(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia

(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia
Salah kamar


__ADS_3

Mansion Dachinko


Suasana makan malam kali ini lebih hening dari biasa nya, sosok baru yang muncul secara tiba-tiba tentu membuat kedua saudara itu merasa berbeda.


"Dahi mu kenapa?" tanya nya James pada putra angkat nya itu.


Arnold tersentak, keheningan itu memberikan suara dan semua mata itu menuju ke arah nya.


"Ah ini? Ada kecelakaan kecil tadi," jawab nya lirih pada pria itu.


James tak lanjut bertanya, ia melihat ke anak lelaki yang dulu nya kecil dan sekarang sudah dewasa itu.


"Bukan, itu Bian yang buat." ucap wanita itu menghela napas nya, "Kamu udah minta maaf sama kak Arnold?" sambung nya yang menatap ke arah putri nya.


Bianca tak menjawab, hanya tatapan mata nya yang sinis itu menjadi jawaban.


"Ga apa-apa kak," jawab Arnold yang merasa canggung.


Memang secara hukum ia bersama dengan keluarga nya, memiliki orang tua yang lengkap dan saudari perempuan serta adik laki-laki.


Namun hal itu terasa palsu untuk nya, perasaan yang begitu jauh dan asing seperti di tempatkan di keluarga orang lain.


"Kata nya kau anak Daddy juga? Berarti harus nya panggil 'Mommy' dong sama istri nya Daddy tapi dari tadi selalu panggil 'Kakak' terus," celetuk Bianca dengan tatapan tak suka.


"Bian?" panggil Louise yang melihat ke arah putri nya yang tampak kesal.


"Belum terbiasa," jawab Arnold singkat pada gadis itu.


Bianca tak menjawab apapun lagi, ia menatap dengan mata nya yang tajam ke arah kakak laki-laki nya itu.


"Sudah, makan makanan nya." James menghela napas nya melihat ke arah wajah sinis putri yang merasa terganggu saat ada orang baru yang masuk ke dalam kelurga nya.


....


Setelah makan malam usai James memanggil Arnold untuk datang ke ruang kerja nya.


Arnold berdiri menatap ke arah pria yang duduk dengan meja sebagai pembatas nya.


"Kau akan lanjutkan study mu di sini? Sudah pilih universitas nya?" tanya James membuka suara.


"Ya, saya berniat seperti itu dan juga saya akan mencari apartemen di sini." ucap nya lirih.


James menoleh dan menatap lurus ke arah putra angkat nya yang sangat jarang ia temui itu.


"Ya, aku tau. Louise sudah bilang." ucap nya yang menatap ke arah putra angkat nya.


"Dan aku juga tau kalau kau memiliki apart sendiri pun di sini kau tetap ingin agar Louise tetap menemui mu kan?" sambung nya yang langsung membuang mata putra angkat nya itu menoleh menatap ke arah nya.


Tak ada kata bantahan, ia tak tau harus memberikan jawaban apa atau bagaimana merespon nya.


"Dia ibu mu, bagaimana pun juga dia adalah wanita yang harus nya jadi ibu mu. Jadi aku harap kau tidak punya pikiran yang kotor untuk dia." ucap nya yang langsung menembak tepat pada sasaran nya.


Arnold terdiam sejenak, "Ya, saya tau. Saya tidak memiliki pemikiran seperti itu untuk dia. Saya menghormati nya sama seperti menghormati anda." ucap yang tanpa sadar seiring berjalan nya waktu dan perasaan yang menjauh dari pria itu membuat nya berbicara dengan bahasa formal.

__ADS_1


"Baguslah, aku harap tidak ada yang perlu ku khawatirkan." ucap James pada putra angkat nya itu.


Arnold mengangguk, ia menatap ke arah sang ayah.


"Oh ya satu lagi, jangan terlalu formal pada ku." ucap James pada Arnold yang menatap ke arah mata putra nya.


"Ya?" Arnold mengulang menatap ke arah pria itu.


"Jangan bicara formal pada ku, aku memang mengirim mu pergi jauh tapi aku masih ayah mu dan aku juga tidak membuang mu." ucap nya yang membuat pria itu tau.


"Ma.. maaf..." jawab nya seketika yang menatap ke arah pria yang masih menjadi ayah nya secara hukum itu.


"Dan biasakan memanggil Louise dengan panggilan ibu juga agar adik-adik mu tidak merasa aneh." tambah nya sekali lagi.


"Baik, akan saya co- maksud nya akan ku coba." jawab pria itu pada sang ayah.


"Ya, kau bisa keluar sekarang." ucap nya pada Arnold sembari mengibaskan tangan nya mengisyaratkan agar putra nya itu keluar.


Arnold pun berbalik, ia melangkah keluar dari ruangan kerja sang ayah dan menutup pintu nya.


