
Apart greenlousc
Wanita itu tersenyum menatap ke arah putra nya yang sudah menginjak usia delapan tahun itu.
James memang membiarkan putra angkat nya membuat pilihan ketika sudah memasuki usia 7 tahun saat tinggal bersama nya.
Arnold yang boleh saja menemui ibu nya namun harus dengan izin nya lebih dulu dan seperti saat ini anak lelaki itu makan malam di tempat sang ibu.
"Al mau tambah ini? Al kan suka ini," ucap nya sembari memberikan lauk untuk putra nya lagi.
Arnold diam, walaupun ia selalu berusaha keras untuk mendapatkan kasih sayang sang ayah dan bersaing dengan putri kandung pria itu namun ia sudah tidak di abaikan lagi semenjak tinggal di mansion dan sang ibu saat mengetahui hal itu bersikap sangat baik dengan nya.
"Kamu nanti bisa tidak bilangin Daddy kamu biar kita makan bertiga," ucap nya yang selalu merayu dengan ucapan yang sama.
"He's not my Dad," ucap nya lirih.
Bella mengentikan sendok nya dan menatap ke arah putra nya, "Kau bilang apa? Dia itu ayah mu!"
Tatapan tajam yang kini tak mempan lagi pada anak berusia 8 tahun itu.
"Bukan, aku tau..."
"Mom? Who is my Dad? Where is he?" tanya nya yang sangat ingin mengetahui di mana ayah asli nya berada.
Bella tak menjawab lagi, ia bahkan sedikit sulit mengatakan tentang kelahiran anak di depan nya.
"Are you really my mom?" tanya nya lagi saat sang ibu tak mengatakan apapun.
Deg!
Kali ini wanita dengan tubuh yang cantik dan ideal itu tersentak mendengar nya.
"Maksud mu itu apa? Kalau bukan aku siapa lagi?!" tanya nya yang langsung tak suka.
Al membuang wajah nya tak menatap ke arah sang ibu lagi.
Bella pun menghela napas nya dan menyentuh tangan putra nya, "Al? Al pasti takut yah sekarang? Daddy kamu juga pasti gak merhatiin kamu karna ada yang lain kan?" ucap nya dengan lembut.
Tak ada jawaban apapun di wajah yang masih terlihat menggemaskan itu pada anak berusia 8 tahun tersebut.
"Kalau Al gak suka sama anak itu, Al kan bisa singkirin dia..."
"Dia itu cuma pengganggu," ucap nya yang melihat ke arah putra nya berusaha menghasut putra nya.
"Bukan, dia bukan pengganggu kok." sanggah Arnold pada sang ibu.
Bella tetap mempertahankan senyum nya, bahkan sudah bertahun-tahun berlalu pun sangat sulit baginya untuk masuk kembali pada kehidupan pria itu lagi.
"Udah jam 8 nanti supir nya lama nungguin Mom, Al pulang dulu yah." ucap nya yang turun dari kursi nya dan beranjak menemui sang supir yang sudah pasti menunggu nya di lobi.
......................
Mansion Dachinko.
Bianca dengan mata dan wajah yang masih memerah itu mulai mengantuk setelah berteriak memanggil sang kakak yang ternyata tidak ada.
"Dia tidur?" tanya James saat melihat putri kecil yang tidur di atas kasur sang kakak.
Al mengangguk sembari melihat ke arah pria itu.
"Bian bilang Daddy kesurupan? Beneran Dad?" tanya nya yang juga penasaran sembari melihat ke arah pria di depan nya.
"Kau masih percaya hal seperti itu?" tanya James mengernyit.
Ia tak percaya hantu atau arwah dan semacamnya karna bagi nya kehidupan dunia lebih mengerikan di bandingkan makhluk halus.
Al menggeleng mendengar nya, "Al kan cuma tanya Dad."
"Aku cuma senyum," jawab pria itu lirih.
"Senyum? Bianca kok sampai nangis?" tanya nya dengan bingung.
