
Mata bulat yang jernih itu menatap ke arah mobil yang berjalan di depan nya.
"Mommy?" panggil nya sembari menengandah melihat ke arah sang ibu.
"Iya?" Louise menjawab dengan panggilan kecil saat ia melihat ke arah putri cantik nya.
"Kok paman Uwis ga ajak Bian pelgi? Paman Uwis mau enak enak juga sama tante Kelala?" tanya nya pada sang ibu dengan wajah polos yang seakan tak mengerti apa yang ia katakan.
"Hush! Paman Louis sama Tante Clara mau liburan," Ucap nya yang melihat ke arah putri nya yang datang ke pesta pernikahan sang kakak dan tetap di sana bahkan setelah pesta usai.
"Libulan kan sama aja sama enak enak Myy," ucap Bianca yang tak merasakan perbedaan nya karna baginya tak ada yang salah di kata-kata nya.
Louise menatap ke arah pria yang berdiri di belakang nya seakan menatap tajam seperti memarahi karna mengajari putri nya berbicara dengan kata-kata yang sebenarnya memiliki arti yang berbeda.
"Yang ini, bukan aku yang ngajarin." ucap James yang tau arti dari tatapan gadis itu.
"Bian? Mau pulang juga? Pulang sama Mommy mau?" tanya nya yang mengajak putri kecil nya untuk menginap di kediaman nya karna ia tau malam pertama pernikahan sang kakak tak mungkin di kediaman nya juga.
"Daddy?" tanya nya yang ingin sang ayah juga ikut.
"Daddy lagi banyak urusan sayang," ucap nya yang mengatakan alasan agar ayah putri nya gak ikut.
"Hum?" mata coklat yang bulat itu memutar melihat ke arah sang ayah dan menanti jawaban.
"Iya, sekarang Daddy lagi ada urusan. Bian sama Mommy dulu mau?" tanya nya sembari mengusap kepala putri nya.
"Iya deh..." jawab nya lesu karna yang ia inginkan kedua orang tua nya.
James menarik napas nya, bukan nya ia tak mau ikut namun ia takut kelepasan jika tefus berada di tempat yang sama dengan gadis yang ia cintai itu.
"Bian? Jangan cemberut, sebentar lagi kan Daddy sama Mommy bakal tinggal bareng, kita bertiga." ucap nya pada putri cantik nya.
"Lama, padahal Bian mau nya sekalang..." jawab nya yang manyun dan tampak mengerucutkan bibir nya membuat wajah cantik nya semakin menggemaskan.
James tersenyum kecil, ia menoleh ke arah Louise dan melihat nya.
"Mommy? Dengar kan yang Bian bilang, Mommy harus cepet nikah sama Daddy iya kan?" tanya nya dengan senyuman penuh arti.
Louise terdiam sejenak namun ia tertawa kecil mendengar nya sembari menggelengkan kepala nya.
......................
Satu bulan kemudian
Kediaman Rai
Sekarang pria itu menjadi lebih sering sarapan di kediaman nya, tentu saja hal itu tak mengherankan karna kini ia memiliki istri yang memasak untuk nya.
"Clara lagi yang masak? Jadi kau buat apa belajar masak?" tanya gadis itu yang baru datang dan duduk di kursi nya.
"Mulut anak ini," ucap Louis yang ingin mencubit bibir gadis itu.
Clara tersenyum ia meletakkan salad yang baru ia bawa ke atas meja.
"Lagi pula aku masak cuma di waktu sarapan aja," ucap nya tersenyum yang juga duduk di bangku nya.
Louis menoleh menatap ke arah adik nya yang tampak memulai sarapan nya lebih dulu.
"Kau sudah bicarakan pernikahan mu? Dia terus mendatangi ku," ucap nya yang tentu dapat sama-sama tau siapa yang di bicarakan.
"Pernikahan? Ku rasa dia yang siapkan, nanti ku tanya sudah sejauh mana." ucap nya yang bahkan tak mengikuti perkembangan dari persiapan pernikahan nya.
"Ya, kau harus segera siapkan. Nanti gaun mu jadi tidak muat kan?" tanya Louis yang mulai memakan makanan nya.
"Iya, tapi ku rasa ada sedikit masalah tentang itu..." ucap nya lirih yang tak bisa berbohong terlalu lama untuk anak yang tidak ada.