"Kau bicara apa?" tanya gadis itu yang menunggu tak jauh dari pintu ruang kerja sang ayah.


Arnold menghentikan langkah nya, ia menatap sejenak ke arah wajah cantik itu. Saat kecil dulu gadis itu begitu menggemaskan dan saat beranjak dewasa wajah imut itu menghilang dan terganti dengan kecantikan.


"Apa aku harus melaporkan nya pada mu?" tanya pria itu menatap ke arah gadis remaja itu.


Tak ada jawaban, Bianca tak menjawab sama sekali.


"Kenapa kau tanya kabar ku?" tak ada panggilan yang formal untuk pria di depan nya.


"Karna aku mau tau," jawab nya singkat.


Bianca membuang napas nya lirih, ia menatap ke arah wajah pria yang tak ia ingat namun entah mengapa saat mendengar nama nya membuat nya merasa begitu kesal.


"Aku tidak tau, tapi kalau aku melihat mu rasa nya perasaan ku memburuk." ucap Bianca yang tak mengerti dengan apa yang terjadi pada diri nya namun itulah yang ia rasakan.


"Kalau begitu maaf," ucap nya pada gadis itu, walau bagaimana pun apa yang ia dulu lakukan sudah hampir merenggut nyawa adik nya.


"Kau membuat ku seperti orang yang jahat," ucap Bianca yang melihat ke arah wajah memelas itu.


"Aku yang jahat, jadi jangan merasa terganggu." ucap nya pada gadis itu.


"Menyebalkan!" Bianca berdecak kesal dan berbalik pergi.


......................


Dua hari kemudian


Mata gadis itu berbinar saat mendengar cerita tentang saudara baru yang datang ke rumah teman nya.


"Ganteng ga Bi?" tanya Sylviana pada teman nya dengan tatapan yang begitu bersemangat.


"Syl! Aku serius tau!" ucap Bianca yang berdecak pada teman nya yang malah bersemangat untuk tau bagaimana rupa kakak baru nya.

__ADS_1


"Aku juga serius kok," jawab gadis itu yang menyandarkan diri nya di bangku taman yang berserakan di sekolah nya.


"Lagi pula kan Mommy kamu ga marah terus kelihatan nya juga sayang sama kakak kamu, berarti dia bukan anak selingkuhan." ucap Sylviana pada teman nya yang kali ini serius memberikan respon.


"Tapi kan tetap aja! Masa Daddy ga pernah kasih tau kami sedikit pun!" ucap Bianca pada teman nya yang masih kesal dan tidak bisa menerima saudara yang tiba-tiba datang.


"Mungkin karna dulu kalian masih kecil, jadi Daddy kalian mau fokus juga. Terus kalau misal nya Mommy kalian itu jadi ibu tiri yang jahat dia juga ga bakal dekat kan juga kan?" tanya Sylviana yang mengisyaratkan pernyataan.


"Iya sih, aduh pusing! Balik ke kelas yuk? Udah mau bel juga ini." ucap Bianca yang beranjak bangun.


"Nanti kamu les?" tanya Sylviana yang beranjak bangun dan mengikuti teman nya serta menganti pembicaraan dengan topik yang lain.


"Kamu? Aku kan les cuma buat temenin kamu," ucap nya pada teman nya.


Sylviana tersenyum, ia memegang lengan teman nya dan menggandeng nya.


"Bian? Aku sayang banget deh sama kamu..." ucap nya dengan nada yang manja dan merangkul teman nya.


......................


Skip


Mansion Dachinko.


Brush!


Semburan teh hangat yang tiba-tiba seperti guyuran hujan di siang terik.


Mata coklat itu membulat sejenak seperti sedang memproses apa yang tengah terjadi untuk beberapa saat.


"Ah..."


"Ma.. maaf!"


Pria itu tersentak, rona merah langsung memenuhi wajah nya seketika dan membuat nya terasa panas.


Dengan cepat ia berbalik dan segera keluar dari kamar yang salah ia masuki itu.


Brak!


Prang!


"Si*lan! Kakak si*lan! Mesum!"


Suara umpatan dan makian terdengar begitu keras bersamaan dengan benda melayang yang tak mengenai nya karna terhalang pintu.


"Astaga..."


"Kenapa dia bisa telanjang?"


Gumam nya lirih dengan wajah memanas karna baru pertama kali melihat tubuh wanita, memang dulu ia sering melihat nya ketika gadis itu masih bayi dan masih begitu kecil tapi sekarang?


"Tapi kan itu di kamar nya? Astaga! Dia pasti akan lebih membenci ku," sambung nya yang meninggalkan tempat itu dengan cepat dan rona wajah yang belum turun sama sekali.

__ADS_1


__ADS_2