James mengendikkan bahu nya karna ia juga bingung, berbeda dengan Bianca, Arnold sebelum nya masih pernah melihat wajah tersenyum hangat sang ayah ketika ia masih percaya jika ia adalah anak kandung nya dan masih memiliki hubungan yang baik dengan wanita yang ia panggil 'Kakak' sebelum nya.
"Kalau gitu Daddy latihan senyum aja biar Bianca gak takut lagi." ucap nya memberikan saran.
"Senyum aja latihan?" tanya pria itu mengernyit.
Al masih menatap nya seakan sudah memberikan ide yang sangat cemerlang.
"Sudahlah, kau tidur juga sudah malam." ucap nya yang bangun dan mengusap kepala anak lelaki itu sebelum pergi.
......................
Dua Minggu kemudian.
Hotel.
Setelah melakukan beberapa rapat yang di selenggarakan di salah satu hotel ternama, pria itu pun akhirnya selesai dengan membawa beberapa map yang berisi perjanjian dari yang sudah di sepakati.
"Dia bilang mau makan siang di sini?" tanya nya mengulang pada sekretarisnya saat rapat telah selesai.
"Benar Presdir," jawab Michael yang mengikuti perkataan sesuai dengan adik atasan nya itu.
__ADS_1
Louis pun menunggu saudari nya, dan setelah beberapa waktu berlalu gadis itu tak datang ataupun menunjukkan wajah nya sama sekali, hingga.
"Permisi,"
Wanita cantik yang memiliki rambut panjang berwarna hitam pekat dan memakai pakaian formal yang terlihat elegan.
Louis tak menjawab namun ia melihat ke arah wanita yang datang padanya.
"Anda Tuan Elouis Steinfeld Rai?" tanya nya sebelum duduk seakan memastikan.
"Ya," jawab pria itu mengernyit karna bingung.
Wanita itu pun duduk tanpa di minta, mengulurkan tangan nya dan memberikan perkenalan diri.
"Stefany Veronica," ucap nya nya tersenyum manis.
Louis menjabat tangan nya namun ia masih diam saja karna bingung.
"Saya teman Louise, dia meminta saya untuk datang ke kencan ini." ucap nya tersenyum.
"Kencan?!" tanya Louis yang langsung terkejut.
Wanita tersebut pun hanya tersenyum, tak lama kemudian sebuah notifikasi masuk ke dalam ponsel pria itu.
Kakak! Do your best luv, Biar gak kesepian lagi! Hihi
Pesan yang terdengar sedang menjahili sang kakak yang di berikan dengan emoticon tertawa di akhir nya.
Si*lan, anak ini!
Decak nya kesal karna kejahilan sang adik yang membuat nya melakukan hal yang tidak ia sukai.
Percakapan yang sedikit kaku namun masih nyambung karna berada di ranah yang sama pun berlanjut.
Sementara itu, seorang wanita yang juga baru saja kembali dari tempat reuni sekolah tingkat atas nya itu juga beranjak ingin kembali
Deg!
Ia tersentak melihat nya, pria yang ia kenal dengan wanita yang tidak ia kenali sama sekali terlihat berbicara.
Walaupun kedua memasang senyum formalitas namun tetap saja memberi kesan dan aura yang cocok karna berasal dari tempat yang sama.
"Dia bukan urusan ku lagi," ucap nya yang entah mengapa merasa kesal tanpa alasan.
"Cla! Kau mau ikut kami dulu?" tanya salah satu teman sekolah nya yang mengajak nya melakukan spa lebih dulu sebelum kembali.
"Hm," ia menjawab singkat sembari melirik ke arah meja pria yang membuat nya kesal.
...
"Kau tak jadi masuk?"
Karna tak ada pembicaraan sama sekali, ia pun membuka suara nya. Ia tau wanita di depan nya membenci dirinya namun, apa sangat benci hingga tak mau di ruang tertutup bersama?
Clara diam sejenak, namun langkah kaki nya mulai melangkah masuk ke dalam lift tersebut.
