
Dua hari kemudian
Tempat yang terlihat merupakan toko dari perancang busana pengantin yang saat ini sedang terkenal tampak menampilkan suasana klasik.
"Padahal aku bisa sendiri, kau tidak sibuk?" tanya Louise yang menoleh ke arah pria di samping nya.
James tak menjawab, mana mungkin ia melewatkan saat melihat gadis nya tengah fitting gaun pengantin yang di rancang sesuai dengan tema nya.
Saat baru memasuki tempat tersebut, sambutan ramah dari pelayan yang bekerja pun datang.
Louise memberikan senyuman nya, pembuat gaun pun datang dan menunjukkan tiga gaun yang sudah ia rancang dan siap saat ini.
"Aku lebih suka warna yang ini, apa kita bisa menggunakan nya untuk-"
"Tidak, pakai yang warna putih. Setelah ikrar kau bisa ganti dengan yang ini." ucap James pada gadis itu yang ingin mengganti gaun yang akan di pakai saat ikrar dengan warna gradasi dari red wine.
"Yang bagian di sini bisa di tutup lagi?" ucap pria itu yang menunjuk ke arah bagian dada yang terlihat terbuka transparan ke bawah menunjukkan belahan yang akan membuat pengantin nya terlihat lebih menggoda.
"Baik, saya akan coba tutupi di bagian ini." ucap si perancang yang memberikan catatan di kepala nya untuk segera memperbaiki nya.
"Kan cantik, lagi pula kau kan suka yang begitu." ucap Louise dengan nada setengah berbisik pada pria itu.
"Aku suka kalau hanya aku yang lihat," jawab nya yang mendekat ke arah telinga gadis itu.
Pembicaraan tentang perbaikan model yang di inginkan dan penambahan serta kekurangan gaun berlangsung beberapa saat sebelum akhirnya gadis itu mencoba gaun nya.
......................
JBS Hospital
Pria itu melakukan panggilan di ponsel nya, ia memberikan senyuman tipis di pembicaraan yang terdengar ringan itu.
"Lalu kau akan pergi lagi sekarang?" tanya Louis pada seseorang yang sebelum nya pergi ke Italy.
"Mungkin, seperti nya aku akan ke Ceko? Atau tempat lain?" jawab nya yang masih berhubungan dengan teman nya itu.
Louis tersenyum, lidah nya sedikit kelu saat ingin mengatakan sesuatu.
"Zayn?" panggil nya lirih pada pria yang berada di seberang telpon itu.
"Ya?"
"Kau sudah berkencan di sana? Pasti banyak yang menyukai mu," ucap nya yang tak jadi mengatakan apapun tentang pernikahan adik nya.
Suara tawa terdengar namun tak ada jawaban dari pertanyaan yang di lontarkan.
"Aku tidak apa-apa, dia akan menikah kan?" tanya nya yang setelah tawa kecil nya usai.
"Kau sudah tau?" tanya Louis mengernyit yang heran karna ia belum ada memberi tau dan tak mungkin adik nya yang sudah di blokir mengubungi kembali.
"Ya, Mama yang bilang." jawab nya yang terdengar dengan suara yang sedikit berbeda.
Louis diam sejenak, ia tak bisa mengatakan apapun dan lidah nya terasa kebas sehingga membuat nya ingin bungkam untuk beberapa saat.
"Bicarakan yang lain, aku tidak mau mendengar apapun tentang itu." sambung nya dengan suara yang tampak tertawa untuk memperlihatkan jika ia sudah acuh tak acuh lagi saat ini.
"Kirimkan aku lukisan mu, apa kau tidak bisa menjual satu frame pada teman mu?" ucap Louis yang langsung mengganti topik secepat kilat.
"Tidak, aku tidak mau melakukan potongan harga." jawab nya dengan tawa kecil dari telpon tersebut.
"Aku tidak sepelit itu," jawab Louis dengan tawa kecil saat mendengar nya.
......................
Toko gaun
Ruang ganti.
Ung!
"Ka.. kau tidak berniat membantu ku sejak awal kan?" tanya gadis itu dengan suara lirih saat pria itu membantu nya memakai gaun yang sedikit rumit jika di pakai sendirian.
Dan yang menjadi masalah utama adalah tangan pria itu yang dengan nakal nya mencari kesempatan.
"Kenapa? Memang nya aku sedang apa?" tanya pria itu dengan pertanyaan yang familiar dan seperti pernah di ucapkan.
"Tangan mu!" ucap Louise yang berusaha menepis tangan yang berkeliaran itu dengan dalih membantu memasang kan gaun pengantin nya.
"Tangan ku kenapa?" tanya nya yang meremas bagian empuk itu dari belakang sembari mengecup daun telinga gadis itu.
