
Langkah yang terdengar kecil namun suara heels yang membuat nya sedikit nyaring.
"Louise!"
Suara yang membuat fokus nya teralihkan, ia menatap diam pada pria yang terlihat raut khawatir di depan nya.
"Kata nya kau menghilang? Kenapa bisa?" tanya Zayn pada gadis itu.
Tak ada jawaban sama sekali, gadis itu masih melihat ke arah nya dengan tatapan lega kepada nya.
"Tadi kemana? Makanya aku bilang pergi dengan ku kan? Kenapa ka-"
"Kalau kau ikut dengan ku yang menemui Presdir Reynold siapa?" tanya Louise yang mulai bersuara pada pria di depan nya.
Alasan ia dan pria itu berpisah karna agar bisa melakukan dua pekerjaan dalam satu waktu bersamaan.
"Apa itu lebih penting dari pada diri mu sendiri?" tanya Zayn mengernyit.
Gadis di depan nya selalu melakukan segala hal untuk melindungi apa yang ia miliki namun tak pernah melindungi diri nya sendiri.
"Hm, JBS bagi ku lebih penting dari pada aku." jawab nya lirih.
Perusahaan yang di bangun ayah nya, dan kakak nya yang juga sudah memberikan waktu nya untuk mempertahankan itu semua tentu nya membuat nya begitu penting dari nya.
Dan cara yang paling aman untuk melindungi diri nya dan kakak nya dari pria itu hanya dengan masih memiliki eksistensi pada perusahaan.
Zayn memejam mendengar nya, ia tak bisa mengatakan apapun pada gadis keras kepala ini.
Mata nya pun mulai menangkap jas pria yang asing di tubuh gadis itu.
"Ini jas siapa?" tanya nya yang mulai menggubris jas asing di tubuh gadis itu.
Deg!
Louise tersentak mendengar pertanyaan itu, entah kenapa ia merasa bersalah dengan pria di depan nya.
Pria yang sudah bersedia menikahi nya walaupun ia tengah mengandung anak dari pria lain dan bahkan masih menyukai pria itu.
Namun kini ia bahkan habis melakukan hal itu pada pria lain.
"I-ini bukan..." ucap nya yang bingung bagaimana menjelaskan nya.
Zayn tak mengatakan apapun, reaksi gugup dari wajah gadis itu terlihat ketika ia menanyakan milik siapa jas itu.
"Kau baik-baik saja?" tanya nya sembari mengambil jas yang tidak ia ketahui itu dan mengganti dengan jas yang ia gunakan.
Louise mengangguk pelan mendengar nya.
"Tapi ku dengar kau hampir terjatuh, kenapa? Kau bisa beri tau siapa yang membawa mu tadi?" tanya nya dengan pelan pada gadis itu.
Tak ada jawaban sama sekali yang keluar dari bibir gadis itu, hanya diam terkunci dan tak bisa menatap mata nya.
Pria itu tak lagi bertanya, ia pun membawa nya dan mengantar nya pulang.
...
Kediaman Rai
"Louise?"
Panggil Zayn sesaat sebelum gadis itu keluar dari mobil nya dan memasuki kediaman mewah nya.
Mata hijau itu menoleh ke arah pria yang memanggil nya.
"Katakan kalau ada sesuatu, apapun itu."
"Jangan menyembunyikan terlalu banyak hal dari ku," ucap pria itu sembari menatap mata hijau gadis di depan nya.
"Kau benar-benar akan menikah dengan ku?" tanya Louise lirih.
"Kalau kau menginginkan nya tentu saja jawaban nya Iya," balas pria itu pada gadis yang tak jadi beranjak keluar dari mobil itu.
"Walaupun aku hamil anak orang lain?" tanya Louise lirih dengan wajah yang tak bisa di baca apa ekspresi nya.
