
Kediaman Rai.
Hoek!
Gadis itu berlari ke kamar mandi nya dengan cepat, perut nya bergejolak, gejala morning sickness yang ia alami memang belakangan ini lebih parah.
Suara guyuran air dari wastafel di mana ia berdiri terdengar, ia mengusap bibir nya dan membasuh nya.
"Jangan nakal di dalam..." gumam nya sembari mengusap perut nya.
Saat ini hanya hal inilah yang bisa ia lakukan mempertahankan bayi nya dan berhadapan dengan diri nya sendiri.
"Mau makan? Kita sarapan apa hari ini?" tanya Louise yang berusaha tersenyum dan hanya ingin memikirkan tentang nya dan calon anak nya.
Setiap pagi ia sering merasa mual ataupun muntah, rasa gelisah yang terus datang pada nya tanpa henti dan tanpa alasan serta yang terkadang merasa takut untuk membesarkan bayi itu sendirian nanti nya.
Hal-hal yang menjadi rasa khawatir terus menyelimuti nya, namun ia tau jika ia tak bisa berjalan mundur.
......................
Apart Greenlousc
Arnold memakan makanan yang ia sukai, ibu nya terlihat sangat senang beberapa waktu belakangan.
"Al mau tambah ikan nya lagi?" tanya Bella tersenyum pada anak laki-laki kecil sembari memberikan tuna di piring Arnold.
"Mommy lagi senang? Al udah jadi anak baik?" tanya Arnold yang merasa jika sang ibu sudah kembali seperti semula.
"Iya, sekarang kita bisa sama Daddy kamu." ucap nya sembari mengelus rambut putra nya.
Ia sudah mendapatkan kabar jika pria itu sudah putus dari kekasih nya, tentu nya hal itu menjadi kabar yang paling membahagiakan.
Dan ia semakin yakin jika pria tampan itu masih mencintai nya, masih sangat menginginkan nya dan sadar jika gadis yang ia anggap seperti jal*ng benar-benar tak pantas di sisi nya kecuali ia sendiri.
"Tapi Daddy bilang kalau dia bukan Daddy aku, jadi Daddy aku siapa Mom?" tanya Arnold dengan mata polos nya.
James sudah mengatakan jika ia bukanlah ayah dari anak kecil menggemaskan itu, dan Arnold pun mulai ragu saat pria itu tak lagi berkunjung menemui nya.
Namun sang ibu selalu menekankan jika pria itu lah ayah nya, bukan orang lain.
Raut dan senyuman senang di wajah wanita itu hilang sekejap, harusnya bocah itu tak menanyakan hal membuat nya merasa geram.
Plak!
"Kau berani tanya! Cukup dengar dan tak usah banyak bicara! Dia Daddy mu!" ucap nya yang marah dan dengan langsung ringan tangan ia memukul wajah putra nya.
Arnold tersentak, ia kembali menunduk tak berani melihat wajah ibu nya, tubuh nya gemetar tanpa sadar takut jika sang ibu akan mengamuk dan memukuli nya lagi.
""Ma-maaf Mom..." gumam nya lirih sembari menahan tangis nya.
Bella membuang napas, ia melihat dan berusaha memendam amarah nya.
"Al jangan nakal yah, harus jadi anak baik untuk Mommy..." ucap nya yang dalam sekejap berusaha menjadi lembut lagi sembari memeluk putra kecil nya.
Ia bisa mengendalikan anak polos yang tak tau apapun itu dengan sikap nya yang selalu berubah-ubah dan kembali bersikap bagai ibu yang baik.
......................
Restoran.
James menemui beberapa orang yang berguna bagi nya untuk mencapai tujuan yang ia inginkan.
Tempat mewah yang hanya di kunjungi orang-orang teratas tentu memiliki kemungkinan jika akan bertemu dengan orang lain.
"Apa yang mereka bicarakan?" gumam pria itu bertanya pada diri nya sendiri saat ia tak sengaja bertemu dengan pria yang ia incar.
Namun terbesit sesuatu yang seakan membuat nya tertarik saat ia ingat akan sesuatu.
Ia pun mengambil ponsel nya lalu berbicara pada seseorang sembari menunjukkan smirk nya.
"Kau sudah mengerti kan? Jangan terlambat." ucap nya dari telpon setelah mengatakan apa yang ia inginkan.
Ia pun menutup telpon nya lalu menunggu pertunjukan yang akan membuat nya terhibur.
...
"Kalau urusan mu sudah selesai, jangan ganggu aku." ucap James saat mantan kekasih nya yang seakan kebetulan berada di tempat yang sama dengan nya.
"Kau tidak mau bicara pada ku? Al terus bertanya tentang mu." ucap Bella lirih.
James tersenyum miring mendengar nya, anak yang tak memiliki hubungan darah dengan nya namun wanita di depan nya terus kukuh jika anak itu adalah putra nya.
"Kalau begitu bawa ayah nya menemui nya, aku bukan ayah nya." ucap James pada Bella.
