
Mansion Dachinko.
Dua Minggu kemudian
Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir gadis itu, bahkan saat ia tengah di sentuh ataupun di suruh untuk melakukan sesuatu.
Tak menolak, melawan ataupun mengatakan apa yang ada di kepala nya, wajah pucat itu hanya terlihat datar dan hanya merespon dengan lirikan saat melihat sesuatu yang ingin ia ketahui atau dengar.
Namun kali ini iris hijau itu membulat, berita perceraian dari seseorang yang sangat ia kenal mulai terpublikasi, dan tentu nya pernikahan yang sebelum nya di adakan secara privat pun ikut terpublikasi.
"Kau cuma memberi respon kalau ada berita tentang kakak mu saja," bariton datar pria yang berdiri di belakang sofa tempat gadis itu duduk.
Louise menoleh, mata nya mengernyit dan tampak tatapan yang penuh curiga.
"Apa? Kenapa menatap ku begitu?" tanya James yang langsung heran dengan tatapan curiga gadis itu.
"Bukan aku, lagi pula aku juga tidak ikut campur urusan rumah tangga kakak mu." sambung nya yang tau apa yang ada di pikiran gadis di depan nya.
Berita perkembangan tentang JBS pun juga di tayangkan, harga saham yang berhenti merosot namun hilang nya sebagian kepercayaan dari pemegang saham.
Gadis itu melirik ke arah ekspresi pria yang berada di balik semua itu, tak ada satupun ekspresi yang bisa ia baca namun ia hanya menatap dengan tatapan yang masih belum puas.
"Ada yang mau kau tanyakan? Tanyakan saja." ucap nya yang juga ingin mendengar suara gadis itu lagi.
Bukan nya menjawab, Louise kembali menarik pandangan nya ke arah televisi. Tak hanya itu ia pun beranjak pergi dari pria yang berada di dekat nya itu.
...
Sementara itu pria kecil yang selalu memegang pensil warna di jemari mungil nya menggambar dengan semangat di atas kertas putih.
"Paman? Daddy datang? Kenapa Daddy gak pelnah kesini? Telus Al kapan pulang nya?" tanya nya saat melihat pria yang biasa nya sering bersama sang ayah dulu.
Nick berjongkok menyamai tinggi nya agar sama dengan anak kecil di depan nya itu.
"Kenapa mau pulang? Bukan nya Mommy Al jahat sama Al?" tanya Nick yang tak menghindari pertanyaan tentang tuan nya.
Bocah menggemaskan itu menggeleng, ia tetap ingat saat di mana ibu nya begitu menyayangi nya dan memanjakan nya.
"Kan Al nakal makanya Mommy malah sama Al, Paman? Daddy kapan sih datang nya?" tanya nya lagi.
Walaupun tak ada lagi yang menyakiti nya dan kebutuhan serta pendidikan nya terpenuhi bahkan dengan keamanan yang terjamin namun anak kecil tetap lah anak kecil yang menginginkan orang tua nya.
Tak ada jawaban dari Nick, "Demam nya sudah turun?" tanya nya lagi mengalihkan pembicaraan sembari menyentuh dahi anak lelaki itu.
Melihat tak ada satupun jawaban yang di berikan saat ia menanyai sang ayah membuat Arnold mulai murung, "Al udah jadi anak pintel, gak nakal, jadi anak baik..."
"Tapi kenapa Daddy gak mau ketemu Al lagi?" tanya nya lirih dengan mata berair.
Mana ia tau siapa ayah kandung nya, yang ia tau adalah pria yang ia temui beberapa waktu lalu, pria yang selalu di sebut adalah ayah nya.
"Paman bawa mainan, Al main dulu." ucap nya sembari memberikan mainan baru itu pada Al.
......................
Kediaman Rai
Pria itu membuang napas nya, kini ia tau kenapa dulu saat ia pergi keluar negri ataupun terlalu banyak bekerja adik perempuan nya selalu pergi ke club' malam walaupun sudah ia larang.
Rumah yang megah itu terlalu besar untuk seseorang yang sendiri, terlalu sepi dan membuat nya memberikan ruang kosong di hati nya.
