(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia

(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia
Main yuk!


__ADS_3

New York, America


Pria itu menyelesaikan lukisan yang terkahir, setelah ia mengirim nya pada galeri seni yang melakukan kerja sama dengan nya ia beranjak untuk pulang.


Waktu menyembuhkan luka?


Mungkin itu tak berlaku karna luka nya tak sembuh sama sekali, namun semua rasa sakit nya tersamarkan.


Berdamai dengan diri nya sendiri lah yang menjadi satu-satu nya cara untuk membuat nya masih tetap memiliki kehidupan yang baik.


Drrtt... Drrtt...


Ponsel nya berdering, pria itu menoleh dan mengambil sapu tangan untuk mengusap tangan nya.


"Halo?"


Jemari nya menggeser panggilan telpon nya dan menjawab seketika.


"Kita bisa bertemu?" jawab seseorang dari seberang sana saat ia mengangkat nya.


Pria itu tak langsung menjawab, ia melihat ke arah lukisan nya lebih dulu dan kemudian melihat ke arah jam dinding.


"Bisa, jam tiga sore." jawab nya singkat.


"Di restoran Half, aku akan matikan telpon nya..." suara si penelpon terdengar lirih saat mendengar jawaban yang acuh tak acuh itu.


"Ya," jawaban singkat terdengar, pria itu mematikan ponsel nya dan meletakkan nya kembali ke tempat nya.


Tangan nya kembali mengarahkan lukisan, warna di atas kanvas yang menyatu dan menciptakan harmoni dari gabungan keindahan.


......................


Restoran


Wanita itu mengernyitkan dahi nya. Menunjukkan ekspresi yang tampak tak senang pada pria di depan nya.


"Ada yang terjadi lagi?" pria itu bertanya sesaat setelah ia memesan minuman untuk wanita di depan nya.


"Kau itu sebenarnya suka aku atau tidak?" bukan nya jawaban untuk pertanyaan melainkan pertanyaan baru tanpa jawaban.


Pria itu menarik napas nya, wajah nya tampak enggan menjawab saat mendengar pertanyaan tersebut di lontarkan.


"Kenapa lagi?" ia menghela napas nya, dan tentu pertanyaan tersebut pun terhindar dengan sendiri nya.


"Iya! Memang aku yang suka duluan, aku juga yang mau hubungan ini duluan tapi kau itu! Kau itu seperti batu, tau tidak?" tanya nya yang sudah lelah bagaimana cara nya agar pria itu mau memberikan balasan yang setimpal dengan perasaan nya.


"Aku melakukan kesalahan lagi?" tanya pria itu dengan bingung.


Dua tahun lalu ia menyetujui permintaan wanita itu, pernyataan cinta yang ia terima dan untuk pertama kali nya sejak beberapa tahun yang telah berlalu ia pun sudah berani menerima nya.


Hubungan nya pun mulai berjalan dan membuat nya menetap di tempat itu untuk waktu yang lama, namun tetap saja rasa nya hambar tanpa ada gairah sama sekali bahkan ketika ia meniduri seseorang untuk pertama kali nya setelah cinta pertama nya.


"Bukan, Bukan itu!" wanita itu tampak bingung bagaimana cara nya menjawab.


Pria di depan nya tak pernah melakukan kesalahan yang fatal, walaupun wajah nya kaku tanpa senyuman dan sikap yang terlihat dingin serta tidak peduli namun pria itu memperlakukan nya dengan sangat baik.


Tapi ia sendiri tau jika pria itu tak pernah mencintai nya walaupun ia sudah berusaha sebaik mungkin dalam beberapa tahun terakhir.


"Lalu? Terjadi sesuatu di tempat kerja mu? Atau kau membutuhkan sesuatu?" tanya nya mengulang saat melihat mood wanita di depan nya tidak baik.


"Zayn? Kalau begitu cukup jawab pertanyaan ku, kau menyukai ku?" tanya wanita itu sembari mencondongkan tubuh nya ke meja yang membuat terlihat sangat ingin mendengar jawaban dari pertanyaan nya.


Pria itu diam sejenak, ia menarik napas nya dan melihat ke arah mata yang penuh pengharapan.


"Apa sekarang kau butuh pernikahan?" tanya pria itu tanpa menjawab apapun.


"Kalau aku bilang 'nikahi aku!' kau akan melakukan nya?" tanya wanita itu yang tampak frustasi dengan jawaban yang ia dengar.


"Ya, kalau kau mau menikah aku akan menikahi mu." jawab pria itu dengan datar, walaupun bukan diri nya yang mengusulkan hubungan itu terlebih dahulu namun tetap saja kini ia sudah menjalani nya cukup lama.


