
Kediaman Rai
Plak!
Satu pukulan keras di b*kong anak lelaki yang sedang berada di tahap remaja awal itu membuat nya langsung beringsut.
"Aduh! Sakit Mah!" ucap nya yang mengernyit menatap ibu nya.
"Kamu sih! Kamu pecahin jendela kepala sekolah buat apa?" tanya nya yang tak habis pikir setelah ia baru saja di panggil ke sekolah.
"Kepala sekolah nya buat mes*m Ma, terus kan Aldrich itu anak baik dan pemberani jadi Al lempar pakai kasti deh itu jendela biar mereka kalang kabut!" jawab nya dengan tawa renyah.
"Memang nya kamu tau mes*m itu apa?" tanya nya yang menggeleng melihat ke arah anak lelaki yang kini sudah menginjak usia 11 tahun.
"Tau dong! Itu kan cium-cium di pojokan, kak Bian yang kasih tau." jawab nya dengan wajah polos pada sang ibu.
"Astaga anak ini! Jangan ulangi lagi ya? Kalau kamu lihat yang tidak benar, laporin aja tapi jangan buat masalah." ucap nya yang memilih menarik napas nya dan melihat ke arah putra yang sangat ia sayangi itu.
"Iya, Ma." ucap nya yang menatap wajah yang khawatir namun sering memarahi nya.
"Yauda, sana makan dulu. Mama masak salmon, kulit nya Mama buat yang garing." ucap nya pada anak lelaki itu.
"Eh? Beneran Ma? Aku makan dulu deh?" tanya Aldrich yang mendengar makanan kesukaan nya itu.
"Cuci tangan dulu Al!" teriak wanita itu saat melihat ke arah putra nya yang langsung pergi dan menghilang.
....
Pukul 07.25 pm
Memang sedikit terlambat namun pada akhirnya makan malam itu terlaksanakan.
"Papa dengar kamu pecahin kaca jendela ruang kepala sekolah kamu?" tanya nya yang menatap ke arah putra nya yang sudah akan beranjak memasuki usia remaja.
"Kali ini bukan Aku loh Pa yang salah, kepala sekolah nya." ucap nya pada sang ayah sembari melanjutkan makan nya.
"Yang ini terakhir ya, jangan buat masalah lagi." ucap Louis menarik napas nya.
Dulu ketika ia masih remaja, terkadang ia merasa kedua orang tua nya cerewet dan sekarang ketika ia sudah memiliki anak sendiri walaupun bukan berasal dari darah nya ia tau bagaimana yang di rasakan oleh kedua orang tua nya.
"Iya Pa! Janji deh kali ini!" ucap Aldrich pada sang ayah.
"Olimpiade mu bagaimana? Lolos?" tanya Clara pada putra nya.
"Lolos Ma, tahap kedua tanding nya Minggu depan." jawab anak lelaki itu pada sang ibu.
"Kalau kau menang kita liburan," ucap pria itu pada putra nya.
"Beneran? Papa ikut juga kan? Biasa nya kan selalu aku sama Mama! Jarang bertiga," ucap Aldrich yang langsung bersemangat.
"Biasanya kau juga sering liburan sama Daddy Mommy mu kan?" tanya Louis menghela napas nya.
"Iya, tapi kan aku juga mau liburan sama Mama Papa juga! Papa ikut kan?" tanya nya yang selalu mengulang jika belum mendapatkan jawaban.
"Ya, Papa ikut." senyuman tipis dengan menatap ke arah anak lelaki itu.
Waktu mulai berlalu, tak banyak perubahan dan guliran detik yang sudah terlewati tak terasa.
Bayi mungil yang dulu rewel serta sering menggeliat itu kini sudah mulai memasuki usia remaja awal dan mungkin sedang di dalam masa pubertas yang penuh rasa ingin tau dan pemberontakan.
......................
Mansion Dachinko.
Pria itu memeluk tubuh ramping wanita nya yang tengah duduk di sofa itu dari belakang, ia mengendus lengkung leher nya dan tangan yang mengusap perut rata itu.
"Kau sudah mengantuk? Mau pindah ke kamar?" tanya nya berbisik yang terlihat gemas ingin mengecupi punggung wanita itu.
"Ngantuk apa? Masih jam 8 juga," ucap Louise yang menepuk tangan yang memeluk perut nya itu.
"Sana ih! Nanti di lihat anak-anak!" ucap nya yang mendorong tubuh suami nya karna ingin melanjutkan film yang ia lihat.
"Lihat nya di kamar aja yuk? Aku bawakan camilan," ucap pria itu yang kembali memeluk istri nya.
Louise tak menanggapi, jika ia sekarang pindah dan menonton nya di kamar mungkin ia tak akan tau akhir film yang ia putar.