"Ini di luar James!" jawab Louise dengan kesal namun tentu tak meninggikan suara nya.
"Lalu? Kan aku cuma bantu kau memakai gaun mu saja," jawab pria itu dengan tersenyum simpul di lengkung leher jenjang gadis nya.
Louise diam sejenak, tangan yang menyelinap masuk ke dalam gaun pernikahan nya dengan dalih ingin membantu terlihat jelas di cermin besar yang memantulkan bayangan dirinya serta pria yang berada di belakang nya.
"Kau mau balas dendam soal kemarin kan?" tanya nya yang tak bisa mengentikan tangan yang bergerak itu.
"Louise? Aku kan sudah bilang akan jadi pria baik," ucap nya yang malah melonggarkan gaun putih yang mengambang itu hingga menjatuhkan nya.
"Astaga..." gumam Louise saat pria itu menjatuhkan gaun nya dan tentu langsung membuat bagian atas tubuh nya terekspos.
"Yang ini nama nya membantu?" tanya nya pada pria yang membalik tubuh nya.
"Seperti nya gaun nya sedikit sulit di pakai, aku akan memijat sedikit agar tubuh mu tidak terasa tertekan." ucap James tersenyum.
"Memijat? Apa yang mau kau pi- Humph!"
__ADS_1
Bibir gadis itu terbungkam, kini tangan pria itu tak lagi meremas Piramida nya dari balik gaun melainkan lebih leluasa.
"Jamhp..."
Suara nya terbata dan tak bisa keluar saat ia mencoba berbicara di tengah lum*tan yang membelit bibir dan lidah nya.
Berusaha mendorong pria itu namun gaun yang masih mengikat tubuh nya itu membuat kaki nya tersandung.
Ung?
Bruk!
Kedua pasang iris berbeda warna itu terdiam sejenak, pria itu kini berada di atas tubuh gadis nya namun masih bisa menahan tangan nya ke lantai agar tak menimpa tubuh gadis itu saat terjatuh.
"Untung saja gaun mu cukup tebal," ucap James tertawa kecil.
Tap!
"Bangun!" ucap Louise yang memukul bok*ng pria itu agar segera bangun.
James tersentak, ia tak beranjak dan malah tersenyum.
Humph!
Kembali memangut bibir merah muda itu terlihat semakin mudah untuk nya karna jarak kedua wajah itu begitu dekat.
Ia menarik kaki jenjang itu dengan tangan nya agar bisa mengait pinggang nya dan tangan yang bisa mengambil tempat hangat itu.
Membelit dan membuat lidah gadis itu kewalahan serta menarik bibir manis itu menjadi keahlian nya.
Ia melepaskan nya, menatap sejenak dan suka melihat wajah yang sayu sejenak saat menarik napas ketika ia melepaskan pangutan nya.
Cup!
Cup!
Cup!
Ungh!
Tubuh gadis itu tersentak, pria yang itu kini menciumi leher nya dan menghisap nya namun tak meninggalkan jejak karna jika nanti mereka keluar maka pelayan toko tersebut akan langsung tau apa yang mereka lakukan di dalam sedangkan tangan pria itu kini menarik segitiga penghalang dan terlihat sedang bermain piano.
"Kau gila! Ba..bagaimana kalau ketaua- Ungh!" ucap nya yang terhenti seketika saat jemari yang sebelum nya bermain piano kini mencoba masuk.
"Sstt! Jangan bersuara kau tidak mau kita ketahuan kan?" ucap nya dengan suara pelan dan berbisik di telinga gadis itu.
"Kau belum ku.. kunci pintu nya?" tanya Louise yang berusaha mengatur napas nya dan mencoba bicara saat tangan pria itu bergerak begitu cepat.
"Ah? Aku lupa," jawab pria itu dengan terlihat tak peduli karna ia berbohong dan hanya ingin melihat gadis di depan nya merasa panik.
"James!" ucap Louise yang kesal namun dengan suara halus yang tertahan saat memarahi pria yang tersenyum kecil itu.
"Kau kan sudah janji tidak akan menye- Ugh!" sekali lagi bibir nya terbungkam dengan ucapan yang belum selesai saat ia merasakan bukan hanya satu melainkan dua jemari yang bermain piano itu.
"Maka nya, aku tidak melakukan apapun walaupun sudah seperti ini kan?" ucap nya yang mengarahkan tangan gadis itu pada bagian yang sudah membengkak dan memberontak di tempat nya.
"Ini tidak menyalahi janji kan? Kau duluan yang memulai nya," bisik nya dengan suara yang berat.
"Uhm..." mata hijau itu menoleh ke arah pria yang berbicara pada nya, nafas yang hangat menabrak permukaan kulit di leher jenjang nya.