"Kau akan menikahi ku? Tanpa menyukai ku?" tanya wanita itu sekali lagi dengan mengernyitkan dahi nya tak percaya.


"Aku bisa memberi apapun yang kau butuhkan," jawab nya dengan datar namun tentu ia tak menjawab apapun pertanyaan yang ia dengar itu sembari mengesap minuman yang sudah datang di atas meja nya.


"Bagaimana kalau aku bilang aku butuh cinta! Bukan perlakuan yang baik! Aku tau itu semua perlakuan itu kosong," ucap nya yang tentu dapat merasakan setiap tindakan dan perlakuan lembut yang ia terima seperti hanya untuk memenuhi tanggung jawab.


Pria itu diam sejenak, ia meletakan cangkir keramik berisi teh hijau itu dan meletakan nya kembali ke meja.


"Waktu kau bilang menyukai dan minta menjalin hubungan ini, aku sudah bilang dari awal kalau untuk tidak mengharap kan hal seperti itu dari ku kan?" tanya nya yang kali ini melihat ke arah wajah wanita yang tampak menahan kesal dan tangis itu.


Wanita itu terdiam, ia tertawa getir dan kemudian tersenyum miring.


"Kalau begitu kita putus saja! Aku sudah lelah dengan mu." ucap nya yang kali ini mengambil keputusan nya.


Pertama kali ia bertemu dengan pria itu adalah di galeri seni, rasa suka pada pandangan pertama membuat nya mendekat lebih dulu.


Saat ia mengatakan perasaan nya dan pria itu bilang jika ia tak bisa memberikan balasan cinta yang sama ia pun tetap menyetujui nya karna ia pikir ia bisa merubah pria itu.


Tapi hasil nya?


Selama dua tahun tak ada yang berubah, perhatian dan sikap lembut yang terasa kosong karena ia bisa merasakan nya jika pria itu tak pernah memperlakukan nya benar-benar dari hati.


Dan dari pada ia terus sakit karna mengharapkan hal yang seperti mustahil ia lebih memilih untuk mengakhiri nya dan membebaskan diri ya lebih dulu.


Pria itu tampak terdiam sejenak, tak ada ekspresi sedih sama sekali. Walaupun hubungan nya berakhir namun ia tak memiliki sesuatu yang di sesali karna bagi nya ia sudah sebisa mungkin memberikan perlakuan yang terbaik untuk wanita itu.


"Baik, kalau itu keputusan mu. Aku akan menghargai nya. Ku harap kau bisa temukan seseorang yang lebih baik lagi." ucap nya yang bahkan tak membujuk sama sekali.


"Ya, ku harap kau juga." ucap wanita itu yang mengusap air mata nya dan mengambil tas nya setelah itu pergi lebih dulu.


Pria itu tak mencegah atau pun merayu, ia tetap duduk tenang di tempat nya.


Ia tak merasakan apapun, kesedihan atau pun terluka saat hubungan nya berkahir.


"Apa aku benar-benar pulang saja nanti..." gumam nya lirih sembari memijat kepala nya.


......................


7 Hari kemudian


Mansion Dachinko.


Brak!


Gadis itu tersentak, seseorang membuka pintu kamar nya dengan tiba-tiba.


"Arche..." ucap nya menatap kesal pada sang adik dan langsung memasukkan benda yang tadi ia pegang ke dalam selimut.


Dua hari yang lalu sang ayah menepati janji nya dengan memberikan nya pistol yang ia inginkan, dan pria itu meletakan barang yang di mau itu di kamar lama putri nya dulu dan tentu di mansion yang dulu ia tempati sampai berumur 4 atau 5 tahun.

__ADS_1


"Apa tuh kak? Kakak sembunyiin apa tuh?" tanya Arche dengan mata menelisik pada sang kakak.


"Mau tau aja kamu!" jawab Bianca menatap kesal.


Anak lelaki itu tampak cemberut, ia menatap ke arah sang kakak dengan tatapan curiga.


"Pasti tuh makanan! Kakak kan kalau makan enak tuh sendirian ga pernah kasih adik nya!" ucap Arche yang menatap kesal.


"Ck! Iya! Nanti sore kakak traktir! Mau makan di mana kamu?" tanya Bianca yang beranjak bangun dan mengambil ponsel nya.


"Mau di cafe yang baru buka itu kak! Bagus tuh kayak nya! Aku ajak Aldrich juga ya?" ucap nya yang bersemangat.


