan yang sebenarnya.


"Sebenarnya..." ucap nya lirih.


"Mereka bisa seperti itu karna..."


"Saling bertengkar satu sama lain, para keponakan yang di samping ku dia punya tubuh yang lemah dan penakut sedangkan adik-adik nya punya phobia darah." ucap nya yang kemudian membuat keributan.


Polisi tersebut menangguk, "Kenapa kalian bertengkar?"


"Kami? Itu masuk akal?! Kami saling menyerang satu sama lain?!" tanya salah satu anak SMA dengan gigi yang patah dan tangan yang bengkok itu.


"Lalu aku dan adik ku yang memukul mu?! Aku bahkan tidak bisa buka ini!" ucap Bianca yang memegang botol minum di meja polisi yang menanyai nya.


Ia merasa senang karna berpikir jika Zayn percaya pada nya, tapi tentu ia tak tau apa yang ada di pikiran pria itu.


"Kalian kan bertengkar karena rebutan dompet kami," ucap Arche yang memang dompet nya di ambil karna ia membawa uang tunai dari yang ia minta pada sang kakak tempo hari.


Dan itu adalah alasan yang sangat cocok untuk pertanyaan yang membantu nya.


"Sebaiknya kalian cepat panggil orang tua kalian," ucap polisi itu pada segerombolan anak SMA yang tampak sedang protes itu.


"Lalu kau penjamin mereka?" tanya sang polisi pada pria yang ikut masuk ke dalam kantor itu.


"Ya, aku paman mereka." ucap nya yang hanya menarik napas nya.


"Hum? Itu..."


"Aku boleh telpon wali yang lain juga tidak?" tanya Bianca lirih karna ia tak suka pertanyaan yang menyebutkan nya sebagai keponakan pria itu.


"Silahkan," jawab sang polisi yang memberikan hak yang sama.


Bianca mulai menelpon, ia langsung mengadu dan mengatakan semua tempat yang terjadi perkelahian tadi.


"Sudah," Ucap nya yang menutup telpon nya.


"Kalian akan kami jadikan saksi," ucap sang polisi yang lebih percaya dengan ucapan satu gadis, dua anak kecil dan satu orang dewasa di bandingkan dengan anak-anak yang memang sudah beberapa kali masuk ke tempat mereka dan selalu bebas karna usia ataupun penjamin.


Tak lama kemudian, seseorang mulai masuk.


"Saya ingin menuntut semua," ucap nya yang tiba-tiba masuk dan menunjuk ke arah para pelajar SMA yang lebih mirip dengan preman itu.


"Dan juga yang di rumah sakit," sambung nya yang tak lupa.


"Daddy!" ucap Bianca melambaikan tangan nya sebagai ucapan halo dan senyuman kecil.


Sang polisi pun mengangguk, ia menjelaskan situasi nya dan membuat pria itu melirik ke arah Zayn yang hanya membuang napas nya.


"Kalau begitu aku akan ambil anak-anak ku dan selebihnya bisa bicarakan dengan pengacara ku," ucap nya yang menyuruh ketiga anak-anak nya untuk bangun walau satu anak lain nya tidak terdaftar sebagai putra nya secara hukum.


"Baik kalau begitu, Paman mereka sudah menjamin nya." ucap sang polisi yang tampak mengangguk.


Ia masih tak mengatakan apapun, langkah nya beranjak keluar dari kantor polisi itu dan Bianca yang tampak ceria seperti tak punya trauma sama sekali atau takut akan kejadian barusan.


"Masuk ke mobil, semua." ucap nya yang mendorong ketiga anak nya untuk pergi lebih dulu.


"Tapi Dad-"


"Bianca?" potong James yang tampak tak ingin di bantah saat ini.

__ADS_1


Bianca diam, "Yuk kak," ucap Arche yang mulai gugup takut jika sang ayah marah.


Gadis remaja itu memilih diam, ia pun berjalan masuk ke dalam mobil seperti apa yang sang ayah katakan.


"Kau tau dia jadi seperti itu?" tanya Zayn yang mulai bicara saat ketiga kakak beradik itu masuk ke dalam mobil.


"Kalau kau tidak suka kenapa tadi membantu nya?" tanya James yang tentu tau kasus nya menjadi lebih mudah karna pernyataan pria itu sehingga ia tak perlu menghubungi kepala polisi untuk menutup kasus putri nya.


"Aku tidak mau anak Louise jadi punya catatan kriminal," ucap singkat yang membuat pria di depan nya menarik napas nya.


"Dia punya atau tidak itu urusan ku, kau bukan ayah mereka." ucap James yang sungguh tak suka nama istri nya di sebut pria yang jelas punya masa lalu dengan wanita nya.


"Memang bukan, lalu kau sebagai ayah nya bukan nya harus membuat dia jadi normal? Dia tidak terlihat merasa bersalah sama sekali setelah memukul orang lain, dan tentu perbuatan anak-anak berandal itu tidak di benarkan juga." ucap Zayn yang menatap ke arah pria di depan nya.