"Kau bisa pegang saja?" bisik pria itu yang kembali naik ke telinga gadis yang menahan suara nya itu.
"Hum?" Louise masih sedikit linglung karna situasi nya, ia menoleh dan menatap ke arah pria yang tampak menikmati situasi yang cukup menegangkan itu karna di depan ruang ganti masih banyak pelayan yang menunggu beserta perancang busana nya.
Tangan yang halus karna sekarang tak lagi bermain biola itu menyentuh sesuatu yang panas dan keras.
Ia menoleh ke arah pria yang berada di depan nya dengan mata hijau yang membulat.
"Ini tidak akan menyalahi janji nya," ucap bisik pria itu yang tampak terbawa suasana dan untuk sejenak lupa di mana ia saat ini sedang berada.
Louise diam tanpa mengatakan apapun namun tangan nya bergerak dengan sendiri nya mengikuti apa di inginkan oleh pria itu.
James terdiam sejenak, merasakan sengatan listrik yang datang pada nya.
Ia pun turun mengecup tubuh gadis itu hingga tangan yang halus dan lentik itu tak bisa memegang nya lagi.
"Ahh!"
Louise tersentak, sesaat ia langsung menutup mulut nya dengan kedua tangan nya.
Pria itu tersenyum kecil, lidah yang hangat dengan tangan yang bergerak kasar berusaha memancing tubuh yang sudah berbulan-bulan itu tak tersentuh bahkan dengan jemari nya sekalipun.
"Nyonya? Tuan? Ada masalah?"
Suara seseorang yang mengetuk pintu dari luar dan bertanya saat mendengar suara yang tak biasa.
Louise menggeleng, ia menutup mulut nya dengan rapat akibat tangan yang bergerak dengan cepat itu walau sudah melepaskan ciuman di bagian bawah nya.
"Tidak apa-apa, sebentar lagi kami akan keluar," ucap James yang menyahut.
Bukan ia saja yang bisa di jahili namun ia pun bisa menjahili gadis itu.
"Ungh!"
Louise menutup mulut nya dengan semakin rapat, suara squisy yang terdengar memenuhi ruangan ganti itu ketika tangan yang bergerak semakin cepat dan kasar membuat nya hampir menggila.
"Jika menemukan kesulitan kami akan membantu," ucap salah satu pelayan yang tadi nya mengetuk pintu ruangan ganti itu.
__ADS_1
"Terimakasih, kami akan selesaikan ini dengan cepat." jawab James yang tak sepenuh nya berbohong.
"Baik tuan," ucap pelayan tersebut karna tentu ia mengira nya jika pembicaraan tersebut adalah tentang memakai gaun.
Bukan nya 'penyelesaian dan keluar' seperti yang di maksud dari pelanggan nya.
Suara pria itu terdengar berat, ia bisa menggunakan kedua tangan kanan dan kini lebih baik atau di namakan dengan ambidextrous.
Yang tangan kanan nya untuk memuaskan gadis itu dan tangan kiri nya untuk memuaskan diri nya sendiri.
"Uhh!"
Gadis itu tersentak, ia merasa tersengat ketika seluruh tubuh nya terfokus dalam satu rasa.
James tak bisa lagi menahan nya, ia menarik gadis itu untuk bangun dan jatuh di depan nya.
"Buka," ucap nya dengan suara berat memberikan satu kata perintah agar gadis itu membuka mulut nya.
Ia tau jika ia mengeluarkan nya dengan sembarangan maka hanya akan mengotori gaun atau lantai ruang ganti itu karna memiliki tekstur yang lebih kental dan warna yang lebih pekat di bandingkan milik gadis nya.
Louise membuka mulut nya dan tak lama kemudian sesuatu memasuki nya serta memberikan nya rasa hangat yang memancar keluar hingga hampir membuat nya tersedak.
Pria itu menarik napas nya, ia mengusap kepala gadis itu sejenak dan mengecup nya.
Mengambil satu satu tangan di dalam saku jas nya dan mengusap bagian yang basah itu sejenak lalu membersihkan kekacauan kecil itu.
"Kau gila," ucap Louise yang masih menarik napas nya sedangkan pria itu kini sudah benar-benar membantu nya dalam memakai gaun.
"Maybe? I went Crazy over you, babe." bisik nya saat membantu gadis itu memakai gaun nya.
Ia memberikan seulas senyum nya saat melihat gadis itu memakai gaun yang putih yang elegan dan membuat nya semakin cantik itu.
Gaun yang memberikan warna bersih dan suci namun mungkin ia sudah mengotori dengan h*srat nya yang tadi tak bisa ia hentikan dan tahan.
