(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia

(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia
Godain tetangga


__ADS_3

Mansion Dachinko


"Astaga!"


Pelik Arche yang menghentikan lari nya saat melihat sang ayah di depan mata.


Ia berniat untuk memanggil ibu nya namun yang ia temui lebih dulu adalah sang ayah.


"Kau sudah umur berapa kenapa masih lari-lari?" tanya James pada putra nya itu.


"Dad! Tadi kan kak Bian itu lihat video tepok-tepok! Terus ga pakai ba-"


Pakk!


"Aduh!"


Anak lelaki berumur sepuluh tahun itu langsung tersentak begitu kepala nya terkena sesuatu.


"Bianca?" James pun ikut terkejut melihat sandal rumah yang melayang dan mendarat dengan sempurna itu.


"Kak Bian ta- Huph!"


"Daddy abis dari mana?" tanya Bianca dengan napas yang terengah-engah pada sang ayah karna baru berlari mengejar adik nya.


Tangan nya menarik rambut adik laki-laki nya dan menutup mulut nya.


James hanya menarik napas nya, ia sudah terbiasa melihat dua bersaudara itu bertengkar dan tak bisa di pisah sampai lelah sendiri.


"Jangan memukul adik mu, dan lepaskan tangan mu. Seperti nya dia tidak bisa bernapas." ucap James saat melihat ke arah wajah putra nya.


Bianca tak menjawab namun ia masih tersenyum.


"Ku beri 500 dollar tapi tutup mulut mu, mengerti?" bisik nya di telinga adik laki-laki nya yang memiliki tinggi semata nya itu.


Arche tak bisa menjawab namun ia mengangguk tanda setuju dan setelah itu sang kakak melepaskan tangan nya.


"Kau tadi mau bilang apa?" tanya James sekali lagi pada putra nya.


Bianca langsung membulat dan melihat ke arah adik nya.


"Aku boleh pinjem motor Daddy ga?" tanya Arche dengan topik yang berubah dan sang kakak langsung berbapas lega.


"Motor? Mau kau bawa ke mana? Dan lagi kau tau cara menggunakan nya?" tanya James mengernyitkan dahi nya.


"Kan bisa belajar Dad," ucap Arche yang memelas pada sang ayah.


"Nanti kalau tinggi mu sudah sampai 165 cm baru aku izinkan," ucap nya yang tak ingin putra nya jatuh karna tak bisa menyangga kaki nya.


"Yah..."


"Lama dong! Kak Bian aja udah 17 tahun masih 157,6 cm tinggi nya." ucap Arche memelas.


Plak!


Satu geplakan mendarat di belakang kepala anak laki-laki itu.


"160! Kau mau mati?" tanya nya yang sebal mendengar angka itu.


James tak mengatakan apapun namun ia melihat ke arah putri nya yang memang pertumbuhan nya sedikit berbeda padahal dan istri nya termasuk tipe orang yang memiliki tinggi badan.


"Benar juga kenapa kau pendek ya?" gumam nya yang melihat ke arah putri nya.


"Daddy!" ucap Bianca yang ikut kesal dengan sang ayah.


James tersenyum kecil, ia mengusap puncak kepala kedua anak nya dan kemudian beranjak.


Walaupun putri nya memiliki pertumbuhan yang tinggi seperti ia dan istri nya namun ia tak memiliki kecurigaan apapun.


Ia tau Louise tidak akan punya kesempatan untuk tidur dengan pria lain dulu dan ia juga tau tak mungkin bayi perempuan nya itu tertukar dan alasan terbesar nya tentu karna kejadian naas saat putri nya berusia tiga tahun dulu.


Hampir seluruh tubuh kecil itu mengalami patah tulang dan fraktur akibat penculikan yang terjadi.


......................


Apart Sky Blue


Arnold terdiam sejenak, begitu lift terbuka ia melihat ke arah seseorang yang beberapa hari lalu ia temui.


Tak ada kalimat sapaan yang terdengar, pria itu hanya diam tak mengatakan apapun pada nya begitu pun ia yang tak bisa membuka mulut nya.


"Oh iya! Yang kemarin itu salah paham! Di.. dia adik ku! Aku kakak nya!" ucap Arnold dengan sedikit gugup.


"Yang aku tau dia anak perempuan pertama dan tidak punya kakak," jawab Zayn dengan wajah datar nya.

__ADS_1


"Ka.. kami punya orang tua yang berbeda," ucap Arnold lirih.


Pria itu diam sejenak dan tak mengatakan apapun, ia menoleh ke arah seseorang yang tengah bersama nya di dalam lift saat ini.


"Kau anak pertama pria itu?" ucap nya yang baru kedua kali bertemu lagi.