"Putri ku normal, putra-putra ku juga!" ucap James yang kesal mendengar seseorang mengomentari cara didik nya.


"Louise tau?" tanya Zayn lagi.


"Berhenti menyebut nama istri ku," ucap James dengan nada penekanan.


"Kenapa tidak boleh? Dia teman ku, haruskah aku menghubungi nya?" tanya Zayn yang mengeluarkan ponsel nya.


"Kalau kau mau kabur kenapa kembali? Seharusnya kau menghilang saja," ucap James yang tentu semakin tak suka.


Zayn tertawa kecil mendengar nya, pria di depan nya tak menyukai dulu dan sekarang. Sama seperti nya namun beda nya ia tak pernah menunjukan nya secara terang-terangan.


"Ku pikir kita bisa berdamai setelah sekian lama, tapi ternyata aku masih mengusik mu?" tanya nya yang menarik napas nya dan tersenyum tipis.


James tak menjawab apapun, ia hanya melihat ke arah pria yang tersenyum tipis itu.


"Aku pergi lebih dulu," ucap nya yang tak ingin mengatakan apapun lagi dan berbalik ke arah yang berbeda.


"Jangan dekati putri ku lagi," ucap James yang membuat langkah pria itu berhenti.


"Bukan, tidak hanya putri ku tapi anak-anak ku yang lain juga." sambung nya sekali lagi yang membuat Zayn menoleh kali ini.


Zayn masih diam, ia tak pernah punya niatan apapun. Namun saat melihat wajah yang terlihat gelisah dan khawatir saat mengatakan nya membuat pikiran nya berkata lain.


Mungkin memang benar, setiap orang memiliki sisi yang tersimpan bahkan orang baik sekalipun.


"Kenapa aku harus? Dia anak yang manis dan lagi seperti yang kau katakan tadi, aku bukan AYAH nya," ucap nya yang ingin menganggu dan melihat kekhawatiran yang lebih banyak di wajah pria itu walau ia tak punya niat buruk apapun pada gadis remaja yang selalu mencari perhatian dari nya.


James diam, ia tak mengatakan apapun lagi dan menarik napas kasar lalu kembali ke mobil nya.


......................


Skip


Louis melihat ke arah putra nya yang masih diam tak mengatakan apapun, ia sudah di beri tau oleh James sejak berada di rumah sakit dan tentu sekarang anak berusia 10 tahun itu sudah mendapat perawatan dan juga makanan yang banyak dari ibu nya.


Tap!


Aldrich menoleh, ia tak mendapatkan Omelan padahal ia sudah bersiap.


"Lain kali kau yang harus menang dan kalau bisa menang nya tanpa luka," ucap nya yang mengusap kepala putra nya.


"Papa ga marah?" tanya nya yang menatap ke arah sang ayah.


"Kenapa? Kau di marahi Daddy mu?" tanya Louis yang tentu merujuk pada ayah biologis putra nya itu.


Aldrich menggeleng mendengar nya, "Engga sih tapi kepala ku di getok karna di suruh menang."


Louis tertawa tipis, "Itu punya siapa? Kau makan coklat?" tanya nya yang mengambil sebungkus permen coklat di nakas kamar putra nya.


"Papa! Coklat aku tau!" ucap nya yang mengambil dengan cepat sebelum sang ayah memakan nya.


"Siapa yang kasih?" tanya Louis mengernyit.


"Kak Bian! Pa? Tau ga? Ternyata aku juga jadi kak Bian hehe..." ucap nya yang tersenyum dengan ekspresi ceria di wajah yang memar itu karna perkelahian.


"Ehm? Bukan nya kau memang adik nya?" tanya Louis mengernyit yang menatap bingung.


"Papa keluar dulu deh, Al mau belajar." ucap nya yang mengusir sang ayah sembari mendorong tubuh pria itu untuk keluar dari kamar nya.


"Anak nakal," gumam Louis saat melihat putra nya itu yang ia urus sejak usia dua bulan mengusir nya.


"Malam Papa!" ucap Aldrich yang melambai dengan senyuman nya sebelum menutup pintu.


......................


Mansion Dachinko


Louise menarik napas nya, ia tau tentang masalah putra nya karna wajah memar itu tak bisa di tutup namun tentu ia tak tau cerita asli nya.


"Masih sakit? Sini Mommy kompres dulu," ucap nya yang kembali mengecek ulang keadaan putra nya.


"Udah ga sakit lagi kok Myy," jawab Arche pada ibu nya yang berada di ambang pintu.


"Anak ini, kalau kau membuat masalah lagi aku akan mengurangi uang jajan mu." ucap Louise yang tentu merasa khawatir pada putra nya.


"Mommy cantik! I luv you Mom!" ucap Arche yang tak membela diri dan hanya memberikan kalimat rayuan pada sang ibu.


....

__ADS_1


Pukul 10.21 pm


Louise mulai menguap sedangkan suami nya masih mengomel, bukan tentang putra nya namun tentang mantan tunangan nya.