"Masalah? Terjadi sesuatu?" tanya Clara yang menoleh karna ia juga sudah tau tentang kehamilan yang sebenarnya tak ada itu karna Louis sudah mengatakan nya.
"Ya, nanti aku akan cek sekali lagi." ucap Louise yang mengangguk dan tersenyum kecil lalu langsung pergi.
"Louise? Siapkan sarapan mu," ucap pria itu pada saudari nya saat pergi bahkan sebelum menghabiskan sarapan yang di buat oleh sang istri.
Louise tak menoleh sama sekali, ia terus beranjak dan pergi.
"Sudah biarkan saja, mungkin dia biru-buru." ucap Clara yang melanjutkan kembali sarapan nya.
"Mungkin," jawab Louis lirih pada wanita itu.
"Kau tidak ada masalah karna tunggal dengan nya kan?" tanya nya yang menoleh ke arah wanita itu.
Clara menggeleng, gadis itu tak cerewet atau banyak mengatur nya. Hanya seperti tinggal bersama dengan adik perempuan juga.
"Dia lucu, tempramen nya hampir sama dengan mu. Lagi pula aku anak tunggal jadi seperti punya adik." jawab wanita itu yang menoleh ke arah suami nya.
"Baguslah, kalau tidak ada masalah." ucap Louis yang bernapas lega.
......................
Tiga Minggu kemudian
Sekolah
Gadis kecil itu menatap berbinar melihat ke arah kertas yang bisa berbentuk seperti kupu-kupu atau burung.
"Bian ajalin juga dong Miss..." ucap nya pada guru baru yang mengajar karna guru sebelum nya sudah tak dapat mengejar akibat mengalami kecelakaan.
Dan tentu kecelakaan itu tak jauh dari ulah nya karna ia yang meminta pada sang ayah untuk menghukum teman nakal nya dan guru yang memarahi nya padahal ia hanya menuruti teman nya saja.
"Bian mau belajar juga? Nah sekarang kita lipat di sisi yang ini dan tekuk di sini..." ucap sang guru sembari mengajarkan mengubah kertas origami berwarna itu menjadi bentuk kupu-kupu.
"Bian mau buat yang banyak buat nanti di nikah Mommy Daddy Bian!" ucap nya yang membayangkan kupu-kupu kertas yang akan ia buat akan hidup seperti kupu-kupu asli nya.
"Aku boleh buat juga? Bial nanti di nikah Bian juga banyak kupu-kupu nya!" sambung si gadis cilik yang cengeng itu namun selalu mengikuti teman nya.
"Boleh juga! Nanti waktu Bian nikah pakai kupu-kupu dali Syl!" ucap nya yang senang dengan ide kekanakan itu karna ia juga masih anak-anak.
Gadis mungil dengan lesung pipit itu tersenyum.
Kedua gadis mungil itu tampak senang dan melipat kertas origami itu, walau masih tak rapi dengan bentuk yang amburadul namun ketua nya melihat sebagai bentuk yang cantik.
Mengumpulkan kertas origami yang sudah di buat di samping nya sampai.
"Hahaha!"
Bruk!
Suara tawa dari anak kecil yang berlarian itu terhenti seketika saat ia terjatuh dan menghancurkan kertas yang sudah di buat itu.
Sylviana terkejut, wajah mengerucut dan mata nya tampak berkilau seperti akan menangis itu.
__ADS_1
"Hua! Kupu-kupu Syl mati semua... Huhu..." tangis nya sekali lagi karna ia merupakan anak yang cengeng sejak awal.
Sedangkan gadis kecil dengan mata coklat itu tampak terdiam, ia melihat ke arah tumpukan kupu-kupu yang ia siapkan untuk di pesta pernikahan ibu dan ayah nya hancur.
"Ma.. maaf Hally ga sengaja..." ucap bayi laki-laki berumur 4 tahun itu yang langsung terkejut melihat salah satu teman nya menangis.
"Kan lusak! Lagi pula kan Miss udah bilang ga bole lali-lali di kelas!" ucap Bianca yang tampak sedih melihat kertas kupu-kupu nya yang hancur.
"Hally minta maaf..." ucap Harry menunduk.
"Buat lagi!" ucap nya Bianca yang terlihat marah dan kesal menatap teman sekelas nya itu.
