(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia

(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia
Aku lelah


__ADS_3

Roma, Itali


Wanita yang memakai sweater berwarna cream serta menginginkan rambut panjang nya dengan jepit rambut itu tersenyum dengan sepotong kue di depan nya sekaligus secangkir cappucino hangat di samping nya, ia kini merasa bebas dan tak perlu lagi terkekang oleh orang lain



"Aku mau melakukan apa yah sekarang?" gumam nya yang memikirkan keinginan nya dan apa yang bisa ia lakukan dengan bebas saat ini.


Berpikir tentang apa yang ia inginkan menguras isi kepala nya hingga ia mulai merasa haus.


"Hm, tidak terlalu man-" ucap nya yang terpotong karna teringat dengan seseorang.


Senyuman nya luntur, ia membuang napas nya dengan lirih. Kini ia sudah bebas namun mengapa beberapa hal kecil membuat nya terus teringat masa lalu?


....


Apartemen yang terbilang cukup bagus kini menjadi tempat tinggal nya, bahkan apart yang ia miliki saat ini lebih bagus di bandingkan apart yang ia tempati dulu.


Meletakkan tas nya dan membuka sweter yang ia kenakan sehingga kini hanya memakai kemeja berwarna biru muda itu saja.


Ia membuka isi kulkas nya dan mengambil susu dingin, ia pun duduk dan menatap ke apart yang terlihat sunyi itu, walaupun merasa lega namun entah mengapa ia merasa kosong.


"Biasa nya aku kalau jam segini sedang apa?" gumam nya lirih.


Tak ada yang menunggu nya kembali ataupun yang memarahi nya saat pulang larut, bahkan tak ada satupun notifikasi pesan dan panggilan yang selalu penuh di ponsel nya.


Ini adalah yang ia inginkan sebelum nya, namun saat keinginan nya terwujud kenapa ia masih merasa belum bahagia?


"Terlalu sunyi..." gumam nya lirih.


......................


Satu Minggu kemudian


Mansion Dachinko.


Seperti piring yang di balik, gadis itu berubah 180 derajat, bukan perubahan yang tak pernah terjadi namun berubah seperti saat tak terjadi apapun.


"Nona? Kalau anda kurang dalam gaun yang anda miliki an-"


"Tidak mau, aku mau pakai punya dia. Lagi pula kenapa kalian hanya memberi ku gaun, aku mau nya kaos, okey?" jawab gadis itu sembari membulatkan jemari nya saat ia menarik salah satu kaos berwarna biru tua milik James.


Nick, bingung melihat reaksi gadis itu yang memiliki sikap seperti tak terjadi apapun, memiliki jutaan ekspresi seperti dulu lagi.


"Kau mau tetap di sini? Aku ingin membuka pakaian ku, atau kau mau lihat?" tanya Louise sembari menarik sedikit ujung pakaian yang ia kenakan.


Mata Nick langsung membulat, "Maaf atas kelancangan saya."


Ia pun langsung berbalik dan pergi dan pergi meninggalkan gadis itu di ruang ganti tuan nya.


Wajah yang awalnya penuh akan ekspresi itu kini berubah, terlihat tak senang, tak marah, dan juga tak benci.


Lebih tepat nya tak ada ekspresi apapun di wajah cantik itu saat ia sendiri.


"Apa dia sudah memindahkan nya..." gumam nya yang mencari sesuatu di ruang ganti pria itu.


Ia pernah melihat, beberapa cadangan ponsel yang di kumpulkan di ruang ganti itu saat ia masih memiliki hubungan dengan pria itu dulunya. Namun ia tak tau ponsel apa dan di gunakan serta milik siapa ponsel-ponsel tersebut karna ia yakin itu bukanlah milik James.


"Tidak ada," gumam nya yang merasa pria itu sudah memindahkan nya.


Ia pun keluar, karna sudah berada cukup lama di ruangan tersebut.


Menuruni anak tangga dan menatap ke arah mobil berwarna hitam yang sudah kembali dari jendela-jendela besar mansion tersebut.


James yang baru memasuki mansion pun, tersentak. Langkah nya terhenti hingga membuat nya tak bisa membalik tubuh nya sejenak.


Pelukan yang langsung datang pada nya begitu ia datang, hampir saja tangan nya membalas pelukan itu.


"Seharusnya kau memeluk ku juga, kau lupa? Bagian dari memperlakukan ku dengan baik?" ucap gadis itu saat ia menenggelamkan wajah nya di dada bidang pria yang baru kembali itu.


Bau darah...


