(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia

(Love Hurts!) Trapped By Mr. Mafia
Gelisah


__ADS_3

Satu Minggu kemudian.


Kediaman Rai.


Pria itu melipat tangan nya di dada sembari berdiri di ambang pintu dan menyandarkan diri nya melihat ke arah saudari kembar nya.


"Kau sedang apa?" tanya nya yang membuat gadis itu tersentak.


"Astaga!"


Louise hampir menjatuhkan ponsel nya, ia pun segera mematikan layar nya dan melihat ke arah sang kakak.


"Siapa itu?" tanya Louis sembari menunjuk dengan mata nya ke arah ponsel sang adik.


"Bianca," jawab Louise singkat.


"Bianca? Maksud mu anak kecil itu sudah bisa mengetik dan mengirim chat? Dia sudah bisa baca?" tanya Louis dengan mengernyit tak percaya.


Ia lebih percaya jika adik nya tengah mencoba menghubungi pria itu lagi dan kembali berhubungan.


"Aku ga bohong!" jawab Louise berdecak dan ingin kembali ke kamar nya.


Louis mencegah nya, ia menarik ponsel saudari kembar nya secara tiba-tiba hingga membuat gadis itu melepaskan genggaman nya.


"Memang nya kau bis-"


Ting!


Mata dengan iris hijau itu membulat, sang kakak tau sandi ponsel nya.


"Tau lah, kau kan adik ku!" jawab Louis sembari terus memeriksa ponsel sang adik.


Louise diam, ia tak takut karna ia memang tak berbohong sama sekali.


Louis memeriksa nya, memang ada chat dari nomor yang tak di simpan namun ia juga ingat nomor siapa itu.


"Kau bilang tadi Bianca? Tapi coba lihat ini?" tanya nya sembari menunjukkan riwayat chat nya.


"Ini VN kau sudah coba dengar?" tanya Louise pada sang kakak.


Memang tak ada satu pun chat yang menggunakan ketikan dan lebih memilih memakai Voice Note


Mommy! Nanti kita main kelual?


Sama Daddy Mom...


Myy?


Mommy?


Lama banget balas nya? Mommy lagi main boneka?


Suara yang menggemaskan itu menyerbu keluar saat ia mengaktifkan nya dan mendengar beberapa VN yang berada di ponsel itu.


"Sudah kan? Sini!" ucap nya sembari mengambil ponsel nya dan berjalan ke kamar nya.


......................


Mansion Dachinko


Gadis kecil itu menatap dengan mata bulat nya ke arah ponsel yang besar di tangannya sampai ia harus menggunakan kedua tangannya.


Ia bangun dari karpet bulu nya yang tebal dan menuju ke arah sang ayah.


"Daddy?"


"Daddy!"


Suaranya yang nyaring memanggil dan mencari sang ayah sampai ia menemukan nya.


"Kenapa?" tanyanya melihat ke arah putri kecil kesayangannya itu.


"Mommy kenapa lama banget balas Bian? Dia lagi main?" tanya nya dengan tatapan yang jernih dan berpikir semua orang masih menyukai bermain boneka atau permainan kekanakan lainnya.


James mengambil nya, ia membuka dan melihat ke arah riwayat chat putri nya bersama dengan gadis yang ia cintai itu.


"Mungkin Mommy lagi sibuk, nanti kita coba hubungi Mommy lagi ya?" tanyanya sembari mengusap pipi bulat itu.


Bianca langsung lesu saat mendengar nya, "Benelan sibuk? Nanti Mommy udah ga sayang Bian lagi?" tanyanya pada sang ayah karna walaupun terlihat sepele namun kepala kecil nya menyimpan memori tentang penolakan sang ibu yang terjadi berulang kali


"Iya, Bian ga percaya sama Daddy?" tanya James lagi pada putri kecil nya itu.


Gadis kecil itu tak lagi bertanya, bibir hanya mengerucut tampak lesu dan kesal membuat wajah bulat nya tampak semakin menggemaskan.