Berbeda dengan sang kakak yang punya uang tunai, ia hanya memiliki jenis pembayaran kartu dan tentu hal itu sang ibu yang membuat nya agar masih dapat melihat dan membatasi apa saja yang ia beli.


"Iya," jawab Bianca yang mulai memainkan ponsel nya.


"Kak? Kak Bian? Kak! Kakak! Oh.... Kak Bian!"


Gadis itu memejam, tak bisa kah satu hari saja sang adik tak menganggu nya?


"Ih! Kalau bukan anak Mommy Daddy udah ku jual online kamu!" ucap nya kesal sembari mematikan ponsel nya.


Arche tertawa mendengar, menganggu gadis itu dan kemudian mendapatkan uang saku adalah misi terpendam nya.


"Kak? Kakak kok ga pakai baju? Pakai baju dulu sana, nanti ketahuan Mommy kena marah lagi loh!" ucap Arche berbasa-basi.


Bianca menatap sang adik, ia tau jika adik nya ke kamar nya dan tiba-tiba bersikap menyebalkan serta perhatian berarti ada yang ia di inginkan.


"Terserah ku lah, kan ini kamar ku. Kamu aja yang sembarangan masuk." ucap nya pada saudara nya.


Ia tak tel*njang sama sekali, hanya saja ia memiliki kebiasaan hanya memakai sport bra dengan celana hot p*nts atau memakai tank top dengan celana pendek.


Dan tentu ia hanya seperti itu saat di kamar karna ibu nya pasti akan memarahi nya.


Tak masalah dangan tank top dan celana pendek, karna kebebasan pakaian di bolehkan di rumah nya.


Namun terkadang rumah nya juga datang beberapa tamu dan tentu tak jauh-jauh dari bawahan sang ayah yang sering ke tempat itu.


"Kamu ke sini mau ngapain? Ada yang mau di minta kan? Jawab tiga detik kalau lebih ga bakal aku aku kasih," ucap Bianca yang menatap wajah adik laki-laki nya.


"Satu, Dua, Ti-"


"Minta uang kak!" ucap Arche seketika pada sang kakak.


"Buat apa?" Bianca mengernyit melihat ke arah adik nya.


"Jangan bilang Mommy Daddy ya? Sebenernya aku ngerusakin motor temen ku," ucap nya lirih.


"Kamu kan ga boleh bawa motor?" tanya gadis itu yang memang aturan berkendara sendiri cukup ketat di keluarga nya agar terhindar dari kecelakaan.


"Kan mau coba kak, sekali-sekali juga." ucap nya lirih pada sang kakak.


"Berapa? 1000? 2000?" tanya Bianca yang tak tau harga perbaikan untuk satu motor.


"5300 USD kak!" jawab Arche dengan semnagat.


"Oh, ambil di dompet." ucap nya yang menunjuk ke arah di mana dompet nya di simpan.


Arche dengan semangat beranjak mendekat dan mengambil uang sang kakak.


Muach!


"Ih! Ga usah cium-cium! Lagi pakai serum tau!" ucap Bianca yang menatap kesal ke arah sang adik.


"Pantesan pahit," jawab Arche yang merasakan pahit di bibir nya.


Anak lelaki itu pun langsung beranjak keluar setelah ia menyelesaikan misi nya.


Bianca menoleh, ia menatap ke arah sang adik yang sudah keluar dan ia pun beranjak mengunci pintu kamar nya.


"Nah sekarang kan udah bisa..." ucap nya tersenyum yang melihat ke arah senjata api itu namun menganggap nya seperti mainan.


Ia memang di bawa ke psikolog anak saat masih kecil, dan ketika umur nya 10 tahun sang ibu berhenti membawa nya karna merasa tak ada lagi sikap yang berbeda.


Tanpa tau putri nya hanya melakukan kamuflase yang membuat nya seperti anak baik.


"Tapi siapa yang mau di tembak ya? Ikut Daddy aja? Tapi mana di kasih!" gumam nya lirih yang memikirkan sasaran untuk makanan mainan nya.


Pekerjaan sang ayah?


Ia pun sudah tau sejak dua tahun yang lalu ketika pulang ke mansion lama nya, mata nya menatap sendiri apa yang di sembunyikan di hutan belakang yang selalu di tutup.


Takut?


Gadis itu malah tertawa melihat nya, wajah dari orang-orang yang mau mati tampak ketakutan membuat nya merasa lucu.


"Nanti deh di pikirin," gumam nya dan menyimpan senjata api itu di lemari nya.


......................


Sekolah


Pemberhentian bus yang harus membuat seseorang berjalan untuk sampai ke sekolah elit itu.


"Bianca!"


Gadis itu menyusul mendekat dan turun dari mobil nya.


