(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia

(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia
Perlu ke rumah sakit jiwa?


__ADS_3

Mansion Dachinko


James mengernyit, telpon yang masuk pada nya hanya berisi suara jeritan dan tangis dari anak kecil lalu suara benda terjatuh yang cukup keras.


Ia memang mendengar beberapa percakapan namun tak begitu jelas, "Halo?" tanya nya lagi namun masih tak ada suara.


Nick yang datang karna ingin memberi hasil penelitian yang sudah di lakukan oleh Chiko dan beberapa wanita yang memiliki karakteristik dengan Louise sesuai juga dengan usia kandungan gadis itu.


"Tuan? Tuan?" panggil Nick berulang karna pria itu tak mengindahkan nya.


James pun menoleh menatap ke arah bawahan nya yang sedari tadi memanggil diri nya.


"Siapa yang menelpon?" tanya Nick pada tuan nya.


James diam sejenak, ia pun menutup ponsel nya dan panggilan telpon nya, "Bukan sesuatu yang penting." ucap nya karna ia berpikir jika mantan kekasih nya lah yang menelpon nya.


Nick mengangguk namun terlihat jelas jika pria itu tengah memikirkan sesuatu di kepala nya.


"Apa ada yang menganggu tuan?" tanya Nick sembari mengernyitkan dahi nya berusaha membaca ekspresi tuan nya.


"Bella tadi menelpon," ucap James singkat.


Nick pun sontak merasa tak suka mendengar nya, karna ia tau wanita itu lah yang dulu mengkhianati tuan nya.


"Mau apa dia menelpon tuan?" tanya Nick dengan wajah yang tak bersahabat.


"Entahlah, tapi ku rasa bukan dia yang menelpon ku?" jawab James lirih di selingi dengan penuh pertanyaan di kepala nya.


"Lalu?" Nick tak mengerti apa yang di maksud tuan nya namun ia tak ingin pria itu berurusan lagi dengan mantan kekasih nya yang penuh dengan muslihat.


"Seperti nya terjadi sesuatu pada Arnold, seperti ada sesuatu." jawab nya yang mengingat suara jeritan dan tangisan lalu benda yang terjatuh dengan kuat.


"Bisa saja itu salah satu tipuan nya lagi kan? Dia menggunakan anak yang entah dari mana lalu mengaku jika itu adalah anak tuan."


"Bahkan setelah tipuan nya terungkap saja dia tetap tidak mau mengaku," sambung Nick dengan nada penuh curiga.


James pun membuang napas nya, apa yang di katakan oleh bawahan nya memang begitu masuk akal dan benar.


"Ada apa?" James yang mulai menanyakan ada urusan apa pria itu mendatangi nya.


"Ada sedikit kendala dalam penyempurnaan DNA palsu nya dan juga kita seperti nya perlu memilih gadis yang lebih mirip lagi dengan nona Louise," ucap Nick sembari memberikan apa yang ada di tangan nya.


James pun mengambil nya, ia membaca dan membuka nya namun pikiran nya masih teralihkan dari sambungan telpon nya sebelum nya.


Karna walau bagaimana pun ia pernah menganggap dan menyayangi anak menggemaskan itu.


......................


Kediaman Rai.


"Kau menyetujui pernikahan nya?" tanya Louis mengulang apa yang adik nya katakan.


"Hm, tapi aku mau tunangan dulu." jawab Louise pada sang kakak.


"Kenapa? Kenapa gak langsung nikah aja?" tanya Louis mengernyit.


"Yah karna aku belum siap kak," jawab gadis itu seadanya.


Walaupun usia dan tubuh nya sudah cukup namun mental untuk kesiapan dalam menerima seseorang lagi masih belum siap setelah luka yang di berikan pria itu.


"Mau sampai kapan siap nya? Sampai melahirkan?" tebak Louis pada adik nya.


Louise mengernyit mendengar nya, mungkin maksud sang kakak baik namun ia salah menangkap apa yang ada di kepala nya.


"Maksud nya? Kak? Malu yah? Karna aku hamil di luar nikah? Apa karna aku jadi kayak anak liar?" tanya gadis itu yang mulai sensitif.

__ADS_1


"Bukan! Kau ini ngerti gak sih? Maksud aku itu apa?" jawab pria itu segera.


"Aku juga akan baik-baik aja kok," ucap nya sembari mengusap perut nya, "Aku cuma belum siap kalau harus menikah, tapi..." ucap nya terpotong karna takut tentang status anak tanpa ayah yang ia miliki dan keberadaan nya menjadi tidak kuat.