"Ta.. tapi Hally ga tau buat nya... Bi..Bian sama Sy.. Syl aja lagi yang buat!" ucap nya gugup dan langsung lari karna tak tau cara membuat nya.
Walaupun di rumah nya di ajarkan kata Maaf dan Terimakasih namun tetap saja ia masih bayi empat tahun yang tentu akan memiliki situasi yang bagi nya cukup sulit sehingga memilih lari.
"Hally! Buat yang balu! Itu untuk Mommy Daddy Bian!" teriak gadis kecil bermata coklat itu pada teman nya yang lari sedangkan teman nya yang lain hanya menangis di dekat nya.
"Hiks... kupu-kupu..." ucap Syl di isak tangis nya.
Mata coklat itu menyilang, ia menatap kesal dan terlihat ingin membalas nya.
......................
Mansion Dachinko
"Daddy!"
Suara bayi menggemaskan itu langsung terdengar dengan jelas saat ia turun dari mobil nya.
Tanpa memperdulikan apapun kaki mungil itu berlari mencari sang ayah dan tentu ingin segera mengadu.
James menarik napas nya, ia memangku putri cantik nya yang saat ini tengah bercerita tentang apa yang terjadi di sekolah.
"Sekarang Bian mau nya gimana? Apa kita hancurin juga temen Bian yang nakal?" ucap nya pada putri cantik nya.
Bianca menggeleng, "Bian mau dia nangis juga!" ucap nya yang kesal.
Ia tak akan sebegitu kesal jika teman nya itu tak kabur dan mencoba membuat ulang setelah menghancurkan kupu-kupu kertas nya.
James mengusap kepala mungil putri nya, ia tau jika ia terlalu memanjakan anak nya itu namun ia juga tak bisa berhenti sama sekali.
"Bian udah pikirin gimana cara nya?" tanya nya pada putri cantik nya sembari kembali melihat ke arah laptop nya untuk menyambung pekerjaan nya.
"Hally suka bulung, Bian mau anak bulung!" ucap nya pada sang ayah.
Kepekaan sekitar dan cara menilai sesuatu lebih tajam pada gadis cilik itu sehingga membuat nya mampu merekam memori yang lebih kuat dan menyimpulkan nya.
"Burung? Burung apa? Berapa yang Bian mau?" tanya James yang juga masih fokus dengan pekerjaan nya.
"Teselah Daddy! Nanti sole udah ada yah Dad!" ucap nya pada sang ayah yang kemudian turun dari pangkuan nya dan beranjak bermain di mansion luas itu.
James melihat ke arah makhluk mungil itu yang keluar dari ruang kerja nya.
Ia hanya tersenyum kecil dan menganggap semua yang di lakukan putri nya adalah hal yang lucu dan menggemaskan tanpa peduli jika itu salah atau benar.
......................
Ke esokkkan hari nya
Sekolah.
Teriakan yang melengking dengan tangisan yang kuat karena terkejut melihat loker yang menyimpan mainan dan buku bergambar itu di penuhi darah dari anak burung tanpa kepala yang tertumpuk di dalam nya.
"Hally selem..."
ucap anak-anak lain yang bergidik melihat loker teman nya sedangkan beberapa guru mulai datang memeriksa.
"Bian..."
"Syl takut..."
Cicit Sylviana yang mendekat ke arah teman nya dan terus memegangi tangan mungil itu.
Mata coklat itu tampak berbinar, ia satu-satu nya yang tertawa saat semua teman nya terlihat takut.
"Muka Hally lucu!" ucap nya yang tersenyum.
Beberapa guru tak begitu menganggap nya aneh karna memang terkadang anak kecil tertawa melihat anak kecil lain nya yang tengah menangis.
"Kita makan pelmen aja yuk? Syl bawa pelmen nya?" tanya nya pada teman nya.
Sylviana mengangguk, ia memang selalu penakut dan penurut serta begitu cengeng.
"Yauda! Bian juga bawa colat buat Syl!" ucap Bianca yang menarik tangan teman nya dan membawa nya ke sisi kelas yang cukup jauh dari keributan itu.
"Syl takut..." ucap gadis kecil itu yang masih mencicit dan ingin ikut menangis itu karna baginya tangisan adalah sesuatu yang menular.
"Nih makan colat Bian biar ga takut!" ucap Bianca yang membuka coklat nya dan memberikan pada teman nya.