"Apa aku dulu kurang perhatian dengan nya?" gumam nya yang teringat dengan saudari kembar nya.
Saat kedua orang tua nya meninggal dan ia yang langsung duduk di posisi teratas tentu nya membuat harus bekerja lebih keras lagi untuk mendapat pengakuan dari beberapa dewan utama yang selalu ingin menjatuhkan nya dan dari semua itu adik nya yang selalu terbiasa di temani dan memiliki orang lain menjadi sendiri.
Ia menutup mata nya dan membuang napas nya dengan kasar, tangan nya pun kembali melihat ke arah dokumen di depan nya.
Salah satu dokumen yang bertumpuk itu terdapat dokumen perceraian nya yang kini sudah selesai dan ia yang sudah menyandang status sebagai duda karna telah bercerai dari istri nya.
Ia tak bisa mengatakan apapun, kabar terakhir yang ia dapat adalah wanita itu pergi ke Roma satu Minggu yang lalu.
Kalau di tanya apa ia menyesal menceraikan sang istri, tentu saja jawaban nya adalah iya. Namun ia juga tak ingin melihat wanita itu pergi selama nya dari nya sama seperti saudara kembar nya.
"Apa aku kurang tidur?" gumam nya yang memikirkan masa lalu padahal masa sekarang pun tengah mendapati masalah yang sangat besar.
__ADS_1
Pria itu pun beranjak mengambil air mineral dingin dan meminum nya, walaupun ia bisa meminum wine namun ia tak mau fokus pekerjaan nya hilang lagi karna alkohol.
......................
3 Hari kemudian.
Mansion Dachinko
Matahari telah meninggi, namun gadis itu baru terbangun, tubuh nya terasa pegal bukan malam melainkan pria itu datang pada nya sewaktu pagi hari saat mentari bahkan belum keluar.
Mata nya terbuka, ia pun bangun sembari menarik selimut yang menutupi tubuh polos nya, mata nya menoleh pada sarapan yang sudah di siapkan untuk nya.
Namun perut nya yang sedang membawa satu bayi lagi itu pun tak merasa lapar, seperti ketika di kehamilan pertama nya yang selalu ingin makan.
Setelah membersihkan diri nya gadis itu pun keluar dari kamar nya, hanya untuk mencari udara yang lebih segar dan berharap tak bertemu dengan pria yang tadi pagi memakan nya habis-habisan walaupun tau ia tengah mengandung anak kedua nya.
"Seperti nya dia mulai curiga, dia memperkerjakan satu sekertaris baru lagi,"
Deg!
Langkah gadis itu terhenti, ia awalnya berencana pergi ke taman mansion namun malah mendengar hal yang membuat nya tersentak.
Pria yang tadi pagi baru saja memakan nya itu terlihat baik-baik saja seperti tak habis melakukan apapun, secangkir kopi dengan laptop yang hidup dan duduk di bangku nya serta membiarkan cahaya masuk ke dalam mansion megah itu dari pantulan kaca yang besar.
Siapa yang mereka bicarakan?
Gadis itu menutup mulut nya agar meminimalisir suara yang akan ia keluarkan.
Iris hijau nya membulat, bukan hal yang baik namun hal buruk lah yang terdengar di telinga nya, rencana untuk kembali menjatuhkan perusahaan yang berpusat besar pada bagian kesehatan itu.
Tak jadi keluar untuk menghirup udara segar gadis itu pun kembali masuk ke dalam kamar nya, wajah nya tampak gelisah dan tak tenang sama sekali.
"Sekertaris? Siapa yang dia maksud? Kalau itu sekertaris Louis berarti..." langkah dan gumam nya terhenti.
Ia diam sejenak, kini ia sadar kalau pria itu bahkan tak pernah berniat berhenti untuk menghancurkan apa yang ia miliki.
Ia tak bisa menangis lagi, namun gadis itu perlahan tertawa, tertawa kecil hingga membuat nya terjatuh ke lantai.