Ia tau jika James punya anak lain nya dulu dan pernah melihat sekilas, namun ia juga masih belum tau jika anak itu pun tak memiliki hubungan darah dengan James.


Zayn tak mengatakan apapun lagi, ia memilih tak bertanya atau pun mencoba tak tertarik dengan keluarga itu.


Dan tentu itu semua juga untuk kesehatan mental nya.


Arnold semakin canggung, ia pun kehabisan pembicaraan dan kata-kata hingga berharap pintu lift segera terbuka.


......................


Kediaman Riccardo.


Gadis itu terdiam, ia tak bisa mengatakan apapun ketika orang-orang berjas itu datang ke rumah nya dan mengambil semua dokumen di dalam ruang kerja sang ayah.


Iris nya bergetar, dengan perasaan gelisah yang campur aduk sehingga tak bisa di ungkapkan.


"Syl? Masuk ke kamar mu," ucap wanita yang merupakan ibu dari gadis itu.


"Mereka akan bawa Papa pakai borgol?" tanya nya lirih yang menatap ke arah ibu dengan mata yang terlihat berkaca.


"Sylviana!" ucap wanita itu dengan sedikit berteriak.


"Aku harap ini tidak benar," ucap nya yang kemudian berbalik dan pergi masuk ke dalam kamar nya.


Gadis itu terdiam, ia menangis di bawah bantal nya.


Entahlah, mungkin berita tentang keluarga nya akan segera keluar satu atau dua hari lagi karna merupakan kasus yang besar.


Sang ayah yang merupakan ketua hakim di mahkamah agung di tangkap atas tuduhan penyuapan dan penggelapan dana.


Tentu masalah ini akan sangat berdampak untuk keluarga nya yang memiliki basis pendidikan hukum karna sang ibu juga bahkan memiliki firma pengacara sendiri.


Dan tentu saja hal itu akan membuat firma ibu nya sendiri terkena dampak nya.


......................


Ke esokkan hari nya.


Bianca menatap ke arah teman nya yang terus menerus terdiam namun ia masih asik bercerita tentang pertemuan nya lagi dengan pria yang ia sukai itu.


"Syl! Kamu dengar aku ga sih?" tanya Bianca yang menyentak ke arah teman nya agar menjawab nya.


"Eh? Iya! Dengar kok, Kamu udah tau di mana dia tinggal?" tanya Sylviana yang menatap ke arah teman nya.


Ia berulang kali melihat ponsel nya untuk tau apa kah berita tentang keluarga nya sudah keluar atau belum.


"Bian?" panggil nya lirih dengan gugup.


"Hm? Kamu mau bilang apa?" tanya Bianca yang menatap ke arah gadis itu.


"Kalau misal nya aku..." ucap nya yang gugup, selain gelisah tentu ia juga memiliki rasa malu karena sang ayah terlibat kasus seperti itu.


"Apa?" tanya Bianca yang bersemangat.


Sylviana menggeleng, ia memilih tak mengatakan apapun. "Kamu tetap mau temenan sama aku kan?" tanya nya dengan gugup.


Bianca terawa kecil, "Apaan sih? Tanya nya aneh banget! Lagi pula yang ga bisa berbaur itu kan aku." ucap nya yang tertawa.


Walaupun ia pintar dan menunjukkan sikap yang ramah namun ia selalu punya batasan sosial untuk orang lain sehingga orang-orang yang berada di sekitar nya memiliki rasa enggan untuk mendekat.


Sylviana tak menjawab apapun, ia merapat dan menggandeng lengan kecil teman nya itu.


"Belikan es krim," ucap nya yang tak enggan saat meminta apapun pada teman nya itu.


"Aku belikan yang banyak!" jawab Bianca dengan tawa kecil.


......................


Mansion Dachinko.


"Menikah? Nick akan menikah?" tanya Louise mengulang pada sang suami.


"Ya, maka nya dia bilang akan cuti satu bulan untuk persiapan pernikahan nya." jawab James yang mengurus beberapa pekerjaan dari bawahan nya.


"Kalian masih bekerja seperti itu?" tanya Louise lirih yang menyipit melihat sang suami.


James menghentikan pekerjaan nya sejenak, istri nya tak ke rumah sakit saat ini dan memilih bekerja dari rumah.

__ADS_1


"Tidak, aku hanya mengerjakan beberapa dari resort yang ku miliki." ucap nya yang menyebutkan pencarian legal nya.


Tentu selama hampir 12 tahun menikah wanita itu selalu meminta nya untuk berhenti dari pekerjaan gelap nya.


Dan karna itu sekarang ia memilih untuk melakukan nya diam-diam.