Sementara itu wanita yang mulai mencari keberadaan suami nya berjalan-jalan mencari arah di tengah gelap nya pandangan di depan nya.


Pelayan Cecil memang menemani nya dari belakang namun ia yang ingin mencari jalan nya sendiri hingga suatu obrolan yang membuat nya terdiam dan memikirkan hal yang buruk.


"Kalau kau pikirkan tentang reputasi mu aku juga udah pikirin itu, aku bisa adopsi." ucap Louis pada adik nya.


"Adopsi? Gak perlu sampai begitu kok," ucap Louise pada sang kakak karna tak mau saudara nya ikut menanggung beban dari masalah nya.


"Nama mu mungkin bisa jadi buruk, kalau pun tidak ada yang berani bicara langsung mereka pasti akan bergosip." ucap Louis lirih.


"Hm, membicarakan orang lain tanpa tau keadaan nya. Menyebalkan!" decak gadis itu.


"Maka nya nikah Louise," ucap Louis lagi pada gadis itu.


"Tapi aku belum siap, lagi pula aku juga gak apa-apa kok!" ucap nya pada sang kakak.


"Oh iya! Kalian gak buat program hamil? Atau belum mau punya? Biar nanti anak ku ada temen nya." ucap Louise yang mengalihkan pembicaraan pada sang kakak.


Louis diam sejenak, wanita yang ia nikahi tak akan bisa mengandung setelah mengalami masalah pada rahim nya saat kecelakaan.


"Kami memang belum ingin," ucap Louis pada adik nya walau yang ia katakan sebaliknya karna Clara begitu menginginkan kehadiran buah hati di rahim nya.


"Yakin? Kemarin Clara bilang mau punya anak," ucap Louise yang ingat ucapan teman sekaligus kakak ipar nya.


"Mungkin dia asal bilang saja," jawab Louis pada sang adik.


"Kayak nya engga tuh! Mau aku yang tanyain?" tanya gadis itu yang semakin ingin mengalihkan pembicaraan dari masalah nya ke masalah sang kakak.


"Jangan," ucap Louis lirih mencegah sang adik.


"Kenapa? Bohong kan? Kenapa sih? Padahal anak ku mau nerima nya tapi kenapa gak mau punya anak sendiri?" tanya gadis itu yang semakin random.


Deg!


Bagaikan gelegar yang menyambar di tengah hujan, Wanita yang sejak tadi terdiam mendengarkan pembicaraan yang tak ia mengerti itu kini semakin terkejut mendengar suami nya mengatakan sesuatu tentang nya.


"A-apa? Dia tau hal ini?" tak hanya Clara yang terkejut namun gadis itu pun sama.


"Belum. Jadi, aku harap kau tidak mengatakan hal yang mungkin menyinggung nya." ucap Louis lirih.


Prang!


Rasa terkejut yang membuat wanita itu menjatuhkan guci di samping nya.


Kedua kakak beradik itu pun langsung menoleh menatap ke arah suara.


Mata yang sembab dan buliran bening yang meleleh menjatuhi pipi putih itu, tak hanya kenyataan tenang ia yang tak bisa hamil ia juga mendengar tentang kandungan teman nya.


Pembicaraan suami dan teman nya yang ia pikir tak ada hubungan keluarga apapun membuat nya salah sangka dan mengira jika suami nya sudah benar-benar berselingkuh.


Karna tak mungkin ada pria beristri yang mau bersikap seperti mau menanggung jawab atas kehamilan orang lain, menyelamatkan reputasi dan pembicaraan pernikahan ataupun adopsi.


Terlebih lagi sang suami yang memberikan perhatian pada wanita lain yang bagi nya berlebihan jika hanya untuk orang biasa dan juga pembicaraan tentang anak yang selalu di hindari pria itu membuat nya semakin salah paham.


"Ka-kalian benar-benar?" tanya nya dengan suara gemetar dan hampir terjatuh.


Louis pun langsung mendekat ia takut istri nya mendengar tentang keadaan dirinya ataupun takut sang istri mengetahui identitas nya.


"Pergi! Pengkhianat!" ucap Clara yang berusaha melepaskan tangan suami nya.


"Cla? Denger aku dulu, jangan gini Cla..." ucap Louis sembari berusaha memegangi sang istri yang memberontak akan sentuhan nya.

__ADS_1


"Clara?" Louise tak tau apapun, ia pikir sang kakak sudah memberi tau jika mereka adalah ipar dan tentu nya hal ini membuat nya bingung mengapa wanita itu marah pada nya.


Louis pun langsung menyuruh sang adik untuk segera pergi agar ia bisa menenangkan situasi hati istri nya lagi.