Tidak perlu mengindari nya kan? Lagi pula aku juga tidak salah kan?
Hening tak ada satupun yang mengeluarkan suara termasuk Michael yang melihat ke arah atasan nya dan mantan istri atasan nya secara bergantian.
Pintu lift tersebut pun terbuka saat sudah turun di lantai yang di tuju.
Louis keluar lebih dulu dan di ikuti dengan sekretaris nya yang mengekor di belakang.
"Lo..Louis! Ups!" Clara menutup mulut nya.
Tanpa sadar ia memanggil nya walau tak tau harus mengatakan apa.
Louis berbalik menatap ke arah sekertaris nya, tanpa mengatakan secara langsung pun Michel seperti bisa membaca pikiran tuan nya.
Michael menunduk sebelum beranjak pergi, dan sekarang hanya tinggal pria itu serta mantan istri nya di salah satu lorong hotel yang terlihat tak ada siapapun kecuali mereka saat ini.
"Ada apa?" ia mendekat namun wanita itu malah memundurkan langkah nya.
Clara bingung harus mengatakan apa, ia tak sengaja memanggil dan membuat pria itu datang pada nya.
"Ka..kalian terlihat cocok," ucap nya yang gugup dan bingung.
Louis tak mengatakan apapun namun dahi nya berkerut seperti tengah bertanya apa maksud nya.
"Kau pasti sudah mendapatkan apa yang kau inginkan sekarang? Iya kan?" tanya Clara lagi yang terlihat bingung namun pandangan mata nya tak sekalipun mengarah pada pria itu.
Louis mengernyit dan setiap kali ia mendekat maka wanita itu akan terus memundurkan langkah nya ke belakang.
Tap!
Clara menunduk, entah mengapa ia tak bisa melihat ke arah mata pria di depan nya sedangkan langkah nya tak lagi bisa memundur karna sudah mentok di dinding.
"Bagaimana keadaan mu sekarang?" tanya nya yang kini berbalik.
"Ba..baik..." jawab nya tanpa melihat ke arah si penanya.
Louis melihat ke arah wanita yang terus menghindari tatapan nya, ia menarik napas nya dan sedikit membungkuk agar bisa melihat wajah mantan istri tersebut.
__ADS_1
"Kau masih sangat membenci ku?" tanya nya lagi.
Kali ini mata wanita itu terangkat saat mendengar pertanyaan tersebut.
Tak ada jawaban yang pasti, ia sedikit bingung bagaimana mengatakan nya. Setiap kali ditanya tentu ia masih sangat membenci nya namun ia juga merindukan di waktu yang bersamaan.
"Lagi pula sekarang kita sudah sama-sama dapat yang di inginkan? Iya, kan?" tanya nya yang kembali memalingkan pandangan nya.
Louis diam sejenak, ia memang mendapatkan apa yang ia inginkan yaitu kesadaran adik nya dan saudari nya yang sudah aman bersama nya. Namun jika dalam konteks pasangan ia belum mendapatkan nya sama sekali.
"Kau tau apa yang ku inginkan sekarang?" tanya nya menatap ke arah wanita itu.
"Bukan nya sudah? Kau juga terlihat senang kan tadi?" tanya Clara dengan dahi yang mengernyit seperti tak menyukai nya.
"Kau tau? Saat ini ada dua wanita yang ku inginkan, pertama aku ingin dia bahagia dan yang kedua aku ingin memiliki nya, aku mendapatkan yang pertama tapi belum yang ke dua." ucap nya sembari menatap ke arah mantan istri nya itu.
Clara menoleh, dua? Berarti pria itu menyukai dua wanita sekaligus? Tapi kenapa konsep nya berbeda?
"Kau penasaran?" tanpa sadar ia tersenyum dengan sendiri nya melihat ke arah wajah bingung itu.
Clara kali ini mengangkat wajah nya menatap smirk yang melihat ke arah nya.
"Yang pertama dia adik ku dan yang kedua..." ucap nya menggantung.