"James? Jangan ganggu dulu, sana main sama Arche sana." ucap nya yang mengusir suami nya.
"Arche sudah tidak lucu lagi, apa kita adopsi anak lagi?" ucap nya yang merasa masa keimutan kedua anak yang ia urus sudah mulai hilang.
"Hush!" Louise langsung berdecak menandakan ia tak setuju.
"Maka nya kita buat aja, lagi pula kan ga bakalan jadi." ucap pria itu terkekeh yang tetap kukuh membujuk istri nya untuk ke kamar.
Sejak usia bayi kembar nya memasuki bulan 3, ia sudah menjalani vasektomi agar istri nya tak lagi hamil.
Karna kelahiran putra kembar nya yang terakhir kali dan dengan kecelakaan yang di buat putri nya membuat sang istri akan berada dalam fase kehamilan.
"James? Aku masih mau non- Humph!"
Ucapan nya terhenti seketika, film yang terus berputar namun tengkuk dan mata nya tertuju pada pria yang mencium nya.
"Kak Bian!"
Deg!
Kedua pangutan itu langsung terlepas begitu mendengar suara yang mereka kenali.
"Mommy? Daddy?"
Anak lelaki itu menoleh dan mendekat ke arah kedua orang tua nya saat melihat nya duduk di depan televisi.
"Hm?" James menyahut ketus, baru saja ia mencium wanita nya suara teriakan dari anak laki-laki nya sudah terdengar.
"Lihat kak Bian ga? Di kamar nya ga ada," ucap nya pada sang ayah.
"Tadi kata nya pergi sama Sylviana," jawab Louise yang melihat ke arah putra nya, "Kenapa kamu cari kakak mu? Tumben." sambung nya bertanya.
"Ha? Ada urusan sedikit, Yaudah deh nanti aja aku tanyain waktu dia balik." ucap Arche dan berlalu pergi.
James melihat ke arah putra nya yang sudah menghilang sedangkan sang istri kini kembali tak menanggapi nya dan memilih untuk menonton televisi nya lagi.
Greb!
Louise tersentak, tangan nya di tarik dan tubuh nya di angkat.
__ADS_1
"Astaga! James! Turunin!" ucap nya yang terkejut dengan aliran darah yang turun ke kepala ketika ia di bawa di pundak seperti karung beras.
Plak!
"Kita pindah ke kamar! Biar ga ada yang ganggu!" ucap pria itu dengan santai sembari menepuk b*kong sang istri.
"Oh God!" wanita itu menghela napas nya, memang bagus jika ia memiliki suami yang hanya tertarik dengan nya namun terkadang ia juga memiliki masa tidak ingin atau pun mau memiliki waktu tersendiri.
Pria itu tak mengatakan apapun selain senyuman yang terukir di wajah nya.
...
Pukul 09.56
Kali ini gadis remaja itu pulang lebih awal, padahal ia sebelum nya berniat menginap di rumah teman nya.
Wajah yang pucat dengan keringat dingin yang jatuh serta perasaan yang merasa begitu ingin marah dan kesal bercampur dengan rasa tak nyaman.
"Kakak! iPad aku mana?"
Belum sempat gadis itu kembali ke kamar nya ia malah di hadang oleh sang adik yang tampak kesal.
"Sana! Hush! Hush!" ucap Bianca yang mengusir adik nya seperti ayam dan mulai beranjak ke kamar nya lagi.
"Kakak!"
Arche tak terima, ia mengekori sang kakak dan mengikuti nya ke kemar.
"Mau ngapain ngikut? Mommy! Arche udah besar ga mau tidur sendiri!" teriak nya dari luar.
Wajah mengerucut itu tampak kesal sampai sang kakak mengembalikan iPad nya.
"Biarin! Biar aku hancurin kamar kakak!" ucap nya yang kesal dan dan langsung membuat ranjang sang kakak berserakan.
"Arche! Aduh!" Bianca merasa kesal namun perut nya merasa sakit seperti yang belum pernah ia alami.
Merasa mulas namun bukan mulas, sakit yang baru pertama kali ia rasakan.
"Eh? Kak?" Arche berhenti sesaat ketika ia sibuk membuat ranjang sang kakak berserakan.
Mata nya mengernyit melihat ke arah sang kakak yang tampak berbeda.
"Kak? Kak Bian? Kakak sakit?" tanya Arche mendekat.
Bianca tak menjawab, gadis yang memiliki rambut pirang lurus itu hanya menunduk.
"Kakak kok pucat kak? Kak!" panggil Arche sekali lagi.
"Berisik tau! Minggir, aku mau tiduran!" jawab Bianca ketus pada sang adik yang tampak khawatir.
Arche terdiam beberapa saat, namun ketika melihat sang kakak bangun dan berjalan ke ranjang nya.