Louise mengangguk mendengar nya, ia duduk di meja kerja pria itu sembari melihat pekerjaan yang tersisa.


"Kenapa dia mau tiba-tiba menikah? Pacar nya hamil?" tebak Louise dengan tawa kecil.


"Ya, kau benar." jawab James dengan singkat.


"Benar? Sungguhan?" tanya Louise mengulang dengan mata nya yang penuh penasaran.


James mengernyit dan melihat ke arah wanita nya, "Kau penasaran sekali? Kau tidak merasa mainan mu di rebut kan?" tanya nya yang tentu tau jika bawahan nya itu cukup lama diam-diam suka dengan istri nya.


"Tidak! Itu karna aku senang, setidak nya aku tidak mematahkan hati pria lagi..." jawab Louise dengan senyuman cerah dan tawa kecil.


James terdiam sejenak namun kemudian ia tersenyum kecil mendengar ucapan sang istri.


"Kalau kau tau seperti itu harus nya kau tetap di mansion saja," ucap nya yang semakin lama semakin enggan untuk menunjukkan istri nya karna tak ingin di lihat pria lain.


"Kenapa aku di rumah saja? Ku rasa aku sudah cukup tua," ucap Louise yang membuang napas nya lirih.


"Kau masih 43 tahun," jawab James sembari melihat ke arah tubuh istri nya yang masih memiliki bentuk yang menggoda dan juga wajah yang masih segar serta belum tampak terlalu tua.


"Mama ku meninggal di usia 47 tahun, dia bahkan belum sampai 50 tahun." jawab Louise pada sang suami.


James mengernyit mendengar nya, "Lalu? Apa hubungan nya dengan mu? Usia ibu mu dan kau tidak akan memiliki pengaruh,"


"Mungkin ada, walaupun sedikit berbeda tapi penyakit kami hampir mirip." ucap nya dengan senyuman.


"Louise!" wajah pria itu langsung berubah mendengar nya, ia tak suka pembahasan seperti itu.


Louise tak menunjukkan raut sedih, ia hanya tertawa kecil dan menunduk untuk bisa mencapai wajah pria yang duduk di kursi itu.


Cup!


"Kenapa kau terlihat marah? Aku cuma mengatakan nya saja, dan aku juga akan hidup lama untuk mu, untuk anak-anak kita juga." ucap nya setelah mengecup wajah pria itu.


"Jangan bicara seperti itu lagi," ucap James yang menarik napas nya.


"Kenapa? Kalau aku mati sungguhan kau akan gila nanti?" tanya Louise yang malah terkekeh mendengar nya.


"Ya, aku akan gila." jawab pria itu singkat.


Louise tak menjawab tentang hal itu dan kemudian tersenyum, kaki nya bergerak menelusuri paha pria itu.


Tentu mudah karna ia saat ini sedang duduk di atas meja.


James tak mengatakan apapun, ia tau sang istri sedang menggoda nya saat ini.


"Lalu kau tidak ingin menggila sekarang? Tuan Dachinko?" tanya Louise yang tersenyum.


Tap!


Pria itu memegang kaki yang mengusap di bagian sensitif nya itu, kaki yang bisa ia genggam dan memiliki kulit sehalus sutra itu.


"Bukan nya kau bilang kau masih pegal?" tanya nya yang menatap ke arah wanita yang yang sejak pagi mengeluh karna ulah nya tadi malam.


"Besok aku akan ke Korea, jadi aku berpikir untuk bermain dengan suami ku dulu sebelum pergi. Tapi seperti nya dia sangat sibuk." ucap Louise yang kemudian menarik kaki nya kembali.


Ia ingin beranjak bangun namun sebelum sempat tengkuk nya di tarik dan bibir nya di sambar.


Tak ada perkataan apapun selain bahasa tubuh yang berbicara.


......................


Apart Sky Blue.


Arnold melihat ke arah gadis yang dalam beberapa hari ini semenjak ia pindah sering mengunjungi nya.


Mungkin lebih tepat nya mengunjungi tetangga nya.


"Seperti nya kamar ini bukan milik ku tapi milik mu," ucap nya yang melihat ke arah gadis yang berias di depan cermin itu.


"Arnold? Udah cantik belum?" tanya Bianca yang menatap ke arah pria itu dengan mata semangat.


Ia tak sepenuh nya memanggil dengan sebutan 'kakak' hanya sesekali ketika ia ingin dan dalam mood yang baik.


"Mau ke mana sampai dandan dulu?" tanya nya yang menghela melihat ke arah gadis itu setelah terdiam sejenak.


"Godain tetangga!" jawab Bianca dengan wajah centil nya saat ia bersemangat.

__ADS_1


__ADS_2