Sylviana mendekat pada teman nya itu, ia memakan coklat nya dan memegangi tangan Bianca karna merasa takut tanpa tau siapa penyebab kekacauan di kelas nya.
......................
Kediaman Rai
Louise mendekat ke arah sang kakak yang saat ini tengah duduk sendiri padahal biasa nya selalu melekat pada istri nya.
"Kak..." panggil nya lirih.
Louis menoleh, ia menatap ke arah wajah sang adik yang tampak lesu.
"Ada apa? Kenapa wajah mu seperti itu?" tanya nya yang heran melihat wajah cantik adik nya tampak sendu.
"Aku keguguran..." ucap nya lirih yang berusaha sebaik mungkin agar bisa terlihat lebih sedih.
"Apa? Ini sungguhan?" tanya Louis yang langsung melihat ke arah saudari nya dan menatap dengan mata yang penuh rasa khawatir.
"Ma.. maaf..." ucap nya lirih pada sang kakak.
Louis kehabisan kata-kata sejenak, ia tak terdiam dan melihat ke arah wajah adik nya yang tampak sendu.
"Louise? Kau baik-baik saja?" tanya nya yang melihat ke arah saudari nya.
Louise menangguk, sang kakak tak memarahi atau menyalahkan nya.
"Dia sudah tau?" tanya Louis pada saudari kembar nya.
Louise tak menjawab namun ia mengangguk sekali lagi.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, jangan sedih..." ucap nya lirih yang memeluk adik nya itu.
......................
Skip
Mansion Dachinko.
Gadis itu membuang napas nya lirih, ia menoleh melihat ke arah pria di samping nya yang tampak duduk dengan tenang.
Duk!
Gadis itu turun dan meletakan kepala nya ke atas paha pria yang duduk di sebelahnya.
"Kau mengantuk?" tanya James yang menunduk melihat ke arah wajah gadis itu yang tidur di atas paha nya.
Louise menggeleng, ia menarik napas nya dengan berat.
"Ada apa? Terjadi sesuatu?" tanya James yang meletakan ponsel nya dan melihat ke arah gadis nya.
"Tidak, hanya saja aku merasa bersalah tentang menipu Louis..." ucap nya lirih yang merasa sedikit terganggu karna membohongi sang kakak.
"Dia marah?" tanya James yang tau jika mereka memutuskan untuk menghentikan proyek pura-pura hamil karna gadis itu ingin memakai gaun yang ia sukai di hari pernikahan nya.
Louise menggeleng mendengar nya, "Dia ga marah, maka nya aku merasa bersalah..." ucap nya lirih.
James menarik napas nya, ia mengusap kepala gadis itu dengan lembut.
"Lalu kau mau kita buat saja anak nya? Kalau kau belum bisa masuk ke kamar ku, kita bisa ke hotel." ucap nya pada gadis itu karna saat ini ia belum pindah akibat mansion nya yang lain masih sedang di perluas dan di percantik lagi untuk tempat tinggal yang baru.
"Kan! Nanti aku ngadu sama Louis loh!" ucap nya pada pria yang selalu ingin mengajak nya untuk melakukan sesuatu yang begitu menyenangkan namun melelahkan.
James tersenyum mendengar nya, "Kan aku cuma tanya." ucap nya melihat ke arah gadis itu.
"Gaun pernikahan mu juga seperti nya sudah selesai, kau mau coba nanti?" tanya nya gadis itu.
"Mau coba bersama?" ucap Louise yang bertanya balik.
"Bukan ide yang buruk," sahut James yang memikirkan nya dan tampak menyukai nya.
Sementara itu kaki mungil yang melihat mobil sang ibu ada di mansion nya tampak bersemangat untuk masuk.
"Bian ikut!" ucap nya yang menyambung dan langsung naik ke sofa serta juga ikut tidur di samping sang ibu.
"Eh? Bian udah pulang?" tanya Louise yang tersentak melihat gerak lincah putri nya.
"Hehe..." Bianca tertawa mendengar jawaban sang ibu.
Louise pun bangun dan duduk melihat ke arah putri nya yang juga ikut duduk.
"Ada apa ini? Kenapa kelihatan nya senang sekali?" tanya Louise sembari mencubit pipi bulat putri nya.
"Tadi kan Myy di sekolah ada kejadian lucu!" ucap nya pada sang ibu.
"Oh ya? Apa itu? Mommy mau tau juga," ucap Louise pada putri yang tampak cerah dan ceria.