Ia tak menangis melainkan tertawa, namun setelah tawa nya buliran bening dari kelopak mata nya luruh jatuh ke bawah.
Dada nya terasa sakit, tidak! Kali ini bukan dada nya namun seluruh tubuh nya.
Terlalu sakit hingga membuat napas nya terdengar berat, "Aku baik-baik saja..."
"Semua akan baik-baik saja..." gumam nya yang mencoba menenangkan kembali isi kepala nya yang seakan ingin hancur.
Ia bahkan tak tau sampai mana level depresi yang ia hadapi saat ini, yang ia inginkan adalah tetap menjaga kewarasan nya agar masih bisa melihat apa yang ingin ia lindungi dan ia miliki.
...
Pria itu menarik napas nya, seperti biasa pada jam makan malam dengan nya gadis itu tak akan turun dan memilih untuk makan di kamar nya.
"Kau makan lebih dulu? Tidak menunggu ku?"
Pria itu menghentikan tangan nya yang mengangkat sendok, melihat ke arah sumber suara gadis yang bicara pada nya.
Gadis itu duduk di kursi nya, wajah yang biasa datar dan pucat itu kini tampak lebih fresh dan tersenyum manis pada pria yang menatap nya dengan heran.
"Tumben?" tanya pria itu dengan bingung.
"Aku bosan di kamar, memang nya tidak boleh makan di sini? Atau piring yang di sini bukan untuk ku?" tanya nya dengan senyuman sekaligus sindiran halus saat melihat dua set tempat makan yang di sediakan.
James meletakkan sendok nya, dan menatap gadis yang memakai make tipis dan tersenyum manis yang membuat wajah gadis itu semakin terlihat cantik.
"Ada yang kau inginkan?" tanya nya dengan mata penuh selidik pada gadis di depan nya.
Senyuman itu hampir jatuh namun tak jatuh seutuh nya, ia menatap ke arah pria yang menatap nya dengan curiga.
"Aku mau kau tidak menganggu JBS atau kakak ku," jawab nya tanpa basa basi.
James tertawa kecil mendengar nya, kalau ia mau menuruti gadis itu tentu nya ia tak perlu mengurung dan bisa melepaskan nya, bukan?
"Lalu apa yang akan ku dapatkan? Kalau aku mela-"
__ADS_1
"Kau mendapatkan ku, semua nya." Potong gadis itu dengan cepat, "Dan lagi aku tidak minta kau untuk melepaskan JBS atau kakak ku, aku hanya minta jangan melakukan apapun sampai kelahiran anak mu."
Pria itu tak lagi tertawa, ia menatap wajah yang terlihat serius itu.
"Kau juga pasti sudah dengar kan? Ibu yang depresi tidak baik untuk bayi nya. Hanya sampai anak ini lahir." ucap nya lagi.
Ia tak tau waktu sekitar 8 bulan akan cukup atau tidak untuk saudara kembar nya mengembalikan JBS ke posisi semula lagi jika tak ada yang menganggu, namun ia tau setidaknya harus mencoba kan?
"Tenang saja anak itu tak akan mati lagi dan mendapatkan mu? Bukan nya aku sudah mendapatkan nya?" jawab pria itu dengan senyuman simpul nya.
"Kelahiran prematur, cacat sejak lahir atau mungkin..."
"Anak penyakitan seperti ku?" sambung nya pada pria di depan nya, "Chiko tidak mungkin belum mengatakan nya pada mu kan?" tanya gadis itu yang membalas senyuman pria di depan nya.
Ia ingat pria itu menginginkan anak yang sempurna, dan resiko yang ia sebutkan juga mungkin tak bisa di hindari karna ia sendiri pun tak sempurna jika untuk di jadikan seorang ibu, memiliki penyakit bawaan dan fisik yang lemah tentu nya membuat nya berbeda dari gadis lain nya.
"Ini lebih menguntungkan mu dari pada aku," ucap pria dengan enteng yang tak begitu menanggapi permintaan gadis di depan nya.
Jika gadis di depan nya meminta sesuatu dalam bentuk materi mungkin ia bisa memberikan nya dengan segara namun ini permintaan yang berada.