"Sekarang hand phone nya sama Daddy, Bian main boneka dulu yah? Nanti kalau Mommy udah balas bakal Daddy kasih tau." ucapnya sembari mengecup kepala putri kecilnya dengan lembut.


Bianca menuruti sang ayah, ia membalik tubuh nya dan kembali ke tempat ia bermain tadi.


"Nanny? Main yuk?" ajak nya pada pengasuh nya yang kebetulan terlihat oleh matanya.


Wanita itu pun langsung beranjak mendekat dan menggendong anak cantik itu ke tempat ia bermain.


......................


Kediaman Rai


Louise membuang napasnya, sekarang tanggal jarak pernikahannya sudah semakin dekat.


Tempat pernikahan, tempat bulan madu, makanan, dekorasi dan semua persiapan pernikahan nya pun sudah di laksanakan hingga 80 persen.


"Kenapa malah begini sih sekarang?" ucapnya sembari membuang napas nya lirih saat ia merasa ragu sebelum pernikahannya walau sebelumnya ia sudah membulatkan tekadnya untuk itu.


Tangan nya bergerak, ponsel yang berada di atas tempat tidur nya itu membuat nya tersentak dan kembali melihat nya.


Ia belum membalas chat terakhir putri kecil nya yang menggemaskan sekaligus membuat nya was-was.


Louise membuang napas nya dengan panjang dan tanpa sadar menekan ikon panggilan.


"Ya ampun," gumam nya lirih namun ia tak mematikan nya karna ia sekalian ingin bicara dengan putri nya.


"Halo?"


Mata hijau itu membulat, bukan suara imut yang menyahut namun suara bariton yang terdengar bulat dan ia tau siapa itu.


"James?" panggil nya lirih.


"Kau mau bicara dengan Bianca?"


"Ya," jawab nya singkat dengan nada panjang seperti ingin mengatakan sesuatu namun masih tertahan.


"Sebentar, akan ku panggi-"


"Kau, bagaimana dengan waktu itu? Kau keluar dengan aman?" tanya Louise sebelum telpon tersebut berpindah alih.


"...."


Tak ada jawaban beberapa saat, begitu tenang sampai gadis itu harus memeriksa kembali ponsel nya apakah telpon tersebut belum terputus.


"James?" panggil nya lirih untuk memastikan telpon tersebut masih tersambung.


"Apa ciuman itu juga harus ku lupakan?"


Louise terdiam, lidah nya kelu beberapa saat dan membuat nya terdiam.


"Ya," jawab nya singkat dengan nada yang tampak tertekan.


"..."


Tak ada jawaban untuk beberapa saat lagi, detikan panggilan ponsel masih berlanjut namun belum ada suara balasan apapun.


"Aku akan panggilkan Bian,"


Kini ponsel nya kembali bersuara, seseorang yang menyahut dan tak mengatakan apapun lagi tentang pembahasan sebelum nya.


"Ya," jawab Louise lirih sembari membuang napas nya.


......................


Mansion Dachinko


Pria itu berjalan ke tempat di mana putri nya bermain.

__ADS_1


"Bian?" panggil nya dan membuat mata bulat itu langsung melihat ke arah nya.


"Ya? Daddy?" tanya nya sembari menatap sang ayah yang berjalan mendekat.


"Ada telpon dari Mommy, dia nelpon Bian." ucap nya pada putri kecil nya.


Mata coklat yang bulat itu langsung berbinar dan meraih ponsel sang ayah.


"Mommy!" ucap nya memanggil dengan suara yang begitu menggemaskan apa lagi saat melihat wajah imut nya.


"Bian?"


"Mommy? Kenapa tadi lama balas Bian Myy? Mommy lagi main?" tanya nya pada sang ibu yang tentu saat ini ia sedang melakukan protes.


"Iya, Mommy lagi main tadi. Bian nanti mau keluar sama Mommy?"