"Yaudah, biarin aja juga..."


"Yang penting ga hamil sebelum usia 21, lagi pula kalau anak di larang terus bukan nya makin nurut malah makin penasaran..."


Ucap nya yang mulai mengantuk pada sang suami.


"Kau tidak masalah? Tidak! Bukan itu, apa kau tidak merasa khawatir?" tanya James yang menatap sang istri yang sudah memejam di samping nya sedangkan ia masih duduk menyandar di kepala ranjang.


"Khawatir, tapi kalau di larang seperti jadi semakin penasaran..." jawab Louise lirih yang ingin tidur.


"Kau seperti ini karna membela dia kan?" tanya James sembari mengernyit melihat sang istri.


"Bukan, cuma dulu tuh aku juga sering di larang sama Louis biar tidak dekat dengan mu, ga nurut tuh! Makin penasaran, makin mau, makin tertantang..."


"Kalau sakit atau terluka karna pilihan nya salah juga nanti dia berhenti sendiri, James? Taraf kebahagiaan setiap orang cuma diri sendiri yang tau..."


"Kalau ikut kakak ku juga dia pasti mikir aku ga bakal bahagia dengan mu, tapi kan yang rasain aku, senang atau susah nya juga aku dulu yang rasain dan cara bahagia aku seperti ini."


"Bianca juga sama, kau pikir dia akan terluka kan? Kalau begitu biarkan saja, dia juga perlu tau rasa nya terluka dan pulih, karna hidup itu berjalan James, ga semua nya harus sesuai sama yang kita mau..."


Ucap Louise panjang lebar dengan suara lirih yang masih memejam karna menahan kantuk.


James tak menjawab, ia melihat ke arah wanita itu dan beranjak memeluk nya.


"Louise? Sayang?" panggil nya yang memeluk wanita yang ingin tidur itu.


"Hm?" Louise menjawab walaupun ia sebenarnya malas.


"Mau main?" ajak James yang pada akhirnya meminta sesuatu.


Louise kali ini langsung membuka mata nya sembari mengerutkan alis nya, ia menarik bantal nya dan membelakangi sang suami.


"Main sama bantal sana, dari tadi mau tidur di suruh dengar Omelan abis itu kok malah naikin darah tinggi!" ucap nya yang kesal pada sang suami.


"Kau kan tidak punya riwayat darah tinggi, tapi darah rendah kan? Jadi aku kan benar kalau mau naikin darah tingg-"


"James? Tidur, kalau engga aku bakar nih kamar nya sekalian biar main api kita," ucap Louise yang kesal karna memang saat seseorang mengantuk menjadi lebih emosian.


Cup!


"Good night luv!" Seru James yang mengecup kepala sang istri dan memeluk wanita itu dari belakang.


Ia memang tak mengatakan apapun lagi, tapi tentu ia tetap merasa khawatir.


......................


Satu Minggu kemudian.


Apart Sky Blue


Deg!


Deg!


Deg!


Tubuh yang terasa wangi dan dingin dan juga rambut yang masih basah belum kering sama sekali.


"Aku mau dengerin Paman kalau kita pacaran, kalau memang Paman sama hal itu..."


"Paman kan bisa ajari aku mana yang benar mana yang salah,"


Gadis itu tersenyum manis, ia duduk di atas perut yang bidang itu dan menyentuh dada kekar itu dengan tangan nya.


Jantung nya berdegup namun ia menyukai nya, bahkan sangat.


Sedangkan pria itu membatu sejenak, ia terkejut tiba-tiba ada yang berlari pada nya saat ia baru saja selesai mandi.


"Paman? Keras ya?" sambung Bianca yang mer*mas dada berotot pria itu ketika mantel mandi nya tersingkap.


Ctak!


"Aduh!"


Pria itu tersentak, ia memukul kening mulus dengan jentikan jari nya yang kuat dan membuat gadis itu telentang di ranjang nya.


"Kalau begitu aku ajari sekarang! Yang kau lakukan ini salah, dan itu termasuk ke dalam pelec*han!" ucap Zayn yang kehabisan kata-kata melihat gadis itu masuk ke kamar nya melompat ke atas tubuh nya dan meremas perut serta dada bidang nya.


Bianca memegang kening nya, ia tersenyum dan menatap ke arah pria yang merapikan mantel mandi nya itu.


"Kalau Paman ngajarin berarti paman setuju pacaran dong sama aku?" tanya nya dengan senyuman manis.


Zayn menarik napas nya, ia tak bisa mengatakan apapun pada gadis yang bahkan tak bisa di marahi.


"Sayang? My Honey? Mau kemana? Buka sedikit dong mantel nya, mau liat..." ucap nya yang beranjak bangun mengikuti pria itu ke ruang ganti dengan full senyuman.


"Kan sekarang udah resmi pacaran nya..." sambung nya lagi yang mengetuk pintu ruang ganti yang di kunci.


Mau membuat jebakan atau perangkap ia tak peduli asalkan mendapatkan apa yang ia mau.

__ADS_1


__ADS_2