"Astaga! Kak! Kakak berdarah!" anak lelaki itu berteriak terkejut melihat rok sang kakak yang di penuhi dengan darah yang merah menyala.
Bianca mengernyit, begitu mendengar teriakan adik nya.
Apa jangan-jangan aku...
Ia tak tau harus senang atau marah akan hal ini tapi yang jelas nya mungkin ini adalah hari yang ia tunggu-tunggu.
Sementara itu.
Uhh...
Uhm!
Suara tertahan yang terdengar berat itu memenuhi seisi kamar, ranjang yang masih berderit dan televisi yang menyala seperti menyembunyikan er*ngan halus.
Hah...
Wanita itu berhenti sejenak, ia menjatuhkan tubuh nya di atas dada bidang pria itu.
"Mau tukar posisi?" pria itu tersenyum lirih, ia mengusap punggung sang istri yang masih berada di atas tubuh nya.
"Kok belum keluar sih? Astaga..." suara terengah-engah itu terlihat menarik napas panjang saat sang suami masih bertahan padahal ia sudah mengeluarkan segala jurus andalan nya.
James tertawa kecil, ia menarik tubuh wanita itu hingga berada di bawah tubuh nya dan mulai mengecupi nya berulang kali.
Bekas kemerahan tertinggal di sepanjang leher jenjang dan dada wanita itu.
Brak! Brak!
"Mommy! Daddy!"
Deg!
Kedua orang yang tengah menyatu itu tersentak seketika, bukan ketukan melain gebrakan di pintu nya.
Jika saja tak di kunci maka seluruh aktivitas yang di sensor itu akan tampak seperti seketika.
"Eh? Itu suara Arche?" Louise mendorong sejenak dada bidang suami nya yang masih memacu seperti putaran kuda di Rodeo.
"Anak ini!" James berdecak di dalam gumam nya.
Belum saja ia mencapai puncak nya dan masih tengah bertani untuk menanam bibit yang tak akan tumbuh sudah di ganggu lagi.
"Kak Bian! Kak Bian Dad! Mommy! Kak Bian luka!" teriak putra pasangan suami istri itu.
"Bian? Tunggu!" Louise tersentak begitu juga dengan suami nya.
Pria itu langsung beranjak bangun dan melepaskan penyatuan nya.
Mantel tidur pun langsung di pasang dengan cepat agar dapat menutupi tubuh secara ringkas.
Klek!
"Kenapa kakak mu?" tanya Louise yang sudah membuka pintu nya.
Arche masih panik sehingga tak memperhatikan kedua orang tua nya yang terlihat berantakan.
"Itu! Kak Bian! Dia..." ucap nya yang langsung berbalik dan tentu kedua orang tua nya mengikuti nya.
Sesampainya di pintu kamar satu-satu nya anak gadis di mansion itu, pintu itu pun langsung terbuka lebar.
"Bian!"
__ADS_1
Gadis itu terkejut, padahal ia baru saja mau mengganti sprei nya nya yang terkena darah padahal baru saja ia duduki.
"Mommy..." mata yang berair itu membuat sang ibu terkejut.
"Bian? Kenapa nak?" Louise mendekat, ia terkejut saat melihat darah di sprei putri nya.
Greb!
Pelukan erat langsung menyambut nya hingga membuat wanita itu hampir terjatuh.
"Mommy! Aku datang bulan juga!" ucap nya dengan senang dan begitu bahagia.
Pasal nya ia sudah mencapai usia 17 tahun namun belum juga mendapatkan datang bulan nya seperti anak remaja yang lain.
Dan tentu hal itu pun sudah di bawa dan di periksakan sang ibu untuk melihat ke arah kondisi kesehatan nya.
Namun tak ada yang salah sama sekali dan ia masih belum mendapatkan datang bulan nya.
Louise terkejut sejenak namun ia membalas pelukan putri nya.
"Oh? Selamat ya sayang..." ucap nya yang bingung sesaat dan membalas pelukan putri nya.
Sedangkan kedua laki-laki yang berada di tempat itu masih terdiam.
James menarik napas nya dan melihat ke arah putra nya yang membuat kehebohan.
"Kau mengacau hanya untuk ini?" tanya nya pada Arche.
"Tapi kan kak Bian berdarah Dad..."
"Banyak loh darah nya..." cicit Arche pada sang ayah.
"Yah, kau tidak salah sih tapi..." James kebiasaan kata-kata ia kesal dan ingin marah tapi ia tau jika putra nya tak bisa di salahkan.
....
Suasana kembali damai tanpa kehebohan yang membuat semua orang panik. Gadis itu pun kini sudah memakai pembalut simpanan ibu nya dan sudah tidur di atas ranjang nya.