"Kau ayah nya! Kita sudah tes DNA kan?" tanya Bella pada pria itu.
"Kau bisa memalsukan nya," jawab James datar, ia mendapatkan dua hasil yang berbeda di tempat yang berbeda.
__ADS_1
Rumah sakit yang di rujukan oleh Bella dan juga lab yang ia gunakan di mansion nya, bahkan saat ia sudah melakukan tes ulang di lab nya dua kali, hasil nya masih tetap sama tak ada hubungan darah antara ayah dan anak diantara ia dan bocah kecil menggemaskan itu.
"Kau masih menyukai ku, kan?" tanya Bella yang langsung ke inti nya.
James mengernyit, dulu ia memang pernah mencintai wanita itu, bahkan sangat! Tapi semua nya mulai memudar saat wanita itu pernah mengkhianati nya.
"Dulu iya, sekarang tidak!" jawab James singkat dengan wajah datar nya.
"Aku tidak percaya!" ucap nya yang kukuh, ia tak lagi memperdulikan harga diri nya namun ia ingin segera mendapatkan hidup nya yang hilang sebelum nya.
Tanpa aba-aba ia langsung mendekat melempar diri nya sendiri dan meraih pria tampan itu.
Menarik tengkuk pria itu lalu berjinjit untuk meraih hal yang dulu sering mereka lakukan.
Mata James membulat, ia terkejut, ia bahkan tak akan pernah wanita yang dulu nya naif dan polos melakukan hal seperti itu pada pria yang tak lagi tertarik pada nya.
...
Gadis yang memakai jas longgar berwarna cream, rambut yang yang di ikat longgar memancarkan sinar yang dapat di lihat oleh semua mata.
Ia memasuki tempat yang menjadi tempat pertemuan nya dengan seseorang, bukan orang yang spesial namun di perlukan untuk pembicaraan bisnis karna kini ia sudah mendudukkan dirinya dalam posisi yang lain untuk membantu sang kakak.
Deg!
Langkah nya terhenti, mata nya terkunci sejenak pada yang ada di depan nya.
Ya!
Itu adalah pria yang ia kenal dan ia pun melihat dengan mata nya sendiri apa yang tengah di lakukan pria itu di tempat ramai.
Iris yang tadi nya terkejut dan ingin segera mendorong tubuh wanita yang tengah mengigit bibir nya bertemu dengan iris lain nya.
Louise?
Batin nya saat mata nya yang saling bertemu dengan gadis yang berdiri terdiam membatu melihat nya.
Mungkin hal ini adalah pikiran yang bodoh, namun begitu melihat wajah yang tengah sangat terkejut melihat nya membuat nya melakukan hal kekanakan.
Humph!
Ia menarik pinggang yang tadi nya ingin ia lepaskan, berciuman tanpa rasa cinta?
Pria tampan itu bisa melakukan nya, bahkan melakukan yang lebih sekedar ciuman pun ia bisa melakukannya tanpa dasar cinta.
Karna ia sudah pernah merasakan semua hal itu saat dulu ia di khianati, bermain wanita dan melampiaskan semua rasa kecewa nya karna wanita yang ia cintai lalu melampiaskan pada wanita lain.
James menatap wajah gadis yang terlihat terkejut di depan nya sembari mencium wanita lain.
Louise tak bisa melangkah, ia membatu dan terkejut, tangan nya memegang erat tas yang ia bawa.
Semua tubuh dan langkah terkunci, ia tak bisa berbicara ataupun berbalik pergi, hanya satu yang jelas ia rasakan saat ini.
Sakit!
Sesuatu yang seperti menyakiti nya walau tubuh nya tak terluka sedikit pun.
Satu titik yang membuat dada nya tak bisa bernapas, perasaan yang tak bisa ia katakan rasa nya seperti apa.
Tes...
Bulir bening yang tanpa sengaja jatuh ke pipi nya, pria yang dulu nya mengambil rasa cinta nya lalu mencampakkan nya kini tengah mel*mat bibir wanita lain di depan nya.
Bahkan menatap mata nya dengan jelas.
Deg!
James tersentak saat melihat air mata gadis itu jatuh di depan nya, sorot dan wajah yang terlihat terluka dan kecewa sekaligus terkejut jelas tampak di wajah gadis cantik itu.
Ia mendorong tubuh Bella dan melepaskan tautan bibir nya.
Bella tersenyum, ia membuka mata nya dan langsung memeluk pria itu.
"Aku tau kau menyukai ku," ucap nya tersenyum sembari memeluk erat pria itu.
Pria itu merasakan sesuatu yang menyakiti hati gadis itu namun entah kenapa hati nya juga merasakan sakit.
Padahal ia lah yang harusnya tak merasakan apapun, tapi kenapa saat melihat air mata yang keluar dari gadis itu membuat nya begitu tak nyaman.
"Seperti nya aku memang hanya pelampiasan nya," gumam nya lirih sembari membalik tubuh nya.
Ia tak bisa lagi melihat kebersamaan pria itu dengan wanita lain, ia terluka bahkan dengan luka yang tak bisa katakan rasa nya seperti apa.
