
7 Hari kemudian.
Mata coklat yang berbinar dengan pipi bulat yang menggemaskan itu menatap keluar jendela mobil dengan semangat.
Walaupun ia tumbuh tanpa kekurangan satu pun namun ia tak pernah beranjak keluar dari mansion nya.
"Itu sekolah kakak?" tanya nya sembari menunjuk salah satu bangunan besar yang di kelilingi dengan pagar.
"Iya," jawab Al sembari melihat ke arah gadis kecil itu.
"Nanti kalau Bian udah besal Bian sekolah di sana juga?" tanya nya lagi dengan mata yang penuh penasaran.
"Kalau Bian minta sama Daddy juga pasti di turutin." jawab Arnold sembari membuang mata nya lirih.
Ia tau gadis kecil di depan nya sangat berbeda dengan diri nya.
Gadis kecil itu tak perlu melakukan sesuatu untuk di sayangi, tidak perlu berusaha untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.
"Hihi nanti Bian juga minta sekolah deh! Bial pelgi baleng sama kakak!" ucap nya dengan cerah pada anak lelaki yang duduk di samping nya.
Setelah sampai tepat di depan pintu masuk, Arnold pun turun begitu juga dengan gadis kecil yang mengikuti nya itu.
"Lambut kakak kusut, nih kalna kakak bobo di mobil tadi," ucap Bianca saat melihat rambut sang kakak.
"Iya," Al merapikan rambut nya kembali, ia memang selalu tidur saat pergi ataupun pulang ke mansion nya di mobil.
Mata cerah yang terlihat semnagat dengan hal baru itu begitu senang, "Nanti Bian mau makan es klim sama Daddy!" ucap nya yang ingat melihat salah satu bangunan dengan gambar es krim yang besar di atas nya.
"Cepet telpon Daddy bial Daddy nyusul Bian mau es klim!" perintah nya pada supir yang mengantar nya.
Arnold diam, ia juga ingin mengatakan jika ingin ikut namun ia harus sekolah dan ia juga tidak mungkin meminta hal yang sama karna kemungkinan besar sang ayah akan selalu sibuk untuk nya.
"Bye kakak!" ucap Bianca melambaikan tangan nya saat hendak memasuki mobil.
Arnold melambaikan tangan nya sekilas, wajah nya terlihat lesu dan berbalik memasuki sekolah nya.
"Aku juga mau makan es krim sama Daddy..." ucap nya lirih.
...
Pria itu membuang napas nya, pada akhirnya ia juga menuruti permintaan putri nya lagi padahal ia sudah mengizinkan gadis kecil itu untuk keluar dari mansion saat mengantar sang kakak.
"Makan nya pelan-pelan," ucap nya sembari mengusap lelehan makanan yang berada di bibir dan dagu putri nya.
"Hum?" mata coklat yang jernih dan berbinar itu menatap ke arah salah satu meja yang tak jauh dari nya.
"Daddy?" panggil nya penasaran.
"Hm?"
"Itu dia makan sama Mommy nya? Kalau Bian punya Mommy nanti Bian gitu juga Dad?" tanya nya sembari menunjuk ke arah anak laki-laki yang di pangku seorang wanita dan memberikan nya es krim.
"Bian mau punya Mommy?" tanya nya melihat ke arah putri nya yang menggemaskan itu.
Bianca mengangguk dengan semangat, ia sangat tak sabar jika ia akan memiliki ibu yang mirip dengan film kartun nya dan orang yang ia lihat barusan.
"Daddy kita main-main dulu! Bian gak mau pulang!" ucap nya lagi pada sang ayah yang tak ingin kembali ke mansion dengan semangat.
......................
Pukul 09.24 pm
Mansion Dachinko.
Nick memberikan laporan pada tuan nya, ia memang di suruh untuk menempatkan seseorang agar selalu mengikuti gadis nya.
"Kau bilang ada yang mengikuti dia juga?" tanya James mengulang.
"Ya, karna pengawal yang kita berikan seperti nya bertemu dengan yang lain," jawab Nick pada tuan nya.
"Seperti nya itu dari kakak nya," ucap James lirih.
Ia juga sadar saat pertemuan kedua nya, saat ia mendekat ia merasa ada orang lain yang memperhatikan tempat ia berdiri dan ingin langsung mendatangi nya.
"Sekarang dia di mana?" tanya nya lagi sembari memijat kepala nya.
"Club' tuan," jawab nya lirih.
"Club'?" tanya nya mengulang dengan bingung.
"Tidak ada yang menghentikan nya?" tanya nya mengernyit.
"Kalau pengawal itu di berikan dari kakak nya berarti dia tidak bisa menghentikan nya tiba-tiba karna nanti nona Louise akan mengetahui nya." jawab Nick.
Pria itu membuang napas nya, dan mulai beranjak bangun dari duduk nya.
"Anda mau kemana?" tanya Nick menatap ke arah pria itu.