"Tidak, dari mana pun ini lebih menguntungkan mu, aku tidak minta di lepaskan atau meminta mu untuk melepaskan dendam mu, aku hanya minta kau untuk tidak melakukan sesuatu yang akan membuat ku kehilangan anak ku lagi." jawab gadis itu.
"Lalu setelah anak itu lahir aku bisa membunuh kakak mu? Bagaimana kalau di depan mata mu sendiri?" tanya James dengan senyuman iblis nya yang ingin membuat semangat gadis itu jatuh kembali.
"Setelah anak ini lahir, kau bisa melakukan apa saja," jawab gadis itu yang masih memaksakan senyum nya walaupun tangan nya sudah mengepal.
"Sungguh?" tanya pria itu mengulang.
"Hm,"
Lakukan, kalau kau bisa...
Pria itu mengangguk kecil mendengar nya sembari tersenyum, kali ini gadis itu melakukan sesuatu yang menarik lagi walaupun sudah diam beberapa waktu.
Sangat sulit untuk menghancurkan guci kembali menjadi tanah liat lagi dan gadis itu adalah guci nya.
"Baik, sampai anak itu lahir aku tidak akan menganggu JBS atau kakak mu." ucap nya dengan senyuman kecil sembari menyatukan kedua tangan nya dan menjadikan sandaran dagu nya.
"Lalu, aku juga ingin kau memperlakukan nya seperti dulu." ucap gadis itu lagi.
"Seperti dulu?" tanya James mengernyit sembari mengingat apa maksud permintaan kedua gadis itu.
"Hm, Did you forget it? I'm yours and you're mine." sambung gadis itu.
Pria itu hanya tersenyum, ia tak bisa menebak apa yang di pikirkan gadis di depan nya, pikiran yang sebenarnya telah hancur sampai di titik gadis itu seakan telah kehilangan segala harapan nya.
"Why? Do you miss the time we spent before?" tanya pria dengan senyuman nya.
Bukan nya menjawab, gadis itu hanya tertawa kecil mendengar nya, entahlah.
Mentertawakan pertanyaan yang baru ia dengar atau mentertawakan diri nya yang bodoh karna jatuh cinta pada pria yang hanya ingin memainkan perasaan nya dan pria yang sudah jelas-jelas menjadi sumber luka di hidup nya.
"Pikirkan apapun semau mu, tapi..."
"Apa kau takut?" tanya gadis itu pada pria di depan nya.
"Takut? Memang nya apa yang bisa ku takutkan?" tanya James.
"Takut kalau kau melakukan nya, kau akan benar-benar jatuh cinta dengan ku?" sambung gadis itu tersenyum.
Pria itu tak menjawab, cinta? Ia tau dengan jelas perasaan nya seperti apa, namun ia selalu menjaga diri nya agar tidak benar-benar mencintai gadis cantik itu.
"Memperlakukan mu dengan baik dan tidak menggangu Saudara kembar mu ataupun JBS sampai kau melahirkan?" tanya pria itu mengulang permintaan gadis di depan nya tanpa menjawab pertanyaan Louise.
"Hm, lagi pula ini bukan sesuatu yang akan merugikan mu." jawab gadis itu tersenyum.
Ia bahkan tak tau kenapa ia bisa memberikan wajah tersenyum dengan alami sendirinya.
"Baik, aku menyetujui nya." ucap pria itu.
"Jangan mengingkari janji yang kau buat, kau tau kan? Selain ucapan mu aku tidak punya jaminan apapun." sambung gadis itu dengan tatapan yang memberikan sorotan tajam lalu tersenyum kembali.
"Aku tidak membuat janji yang tidak bisa ku tepati." jawab pria itu, "Dan ku harap sikap mu tidak akan mengecewakan." sambung nya pada gadis itu.
__ADS_1
"Hm, jangan khawatir." jawab gadis itu tersenyum.
James tak menyadari satu hal, ia sudah berhasil menghancurkan gadis itu sampai gadis itu pun tak tau sudah sejauh mana ia sudah di remukkan dan di rusak.