Bianca langsung melihat ke arah sang ayah, ia menatap dengan mata bulat nya yang jernih seperti tengah meminta izin.


James mengangguk kecil, tak akan masalah hanya karna putri nya keluar dengan ibu nya apalagi sekarang sebagian masalah sudah di bereskan.


"Nanti Mommy jemput Bian?" tanya nya lagi pada sang ibu.


"...."


Hening tak ada jawaban, bukan nya sang ibu tak ingin mengunjungi nya namun gadis itu ingin menghindari seseorang yang tinggal bersama putri nya itu.


"Mommy?" Bianca memanggil ulang pada sang ibu yang diam tak menjawab nya.


James melihat ke arah putri nya yang memanggil sang ibu, ia tau gadis itu ingin menghindari nya.


"Nanti Daddy ant-"


"Iya, nanti Mommy jemput."


Louise menjawab dan membuat pria itu diam saat kalimat nya terpotong.


"Yeeyy!" Bianca tersenyum senang mendengar nya.


James tak mengatakan apapun lagi, ia mengusap kepala kecil itu dan beranjak keluar.


......................


Kediaman Rai


Gadis itu tengah bersiap untuk pergi dengan putri nya hari ini.


"Kau mau ke mana?"


Suara yang mengejutkan nya membuat nya berbalik walau sebelum nya ia tengah mengenakan salah satu anting untuk menghias telinga nya.


"Zayn?" panggil nya pada pria yang berada di ambang pintu nya dan berjalan mendekat.


Pria itu tersenyum seperti biasa nya, senyuman yang lembut dan tulus dengan mata yang hangat menatap ke arah gadis nya.


"Tadi aku mau keluar sama Bian," jawab Louise sembari menatap ke belakang dari cermin.


Zayn berdiri di belakang gadis yang duduk di depan meja rias nya itu, tangan nya menyentuh kedua pundak gadis itu dan merapikan rambut nya dari belakang.


"Nanti dia di antar di sini?" tanya nya menatap ke arah tunangan nya itu.


Louise diam sejenak, rasa nya ia sedikit sulit untuk menjawab pertanyaan dari tunangan nya itu.


"Aku nanti jemput dia," jawab nya sembari menarik napas nya.


Tangan yang tengah memainkan rambut halus itu berhenti saat mendengar nya, "Lalu kau juga akan menemui dia?"


Pertanyaan yang keluar tanpa sadar di bibir nya, ia ingin mencegah gadis itu untuk pergi namun ia takut gadis itu akan merasa tak nyaman dengan nya.


"Ha? Tidak, aku..."


"Aku cuma akan temui Bian..." jawab Louise sembari melirik ke arah wajah tunangan nya dari cermin.


"Ya," jawab Zayn dengan senyuman yang kaku.


Ia selalu merasa was-was jika gadis itu memiliki kemungkinan untuk bertemu dengan cinta pertama nya itu.


"Kalau aku minta untuk jangan menemui nya, kau bisa lakukan?" tanya Zayn pada tunangan nya yang tercinta itu.


"Ya, aku tidak akan menemui nya." jawab Louise lirih.


Terkadang apa yang di rencanakan tak sesuai dengan apa yang terjadi.


Zayn menarik napas nya, ia kembali tersenyum dan menata rambut tunangan nya itu.


Louise diam, membiarkan tunangan nya merapikan dan menata rambut nya, setelah beberapa saat pria itu melepaskan rambut gadis itu.


Ia mengikat setengah dan membiarkan helaian rambut yang lain tergerai.


"Kau nanti mau ke mana dengan nya? Kalau lusa depan aku ikut dengan kalian boleh?" tanya nya saat Louise membalik tubuh nya dan melihat ke arah tunangan nya.


"Boleh, lagi pula dia juga perlu dekat dengan mu kan?" jawab gadis itu mengiyakan permintaan tunangan nya.