James tak menjawab ataupun membalas, melainkan ia perlahan mendorong tubuh gadis itu agar melepaskan pelukan nya.

__ADS_1


"Apa yang baru saja kau lakukan?" tanya Louise sembari menatap di balik jas hitam pria di depan nya.


"Kau memakai baju ku?" tanya James yang memilih mengindari pertanyaan gadis itu.


"Bagus kan?" tanya dengan senyuman tipis seminari menunjukkan jika ia cocok memakai apa saja.



"Apa pakaian yang kau miliki kurang?" tanya pria itu sembari membuang pandangan nya ke samping.


Bukan nya tak suka, namun ia merasa gadis itu selalu membuat sesuatu yang menarik perhatian nya lebih jauh lagi dan ia tau jika ia tak boleh menyukai gadis itu terlalu dalam.


"Kau tidak suka? Atau kau jelek memakai nya?" tanya Louise mendekat pada pria yang semakin mengeluarkan aroma darah itu.


"Tidak, kau cantik." ucap nya dengan wajah yang datar namun terlihat jelas jika ia tak berbohong sama sekali.


"Oh ya? Tapi ku rasa kau punya wanita yang lebih cantik dari ku? Iya kan?" tanya gadis itu dengan tawa kecil seperti candaan.


James tak menjawab apapun, ia sendiri merasa bingung tentang apa yang di pikirkan gadis itu sampai bisa bersikap seolah-olah tak pernah ada yang terjadi padanya dan kembali bersikap seperti dulu.


"Aku mau mandi dulu, kita bicara lagi nanti." ucap nya yang merasa Louise juga sudah mencium aroma darah dari nya.


Bukan darah nya melainkan darah orang lain.


"James? Kau tau tidak? Tadi Nick memarahi ku," ucap Louise yang tak peduli pria itu mencoba membuat nya pergi dan mencari kesibukan lain.


Tak ada jawaban, James hanya terus berjalan walaupun gadis itu mengikuti langkah nya.


"James?"


"James? Kau tidak mendengar ku?" tanya Louise sembari menghentikan langkah nya.


"Xavier?" panggil nya yang kali ini membuat langkah pria itu ikut terhenti.


Wajah yang tak menampilkan ekspresi apapun sampai pria itu berbalik melihat nya, dan kemudian tersenyum cerah seperti mentari.


"Apa aku mengizinkan mu untuk memanggil ku seperti itu?" tanya James mendekat ke arah gadis itu.


"Louise?" nada yang rendah namun terdengar seperti menahan rasa amarah yang akan meledak.


"Ya?" jawab gadis itu tersenyum seperti merasa tak melalukan apapun.


James memegang kedua bahu gadis itu dan menatap nya, "Jangan melewati batas? Hm?" bisik nya dengan nada penuh penekanan dan ancaman pada gadis itu.


"Kalau aku tidak boleh memanggil mu dengan nama itu lalu kenapa kau menulis nama itu di tangan ku?" tanya nya sembari menunjukkan tato latin di tangan gadis itu.


"Karna kau milik ku," jawab pria itu.


"Milik siapa? Athan James Dachinko? Atau Xavier Haider Dachinko?" tanya gadis itu mengulang.


Louise perlahan memegang wajah dan rahang pria itu dengan tangan nya yang lembut walaupun cengkraman di bahu nya semakin menjadi.


"Aku penasaran dengan Xavier, apa Xavier Haider juga orang yang kejam?" tanya nya lirih dengan suara yang sangat pelan.


"Louise!" bentak pria itu seketika, ia tak ingin nama itu kembali lagi, nama di mana ia tak bisa melakukan apapun dan menjadi lemah.


Namun pada akhirnya ia tetap mengukir nama asli nya di tubuh gadis itu.


Ukh!


Louise meringis, ia tak merasa sakit di bahu nya namun bentakan pria itu membuat nya terkejut.


James menarik napas nya, belum ada sebulan ia membuat janji untuk tidak menyakiti gadis itu namun kini malah sebalik nya.


Ia pun melepaskan tangan nya perlahan, "Jangan bicara yang membuat ku kesal lag-"


Humph!


Pria itu tersentak, jas nya tertarik kebawah hingga membuat nya membungkuk seketika, bibir nya bungkam tak dapat lagi melanjutkan kalimat nya.


Ia terkejut namun ia tak memiliki niat untuk mendorong ciuman gadis itu menjauh.


Greb!

__ADS_1


Louise sedikit kewalahan saat pria itu menarik pinggang nya dan membalas ciuman nya dengan memasukkan lidah nya lalu membelit ciuman gadis itu.