"Louise?" bibir nya bergumam sejenak mendengar nya.
Louis membuang senyum nya sejenak mendengar nama adik nya keluar dari bibir mantan istri nya.
"Apapun yang kau pikirkan dulu dan sekarang, jangan membenci dia karna aku, kau tau kan? Dia berbeda dengan ku?" ucap nya lirih.
Karena ia merasa dulu mantan istri nya pun tak pernah menanyakan kondisi adik nya saat mendengar berita kecelakaan ataupun desas-desus dari kematian saudari nya.
"Maaf..." ucap nya lirih saat mendengar ucapan yang terdengar seperti menyinggung nya sedikit.
Louis diam menatap ekspresi yang terlihat merasa bersalah itu walaupun tak begitu besar.
"Tapi kau sekarang juga sudah tidak apa-apa kan? Kau juga mungkin akan menikah lagi nanti. Ja..jadi..." ucap nya yang mendorong dada bidang pria itu agar bisa segera pergi dari situasi canggung yang mendebarkan hati nya itu.
"Kau yakin dia termasuk dalam wanita yang ingin ku miliki?" tanya nya sembari berbalik pada wanita yang segera ingin lari itu.
"Bukan nya..." ucap nya dengan bingung.
"Kalau kau sangat penasaran kenapa tidak cari tau sendiri?" tanya pria itu dan kembali mendekat ke arah mantan istri nya lagi.
"Kau mau tau?" tanya nya mengulang lagi.
Tak ada jawaban hanya diam tanpa seribu bahasa yang saat ini terjadi.
"Kalau kau terus diam aku akan anggap itu sebagai jawaban setuju," ucap nya lagi dan menarik tubuh ramping tersebut.
Humph!
Clara tersentak, pinggang nya langsung tertarik dan melekat ke tubuh pria di depan nya.
Mata nya membulat sempurna merasakan hisapan halus di bibir nya namun tangan nya entah mengapa tak mendorong melainkan meremas jas yang di kenakan oleh pria itu.
Pria itu sudah berusaha menahan diri nya, bersikap seperti apa yang di inginkan. Tak mengajak bicara lebih dulu dan berusaha mengabaikan nya namun pertahanan nya seakan runtuh saat wanita itu kembali menyebut nama nya lagi.
Ia melepaskan ciuman nya, menatap netra bening yang terlihat terkejut itu dan membuka mata nya perlahan.
Tak ada sepatah kata pun yang di keluarkan, entah itu makian atau penolakan atas sikap tak sopan yang baru ia lakukan.
...
Hah...
Hah...
Hah...
Suara tarikan napas yang terdengar berat memenuhi ruangan kamar yang luas dan penuh dengan AC tersebut.
Ciuman yang menari di atas tubuh yang putih meninggalkan jejak di setiap jajahan nya.
Seperti sihir yang datang di siang hari yang cerah dan salju yang mulai mencair saat musim semi mulai datang.
Aroma yang menyatu, keringat yang entah mengapa menetes walaupun tengah berada di ruangan yang dingin.
Ungh!
Tangan wanita itu meremas sprei yang ia tiduri saat ini ketika merasakan sesuatu yang datang ke tubuh nya setelah bertahun-tahun.
Humph!
Bibir nya di pangut perlahan, irama teratur dan pelan ketika berusaha menyesuaikan dengan bentuk nya.
"Kau sekarang tau? Apa yang ku inginkan?"
Suara yang terdengar begitu berat di telinga nya dan tidak teratur sembari semakin dalam menebus nya.
Engh?
Bibir nya terkunci, tangan nya tanpa sadar mencakar tengkuk pria itu saat memeluk nya.
__ADS_1
Namun tak ada rasa sakit sama sekali yang dirasakan pria itu dari kuku yang menempel di jemari lentik wanita yang terlihat basah tersebut.
Tak ada suara percakapan apapun kecuali tarikan napas yang sama-sama terdengar berat serta suara tubuh yang tengah bertabrakan satu sama lain.