......................


Apart Greenlousc


James yang terus tidak tenang karna ia sebenarnya sudah terlanjur menyayangi anak yang dulu nya di gunakan mantan kekasih nya untuk menjerat nya.


Ia pun datang dan memencet bel apart tersebut.


Mengetahui James yang datang membuat Bella kembali bersinar, ia pun dengan segera membereskan kekacauan nya dan mengambil putra nya yang masih ia biarkan tergeletak di lantai.


Setelah membereskan dengan cepat ia pun segera mengganti pakaian nya dengan sexy dress sebelum membuka pintu nya.


Wajah datar pria itu menatap ke arah wanita yang terang-terangan menggoda nya, jika saja ia dulu masih menyukai wanita itu sebelum di khianati mungkin ia akan langsung mencium bibir wanita itu.


"Dimana Arnold?" tanya James tanpa berbasa basi.


"Dia tidur," jawab Bella mengelak.


Tanpa mengatakan apapun ia pun masuk dan mencari bocah lelaki itu.


"Al?" panggil nya dan segera menuju kamar pria kecil itu.


Bella pun langsung mencegah nya, ia menarik dan langsung mel*mat bibir pria itu seketika.


Sontak James pun langsung mendorong dan melepaskan nya, "Gila yah?!" tanya nya dengan kesal karna wanita itu mencium nya tiba-tiba.


"James? Aku tidak percaya kalau kau benar-benar udah lupa sama aku," ucap nya sekali lagi dengan raut yang begitu mengharapkan.


"Lalu apa yang membuat mu percaya? Hm?" Jangan menguji kesabaran ku lagi." ucap pria itu dengan kesal.


"Tidur dengan ku! Kalau kau benar-benar sudah tidak suka aku kau tidak akan ter*ngsang kan?" tanya wanita itu yang ingin menggunakan tubuh nya untuk merayu dan kembali mengambil hari mantan kekasih nya.


"Aku saja bisa melakukan nya dengan gadis yang baru ku kenal, n*fsu dan cinta itu beda! Aku benar-benar- Ck!" ucap nya yang tak bisa melanjutkan kalimat nya karna tak habis pikir dengan wanita itu dan beranjak mencari pria kecil itu lagi.


"Kalau begitu aku anggap kau masih suka aku!" ucap Bella sekali lagi dan kembali mencegah nya.


"Kau ini tidak mengerti bahasa? Aku mau pakai bahasa apa lagi dengan mu? Bahasa alien?!" tanya pria itu merasa kesal.


"Kalau begitu biarin aku tau..." ucap nya mendekat dan mulai mengendus serta mengecup leher pria di depan nya.


James diam, ia membatu sejenak ketika wanita itu mencium leher nya dan membuka kancing kemeja nya.


Bruk!


Tangan nya mendorong wanita itu, ia kini sudah benar-benar tak habis pikir. Ingatan memori tentang bagaimana wanita yang membuat nya begitu jatuh hati kini telah hilang hingga membuat nya kehabisan kata-kata.


"Aku benar-benar tidak mengenal mu lagi," ucap nya yang sempat membatu karna wanita itu kini bersikap seperti wanita penghibur, "Kau seperti wanita murahan." ucap nya yang kini bahkan tak bisa mempertimbangkan lagi masa lalu nya bersama wanita itu.


Bella tersentak mendengar ucapan pria itu, ia membeku di atas lantai itu dan tak sempat mencegah pria itu masuk ke kamar putra nya.


James pun masuk, ia melihat Arnold yang terlihat tertidur namun wajah nya penuh dengan bekas membiru dan luka.


Ia pun segera menarik selimut nya dan melihat bekas biru serta memar di tubuh anak kecil itu lebih banyak dari yang ia lihat sebelum nya.


Tangan nya langsung meraih dan menggendong anak itu lalu membawa nya keluar.


Bella terkejut tentu ia tak mau anak nya di ambil dari nya, "Lepas! Kau mau bawa Al kemana?!" ucap nya mencegah.


James pun menepis tangan wanita itu dan tetap berusaha membawa Arnold.


"Jal*ng itu kan?! Kau menolak ku dan mengatakan hal kasar pada ku karna dia kan?! Sekarang dia mau anak ku juga?!" ucap Bella yang terus menghalangi pria itu membawa putra nya.

__ADS_1


"Mau sampai kapan kau di bodohi sama dia?!" sambung nya lagi pada pria itu.


"Kau gila! Kau perlu ke rumah sakit jiwa!" ucap James yang menepis kasar hingga membuat wanita itu tersungkur di lantai.


__ADS_2