"Kamu naik bus lagi? Kenapa ga di antar aja?" tanya Sylviana pada teman nya itu.


"Ga dulu deh," jawab gadis itu yang masih butuh untuk memperhatikan raut wajah banyak orang dan lagi beberapa hal sederhana membuat nya merasa menyenangkan.


"Yang kemarin masih ganggu? Kakak kelas yang kayak preman itu?" tanya Bianca yang menatap ke arah teman nya.


"Kadang, tapi sekarang kayak nya udah engga lagi deh." jawab Sylviana yang merasa gangguan dari kakak kelas yang menyatakan cinta pada nya mulai berkurang.


"Bagus lah kalau begitu," ucap Bianca yang menangguk kecil.


"Kamu sih, kenapa banyak yang deketin tapi modelan nya kayak begitu." ucap Bianca yang menatap ke arah teman nya.


Sylviana tersenyum, ia merangkul tangan teman dan jalan berdampingan.


"Ga tau tuh! Padahal kan aku suka nya sama Bian!" ucap nya tertawa pada teman nya.


"Ih! Manis nya kelinci ku..." jawab Bianca yang tertawa sembari menatap gadis itu.


...


Pelajaran telah berakhir, gadis itu tak melakukan loncat kelas seperti yang pernah di lakukan oleh ibu dan paman nya dulu.

__ADS_1


Ia memilih untuk belajar seperti orang biasa lain nya walau ia tentu nya merasa begitu mudah untuk mencerna nya.


Kedua gadis itu baru kembali dari kantin, dan duduk di tempat nya kembali.


"Ketua kelas! Ajarin ini bisa?"


Baru saja duduk dan bercerita teman sekelas gadis itu sudah datang dan kemudian menodongnya dengan buku beserta pembahasan.


Bianca diam sejenak, ia sebenarnya enggan bersikap baik, namun degan ajaran yang ia terima dari psikolog nya membuat nya bisa memasang wajah poker face di mana pun.


"Bisa, mana yang sulit?" tanya Bianca yang tersenyum kecil dan berbicara dengan ramah pada teman sekelas nya.


Ia memang tampak ramah dan bisa memiliki banyak teman namun gadis itu juga sulit di dekati.


Tipe ramah namun bukan untuk bisa berteman dengan siapa saja.


"Aku juga!"


Sahut anak lain nya yang mulai mengerubungi meja gadis itu karna memang ujian sudah ada di depan mata sebentar lagi.


Penjelasan singkat untuk rumus yang sulit terdengar lebih mudah di mengerti dan mudah di pelajari.


"Makasih Bian...." ucap anak-anak itu serentak.


Satu persatu mulai pergi dan hanya tertinggal beberapa siswi yang duduk di depan meja ketua kelas nya itu.


"Bian? Itu asli ya?" tanya Karen saat melihat ke arah pakaian yang di kenakan oleh ketua kelas nya itu.


Sekolah yang saat ini di tempati memiliki aturan pakaian bebas kecuali hari tertentu yang mengharuskan memakai seragam.


"Ini? Iya," jawab Bianca singkat yang kemudian berbicara lagi pada teman sebangku nya.


Karen diam sejenak, ia menatap dari kaki sampai ujung rambut ketua kelas nya itu.


Dari semua batang yang di gunakan tampak mahal dan memiliki merek ternama, namun ia juga tak pernah melihat gadis itu di antar dengan mobil mewah seperti diri nya atau teman-teman nya yang lain.


Gadis yang tampak kaya itu malah terus menerus pergi dan pulang dengan bus sehingga membuat nya bingung gadis itu benar-benar kaya atau pura-pura karna bersekolah di tempat mahal?


"Orang tua kamu kerja apa sih Bian?" tanya Karen yang menatap dengan penuh rasa penasaran karna ia suka dengan gosip.


Gadis yang paling menonjol di sekolah, cantik, pintar dan terkenal baik hati. Begitu sempurna sampai banyak yang membuat orang lain iri.


"Memang nya kalau kamu tau, apa ada urusan nya sama kamu?" tanya nya dengan senyuman tipis yang tampak ramah Walaupun jawaban nya terdengar sarkas.


"Bu.. bukan gitu! Kamu tau kan? Anak-anak itu selalu penasaran sama kamu..." ucap Karen yang berdalih.


"Kalau begitu mereka penasaran saja, mereka tidak akan mati karna penasaran kan?" jawab Bianca yang masih tersenyum dan menjawab dengan ramah walau sebenarnya jawaban nya tak ramah sama sekali.


"Eh? I.. iya ya..." ucap Karen lirih yang kemudian beranjak pergi.