"Dad! Berarti sekarang Daddy harus kasih itu ya! Kan janji nya kalau Bian udah besar!" ucap nya yang tak menyebutkan benda yang pernah di janjikan sang ayah.
"Itu? Memang nya kau mau kasih apa sama dia?" tanya Louise yang melihat ke arah sang suami.
James terdiam sejenak, dulu putri kesayangan nya itu sangat ingin memiliki pistol dan tentu nya senjata seperti itu tak akan mudah di dapatkan.
Maka dari itu gadis cantik itu meminta nya pada sang ayah, namun ayah nya mengatakan jika akan memberikan nya ketika ia sudah mendapat siklus pertama nya karna itu berarti ia sudah melewati masa pubertas nya.
"Dia minta mobil..." ucap James lirih yang menarik napas nya dan tentu sekarang harus memilih pistol untuk putri nya.
"Bian mau mobil? Tapi jangan bawa sendiri ya nak? Kalau dari Mommy kamu mau apa?" tanya Louise yang tak memarahi putri nya karna ia tak tau apa yang di minta sebenarnya.
"Bian mau makan malam masakan Mommy!" ucap nya yang memeluk wanita itu dengan erat.
Arche menatap bingung, mengapa sang kakak mendapat kan hadiah?
"Kak Bian kenapa di kasih mobil Dad?" tanya nya pada sang ayah.
"Kan dia dapat datang bulan nya yang pertama." jawab pria itu pada putra nya.
"Jadi kalau dapat datang bulan yang pertama itu dapat hadiah? Arche kapan datang bulan nya?" tanya anak lelaki itu yang menatap dengan semangat.
"Hush! Kamu mana mungkin datang bulan! Nanti kalau udah 17 tahun Mommy kasih mobil juga." ucap Louise agar anak-anak nya tak berdebat.
Arche mengangguk, kali ini mata nya melihat ke arah kedua orang tua nya yang tampak berantakan dan ia sudah bisa melihat dengan jelas tanpa kepanikan seperti sebelum nya.
"Tapi? Mommy sama Daddy kok berantakan banget sih? Rambut Mommy lagi tuh, padahal kan belum bangun pagi," ucap nya pada sang ibu. Memang biasa nya rambut akan berantakan saat bangun pagi namun kali ini rambut ibu nya berantakan padahal masih jam 10 malam.
"Itu juga kenapa Dad? Merah? Kayak bekas cakaran? Ih! Leher Mommy juga merah kayak abis di gigit tawon!" ucap nya yang melihat ke arah sang ayah ketika jubah tidur itu sedikit tersingkap dan kemudian melihat sang ibu.
Kedua mulut itu terbungkam sejenak, "Sana tidur!" ucap James yang mendorong putra nya agar keluar dari kamar putri nya.
"Eh? Tapi Daddy sama Mommy kenapa?" tanya Arche yang kebingungan.
"Olahraga tapi kau ganggu!" jawab James ketus pada putra nya.
"Olahraga apa?" Arche tak berhenti bertanya sama sekali sampai rasa penasaran nya tuntas.
"Salto!" jawab James ketika ia sampai mengantar putra nya ke kemar nya.
Brak!
Ia langsung menutup pintu kamar putra nya itu sebelum ada pertanyaan selanjutnya.
Sedangkan saat ini yang di kamar masih ada Louise dan putri nya, sedangkan suami dan putra nya sudah keluar.
"Eh? Mommy Daddy ngapain tadi? Hayoo..." goda gadis itu dengan senyuman kecil.
Louise menarik napas nya dan tersenyum tipis, tangan nya dengan lembut mengusap kepala putri nya sembari menutup mata nya.
"Tidur nak, kalau ga tidur mau Mommy tidurin pakai gerinda mesin?" tanya nya dengan suara lembut namun membuat putri nya terdiam.
"Oh? O.. okey Myy..."
"Bi.. Bian tidur yah..."
Jawab gadis itu yang langsung menutup mata nya, dan ketika tangan sang ibu tak mengusap nya lagi.
"Tenang aja Myy kali ini ga ada yang ganggu lagi, aku mau request adik perempuan deh Myy," ucap nya yang tiba-tiba bangun dan membela sang ibu.
Louise tersenyum lembut pada putri nya, "Uang jajan kamu Mommy potong 60% sampai satu Minggu," ucap nya pada putri.
Mata coklat itu langsung membulat seketika.
"Eh? Engga Myy! Mommy!"
Gadis itu tersentak dan langsung memanggil ibu nya yang sudah keluar dari kamar nya.
......................
Bianca Anastasia Dachinko
Kalau kalian ga suka visual nya bisa di bayangin sama yang suka ya, 🥰
Happy Reading💕💕
__ADS_1