Perlahan belitan yang saling berbalas itu terlepas dan hanya menyisakan suara tarikan nafas yang ingin menghirup udara kembali.


"Kau terlalu cerewet untuk marah pada semua hal," ucap gadis itu lirih sembari mendekat.


Hembusan nafas yang hangat mengenai leher pria itu, James memejam sesaat merasa gadis itu seperti nya tengah menganggu nya.


"Kau tau apa akibat dari yang kau lakukan?" tanya nya sembari mengusap bibir basah gadis.


"Apa?" tanya gadis itu dengan senyuman kecil, "Oh ya? Tadi kau bilang mau mandi kan? Mau mandi bersama?" sambung gadis itu lagi.


"Kau tau kalau itu tidak akan menjadi sekedar mandi kan?" balas pria itu sembari menatap keseluruhan wajah gadis di depan nya.


Tak ada jawaban, gadis itu hanya tersenyum sebagai jawaban dari pertanyaan pria itu.


...


Hah...


Hah...


Suara tarikan nafas berat yang memenuhi ruangan tersebut.


Uap dari air yang hangat serta, shower yang masih hidup menurunkan semua air deras nya.


Pria itu membalik tubuh gadis itu dan menggendong nya sembari membawa nya masuk ke dalam bathup lalu membuat gadis itu duduk di pangkuan nya.


Terlihat jelas bekas cengkraman tangan nya di bahu gadis di depan nya, namun ia diam tak mengatakan apapun ketika masih merasakan sesuatu yang membuat nya melayang ke langit.


Ungh!


Satu gerakan terakhir membuat percikan air di dalam bathup itu meluap keluar ke segala sisi, gadis itu mendorong secara refleks karna ia ingat di kehamilan pertama nya perut nya terkadang merasa kram dan sakit ketika pria itu mengeluarkan vanila hangat ke dalam tubuhnya.


Namun hal itu sia-sia ia tak bisa mendorong jika pinggang nya saja di tahan oleh pria itu, suara deruan nafas yang berat terdengar.


Ia tak mengatakan apapun, kram ataupun sakit nanti nya bagi nya tak akan ada yang berbeda karna apapun yang terjadi juga pasti akan menyakiti nya.


Kini gadis itu tak lagi berpangku menghadap nya melainkan sudah membelakangi nya.


Cup,


Pria itu mengecup leher dan punggung gadis itu dari belakang sembari mengusap beberapa area tubuh yang tadi nya baru saja ia jamah.


"Bahu mu biru, aku akan memberikan obat untuk mu nanti." ucap nya di telinga gadis itu sembari melihat ke arah bekas cengkraman nya.


Sebenarnya di tubuh gadis itu tak hanya memiliki bekas cengkraman tangan nya melainkan juga memiliki bekas kepemilikan yang tersebar luas.


"Benarkah?" tanya Louise yang tak merasakan apapun.


"Hm, sakit kan?" tanya pria itu sembari menyentuh bahu dan turun ke lengan gadis itu.


"Apa aku harus merasakan sakit?" jawaban yang terlihat bingung.


James mengernyit, gadis itu seakan tak pernah merasakan apapun, nada bicara yang terdengar tak memiliki emosi dan kosong.


"Louise?" panggil nya sembari membalik tubuh gadis itu agar menatap kembali ke arah nya.


"Hm? Ada apa?" senyuman cerah yang langsung terlihat walaupun ekspresi seperti mayat yang kaku.


Pria itu diam, raut wajah yang kini terlihat memiliki jutaan ekspresi itu berbeda dengan nada suara yang dingin tadi.


"James? Aku lelah..." ucap Louise sembari beranjak memeluk pria itu.


Aku benar-benar lelah sampai ingin tidur dan tidak bangun lagi...


James tersentak sejenak, namun ia membalas pelukan gadis itu dan mengusap punggung nya dengan lembut.


"Kalau begitu kau bisa tidur," ucap nya sembari mengangkat gadis itu naik ke pangkuan nya dan mengusap punggung halus yang terendam air hangat di dalam bathup


Ia tak tau apa yang ada di pikiran gadis itu saat ini, atau bagaimana kondisi gadis itu sebenarnya. Namun kalau boleh jujur ia sangat menyukai situasi saat ini.


Perasaan yang membuat nya semakin nyaman dengan sikap gadis itu, kenyamanan yang mungkin saja bisa hilang dalam sekejap bahkan tanpa memberikan nya aba-aba untuk bersiap.

__ADS_1


__ADS_2