"Menyusul nya, lagi pula hari ini aku juga cuma bisa menemui nya sekarang kan?" ucap nya yang tau siang tadi ia menghabiskan waktu untuk beberapa pekerjaan dan putri nya.
...
__ADS_1
Sementara itu.
"Iya, nanti ku telpon kalau sudah pulang." ucap nya sembari masih memegang biola nya dan menutup telpon nya.
Karna sudah terlalu lama tak memainkan alat musik yang ia pelajari sejak kecil itu, jemari nya menjadi kaku dan halus kembali tak seperti saat ia masih sering tampil di konser.
Gadis itu memutar mata nya dan kemudian tersenyum. Walaupun ia sudah mendapatkan telpon namun ia juga ingin bermain sebentar.
"Apa aku ke club' saja? Kan sudah lama juga." gumam nya tersenyum.
Langkah nya mulai beranjak masuk ke dalam toko pakaian dan membeli salah satu gaun yang menurut nya cocok untuk ia bawa ke dalam club' gadis itu pun mengganti riasan nya.
...
Suara musik yang berbunyi keras dan beradu menjadi satu terdengar di telinga nya.
Setiap orang memiliki kesenangan dalam hal yang berbeda dan seperti dirinya yang menyukai hal-hal yang dilarang untuk nya.
Bersikap kekanakan seperti tak pernah kehilangan tiga tahun nya, ia bahkan tidak mengingat jika ia sudah menjadi wakil Presdir menggantikan paman nya.
Hanya hal-hal seperti mengulang waktu di mana semua yang terjadi pada nya mulai membaik ketika kehilangan kedua orang tua nya.
Ia duduk dan memesan alkohol pada bartender yang berada di depan nya. Memesan yang tak begitu memiliki kadar yang tinggi agar tetap menjaga kesadaran nya.
Gaun berwarna coklat dengan riasan yang berkilau membuat beberapa mata pria menuju ke arah nya.
"Kenapa kau selalu suka ke tempat seperti ini?"
Gadis itu menoleh, mata nya melihat ke arah pria yang menarik bangku di samping nya.
Ia diam sejenak kemudian tersenyum dan mengedipkan satu mata nya.
"Hai ganteng? Mau minum tidak?" goda nya tersenyum.
"Terakhir kali bertemu kau bilang kalau aku jelek? Apa sekarang pandangan mu sudah berubah?" tanya nya pada gadis itu.
Louise mengernyit mendengar nya, ia menatap kembali wajah yang di sinari dengan cahaya gemerlap redup dan terang itu.
"Kau!"
Ia baru sadar jika pria di depan nya adalah pria yang sama yang selalu mengatakan mencintai nya.
"Kenapa aku selalu bertemu dengan mu? Kau penguntit?" ucap nya sembari menjauhkan tubuh nya dan menatap ke arah minuman nya.
Tak ada jawaban hanya senyuman tipis yang menghiasi wajah pria itu.
Louise mengernyit dan langsung melihat ke sekitar nya.
"Bukan kakak mu langsung tapi pengawal nya." ucap James saat melihat gadis itu mencari kakak nya.
"Kau siapa?" tanya nya menatap ke arah pria yang selalu saja bertemu di situasi yang seperti tak sengaja namun juga mirip di sengaja.
"James? Kau ingat nama itu," jawab pria itu melihat ke arah gadis di depan nya.
Ia tak bisa tiba-tiba bergerak seperti memeluk nya lagi atau mencium nya karna juga ada mata yang mengawasi nya.
Louise menggeleng, tak ada ingatan apapun tentang nama yang baru di sebutkan itu.
"Myosotis sylvatica," James menyebutkan salah satu gambar yang berada di punggung gadis itu.
Louise langsung melihat ke arah nya, ia mengernyit namun siapa saja bisa melihat nya jika ia mengenakan pakaian yang terbuka.
"Kau tau arti nya kan? Kau dulu bilang 'jangan lupakan aku' saat meminta membuat tato itu." ucap nya lirih, "Tapi kau yang seperti nya melupakan ku lebih dulu."
"Apa kita saling mengenal dulu? Atau kita punya hubungan apa?" tanya nya mengernyit.
Pria yang seperti mengetahui tato yang ia miliki sedangkan ia sendiri lupa kapan gambar yang tertanam di tubuh nya itu di buat.
"Hubungan? Aku tidak tau hubungan seperti apa yang kita punya dulu," ucap nya lirih.
Gadis itu mengernyit ia semakin tidak mengerti namun sorot mata pria yang menatap ke arah gelas minuman nya itu terlihat menyesal.
"Berarti kau bukan orang penting untuk ku. Kalau aku tidak ingat kau sama sekali berarti kau bukan siapa-siapa." ucap nya sembari membuang wajah nya.
"Kau tidak ingat aku kan?" tanya nya lagi sembari menatap ke arah gadis itu, "Kalau begitu kau harus ingat ini sekarang."
"Maaf..."
"Dan aku mencintai mu," sambung nya lagi dengan senyuman tipis.
Ia ingin mengatakan hal yang tak pernah ia bisa katakan dulu, hal yang paling ia sesali saat mengingat masa suram itu.