"Kita keluar sekarang? Mereka seperti nya terlalu lama menunggu," ucap James yang beranjak ke arah pintu sedangkan gadis itu masih merapikan rambut yang sedikit berantakan dan basah karna keringat.
Ia keluar dari ruangan ganti, beberapa orang sudah menunggu nya.
"Hum?" perancang busana yang membuat gaun gadis itu mengernyit.
Ia merasa pendingin ruangan nya tak rusak namun calon pengantin wanita yang keluar itu tampak berkeringat dengan rambut yang basah di dekat wajah.
Louise tersenyum canggung, ia takut ketahuan sedangkan pria yang membuat kekacauan itu hanya tersenyum dengan wajah yang cerah seperti tak pernah melakukan apapun.
"Haha, di... di sini sedikit panas ya?" tanya Louise dengan tawa kecil yang terasa canggung.
"Benarkah? Saya akan menurunkan suhu nya," ucap wanita yang memakai kaca mata itu dan menyuruh salah satu pegawai nya untuk menurunkan AC ruangan agar lebih dingin.
"Pantas saja anda berkeringat, maaf keteledoran kami." ucap nya yang tersenyum dengan ramah karna bagi nya gadis itu bersama calon nya adalah pasangan pelanggan yang VVIP.
"Iya, aku selalu merasa panas..." ucap Louise dengan tertawa dan tersenyum canggung.
Perancang busana itu tak memikirkan sesuatu ada yang salah, walaupun pasangan yang akan menikah itu lama keluar dari ruang ganti namun ia bisa sedikit memaklumi nya karna berpikir pria itu tak begitu paham dalam memasangkan gaun yang cantik itu.
Karna biasa nya dalam satu gaun pengantin wanita ada dua orang yang membantu nya bersiap.
"Tapi aku lebih suka yang punya warna gradasi, sedikit berbeda kan?" tanya Louise yang masih ingin memakai gaun yang ia sukai saat memilih bahan nya sebelum nya.
James menarik napas nya, gadis itu masih sama keras kepala nya seperti sebelum nya.
"Kau bisa gabungkan warna nya, jadi di pencahayaan yang berbeda warna yang di berikan pun akan berbeda," ucap James pada perancang busana yang membuat gaun itu.
Ia tetap ingin gadis nya memakai gaun putih di saat pengucapan ikrar dan gadis nya ingin memakai warna gradasi di acara awal.
"Baik, akan coba saya ubah." ucap wanita itu yang sekali lagi memberikan catatan di buku nya untuk memperbaiki gaun yang akan di kenakan itu.
...
Louise menarik napas nya, ia sudah duduk di mobil pria itu dan selesai dengan gaun nya.
"Kenapa ada yang beda ya?" gumam nya yang merasa sedikit ada perasaan yang lain.
"Eh?" mata hijau itu membulat seketika, ia baru sadar jika ia saat ini tak memakai apapun di balik celana panjang yang ia kenakan itu.
"Astaga!" ucap nya yang segera keluar dari mobil.
"Kau mau kemana?" tanya James yang langsung meraih tangan gadis nya yang ingin masuk ke dalam toko besar bergaya klasik itu lagi.
"Itu ku ketinggalan! Kau sih tadi!" ucap nya yang kesal dan ingin cepat mengambil nya sebelum ada pelayan yang datang ke ruang ganti dan menemukan nya.
"Itu apa? Sekarang waktu nya kita pulang kan?" tanya James yang tertawa kecil dan menarik tangan gadis itu kembali ke dalam mobil.
"James!" Louise kesal namun tenaga pria itu tetap lebih kuat untuk menyeret nya kembali ke dalam mobil.
"Kau! Aku bilang aku ma-"
"Ini? Kau cari ini kan?" tanya nya yang mengeluarkan sesuatu yang ingin di cari gadis itu dari dalam saku nya.
"Kau! Dasar mes*m!" ucap Louise yang membuat kan mata nya dan menatap ke arah pria yang malah tertawa kecil itu.
"Kau butuh waktu lama untuk sadar," ucap nya yang tertawa melihat reaksi wajah yang bagi nya menggemaskan seperti kucing pemerah saat ekor nya tak sengaja tergigit.
"Kau gila! Kenapa aku mau menikah dengan pria gila seperti mu," ucap gadis itu yang tampak kesal dan menggelengkan kepala nya.
James tersenyum, ia kembali menyimpan kain segitiga yang tipis itu ke dalam saku jas nya.
Pria itu mendekat, ia menarik sabuk pengaman untuk memasangkan nya pada gadis nya.
__ADS_1
"I've told you before, I'm crazy over you." bisik nya di telinga gadis itu dan mulai menghidupkan mesin mobil nya.