Zayn tersenyum tipis, ia mengangguk dan mengecup pipi gadis itu.


"Telpon aku kalau terjadi sesuatu," ucap nya setelah mengecup pipi tunangan nya.


"Ya," jawab Louise sembari melihat ke arah wajah tunangan nya.


......................


Mansion Dachinko


HUA!!!


Suara tangisan gadis kecil itu memenuhi seluruh mansion yang luas dan besar itu.


"Bian? Jadi kita ga pergi?" tanya Louise sembari mendekat ke arah anak kecil yang menangis sembari terduduk di lantai itu.


Wajah sembab, pipi yang basah dan mata serta hidung yang memerah.


"Kata nya mau alan-alan sama Bian? Huhu..." tangis nya yang menunjukkan penolakan pada perkataan sang ibu.


"Mau jalan-jalan tapi kamu nya nangis terus?" tanya Louise yang duduk bersila di depan putri nya yang menangis itu.


Bianca tak menjawab namun ia cegukan karna terus menangis.


"Nah, makan. Nanti di tinggal Mommy mu." ucap James yang datang dan memberikan coklat ke arah putri nya.


Bianca menoleh, bibir nya masih mengerucut karna tangis namun ia mengambil coklat yang di berikan sang ayah.


"Ka..kata nya kita mau pelgi main..." tanya nya pada sang ibu.


"Yasudah, ayo..." jawab Louise melihat ke arah anak kecil itu.


Gadis kecil itu menggeleng, ia menatap sang ibu dengan mata sayu nya.


"Bian mau apa sih?" tanya Louise yang masih belum memiliki kesabaran maksimal dalam mengahadapi putri kecil nya.


"Mo..mommy ga mau ajak Daddy..."


"Tadikan Bian udah bilang ajak Daddy..." jawab nya dengan cegukan saat menangis.


Louise langsung menoleh menatap ke arah pria yang berdiri di samping mereka.


James langsung menggeleng, "Bukan aku yang suruh." ucap pria itu yang tau apa yang di pikirkan oleh gadis yang menatap nya.


"Nanti ya? Sekarang Bian sama Mommy dulu," ucap nya pada putri nya itu.


Gadis kecil itu menggeleng, ia tau sang ibu akan berbohong pada nya lagi.


"Kalau kita sama paman Zayn Bian mau? Bian kan udah kenal paman Zayn," ucap nya pada gadis kecil itu.


"Kita bisa pelgi sama Paman Eyn? Tapi kenapa ga bisa sama Daddy?" tanya nya dengan suara serak yang cegukan pada sang ibu.


Louise diam, ia melirik ke arah pria yang berdiri di samping nya.


Wajah yang datar itu tak menunjukkan ekspresi apapun selain mata yang tampak tak ingin mendengar pembicaraan itu.


"Mommy kan nanti nikah nya sama Paman Zayn, jadi paman Zayn nanti bakal jadi Daddy Bian juga." ucap nya pada putri kecil nya.


James tak mengatakan apapun, ia tak mencegah gadis itu untuk mengatakan nya dan juga tak menutupi perkataan gadis itu karna putri nya cepat atau lambat akan menerim kenyataan tersebut.

__ADS_1


"Aku buatkan teh untuk mu," ucap nya yang beranjak pergi.


Walaupun ia tak mencegah namun bukan berarti ia baik-baik saja mendengar nya. Sampai sekarang ia masih tak rela jika nanti putri nya memangil dan menganggap pria lain sebagai ayah dan seperti menjadi pengganti nya.


Apalagi sampai mendengar dan melihat gadis yang ia cintai akan mengikrarkan janji dengan pria lain?


Louise tak mengatakan apapun, ia hanya mengangguk dan membiarkan pria itu pergi sedangkan putri kecil nya masih menangis.


"Bian kan udah punya Daddy, Mommy kenapa ga nikah sama Daddy aja?" tanya nya dengan suara serak yang masih menangis menatap sang ibu.