"Aku tidak bisa memaafkan sesuatu yang tidak ku ingat dan aku tidak mencintai mu," jawab Louise seketika.
Pria itu seperti tak mempan dengan perkataan tersebut namun ia juga terlihat tak begitu peduli.
"Kalau begitu kita berkenalan, kau sudah tau nama ku kan?" tanya nya lagi.
"Untuk apa? Lagi pula aku juga tidak mau menemui mu lagi." jawab Louise dengan ketus.
__ADS_1
"Kau mau kabur dari penjaga kakak mu? Kau mau lebih lama di sini kan? Tapi sebentar lagi kakak mu mungkin akan jemput ke sini." ucap James yang tak peduli dengan sikap ketus gadis itu.
"Bukan urusan mu," jawab nya dan mulai kembali memanggil bartender dan memesan minuman nya lagi.
Gluk!
Segelas alkohol yang ia inginkan habis seketika.
Mata hijau nya membulat dan tampak kesal, "Aku pesan itu untuk ku! Bukan untuk mu!" ucap nya seketika.
"Kau tidak boleh minum terlalu banyak alkohol," ucap nya setelah menghabiskan minuman yang di pesan gadis itu.
"Kau mau keluar dari sini?" tanya nya mengajak gadis itu ke tempat lain nya.
Louise menatap ke arah pria di depan nya, pria yang terus menerus menemui nya dan mengatakan mencintai nya.
"Aku tidak percaya pada orang asing," tolak nya dan beranjak turun dari bangku nya.
James diam sejenak, mata nya melirik ke arah pria yang terus memperhatikan gadis itu dari dari jauh dan ia tau siapa yang tengah memperhatikan mereka.
Sekumpulan orang-orang yang terlihat bersenang-senang di club' tersebut tiba-tiba berjalan dan menghalangi penglihatan pengawal yang di berikan untuk gadis itu.
Ia tau jika tak ada yang aneh atau mencurigakan maka tak akan ada laporan yang sampai pada kakak gadis itu.
Greb!
Mata hijau itu membulat seketika, tangan nya di tarik dan membuat tubuh nya berputar ke arah si penarik.
Humph!
Pinggang ramping dan tengkuk nya tertahan sesuatu yang lembut mendatar di bibir nya seakan tengah menghisap nya.
Ia masih terkejut dan mencerna situasi nya, dan kemudian menyadari nya.
Ukh!
Gadis itu langsung mengigit kuat bibir yang mengesap nya, ia dapat merasakan darah yang menyatu di ciuman yang masih menyatu tersebut.
Pria itu mulai melepaskan nya bersamaan dengan dorongan yang begitu kuat di dada bidang nya.
"Gila! Orang mes*m! Cab*l!" umpat nya seketika sembari menutup mulut nya yang masih meninggalkan aroma darah.
Deg...
Deg...
Deg...
Degupan jantung nya terasa meninggi seketika, entah karena sangat terkejut atau hal lain namun ia tak bisa menjelaskan nya.
Hanya senyuman tipis di wajah yang terlihat datar itu.
"Nanti kita bertemu lagi," ucap nya sembari menunduk di menatap wajah gadis itu dan mengusap puncak kepala nya sekilas.
"Pencuri!" ucap Louise lagi sembari menepis tangan pria itu.
"Karna aku mengambil ciuman mu?" tanya James mengernyit.
"Kalau begitu kau juga pencuri," sambung nya.
Louise mengernyit, ia tidak melalukan apapun namun ia juga di tuduh mencuri sesuatu?
"Apa yang ku ambil dari mu?!" tanya nya dengan raut kesal.
"Akal sehat ku?" jawab pria itu dengan senyuman simpul.
Orang-orang yang menari itu mulai menyingkir dan pengawal gadis itu yang sudah memutar arah agar dapat melihat nya kembali.
Sedangkan James sudah kembali pergi tak terlihat setelah mencuri ciuman gadis itu.
"Nona!"
Benar saja sebelum ia sempat kembali berpikir dengan jernih seorang pria sudah mendatangi nya seperti kehilangan jangkauan dan meminta nya untuk kembali.
......................
Mansion Dachinko.
Bianca yang terbangun tengah malam mencari sang ayah, mata bulat nya mengernyit melihat ke arah ujung bibir yang terluka.
"Daddy? Bibil Daddy kenapa?" tanya nya sembari menyentuh luka tersebut dengan jemari kecil dan mungil nya.
"Di gigit," ucap nya pada putri nya sembari menggendong gadis kecil itu.
"Di gigit apa?" tanya Bianca mengernyit.
"Di gigit kucing, kucing pemarah." jawab nya pada putri nya.
"Kucing? Kucing apa Dad? Kok gigit nya bibil Daddy? Daddy lupa kasih kucing nya makan?" tanya nya dengan polos.
"Kucing nya seperti Bianca, suka marah tapi imut," ucap nya sembari mengecup pipi bulat putri nya.
__ADS_1