Pikiran nya kosong, ia keluar tanpa menemui rekan yang ia janjikan.
Air mata nya luruh, entah kenapa hanya rasa sakit yang tertinggal pada nya.
Pria yang baru saja memutuskan hubungan dengan nya kini langsung bersama wanita lain, bahkan saling mel*mat di depan mata nya dan membalas tatapan nya.
__ADS_1
Seakan mengatakan, jika ia bukanlah sesuatu yang harus di pikirkan. Jika ia memang hanya sebatas pelampiasan saat pria itu membutuhkan kehangatan tubuh nya di atas tempat tidur.
"Kenapa aku menangis? Aku sudah tau akan seperti ini kan?" gumam nya yang berusaha agar meyakinkan dirinya sendiri jika ia akan baik-baik saja.
Duk!
Gelinding bola yang menyentuh kaki nya, lalu sekarang gadis kecil yang datang mengambil nya.
"Kakak nangis kalna kena bola?" tanya nya mengambil bola nya yang terlempar.
Gadis kecil itu bermain di taman depan restoran, ia menatap bingung pada kakak cantik yang tengah terlihat sangat sedih tersebut.
Louise menggeleng, "Tidak, bukan kena bola kok." jawab nya yang menghapus air mata nya dan berusaha tersenyum.
Tak lama seorang wanita yang tengah terlihat sedang membawa perut besar di tubuh nya pun datang.
"Maaf, apa anak saya menimbulkan masalah?" tanya seorang wanita yang terlihat lembut tersebut.
"Tidak apa-apa, dia hanya bermain saja." jawab gadis itu dengan mata sembab nya.
Wanita yang berwajah lembut itu membalas senyuman gadis itu namun ia tau jika gadis itu habis menangis dengan mata sembab nya.
"Padahal seharusnya suami saya yang menjaga nya, saya sedikit sulit membawa tubuh." ucap nya tersenyum sembari mengelus perut besar nya yang berusaha mengganti topik saat melihat raut kesedihan.
Pandangan Louise menurun ke perut besar wanita di depan nya, mungkin dalam beberapa bulan perut nya akan seperti itu juga.
"Bagaimana rasa nya membawa hal seperti itu?" tanya Louise lirih yang terpaku pada perut besar wanita beranak satu di depan nya.
"Entahlah? Mungkin luar biasa, dia suka menendang, jadi ayah nya nya selalu berharap dia jadi atlit sepak bola." ucap wanita itu tertawa yang tanpa sadar mengatakan hal yang membahagiakan untuk nya namun tidak untuk orang lain.
Louise diam setelah mendengar nya, bayi yang ia kandung bahkan tak memiliki ayah sekarang.
Tak menunggu waktu lama seorang pria datang menyusul, suami dari wanita hamil di depan nya, ia pun tersenyum dan meninggalkan tempat itu lebih dulu.
Namun langkah nya terhenti, ia entah kenapa ia menoleh dan melihat keluarga kecil yang terlihat bahagia itu.
Kehamilan yang di perhatikan dan di nantikan, tatapan dan sikap yang juga ia inginkan untuk bayi nya dan juga diri nya.
Ia tak menyadari nya namun air mata nya jatuh kembali, kini dada nya seperti di ikat dengan tali tambang yang membuat yang kembali tak bisa bernapas.
Apa yang harus ku katakan tentang ayah nya nanti?
Batin nya saat menyentuh perut yang kini mulai terlihat membuncit walau masih tak begitu tampak.
"Aku cuma pelarian..."
Ia bergumam, ia juga merasa takut untuk anak nya, takut jika anak yang akan ia lahirkan nanti bertanya tentang ayah nya tentang ayah yang bahkan tidak tau jika ia ada dan mungkin tak akan peduli.
Semua perasaan dan hari nya seketika mendung, ia benar-benar tak bisa menahan air mata nya.
"Anak Mommy yang baik yah, kita..."
"Kita bisa hidup tanpa ayah yang seperti itu..."
"Mommy bakal sayang kamu kok..." ucap nya nya tersendat-sendat sembari mengelus perut nya dengan rasa kesedihan yang luruh dan air mata yang bahkan belum berhenti.
Kau senang?
Kau bilang ingin menghancurkan ku, kan?
Kau berhasil!
Kau membunuh ku sebelum mengambil napas ku...
Aku tidak tau, tapi aku ingin melupakan mu...
...****************...
Jangan lupa dukungan nya yahππ
Likeπππ
Komen π¬π¬π¬
Rate 5βββββ
Vote ποΈποΈπ₯³π₯³
Favorit β₯οΈβ₯οΈβ₯οΈ
Hadiah πππ
Biar othor makin semangat hihiπππ
Happy Readingπππ
Othor nya jarang up karna ada beberapa yang memang ga bisa di tunda, tapi bakal ttp othor usahakan up setiap hari yahβ₯οΈβ₯οΈβ₯οΈ
__ADS_1
Happy Weekend πππ