Louise tak menjawab, ia hanya mengusap air mata putri nya yang menangis sampai membuat tubuh kecil itu gemetar sekaligus cegukan.


"Paman Zayn kan baik, Bian ga suka paman Zayn?" tanya nya pada gadis kecil itu.


"Bian mau Mommy nikah nya sama Daddy bukan sama Paman Eyn..." ucap nya pada sang ibu.


"Tapi kan kasihan Paman Zayn nya kalau Mommy tinggal," ucap nya yang mencoba mengusap wajah bulat yang halus itu.


"Yaudah, Paman Eyn nya nanti nikah nya sama Bian, Mommy nikah nya sama Daddy..." tangis nya pada sang ibu.


Louise tak menjawab apapun, ia hanya menarik napas nya dan membiarkan putri kecil nya terus menangis lebih dulu.


"Sudah? Sudah nangis nya? Sekarang kita jadi pergi?" tanya nya pada bayi mungil yang menggemaskan itu.


"Daddy ikut?" tanya Bianca dengan suara lirih karna ia pun sudah lelah menangis.


Louise menggeleng mendengar nya, wajah merah itu pun diam dan melipat bibir nya sebelum suara nya kembali membeludak.


HUA!!!


HUHU!!


"Bian?" panggil Louise yang terkejut mendengar suara tangisan anak kecil yang menggelegar itu.


James datang sembari membawakan lemon tea untuk gadis itu, ia meletakkan nya ke meja dan melihat ke arah putri nya yang masih menangis.


"Kalau kau mau pulang kau bisa, dia tidak akan berhenti menangis." ucap James yang tau tabiat putri nya yang akan terus merengek sepanjang waktu sampai keinginan nya terpenuhi.


"Mo..Mommy bohong telus..."


"Dulu nanti, sekalang nanti, nanti nya pasti bakal nanti lagi..." tangis nya yang menatap sendu sang ibu.


Wajah nya yang memiliki kulit putih susu itu kini tampak merah akibat tangisan nya.


Louise diam tak mengatakan apapun, pria yang tadi membawakan nya lemon tea sudah menyuruh nya untuk bisa pulang jika tidak ingin memenuhi keinginan putri nya.


"Bian kan belum pelnah pelgi main sama Daddy sama Mommy..."


Sambung nya lagi dengan wajah memelas, gadis itu melirik ke arah pria yang sejak tadi hanya melihat dan tak banyak berkomentar ataupun menyalahkan nya.


"Memang nya Daddy kamu mau ikut? Kalau dia ga mau-"


"Mau! Daddy mau ikut kan?" tanya Bianca yang langsung menatap sang ayah.


"Hm? Ya, kalau Mommy mu mau." James tersentak saat putri kecil nya tiba-tiba melempar pertanyaan namun ia dengan cepat menjawab nya.


"Iya, kita pergi sama Daddy yah? Sudah jangan nangis lagi." ucap nya sembari mengusap air mata di mata sembab itu.


"Okey!" jawab Bianca yang langsung tersenyum dan bangun.


"Bian mau ambil boneka dulu! Sebental!" jawab gadis kecil itu yang langsung berlari senang seperti tak pernah menangis sedikit pun.


Louise terdiam, perubahan ekspresi anak nya begitu cepat sampai membuat nya bingung.


"Dia tadi tidak pura-pura nangis kan?" tanya Louise pada pria yang sudah mengurus bayi nakal itu dari kecil.


"Dia memang seperti itu," jawab James sembari membuang napas nya panjang.


......................


Pukul 05.36 pm


Pria itu merapikan kancing jas nya, sebuah mobil mewah akan segera menjemput nya, karna ia berada di tempat bebas parkir yang membuat nya tak bisa memarkirkan mobil sembarangan.


Memang pekerjaan sebagai sekertaris perusahaan besar tampak mewah dan juga seperti tak memiliki beban, namun nyata nya pekerjaan itu begitu menyibukkan.