"Mereka temenan kalau ada mau nya aja ya?" ucap Sylviana berbisik.


Bianca mendekat ke arah teman nya, "Sama, kamu kan dulu juga begitu." jawab Bianca dengan tawa kecil.


"Ih! Bian!" Sylviana langsung melirik kesal ke arah teman nya.


"Iya! Bercanda tau!" gadis itu tak menggoda teman nya dan hanya tertawa kecil.


...


Bel pulang, sudah terdengar. Kini anak-anak di sekolah mahal itu pun bergegas merapikan tas nya.


"Mau aku temenin?" tawar Sylviana karna ia tau teman nya itu ada rapat kumpulan siswa lagi kali ini.


"Ga usah Syl, lagian paling cuma sebentar." jawab Bianca yang menyusun tas nya.


"Kalau gitu aku pulang duluan ya? Bye Bian!" ucap gadis itu yang keluar dari kelas nya.


Bianca tentu menuju ruang organisasi siswa, mengikuti kegiatan sekolah yang membuat nya tampak aktif padahal ia hanya sekedar iseng saja.


Setelah rapat dan pembahasan tentang rencana untuk kegiatan sekolah kini semua murid yang berada di sana bisa kembali pulang.


"Semoga ga ketinggalan bus nya deh," gumam nya lirih karna setiap bus memiliki jam lewat nya tersendiri di tempat pemberhentian.


Gadis itu pun segera bergegas sebelum ia kehilangan bus nya yang terakhir.


"Hey! Ketua kelas!"


Bianca menghentikan langkah nya, ia berbalik dan menoleh ke arah sekumpulan anak remaja yang tampak seperti preman sekolah itu.


"Kau yang menghalangi ku, kan? Kenapa? Kau cemburu? Ha?" tanya Marco yang merupakan kakak kelas yang sebelum nya menyatakan perasaan pada teman gadis itu.


Tak!


Gadis itu menepis tangan yang memegang dagu nya.


"Cemburu lah! Mungkin merasa tersaingi maka nya teman nya ga boleh pacaran!"


Gerombolan remaja yang saling menyahut, dan mengolok.


Gadis itu menarik senyuman tipis nya, "Kak? Hm? Gi... gimana kalau bicara nya di tempat yang agak sunyi... I.. ini kan sekolah..." ucap nya gugup dan menunduk dengan tangan yang bersaut satu sama lain dan tampak gemetar.


Marco terdiam sejenak, alasan ia suka Sylviana adalah karna gadis itu tampak lemah dan penakut. Dan ia suka tipe gadis itu seperti itu.


"Ternyata kau cuma banyak sok! Berlaga kuat! Hahaha!" ucap Marco tertawa ketika ia ingat tenaga gadis itu saat mencegah nya sebelum nya dan ketika ia melihat lagi sekarang gadis itu sudah ketakutan.


Tak ada balasan apapun, segerombolan remaja itu mengelilingi nya dan membawa nya ke tempat yang sunyi di tambah lagi dengan Bianca yang meminta untuk di bawa ke tempat yang terlihat cctv.


Ia mengatakan tak ingin nama nya buruk maka dari itu meminta demikian, dan tentu para remaja nakal itu langsung menurut.


...


"Nah! Sekarang kau berlutut jal*ng! Berani sekali menggertak ku!" ucap Marco yang kesal.


Preman sekolah, suka menindas secara berkelompok dan kenakalan lain nya yang di diamkan oleh guru.


"Aku mau tanya nih, kalian ga punya masalah kesehatan kan? Ginjal, jantung, hati semua nya sehat kan? Aku suka pria yang kuat dan sehat! Hihi!" gadis itu tertawa kecil.


Para remaja itu tertawa mendengar nya, "Kau mau lihat kekuatan kami? Kalau lihat kau pasti kewalahan?" ucap salah satu dari ke empat remaja itu.


"Oh iya? Berati walaupun kalian SAMPAH MASYARAKAT kalian masih ada guna nya juga ya? Kalau gitu, main sama aku yuk?" ajak gadis itu dengan senyuman di wajah nya.


Tangan nya mengambil gantungan kunci beruang yang memiliki design pisau yang tipis dan halus di dalam nya jika kepala beruang nya di buka.


"Ini bukan pel*cehan karna kau yang minta!" ucap salah satu nya yang terlihat kesal karna ucapan gadis itu.


"Iya, bukan kok!" jawab Bianca dengan mata yang menghitung harga dari isi perut dan tubuh remaja yang berada di depannya.


"Sini main," ajaknya sekali lagi.

__ADS_1


__ADS_2