"Bulung nya Hally kan Myy ma-"
"Bianca?" panggil James sesaat yang membuat pembicaraan putri nya terpotong.
Mata coklat itu menoleh ke arah sang ayah, ia menatap dan melihat gerak yang menggelengkan kepala nya seperti isyarat agar ia tak mengatakan apapun.
"Terus? Mommy kan belum denger," ucap Louise yang membuat fokus anak kecil itu kembali teralihkan.
"Bulung nya Hally makan nya banyak banget! Hihi!" ucap nya yang tertawa kecil dan bisa mengatakan serta mencari kebohongan yang lain dengan lancar.
James membuang napas nya, ia yang membuat cctv di kelas putri nya tak aktif saat bayi cantik itu meletakan mayat burung yang sudah mati itu.
Dan tentu bagaimana sikap putri nya saat ini adalah hasil dari 'karya' yang ia bentuk. Tentu ia pun sangat tau jika gadis nya tak akan menyukai sifat yang sudah terbentuk pada putri cantik nya maka dari itu membuat rahasia juga tak terlalu buruk.
"Bian mau pelihara burung juga? Mau Mommy belikan Kakaktua atau Beo? Dulu Mommy juga pernah punya peliharaan itu tapi malah kabur," ucap nya pada putri nya karna ia memang suka segala jenis hewan yang baginya cantik dan lucu.
"Ga mau Myy Bian mau nya pelihala beluang! Tapi Daddy ga kasih!" ucap nya yang cemberut saat mengatakan nya.
"Kak bahaya Bian," ucap nya pada putri nya.
"Kalau gitu yang seligala kayak Ait!" ucap nya yang menyebut tentang anjing serigala putih milik sang ayah yang sering menjadi teman main nya.
"Ait?" tanya Louise mengulang dan menatap ke arah pria yang duduk di sebelah nya untuk mentraslate arti kata yang di sebutkan oleh putri nya.
"White," ucap James singkat yang tau siapa yang di maksud putri nya.
"Oh, White? Mau Mommy kasih peliharaan White kecil nanti?" tanya nya pada putri nya yang cantik itu.
"Bian mau ulal comla aja deh Myy, lucu! Ulal nya bisa beldili! Hihi..." tawa nya yang mengingat dengan hewan yang terakhir kali ia lihat.
"Ulal comla? Itu nama?" tanya nya sekali lagi yang menoleh ke arah pria di samping nya.
"Ular cobra maksud nya," ucap James pada Louise yang kembali mentraslate.
"Hush! Bian! Jangan yang bahaya, masa mau cari peliharaan yang begitu!" ucap Louise pada putri nya.
"Tadi kan Mommy tanya..." ucap nya lirih dengan nada yang mirip sang ayah saat berbicara.
"Anak ini..." ucap nya lirih melihat ke arah putri nya.
James mendekat ke telinga gadis itu, "Harus nya kan anak ku, lihat tuh wajah nya saja mirip dengan mu."
"Tapi yang dia punya dari ku cuma wajah saja," ucap nya lirih yang merasa dari sifat dan bahkan cara bicara nya lebih condong ke arah sang ayah yang mengasuh nya.
"Maka nya dia anak kita," ucap James tersebut.
"Myy? Mau susu! Susu Bian abis! Tadi Bian kasih ke Syl bial ga nangis lagi," ucap nya pada sang ibu karna ia memang suka buatan sang ibu yang bagi nya terasa lebih enak.
"Mommy buatin ya?" ucap Louise yang beranjak meninggalkan putri nya.
Bianca mengangguk dan menanti susu yang lezat buatan ibu nya.
James melihat ke arah putri nya yang tampak membuka tas nya dan mengeluarkan mainan yang selalu ia bawa ke sekolah.
"Tadi gimana? Teman mu udah nangis?" tanya pria itu pada putri nya.
Bianca menoleh, ia menatap dan tersenyum mendengar nya, "Udah! Lucu Dad, Hihi..." ucap nya yang tertawa.
Pria itu tersenyum, tidak apa asal wajah cantik dan menggemaskan putri nya selalu tertawa dan merasa senang.
"Mommy jangan sampai tau, ini rahasia." ucap nya pada putri kecil nya yang begitu ia sayangi itu.
"Okey!" jawab Bianca pada sang ayah.
__ADS_1