__ADS_1
"Berarti aku akan langsung punya anak? Aku kan suka anak kecil." ucap pria itu dengan senyuman dan tatapan lembut di mata nya.
Louise langsung membuang pandangan nya tak menatap sahabat nya, lebih tepat nya ia tak bisa menatap tatapan yang begitu tulus pada nya.
"Walau aku masih suka pria lain?" tanya nya lagi yang memejam menghindari tatapan mata pria itu.
"Cinta bisa tumbuh dengan waktu," jawab pria itu yang optimis dan begitu positif.
"Kalau kau jadi memiliki situasi berbahaya karna ku?" tanya Louise sekali lagi.
"Asalkan kau tidak dalam bahaya itu sudah cukup bagi ku," jawab Zayn pada gadis itu.
Louise diam sejenak, perlakukan baik pria itu semakin membuat nya merasa bersalah ia seperti hanya memberi sial bagi teman nya.
"Zayn?"
"Hm?"
Gadis itu mengepal pada gaun nya, ia ingin menangis namun ia lebih harus menahan nya pada pria itu.
"Aku bukan yang seperti kau kenal dulu,"
"Aku..." ucap nya lirih, ia ingin mengatakan semua yang baru saja terjadi pada nya namun lidah nya begitu kelu.
"Bagi ku sama saja, yang dulu ataupun sekarang kau masih tetap Louise kan?" tanya Zayn sembari menatap nya.
Louise memejam sejenak, ia menarik napas nya dan sekelebat tentang ancaman yang baru di katakan James terlintas pada nya.
Namun ia tak begitu menghiraukan nya, ia menganggap pria itu tengah menggertak nya saat ini.
"Baik, ayo kita menikah." ucap nya menatap pria itu.
Iris pria itu membesar mendengar nya, "Sungguh?" tanya Zayn sekali lagi memastikan.
"Hm, aku akan bilang pada Louis. Kita akan atur pertunangan lebih dulu." jawab Louise pada pria itu.
Senyuman yang secarik di wajah pria itu terlihat, "Terimakasih..." ucap nya dengan menatap mata gadis itu.
"Bukan nya aku yang harus nya bilang begitu?" gumam Louise pada pria itu ketika ia mendengar ucapan terimakasih padahal di situasi ini diri nya lah yang paling banyak di untungkan.
......................
Mansion Dachinko
Nick menatap pria itu, walau dengan wajah yang datar namun terlihat jelas suasana hati tuan nya berbeda.
"Terjadi sesuatu yang baik tadi? Oh ya bukan nya anda tadi bersama dengan nona Louise?" tanya Nick pada tuan nya.
"Benar," jawab James mengangguk pada pria itu, "Kau sudah mematikan cctv di dalam ruangan itu kan?" tanya nya lagi memastikan karna ia tak ingin siapapun melihat perbuatan panas nya tadi.
"Sudah," jawab Nick pada pria itu.
"Bagus," ucap James mengangguk, "Dan lagi DNA palsu itu sudah selesai? Kita harus cepat kan?" tanya nya lagi yang ingin secepat nya membuat gadis itu 'Mati' di khalayak umum.
"Sudah 95 % hampir selesai tuan," ucap nya pada pria itu.
"Lakukan lebih cepat lagi," ucap nya pada Nick.
......................
Apart Greenlousc
Prang!
"Bilang apa tadi?! Coba ulangi!" ucap wanita itu sembari mencengkram erat pundak yang kecil dan gemetar itu.
"Kak Louise gak jahat! Mommy yang jahat sama Al!" ucap anak kecil dengan tubuh yang membiru dan air mata yang meleleh keluar.
"Sekarang j*lang itu juga sudah mempengaruhi mu? Walaupun dia meninggalkan ku karna j*lang itu tapi kau tidak bisa!"
"Kau itu anak ku! Aku yang membesarkan mu! Berani sekali kau membela nya!" ucap Bella yang tak terima jika putra nya juga lebih menyukai gadis yang ia anggap seperti kotoran itu sama seperti James.