Dan ia melakukan pekerjaan yang menyibukkan walaupun sudah memiliki uang yang banyak hanya karna ingin tetap dekat dengan gadis yang ia cintai, walaupun pekerjaan nya yang sekarang sangat berbeda dengan karir yang sudah ia miliki sebelum nya.


Tangan nya membawa, cake stroberi yang di bungkus cantik karna ia tau tunangan nya sangat menyukai segala jenis olahan dari buah manis asam segar itu.


Pria itu masih menunggu sembari melihat ke arah sekeliling jalanan yang hidup dan di penuhi dengan toko berbagai macam itu.


Deg!


Mata nya membulat, ia tersentak melihat salah satu cafe yang memperlihat pengunjung nya dari jendela toko yang transparant itu.


"Louise?" gumam nya lirih.


Ia tak akan begitu terkejut jika gadis itu sendirian ataupun hanya bersama dengan seseorang yang ia janjikan sebelum nya, yaitu putri nya.


Tapi?!


Sekarang tunangan nya itu bersama dengan seseorang yang tadi ia larang untuk di temui.


Wajah pria yang duduk bersama dengan tunangan nya itu tampak tersenyum tipis melihat ke tunangan nya.


Sedangkan tunangan yang sangat ia cintai itu terlihat tersenyum sembari menyuapi makanan ke dalam mulut anak kecil yang cantik itu.


Ia pun mengambil ponsel nya, mencoba menelpon ke arah tunangan nya.


...


Louise mengentikan sendok yang tengah memasukkan makanan manis itu ke dalam mulut kecil putri nya.


Ia mengernyit melihat nama panggilan yang masuk ke ponsel nya, namun ia langsung mengangkat nya.


"Kau di mana?"


Louise diam sejenak mendengar pertanyaan tunangan nya, "Cafe, ada apa?"


"Sendirian?"


Gadis itu kembali diam sejenak lagi, "Dengan Bianca." jawab nya lirih.


"Hanya dengan Bianca?"


Kali ini Louise kembali diam sembari melirik sekilas ke arah pria yang duduk di depan nya.


"Ya, hanya Bianca." jawab nya yang memilih berbohong karna tau tunangan nya tak akan menyukai nya yang pergi dengan pria itu.


"Pulang sebelum jam 9 malam, kau bisa kan?"


Louise kembali diam, Bianca tadi sudah meminta nya untuk membacakan cerita untuk nya dan menunjukkan kembali sihir seperti sebelum nya.


"Louise? Kau bisa kan?"


"Zayn? Itu..." jawab Louise yang bingung bagaimana menolak nya karna terlanjur janji dengan putrinya.


"Louise? Ku mohon..."


Louise tersentak, suara memelas tunangan nya membuat nya tak bisa mengatakan apapun lagi atau menolak.


"Ya, aku akan kembali." jawabnya lirih.


"Sampai kan salam ku untuk Bianca dan hati-hati di jalan,"


Ucap Zayn sebelum telpon nya mati.


James melihat ke arah wajah gadis di depan nya, ia tau jika gadis itu akan menikah namun ia tak bisa menghentikan diri nya untuk tidak menjadi pengganggu.


Ia bungkam tak mengatakan apapun, sedangkan Bianca yang tak mengerti apapun itu terlihat bersenandung senang sembari mencolek krim cake nya berulang kali.


...


Zayn menutup telpon nya, ia masih melihat ke arah tunangan nya yang berbohong.


Tak lama kemudian mobil nya datang, ia pun langsung masuk ke dalam sembari membawa cake nya.


"Tidak, tidak apa-apa..."


"Mereka juga tidak akan melakukan sesuatu kan?"

__ADS_1


Gumam nya yang mencoba menenangkan diri nya sendiri, ia tak ingin melepaskan gadis itu. Dan kali ini pun ia memilih untuk menutup mata nya dan menganggap tak melihat apapun.


__ADS_2