"Mommy udah gak sayang Al lagi..."
__ADS_1
"Huhuhu..." tangis nya pada wanita itu dengan ketakutan.
"Mommy sayang, tapi kau semakin hari semakin menyebalkan dan sekarang kau mau membela nya?!" tanya Bella sekali lagi dengan mulai mengangkat tangan nya.
Plak!
Plak!
Plak!
Sikap lembut hilang ketika pria itu mengetahui kebenaran nya jika anak yang berada di depan nya bukan lah anak kandung pria itu.
Rasa cemburu, obsesi yang tidak tersalurkan dan juga frustasi nya ia lampiaskan pada anak malang yang tengah menjerit di pukulan nya itu.
Arnold pun mulai menyingkir, ia mendorong tangan sang ibu, kaki nya berlari dan sempat mengambil ponsel ibu nya lalu masuk bersembunyi di dalam lemari.
Tangan kecil nya langsung berusaha mengetik nomor sang ayah yang tak lagi mengunjungi nya setelah tau ia bukan putra biologis nya.
Namun anak malang yang tidak tau siapa orang tua nya itu masih menanggap jika pria yang ia panggil Daddy masih lah ayah kandung nya.
Suara deringan panggilan yang belum terhubung terdengar di telinga nya, "Daddy angkat huhuhu..." tangis nya lirih yang bersembunyi dari sang ibu.
Bella tau jika putra bersembunyi di lemari hias kayu nya, ia pun mendekat dan mengetuk nya.
Tuk..tuk...
"Mommy tau Al ada di dalam, jangan nakal..."
"Keluar nak, Al tega mau tinggalin Mommy sendirian? Mommy itu cuma punya Al..." ucap nya dengan nada rendah dari luar.
Arnold pun menoleh, ia melihat panggilan yang belum terhubung sama sekali, namun mendengar suara sang ibu yang mulai rendah dan lembut membuat hati polos nya ingin mempercayai sang ibu kembali.
"Al, Mommy minta maaf..."
"Mommy sayang Al..." ucap Bella lagi dengan nada rendah.
"Mommy gak akan pukul Al lagi?" tanya dengan polos pada sang ibu.
"Iya, Mommy janji..." ucap nya pada putra kecil nya.
Halo?
Suara yang mulai terdengar dari sebrang sana ketika panggilan nya mulai terhubung namun pria kecil itu tak lagi memperhatikan nya dan mulai membuka nya pintu lemari nya.
Jangan hubungi aku lagi,
Nada yang terdengar dingin dari telpon itu karna ia tidak tau siapa yang menelpon nya kali ini.
"Al juga sayang Mommy..." ucap Al sembari melepaskan genggaman telpon nya dan melihat wajah sang ibu.
Tatapan berbinar yang begitu cerah ingin sang ibu kembali menyayangi nya seperti dulu lagi.
Bella tersenyum melihat putra nya yang keluar dan senyuman nya seketika hilang beberapa saat kemudian.
"Lalu kenapa kau membela nya?" tanya nya dengan dingin pada anak kecil itu.
"Hm?" Arnold bingung namun tak sempat itu berpikir tangan sang ibu sudah menarik rambut nya dengan kuat.
Akh!
"Sakit Mom!" ucap nya menjerit seketika.
Tubuh kecil nya diangkat lalu kemudian dihempaskan ke lantai yang keras dengan sekuat tenaga.
Bruk!
"Kau itu anak ku! Tapi malah membela j*lang sialan itu?!" tanya nya dengan marah.
Bruk!
Ia kembali mengangkat dan membanting tubuh kecil itu lagi secara berulang hingga kini tak Arnold tak lagi bisa bergerak melawan ibu nya.
Daddy cepet dateng...
__ADS_1
Batin nya yang hanya berharap jika sang ayah datang menemui nya sekali lagi.